Tabur Bunga dan Blokade Akses ke Pusat Semburan

Rabu, 30 Mei 2007, JawaPOS
Warga Korban Lumpur Peringati Setahun Bencana
SIDOARJO – Suasana haru dan emosional mewarnai peringatan satu tahun lumpur Lapindo di lokasi bencana kemarin. Ratusan warga Perumahan Tanggulangin Anggun Sejahtera I (Perum TAS I) melakukan tabur bunga di bekas rumah mereka yang sudah tertutup lumpur. Pada saat hampir bersamaan, warga empat desa memblokade akses truk pembawa pasir dan batu ke pusat semburan lumpur panas.

Peringatan itu diawali dengan konvoi keliling kota Sidoarjo. Konvoi diawali dari posko warga di Jalan Sunandar Priyo Sudarmo, kemudian berlanjut di Pendapa Kabupaten Sidoarjo dan Kantor DPRD Sidoarjo. Lalu, mereka menuju ke bekas rumah mereka yang terendam lumpur di Perum TAS 1. Di sini warga menabur bunga sebagai tanda satu tahun lumpur telah menyengsarakan mereka.

Saat menabur bunga dan mengucap doa di kawasan tersebut, banyak warga yang menangis. Beberapa warga, khususnya ibu-ibu, terlihat meneteskan air mata saat melihat deretan rumah mereka yang tinggal atapnya saja. “Dulu kami hidup damai di sini. Tapi, kini semua yang dikumpulkan mulai nol telah rata dengan lumpur,” ujar Yuliati, salah seorang peserta tabur bunga, sambil menunjuk rumahnya yang sudah terendam lumpur. Selain mengucap doa dan menabur bunga, warga Perum TAS I juga bersalam-salaman.

Salah seorang tokoh warga, Koes Sulaksono, mengatakan, pada momen peringatan setahun lumpur, warga sangat berharap kepada pemerintah dan Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS). “Lapindo harus terus ditekan agar segera memenuhi tanggung jawabnya,” pintanya.

Peringatan setahun lumpur Lapindo juga dilakukan warga empat desa yang berada di luar peta terdampak lumpur Lapindo, yaitu Besuki, Kedungcangkring, Mindi, dan Pejarakan. Berbeda dengan warga Perum TAS I, warga empat desa itu memblokade akses truk pembawa pasir dan batu ke pusat semburan lumpur panas. Selain itu, mereka juga menghentikan aktivitas pengaliran lumpur di kanal dan jalur pembuang ke Sungai Porong.

Aksi itu dilakukan setelah sekitar 1.000 warga berkumpul di lapangan bola Besuki depan Balai Desa Besuki, Kecamatan Jabon, Sidoarjo. Koordinator warga empat desa, Ahmad Zakaria, mengatakan, hal itu dilakukan agar pemerintah memperhatikan tuntutan mereka, yaitu agar empat desa tersebut dimasukkan dalam peta terdampak lumpur. “Kami tidak mau jika desa kami yang terendam lumpur diperlakukan berbeda dengan desa lain yang sudah terendam lumpur,” katanya.

Sebagaimana diketahui, jika lumpur menggenangi daerah di luar peta terdampak, mereka akan mendapatkan ganti rugi dari pemerintah sebesar Rp 15 juta sampai Rp 30 juta. Ini berbeda dengan desa lain di dalam peta yang mendapatkan ganti rugi lebih besar dari Lapindo.

Menanggapi aksi warga tersebut, BPLS menyerahkan tuntutan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Humas BPLS Achmad Zulkarnain mengatakan, peta terdampak lumpur 22 Maret 2007 ditetapkan melalui Peraturan Presiden Nomor 14 Tahun 2007. Karena itu, yang berhak mengubah hanyalah presiden dengan membuat peraturan baru atau merevisinya.

BPLS, lanjut Zulkarnain, telah berupaya melaporkan tuntutan warga empat desa tersebut kepada Dewan Pengarah Badan Penanggulangan Lumpur di Sidoarjo. Tetapi, sampai saat ini belum ada tanggapan dari dewan pengarah. Dewan Pengarah BPLS itu terdiri atas sejumlah menteri.

“BPLS di Porong hanyalah sebagai pelaksana dan bukan pengambil kebijakan. Makanya, kami tidak bisa mengambil keputusan terkait tuntutan warga empat desa yang meminta dimasukkan dalam peta terdampak lumpur,” jelas Zulkarnain. (dyn)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: