KORBAN LUMPUR LUNCURKAN BUKU BERNAFAS DALAM LUMPUR LAPINDO

Anggota Komisi B DPRD Jatim Muhammad Mirdasy yang juga merupakan korban lumpur panas Lapindo Brantas Inc (LBI) meluncurkan buku berjudul “Bernafas Dalam Lumpur Lapindo” di Universitas Surabaya (Ubaya), Selasa (29/5) hari ini. Buku yang dicetak 1.000 eksemplar ini hadir karena rasa gelisah, gemas dan tanggung jawab atas bencana yang genap setahun di Porong, Sidoarjo ini.


“Saya gelisah karena kejadian lumpur ini sangat luar biasa, tetapi sikap pemerintah dan LBI menganggapnya biasa-biasa saja. Lumpur itu telah memundurkan peradaban di Porong 30 tahun ke belakang, karena seluruh infrastruktur dan lahan seluas 680 hektare telah hilang,” kata mantan Sekretaris Pansus Lumpur DPRD Jatim ini.
Penghuni rumah di Perum TAS I Blok G-5/4 Porong yang telah ditenggelamkan lumpur ini juga mengaku sedih karena bencana itu telah mencabut akar budaya di sekitar tempat tinggalnya. Pasalnya, terdapat 17 anggota keluarga Mirdasy yang turut menjadi korban lumpur. “Belum lagi tempat saya dilahirkan dan dibesarkan di Dusun Dungus, Jatirejo juga tenggelam. Saya terkenang lapangan sepak bola di sekitar km 37-38 jalan tol Porong-Gempol, tempat latihan bersepeda dan bermain saat masa kanak-kanak yang telah lenyap,” tutur pria kelahiran 7 Januari 1970 ini.
Suami Ilmin Nasifah Hamy dan ayah lima anak ini pernah menangis tersedu-sedu ketika ditanya seorang rekannya di Jogjakarta (korban gempa bumi), kapan dirinya akan kembali pulang ke rumah di Perum TAS I Sidoarjo. Rekannya ini lebih beruntung nasibnya, setelah rumahnya diluluh-lantakkan gempa, saat ini telah menempati rumah barunya. “Saya menangis karena yakin tidak akan pernah kembali pulang ke rumah (Perum TAS, red). Meskipun lumpur itu bisa dihentikan atau berhenti sendirinya, rumah saya telah tenggelam,” ujar anak dari Abdurrahim Nur, mantan Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jatim ini.
Dirinya juga merasa gemas karena hingga setahun bencana lumpur terjadi, tidak ada satupun orang yang menulisnya menjadi sebuah buku. Padahal, tragedi gelombang Tsunami di Nangroe Aceh Darussalam (NAD) dan gempa bumi di Jogjakarta telah membuat orang tertarik untuk menulisnya menjadi sebuah buku setelah tiga atau enam bulan kejadian berlangsung.
“Lumpur ini saya menyebutnya sebagai ironi pembangunan. Pembangunan seharusnya membuat orang menjadi sejahtera dan makmur, tetapi malah menjadi malapetaka yang mengenaskan. Pasalnya, telah terjadi miss management pembangunan di Porong, Sidoarjo,” tegasnya.
Ketua PWI Jatim sekaligus Pimpinan Redaksi Harian Surya, Dhimam Abror Djuraid mengatakan, apa yang dilakukan Mirdasy untuk menulis buku ini merupakan bagian dari propaganda media yang akan menjadi penggerak awal menyelamatkan kemanusiaan di Porong, Sidoarjo.
“Dalam pandangan saya tragedi ini sangat luar biasa, meskipun pelan namun pasti terus memakan korban. Tapi nyatanya tragedi ini tidak seperti tragedi kemanusiaan lainnya seperti Tsunami Aceh dan gempa bumi Jogjakarta, yang memang menarik perhatian dunia untuk terlibat di dalamnya,” ujar Abror.

Keterangan Foto :
Anggota Komisi B DPRD Jatim Muhammad Mirdasy dengan bukunya berjudul ” Bernafas Dalam Lumpur Lapindo” yang diluncurkan hari ini. (29/5). Foto : tok

Iklan

6 Responses to KORBAN LUMPUR LUNCURKAN BUKU BERNAFAS DALAM LUMPUR LAPINDO

  1. putri berkata:

    azkum…..

    mw tnya gmn ya dan dmn sy bisa menemukn buku tentang lumpur lapindo, karena kebetulan saya sngt ksulitan sekali mndptknnya padahal sya hrz bisa mndaptkn buku itu sbg referensi, tolong bntuannya….

    thank`s b4

    waskum….

  2. eronian berkata:

    saya juga tertarik dengan buku ini. ada yang tahu bagaimana cara menghubungi pak mirdasy? apa beliau memiliki blog? atau setidaknya email? please help me…

  3. Sulistyono berkata:

    Sejujurnya saya kepingin memiliki buku bernafas dalam lumpur karya Bapak, kira-kira 2 bulan yang lalu sya melihat buku ini ada di Gramedia, sebenarnya saya ingin membeli tetapi kebetulan tidak bawa uang atau istilah kasarnya lagi bokek tidak punya uang untuk membelinya. Tagl 3 Nopember 2008 yang lalu saya bermain lagi ke Gramedia dan mencara buku ini ternyata sudah tidak ada, dan kutanyakan kepada karyawan yang bertugas di Gramedia stock di cabang-cabang Gramedia juga kosong. Terus bagaimana saya bisa dapat mendapatkannya. Saya butuh sekali untuk memperluas pustaka cakrawala Novel saya yang kebetulan lagi dalam proses. Bisa dibantu saya untu bisa memiliki buku ini, Pak?

  4. mas Boy berkata:

    Salam lestari,

    bagimana caranya saya bisa mendapatkan buku terebut atas perhatianya terimakasih

  5. Dedi Ganedi berkata:

    Sebaiknya juga diterbitkan buku “MAKAN BERSAMA DALAM LUMPUR LAPINDO”

  6. Joyo.S berkata:

    “KORBAN LUMPUR LUNCURKAN BUKU BERNAFAS DALAM LUMPUR LAPINDO”
    ================================================

    🙂 Habis buku, dibikin film, biar artis panas tempo dulu, Eva Arnaz bisa ikut main film bernafas dalam lumpur 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: