Korban Lumpur di RSUD Sidoarjo yang Dipulangkan

Jumat, 01 Juni 2007 RADAR SIDOARJO
Luka Masih Bernanah, Disuruh Rawat Jalan
Tak sedikit korban lumpur yang dipulangkan dari rumah sakit. Bisa jadi, itu disebabkan biaya perawatan belum dibayar Lapindo. Salah satunya, Ninik Urina, 22, yang tercebur lumpur hingga kakinya melepuh.

RINI KUSTIASIH, Sidoarjo

MATA Ninik Urina memerah ketika menceritakan kecelakaan yang dialami empat bulan lalu. Ninik terpaksa dilarikan ke rumah sakit karena terjatuh ke dalam kubangan lumpur panas. Saat itu dia berusaha menyelamatkan barangbarang dari rumahnya di RT 03/RW 01, Renokenongo, Porong, Sidoarjo.

Akibat kecelakaan itu, kulit di kedua kakinya melepuh. Begitu juga sebagian lengannya. Ninik kemudian dibawa ke RS Bhayangkara, Porong. Tak sampai satu jam, dia dirujuk ke RSUD Sidoarjo untuk mendapatkan perawatan yang lebih intensif.

Petugas medis yang menerimanya waktu itu memberikan pelayanan dengan baik. Ninik merasa sangat diperhatikan petugas medis RSUD pada masa-masa awal perawatannya. Setiap hari, luka bakar di kaki dan tangannya dibersihkan petugas medis. Obat-obatan rutin diberikan setiap empat hari sekali. Seluruh biaya perawatan Ninik ditanggung Lapindo.

Namun, setelah 29 hari dirawat, luka bakar Ninik tak kunjung sembuh. Menurut Saimunah, ibu Ninik, luka bakar di kaki dan lengan anaknya masih mengeluarkan nanah dan berdarah. Lapisan kulit yang rusak belum sepenuhnya tergantikan oleh yang baru.

Petugas medis menyarankan Ninik pulang dan melakukan rawat jalan. Tetapi, keluarganya menolak. Sebab, menurut mereka, keadaan Ninik belum sembuh benar. Alasan petugas medis saat itu, kapasitas kamar sudah penuh dan banyak pasien lain yang antre di UGD.

Keluarganya bersikeras meminta Ninik tetap dirawat inap. Pertengkaran kecil pun sempat terjadi antara keluarga Ninik dan petugas medis.

Selain disarankan pulang dan rawat jalan, Ninik diminta berlatih berjalan oleh petugas medis. Dengan menahan sakit, dia saat itu memaksakan diri berdiri. Tapi, tidak sampai tiga langkah, Ninik tak bisa melanjutkan.

Keluarga akhirnya memutuskan membawa pulang anaknya tiga hari kemudian. Menurut Ninik, keputusan pulang karena keluarga merasa segan bertahan di rumah sakit. Sepulang dari rumah sakit, Ninik dirawat sendiri oleh keluarga di Porong.

Hingga kemarin, luka bakar Ninik belum sepenuhnya kering. “Kalau berjalan, kulit terasa tertarik dan mengeluarkan air,” terang perempuan kelahiran 15 September 1985 itu. Selain rasa sakit yang diderita, Ninik juga mengalami tekanan psikologis dengan keadaan fisiknya sekarang. “Kalau keluar rumah, sering tidak pede,” tuturnya menerawang.

Bukan itu saja, Ninik merasa sedih karena tidak bisa bekerja lagi. Padahal, dulu dia adalah salah satu tulang punggung keluarga. “Sekarang, saya malah jadi beban keluarga,” ujarnya.

Kepala Bagian Umum RSUD Sidoarjo Suprapto mengungkapkan, persoalan seperti yang dialami Ninik umum terjadi. Menurut dia, pasien dari keluarga miskin (gakin), askes, dan asuransi-asuransi lain, termasuk juga tanggungan Lapindo, sering curiga karena mereka adalah pasien yang digratiskan.

Padahal, kata Suprapto, petugas medis sudah memberikan pelayanan selayaknya kepada mereka. Dia juga mengakui, Januari hingga Maret, jumlah pasien RSUD membeludak. “Kalau semua minta dirawat inap, kapasitas RS tidak mencukupi,” terangnya. (*)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: