Korban Lumpur Diduga Dipungli

RADAR SIDOARJO      Sabtu, 02 Juni 2007
SIDOARJO – Indikasi pungutan liar (pungli) kepada korban lumpur yang dilakukan pejabat pemerintah tingkat bawah terus bermunculan. Kemarin puluhan warga RT 8 RW 2 Desa Kedungbendo meminta ketua RT setempat diberhentikan.

Sejumlah warga tersebut saat itu mendatangi rumah Kepala Desa Kedungbendo M. Hasan. Mereka melaporkan bahwa selama ini Ketua RT 8 Mulyono telah menarik sejumlah biaya saat melakukan pengurusan surat-surat.

Warga menuding ketua RT mereka telah memanfaatkan momen bencana lumpur Lapindo untuk memperoleh keuntungan pribadi. Sebab, saat ini warga korban lumpur yang rumahnya tenggelam memang berbondong-bondong melakukan pengurusan sejumlah surat-surat kependudukan. Surat-surat tersebut untuk memenuhi syarat administrasi pembayaran ganti rugi. “Ini sama saja menari di atas penderitaan kami,” keluh Supariyono, salah seorang warga RT 8.

Menurut dia, besar biaya yang dibebankan kepada warga bervariasi. Untuk mengurus Kartu Keluarga (KK), setiap warga dipungut biaya Rp 50 ribu. Sedangkan untuk stempel RT, kata Supariyono, warga harus merogoh koceknya Rp 10 ribu. “Belum untuk KTP dan lain-lain, pokoknya semua harus bayar dulu,” ungkapnya.

Dia mengatakan, jika biaya-biaya tersebut tak dipenuhi, pengurusan surat-surat tersebut tak akan dilakukan. “Atau paling tidak, akan sangat lama selesainya,” jelasnya. Keluhan senada juga diungkapkan Sutono, warga yang lain. “Saya heran, padahal dia sendiri sebenarnya juga korban lumpur, kenapa bisa setega itu,” ujarnya.

Padahal, katanya, warga korban lumpur di beberapa wilayah lain tak ada yang dipungut biaya sampai sebesar itu. “Kata Pak RT, biayabiaya tersebut sudah menjadi ketetapan dan memang harus dibayar,” jelasnya.

Setelah mendapat keluhan sejumlah warga, kepala desa pun sempat memfasilitasi Ketua RT 8 Mulyono untuk melakukan klarifikasi. Saat itu, secara tegas, dia tidak mengakui tudingan warga kepada dirinya. “Tudingan itu tidak benar. Tidak pernah ada pungutan uang seperti yang telah disampaikan,” ungkapnya, membela diri.

Susana pun sempat memanas. Bahkan, nyaris terjadi baku hantam antara ketua RT dan warganya. “Mereka itu orang-orang yang tidak senang dengan keberadaan saya sejak di pengungsian dulu,” jelas Mulyono. Dia menyebutkan, sampai sekarang kelompok warga tersebut terus berusaha menjelek-jelekkan dirinya.

Menanggapi permasalahan itu, Kades Kedungbendo M. Hasan berjanji segera memfasilitasi pertemuan untuk menyelesaikan persoalan pungli. Pertemuan tersebut, rencananya, dilakukan di rumah ketua RW setempat. “Sekarang suasananya masih panas. Biar dingin dulu, baru nanti kami selesaikan bersama-sama,” kata Hasan. (dyn)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: