Tim Insersi Bola Beton Siapkan Jaring Laba-laba

Sabtu, 02 Juni 2007 KOMPAS
Bandung, Kompas – Tim insersi bola beton kini menyiapkan teknologi jaring laba-laba. Metode ini untuk membuka kemungkinan adanya penutupan sendiri pusat semburan lumpur Lapindo di Sidoarjo.

Sebelumnya sudah dilakukan insersi 398 bola beton dari 1.000 bola beton yang direncanakan. Namun, kegiatan itu akhirnya terhenti dan belum jelas bagaimana kelanjutannya. “Pada dasarnya kami siap dengan teknologi yang kami tawarkan tersebut. Namun, hingga kini belum diketahui secara pasti kelanjutan pengurangan debit lumpur,” kata Bagus Endar Nurhandoko, Ketua Tim Insersi Bola Beton, Jumat (1/6) di Bandung.

Menurut Bagus, berdasarkan pantauan secara bertahap, masuknya bola beton terbukti sangat aman. Hal itu antara lain bisa dilihat dari jumlah gelembung. Untuk membuatnya benar-benar aman, lanjutnya, teknologi jaring laba-laba akan digunakan untuk menahan lumpur.

Bagus menolak apabila dikatakan jaring laba-laba sebagai proyek coba-coba. Menurut dia, jaring laba-laba adalah pengembangan atau modifikasi dari teknik yang ada.

“Berdasarkan pemikiran kami, dipadukan dengan kondisi di lapangan, dengan menggunakan jaring laba-laba bola beton akan semakin kuat,” ujar Bagus.

Jaring laba-laba tersebut, lanjut Bagus, akan digunakan untuk menahan lumpur. Di sisi lain, bola beton yang telah dipasang akan menempel dan tertahan di dalam jaring.

“Keadaan ini akan mendorong mekanisme pengurangan energi dan debit secara signifikan serta terkonsentrasi di zona tertentu,” katanya.

Air meningkat

Berdasarkan data pantauan, ternyata kadar air lumpur meningkat setelah dilakukan insersi 398 untaian bola beton.

Target insersi seluruhnya, sebagaimana yang tertulis dalam kontrak awal, adalah 1.000 bola beton. Insersi rencananya akan dilakukan dalam waktu 2,5 bulan. Gagasan berawal bulan Februari dan pemasukan bola beton dihentikan pada Maret 2007. Tujuan insersi bola beton adalah untuk mengurangi debit keluarnya lumpur.

Bertambahnya air lumpur mengindikasikan mekanisme penyaringan sudah mulai bekerja, yaitu memerangkap material padat dan mengalirkan material halus, gas, dan air.

Didasarkan pada data laju pengendapan, air yang tersisa sangat sedikit, diperkirakan hanya 10 persen.

Ini berarti viskositas (tingkat kekentalan) cairan lumpur meningkat sehingga lumpur akan berubah menjadi padat. Fenomena ini, menurut Bagus, terlihat jelas di permukaan.

Tidak jelas

Ditanya tentang insersi bola beton yang saat ini terhenti, Bagus menyatakan tidak tahu mengapa hal itu terjadi.

“Kami tidak tahu pasti mengapa dihentikan. Bahkan, sebelumnya sudah tersedia 500 bola beton dan kami siap meneruskan meski terbentur dana, tetapi kemudian tidak jadi dimasukkan karena Lapindo tidak bisa menyediakan crane yang kami perlukan,” ujar Bagus Endar Nurhandoko.

Semburan lumpur panas kini terus berlangsung. Dikhawatirkan, tanggul tidak kuat menahan beban lumpur sehingga memicu terjadinya amblesan.

Mengenai insersi 1.000 bola beton yang dihentikan di tengah jalan, belum ada tanda-tanda apakah metode tersebut akan dilanjutkan. (CHE)

Iklan

67 Responses to Tim Insersi Bola Beton Siapkan Jaring Laba-laba

  1. boxal berkata:

    haha benar juga pak usil …saya keingatan waktu di kampus dulu. panggilan bang sering buat ospek doang. apalagi buat senior2 yang dari Batak. Tampangnya garang2. iii takut…….

  2. usil berkata:

    Buat pak Rino,
    Garang gimana to pak?
    Di jkt kan “bang” itu panggilan akrap dan terhormat.
    Gubernurnya aja kita panggil “bang Yos”….hayo!

  3. boxal berkata:

    pak rovic,
    saya memang beberapa kali b’diskusi dgn mereka waktu ngambil data diporong kemaren tapi
    saya terakhir ketemu tim-hdcb di IPA tapi bukan pak endar-nya langsung…
    tar kalau saya ketemu dimana saja saya sampikan.. pasti..

    masalah jaring laba2 sih, saya juga belum tahu bagaimana? saya lupa menanyakannya (waktu itu gak kelewat kali ya dari pengmatan saya), mungkin bapak lebih tahu… saya juga ga begitu curious lg skrg spt dulu… sibuk urusin thesis pak.

    iyya saya juga menyadari dalam diskusi ini ada sedikit perbedaan:
    saya mungkin berfikir dengan melandaskan pada kondisi lapangan yang sebenarnya yang medannya cukup sulit… sehingga lebih banyak pertimbangannya terhadap setiap metode..
    sedangkan bapak2 ini MUNGKIN berpikirnya pada tataran kondisi lapangan ideal..
    entahlah pak..
    tapi memang sebaiknya kita jalan2 dulu kesana kali ya… survey lapangan dulu…

    salam kenal pak rovic,

  4. Rovicky berkata:

    Kang Boxal
    Tolong kasih tahu mereka ya … 😛 kalau nanti ada info soal jaring laba-labanya kita dibagiin infonya. Kirim saja ke saya di rovicky at gmail titik com nanti kita bahas bareng2.
    Suwun …. sukur ada data-data yg boleh disharing juga OK kok.
    Salam buat Pak Endar dkk 😉

  5. boxal berkata:

    iyya stuju pak rovicky..
    mungkin mereka kurang sosialisasi..
    sosialisasi pertama mereka itu kayaknya di IPA exhibiton jkt…
    sibuk kali yah?? entahlah knapa pak?? tapi pasti ada sebab

  6. rino berkata:

    cuma ngingatin aja pak usil. Jangan pake manggil bang boxal. keliatan lebih garang. Apalagi ntar kalau ada pak syad. Jadi apa coba??????

    Peace………….

  7. rino berkata:

    Benar pak Rovi,

    Yang paling salah di Tim HDCB ini sosialisasinya. Mereka ga pernah menyosialisasikan ke masyarakat umum jadi kita-kita ga tau.

    Dasar dosen yang hanya sibuk ngurusin masalah2 teknis, padahal kalau kasusnya seperti ini masyarakat juga berhak tau apalagi mereka yang interest.

  8. Rovicky berkata:

    Quote — iyya memangsih kalau lihat tv sama koran, kebanyakan isinya kurang tepat… karena yang aku amatin mereka (wartawan) tidak begitu memahami penjelasan science/teknik dari tim-hdcb, sehingga yang diberitakan kurang detail… dan akses mereka juga dibatasi untuk masuk ke lokasi semburan, jadi mereka hanya mengamati dari luar jauh.. tivi juga lebih banyak ngupas segi sosial x daripada teknik… — end Quote

    Ini merupakan salah satu kunci dari kesuksesan operasi yaitu SOSIALISASI. Tim HDBC sepertinya kurang pandai dalam menjelaskan ke publik. Publik rakyat biasa mungkin “he-eh he-eh” saja dijelasin ndakik-ndakik … malah bisa-bisa langsung ngorok mumeth ndengerin penjelasan teknis.

    Lah aku ini mencoba membantu saja sulit kok mendapatkan detil pemikiran mereka. Bahkan aku mencoba menjelaskan bubble point sampai tiga hari mikirin gambar di-dongeng geologi itu 😦 http://rovicky.wordpress.com/2007/06/07/menahan-gelembung-lumpur/
    sepertinya gambarku lebih mudah dimengerti ketimbang penjelasan HDBC ke Prof Wiratman disini
    http://rovicky.wordpress.com/2007/02/24/bola-bola-itu-menyerap-energi/

    Tapi ya masih juga aku malah mendapatkan data-data dan info justru bukan dari Tim HDCB … walopun sama-sama ngga dibayar, tapi aku sih ngga nuntut bayaran kok 😀 biar jadi amal jariah aja 😛 … amien

  9. boxal berkata:

    ompapang,
    iya itu bisa saja terjadi jikalau insersi bola besinya lancar terusss..
    tapi kan kadang banyak faktor yang bisa menghambat insersi sehingga jadi tidak selncar itu, seperti:
    1. faktor alam: hujan, arah angin yang bertiup ke pekerja (semburan asap H2S)
    2. faktor teknis: tali seling putus karena korosi, menara rusak dsb
    3. faktor lainnya: politik, penundaan pembayaran oleh lapindo ke kontraktor yg terlibat, dsb

    tapi kalo masih bukan masalah menurut perhitungan bapak, boleh kita usulin tuh ke bpls,

    tambahan bolanya nanti bisa dibungkus ijuk, biar air yang lolos keatas bisa lebih jernih…

    mas usil,
    aku gak banyak tahu juga tapi kebetulan aku lagi thesis magister di salah satu univ di jkt, aku sering mengamati kondisi lapangan di porong jadi sedikit banyak tahu kendala dilapangannya..
    maret-april kemaren aku di porong selama 2bulan untuk ngumpulin data lapangan..
    semua data2-ku belum bisa aku share karena aku masih balum maju sidang
    jadi masih datanya masih confidential…
    iyya memangsih kalau lihat tv sama koran, kebanyakan isinya kurang tepat…
    karena yang aku amatin mereka (wartawan) tidak begitu memahami penjelasan science/teknik dari tim-hdcb, sehingga yang diberitakan kurang detail… dan akses mereka juga dibatasi untuk masuk ke lokasi semburan, jadi mereka hanya mengamati dari luar jauh.. tivi juga lebih banyak ngupas segi sosial x daripada teknik…

    trims.

  10. rino berkata:

    Pak Rovi, om papang
    Hari Sabtu saya posting comment di tulisan volume lumpur berkurang tapi lumpurnya tambah pekat. Tapi kok ga masuk ya?

    Saya jadi agak meragukan kata2 dari BPLS. Baru dua hari sebelumnya ada pernyataan kalau Ombak membesar dan intensitas semburan tambah tinggi. Ini mana yang benar?

    Apa emang se fluktuatif itukah pak Rovi?
    Kalau menurut saya mungkin aja fluktuatif sehingga untuk menentukan debit berkurang atau meningkat ga bisa perhari tapi relatif dalam jangka waktu tertentu dengan melihat kecendrungannya.

    Membaca komentar BPLS (mungkin deputi operasi) yang ngasih pernyataan saya rasa kurang bijak dalam menganalisa.

  11. usil berkata:

    Pak Boxal ini kayaknya banyak pengalaman dilapangan, terutama
    dengan HDCB. Bagi2 ceritanya dong pak! Maklum kita2 ini paling
    banter ngeliat di TV dan baca koran, termasuk info dari blog ini.

    Wah! sudah postingan keberapa ini ya? Kalau pecah angka 100,
    kita harus kasih “beslit” sama pak Arsolim yang memulai pada
    tanggal 3 yang lalu. Beslitnya nanti omPapang yang kukuhkan!!

  12. ompapang berkata:

    tambahan, sebelum besi habis karena korosi, lumpur sudah tersumbat oleh 2000 BOLBESITON dari kedalaman 3000 meter.

  13. ompapang berkata:

    Pak boxal itu gimana, kalau palabuhannya pakai beton, njur kapalnya juga pakai beton biar tidak korosi? Titanic yang tenggelam puluhan tahun saja gak habis termakan korosi, padahal air laut yang asin ganas lho terhadap besi.
    Kembali pada BOLBESITON. Bila kulit besi BOLBESITON sampai habis termakan korosi, BOLTON ASLI masih punya diameter 40 -2 =38 cm. Apakah pengurangan diameter 5 % itu BOLTON ASLI njur tidak efektif kerjanya ? Biasanya besi yang berkarat akan bertambah volumenya, juga akan saling merekatkan satu terhadap lainnya semisal mur dan baut yang sama-sama berkarat, akan menyatu dan macet tidak bisa dibuka. Demikian pula BOLBESITON, bila berkarat, satu terhadap yang lain akan menyatu saling melekat, volumenya bertambah sehingga mengisi celah-celah antara BOLBESITON, yang menambah efektifnya kerja BOLBESITON sehingga proses penyumbatan lebih cepat tercapai. Jadi BOLBESITON menjamin keberhasilan sistem killing mud softly, namun pakai syarat dipasang pada kedalaman 3000 meter, bukan pada 1000 atau 1200 meter untuk mencegah adanya semburan baru ditempat lain. Sebaiknya Tim HDCB dapat mayakinkan BPLS, dengan BOLBESITON, tidak akan NGOROT, tetapi NGIRIT biaya, jangan sampai maunya NGIRIT malah NGOROT seperti yang sudah-sudah ( ngirit gak pasang casing pengeboran malah muncul Lusi)

  14. boxal berkata:

    ompapang, kenapa di pelabuhan pakainya beton bukan besi??
    karena kalau pakai besi bakal habis korosi…
    begitu juga diporong.. airnya itu asam sampai benda2 logam dekat situ pun (kyk mobil diparkir aja) bisa korosi apalagi dicemplungin mas… gietu…

    itu cuman salah satu alasannya…
    mungkin ada banyak alasan pendukung lain secara teori & praktek yang kita gak tau..

    masalah kulitas beton, itu sih di urus sama Wijaya Karya, mereka ahlinya…
    kalau ada yang bisa bikin beton dengan kualitas lebih baik, mending buka kontraktor saingan WIKA pasti sukses…

  15. herman berkata:

    saya setuju dengan besi scrap atau besi tua yang banyak di tanjung perak terutama bekas kapal yang sudah dianggap afkir dari pada menuh-menuhi tempat di perak mending dipotong-potong dirangkai pakai baja sling/tali baja .

  16. Arsolim berkata:

    Wah Om, Pak bambang Bahriro ini posisinya kritis sekali kalau mengklaim pasti berhasil 100% dan ternyata kureng sedikit saja (1%) bisa2 tidak dibayar sama sekali alias NOL BESAR ! jadi pilih cara yang mana om ?

  17. ompapang berkata:

    Pak Arsolim, PAK Usil dengan MATHEMAL nya sudah ngitung kok,tuh diposting atas!Tapi kalau dugaan pak Arsolim benar, mungkin gamblingnya FIFTY-FIFTY masuk, alias klaimnya tidak mutlak,tetapi setengah gagal setengah berhasil atau diperhalus dengan untaian kata “killing mud sofly dapat mengurangi 50 – 70 %”.Beda dengan pak Bambang Bahriro, Satpam yang ngaku lulusan STM, dia jelas-jelas ngeklaim 100% berhasil.

  18. Arsolim berkata:

    Tambahan om, dulu waktu pertama kali dikenalkan kalau tidak salah dengan Bolton pemakaian lumpur diklaim bisa dihemat sekitar 70%, Sekarang klaim tim HDCB kan baru mampu menghemat (penurunan debit) sekitar 20% saja, jadi sisa pekerjaan masih kurang 50% dan sisa pembayaran mungkin nunggu realisasi dari kekurangan yang 50% tersebut ?

  19. ompapang berkata:

    Pak Usil , ini pesanannya tak posting lagi disini.
    Omong-omong kalau lumpur tambah ENCER katanya BOLTON berhasil, tetapi kalau lumpur tambah PEKAT ,apa BOLTON masih dapat diklaim berhasil? Menurut tim HDCB, kalau debit menurun dan lumpur mengencer, berarti BOLTON sukses, bagaimana pak ini kok kontradiksi? Mungkin juga lho lumpurnya tidak tambah pekat tapi juga tidak tambah encer, tapi ngukurnya gimana? Apa tiap hari sudah disampling?

  20. ompapang berkata:

    Bang Eduard gawa, waktu kecil aku sering main dengan Bapakku, “Chilo uuu. . .Ba…pak!!”
    Jadi kalau denger “Chilo” mesti berkaitan dengan Ba…pak. Bukan Chilo. . uuu….Bu Tak” Emangnya kepala ibu-ibu pada botak. He 4X.

  21. edogawa berkata:

    ompapang..
    kayaknya chilo itu mazhabnya ibu2 deh..
    bukan begitu dek chilo..?
    😛

  22. usil berkata:

    Eh! ada yang kurang. Seruhan diatas sekalian juga buat pak Arsolim.

  23. usil berkata:

    Ompapang! puas…..puas….saya cocok.

  24. ompapang berkata:

    Pak Usil, langsung tak jawab lho,walau sebagian !

  25. Arsolim berkata:

    Begini pak, keberhasilan suatu metode khususnya tentang penanggulangan semburan LUSI ini paling tidak harus dilihat dalam suatu kurun waktu / periode kecederungannya bagaimana berkurang, tetap atau bertambah, jadi tidak bisa ditentukan dalam waktu 1 atau 2 hari saja, contohnya berita-berita yang beredar hari ini dikatakan aktifitas meningkat besoknya dikatakan relatif tenang dstnya.

    Kemudian ukuran yang dipakai untuk menghitung volume semburan setiap harinya apakah sudah bak dan akurat ? dan bagaimana cara mengukurnya ?

  26. ompapang berkata:

    Pak Boxal, kuat tekan bola beton nggak lebih dari 400 kg/cm2.( Bandigkan dengan K (kuat tekan) beton dari uji produk Semen pada situs Semen Gresik, http://www.semengresik.com) .Jadi daya tahan terhadap tekanan dan suhu mesti kalah jauh dari batu kali yang berasal dari magma gunung api. Namun, seperti pernah saya usulkan dalam blog ini, untuk mencegah BOLTON hancur karena benturan,gesekan,tekanan tinggi, suhu tinggi, BOLTON dibuat dengan kulit bola dari besi tuang yang berongga dimana kedalam rongga tersebut dicor campuran betonnya. Jadi campuran beton hanya sebagai pemberat. Bila tebal kulit besi tuang bola 1cm, maka berat bola berongga dengan diameter luar 40 cm tidak akan lebih dari 20 kg. Bila diisi beton menjadi sekitar 100kg. Bila harga bola berongga dari besi tuang per kg Rp 25.000, maka kulit bola tersebut akan makan biaya Rp500.000,- per butir. Bila dibuat 2000 butir, baru habis Rp 1000.000.000,– ( Satu Milyar Rupiah) . Masih sangat murah, dibanding dengan potensi kegagalan BOLTON tanpa kulit besi tuang. Kalau sejak awal BOLTON dibuat dengan cara tersebut, tentu tidak dikhawatirkan hancur karena tekanan dan suhu tinggi oleh para komentator disini (ctt: Saat diinsersikan pertama kali berapa hari umur bola beton ?Mungkin belum 28 hari ).
    Dan juga sejak awal sudah pakai jala tentu hasilnya sudah NYATA, dan acungan jempol mesti sudah diterima oleh tim HDCB dan last but not least, Lapindo tentu langsung bayar JRENG, tidak seperti sekarang, masih di KREDIT !

    Pak Chilo, PT Wijaya Karya yang ngecor BOLTON kira-kira dibayar nggak ya? WIKA kan BUMN, nasibnya mungkin seperti PT KAI, PLN, JASA MARGA dll mestinya.

  27. usil berkata:

    Bang Boxal (supaya lebih akrap saya sebut bang, gak keberatan to?).
    Nada bang Boxal kali ini terus terang berbeda dengan yang lalu. Maaf
    yang lalu itu, saya ngeri terkena “kata mutiara”.
    Dari apa yang bang Boxal paparkan diatas (terlepas benar tidaknya),
    yang jelas sangat terkesan nada ingin berdiskusi. Kita hormati itu.

    Begini bang, sebetulnya para komentator disini TIDAK HARUS sama
    pendapatnya. Coba bang Boxal teliti lebih mendalam, antara RIrawan,
    omPapang, Herman, Dedi, Janatan dll. Sering juga pendapat mereka
    kontradiksi satu dengan yang lain. Tapi sifat sportif mereka sangat
    menonjol. Mereka tidak sungkan2 mengakui pendapat yang lain itu,
    jika dianggap benar. Mereka terkesan, sudah menjadi kawan sekaligus
    lawan diskusi. Jadi , persoalan HDCB ini, diantara mereka sendiri setahu
    saya TIDAK satu pendapat. Contohnya: omPapang sendiri.
    Saya sih yakin, jika data2 yang bang Boxal uraikan diatas adalah betul,
    maka mereka yang “kontra” pasti juga akan bersikap sportif.
    Demikian juga pasca HDCB-1 yang terkesan gagal, saya tidak melihat
    mereka yang “kontra” lantas “bejingkrak-jingkrak”
    Kalau omPapang jawabnya bagaimana? Hayo! jawab kalau bisa!!

  28. chilo berkata:

    berita kompas senin 11/6/07 edisi cetak

    judulnya: TimHDCB ITB belum dibayar Lapindo

    WOWW… jadi mereka ternyata pakai uang pribadi…
    kira2 diantara kita ada yang mau gak spt itu? kerja tanpa bayaran jelas?
    salut gw sama tim ini…

    baca beritanya di kompas.com klik edisi cetak

  29. boxal berkata:

    setahu saya bola beton itu lebih kuat/padat/berat dibanding batu sungai, batu gunung apalagi batu ginjal…..
    mungkin besi lebih bagus… tapi apa ga kemahalan… nambang besi kan lebih sulit dari produksi semen.. (ada yang pernah hitung perbandingan harga besi & beton dalam volume yang sama????)
    lagian kalau pakai scrap besi bisa dimarahin walhi sama pak mentri KLH karena dianggap B3 (bahan buangan berbahaya bagi lingkungan) nah gimana tuh….
    orang2 itu yang malah ngasih rekomendasi di tanggul sampai kelelep 1600 rumah tuh
    gini aja deh.. kalau memang bola beton tidak efektif, menurut bapak2 ide apa yang lebih tepat dan efektif??? nanti baru kita bahas…
    pertimbangannya:
    0. masuk akal… reasonable…
    1. pastinya biaya
    2. available untuk diset dilapangan… mengingat kondisi lapangan… (tanah lembek, mudah ambelas, dsb)…. jalan tidak memadai…
    3. dan kendala lapangan yang lain,
    lengkapnya sih main2 aja kesana sekali2 dan buka mata baik2 sambil naik diatas tanggul & feel it…

  30. boxal berkata:

    mas/bang usil yang terhormat.
    melalui posting anda 6 juni 11.07
    koq bang usil bisa menyimpulkan kalau bolton satu tidak berhasil!!! apakah melalui perhitungan atau pengukuran??

    *perhitungan???
    sementara yang saya tahu insersi bola beton ini bisa dilaksanakan karena didukung oleh perhitungan teoritis yang masuk akal
    bahkan perhitungan itu sebelumnya sudah dipresentasikan didepan ahli2 fisika/perminyakan/geologi untuk diperdebatkan dan hasilnya waktu itu bahwa metoda ini masuk akal secara teori perhitungan… jadi sy pikir jelas bahwa bola beton telah diperhitungkan dengan teliti bahkan dipresentasikan depan ahli… trus apalagi yang kurang secara teori mas usil????(sayangnya mungkin anda salah satu orang hebat yang tidak hadir di sana…)

    ingat yang lebih penting lagi adalah untuk kondisi tanggul yang lemah, jalan yang sering ambelas dan faktor alam lain yang tidak bersahabat… metoda bola beton ini adalah salah satu yang bisa diaplikasikan disana.

    judge bang usil itu karena apa? bang usil selama ini pernah liat sendiri tidak data lapangannya/ atau malah ukur sendiri?

    *pengukuran????
    saya kemaren ikut Pameran-IPA (Indonesian Petroleum Association) di jkt, disana ada stand HDCB yang mempublish data2 keberhasilan bola-beton, bola beton sejauh ini sudah berhasil SESUAI PORSInya yang telah diinsersi.. karena yang dimasukkan belum seluruhnya sesuai rencana (2000 untai) jadi efeknya juga belum maksimal.
    Namunpun yang dimasukkan belum sesuai rencana total, tetapi telah ada beberapa data kemajuan yang saya lihat dari data mereka:
    1. debit turun dari 150 rb cubicmeter/day menjadi 786 cubicmeter/day
    2. kemunculan new bubbles sebelum insersi : 5, 6, 7,8 dan bahkan 9 setiap bulan menurun drastis menjadi hanya 0,1,2 perbulan pada saat insersi dan sesudah insersi
    3. kekentalan menurun atau water saturation bertambah artinyakan positif, sedikit lebih mudah menggiringnya ke spillway dibanding dahulu
    4. kadar H2S meningkat, artinya lumpurnys tertahan di leher sehinnga H2S-nya release lebih banyak, itu juga tren positif bukan… karena membuang H2S jauh lebih mudah daripada membuang lumpur (H2S release ke udara terus keatas, dab bisa dibakar, sementara lumpur)
    5.ombak di kawah mengecil, lebih tenang sekarang dibandingkan dahulu
    6. tinggi semburan di kawah menurun, sekarang sulit dijumpai semburan ya ng tingginya 3 meter (sudah sangat jarang) sedangkan dulu semburan ya ng 5-8 meter itu sangat sering muncul. Hal ini mempengaruhi pada ombak yang di poin 5 diatas
    7. dan masih banyak data lapangan lagi waktu itu, sayangnya saya lupa beberapa…

    nah serupa dengan anda!! kenapa di media2 juga justru mengatakan bahwa bola beton gagal: mungkin karenaaa….
    1. wartawannya yang datang kesana tanpa alat ukur? trus parameter apa yang telah diukur, sampai bisa tahu ini tidak berhasil???
    2. atau mungkin orang2 masih berpikir biner, yaitu:
    jika terhenti total=bola beton berhasi; dan jika tidak terhenti total=gagal
    3. atau bahkan beritanya jadi kurang seru ya kalau tdk kontra dengan harapan..

    tapi kenapa bola beton malah dipending/dihentikan???? itu saya juga bingung mas..
    (dan tim-HDCB juga bingung waktu saya tanya itu)
    mungkin jawabannya ada di si penentu kebijakan… mungkin erat hubungannya dengan pergantian TIMNAS ke BPLS… atau ada hubungannya dengan lapindo… entahlah masalah itu saya pikir sangat politis…

  31. usil berkata:

    Psssst!! pak Syad, aku sebetulnya lagi nunggu 1 orang yang akan
    bantu menjawab ke omPapang. Tapi, gak muncul2 juga…
    Terpaksa aku jawab pake MATHE..RAMAL, eh, gak sangka masih
    dapet B-…..lumayan! Tapi pak Syad! jangan kasih omPapang
    ngintip kesini…..mateee aku!!!

  32. Syad berkata:

    wah slamat Pak Usil
    satu teka teki sudah terjawab 🙂
    cool B-)

  33. ompapang berkata:

    Pak dhe bilang sama Usil. . .eh Thole,”pinter kowe Le !”

  34. usil berkata:

    Bisa om! Memang harus diatur pada kedalaman 1000 sebab itu yang
    sesuai dengan target, yaitu 1000/3000 debit berkurang (30 – 40%).
    Ini memang hitungan saya om, pasti gak sama dengan cara etung
    omPapang, RIrawan dll. Saya etung pake “mathemal” teory om.

  35. ompapang berkata:

    Pak Usil, sak jane ompapang lebih senang di topik APA KABAR HDCB untuk kasih komen, wong disini kan hanya dari wartawan yang kasih Kompas info, menurutku kurang afdol, lagian mungkin tak dibaca sama Pak Bagus ato lainnya. Aku pengin tanya kenapa kedalaman 1000 – 1200 meter dianggap aman untuk pasang jaring. Rabaan saya pada kedalaman itu dianggap aman terhadap kekuatan bolton, bukan terhadap timbulnya semburan baru ditempat lain.Sebab pada kedalaman 1000 meteran bolton BELUM HANCUR terkena tekanan dan suhu tinggi, lain halnya kalau jaring dipasang dikedalaman 3000 meter, ada kemungkinan bolton bisa “menembus” jaringnya, sebab sudah berupa “BUBUR”. Teka teki yang belum terjawab adalah: dikedalaman berapa bolton yang sudah diinsersi, menari-nari,ber -rotasi dan ber-translasi menyerap energi Lusi hingga dapat killing mud sofli ?Hayo, jawab pak Usil kalau bisa !

  36. usil berkata:

    OmPapang itu ada2 saja…doyannya MEMISTIK!!!
    Sudah dibilang “masih sibuk”, koq malah dibilang “pening”
    sudah gitu, suruh pake obat “BOXAN” lagi, seharusnya kan BODREX?
    Tuh! baca sendiri protesnya pak a_otnaidah di OMBAK MEMBESAR…

  37. Arsolim berkata:

    Patriotik, oke lah, memang kalo bisa memakai tenaga bangsa sendiri dengan catatan mereka harus mumpuni (uncapable) tidak seperti sekarang ini, yang kita kritik juga oleh eman2 yang lain di blog ini sebenarnya adalah cara kerjanya yang trial & error itu lho !
    (seumpama seorang dokter yang tidak capable mengobati pasien kritis yang datang belum tahu diagnosa dan sumber penyakitnya trus dicoba dengan macam2 obat ini & itu (a s/d z), ya mungkin kebetulan bisa sembuh atau langsung Ko’it)

    Ahli2 kita secara teori mungkin tidak kalah dengan asing, tetapi kemudian ketika berhadapan dengan situasi dilapangan ternyata tidak mempunyai teknologi & peralatan canggih yang memadai spt kata mas Rovicky mungkin harus pinjam ke Schlumberger atau Halliburton atau yang lain, Funding apalagi, modal cekak, jadi disinilah kelebihan tenaga asing spt Okamura yang dari Jepang itu idenya langsung didukung oleh konsortium bank dari negaranya untk diimplementasikan.

    Jadi kalau suatu metode sudah gagal (bolton) hari ini saya baca koran semburan lumpurnya semakin deras dari sebelum insersi bolton, apakah harus didukung secara membabi buta untuk diteruskan?

    Yang lebih mengherankan saya, di Indonesia ini kan banyak sekali sumber2/sumur2 minyak, kenapa yang turun tangan bukannya ahli2 perminyakan Indonesia yang notabene praktisi, tapi kok malah dari Akedemisi yang notabene teoritisi/teokrat.

  38. a_otnaidah berkata:

    whooo……………..jadi simpanse nyang primata cikal bakal homo sapien itu ngebet berjuang ngangkut barang kayak onta menerjang gurun pasir. kepanasan, nelen gas racun, resiko modarr ditepi semburan lapindo.
    oaaaala………………………kasianilah patriot!

  39. RIrawan berkata:

    Iya pak t, disini kita hanya ngomong, tak berharap kontrak atau proyek, tapi mungkin saja ada gunanya. Action tanpa hitungan itu bukan ciri ahli. Patriot, pejuang …! Entahlah …, tetapi tanpa perhitungan, ya banyak korbannya. Mana jiwa sukarnomu …! Lho sukarno telah memerdekakan kita, dan sekarang masanya kita isi kemerdekaan ini dengan mutu.

    Nggak bosan kog ompapang, pak usil, cuma memang sedang repot. Dulu kan main caturnya seru sama ompapang. Tapi asyik juga ini, ada yang teriak keras, jadi saya ingin lihat, ada apa?

    Insersi Bola Beton.
    High Density Chained Balls.
    Untaian 2 bola 40 cm dan 2 bola 20 cm dengan kawat baja.
    374, 398, 1000 untai.
    Jaring Laba-Laba.
    Mengapa sih repot-repot begitu?
    Lebih masuk akal, lebih gampang: “Cemplungkanlah besi-bekas (scrap) dan batu-kali banyak-banyak.” Benda-benda itu lebih murah. Lebih cepat diperoleh. Lebih berat (higher) density-nya. Lebih tahan panas dan tekanan. Lebih efektif memerangkap lumpur padat. Lebih cepat tenggelamnya (meskipun tidak bakal sampai 30 m/detik seperti hitungannya tim HDCB). Pendeknya dari semua aspek alasan dan tujuan dari Bolton atau HDCB, jelas besi-bekas dan batu-kali lebih unggul.

    Namun saya tidak mengatakan, bahwa memasukkan besi-bekas dan batu-kali bakal berhasil mengurangi atau menghentikan semburan. Hanya yang jelas, ini jauh lebih unggul segala-galanya daripada Bolton atau HDCB, meskipun sama-sama tidak ada teori pendukungnya yang legitimate, tidak ada hitungannya dan tidak ada bukti/rumus angka-angkanya.

    Tetapi proses pelaksanaannya harus seperti penegasan pak Arsolim. Tenderkan! Itu kalau kita mau taat asas dan aturan, mau melihat negara ini tertib dan transparan. Pekerjaan dilaksanakan oleh kontraktor pemenang tender, yang profesional dan berpengalaman, yang memiliki perangkat organisasi manajemen dan peralatan. Progres kerja diawasi dan diukur berdasarkan spesifikasi dan persyaratan kontrak. Pembayaran dan sanksi diatur dalam kontrak.

    Maaf saya agak lantang. Soalnya, jenuh juga dengan banyaknya langkah-langkah yang tidak jelas ujung pangkalnya, sementara keadaan di lapangan terus makin buruk. Kenapa HDCB melulu?

    Universitas, institut, lembaga iptek dsb, hanya membuat penelitian, pengembangan teori dan perhitungan, sebagai landasan dan pilar pendukung suatu gagasan sebelum dituangkan ke konsep rencana konkrit. Tetapi gagasan itu sendiri boleh datang dari segala orang, pak Syahraz, Om Papang, pak Herman, pak Tito, pak Bahiro, pak Dedi, pak tzc dan lain-lain, yang bila sukses dihargai dan diberi bintang kreatifitas. Itu kalau kita ingin negera ini transparan, egaliter, non-diskriminatis, non-elitis, non-oligarkis, dan memberdayakan segenap potensi bangsa.

  40. ompapang berkata:

    Pak Usil, Pak RIrawan lagi demam (panas dingin) lho, seperti seorang “BOXER” cari sparring partner.
    Kalau BOXEN (adu tinju) kan harus cari pasangannya(sparring partner), kalau BOSAN di blog ini bisa cari blog lain, tapi kalau Pak BOXAl yang dicari apa ya di blog ini?
    Kalau ompapang baru DEMAM SAKIT KEPALA,TENTU DUSAL OBATNYA, ….DUSAL….DUSAL ….DUSAL…..OBATNYA. bukan BOSAN….BOSAN…. OBATNYA, eh kleru!

  41. t berkata:

    Yang jelas bukan RIrawan 🙂 . Becanda Pak. Catatan Yang Bijak Pak.
    Juga di sini:
    https://hotmudflow.wordpress.com/diskusi/diskusi-sosial-ekonomi-politik/#comment-13279

  42. RIrawan berkata:

    Bertambah besarkah peluang sukses bolton, kalau kita membelanya dengan gelora patriotisme?
    Kritik, tanya data, tanya konsep teknis dan angka perhitungannya, itu meledek bangsa sendirikah?

    Syahraz dengan pond-susun, Wiseso Tito yang mengaku “penemu asli bolton”, Bambang Bahriro dengan blokath-dothon dan lain-lain, mereka bukan bangsa sendiri? Dapatkah mereka sedikit saja peluang trial & error? Kenapa hanya bolton yang action terus-menerus? Hanya bolton yang patriot dan pejuang bangsa?

    Suatu bangsa akan mampu mengatasi masalahnya secara rasionil dan maju, manakala didukung oleh lembaga pendidikan dan ilmu pengetahuan yang konsisten berkiprah di habitatnya. Melahirkan anak-anak bangsa yang cerdas, cendekiawan unggul, mengembangkan ilmu, melakukan penelitian dan memberikan pemahaman yang luas tentang alam dan kehidupan. Dus domainnya teori, sedikit melebar … paling ke experimen. Menjadi kontraktor, apalagi trial & error adalah habitat enterpreneur, baik wirausahawan atau wirakreasiwan.

  43. ompapang berkata:

    Tak tambahi lagi ya Pak Boxal, komentar saya dan Pak Hendro Nugroho W. (simpatisan fanatik bolton yang tak ada nada permusuhan) terhadap tulisan Pak Bagus Endar dari tim HDCB ITB,sbb:

    # Hendro Nugroho W. Says:
    Juni 4th, 2007 at 2:51 am

    HOREE…. Ternyata HDCB sudah mendekati berhasil. Teruskan perjuangan…!!!!! Masukkan lagi 1700 bola sisanya!!! Sumbat habis LUSI!!!

    # ompapang Says:
    Juni 4th, 2007 at 7:33 am

    Terima kasih PaK Bagus sudah memberi penjelasan mengenai hasil-hasil HDCB dan rencana memasang jaring laba-laba pada insersi berikutnya.
    Kami memang menunggu- nunggu tulisan dari tim HDCB.Syukurlah sekarang sudah ada.Dari tulisan tersebut kami ingin bertanya tentang hal-hal yang belum tertulis disitu, misal berapa “distribusi” diameter lubang mulai dari permukaan kebawah tiap 50 meter kedalaman hingga kedalaman 3000 meter atau kalau tidak ada data sampai 1200 meter sajalah. Pertanyaan ini saya kemukakan berkaitan dengan rencana Tim HDCB untuk memasang jaring laba-laba yang bila membuka akan berdiameter 3 m pada kedalaman 1200 meter.
    Walaupun tidak Bapak jelaskan fungsi jaring, kami “menduga” pemakaian jaring laba-laba adalah untuk menghindari HDCB BABLAS kebawah tertelan perut bumi seperti kekhawatiran saya pada awal Bapak melakukan insersi HDCB yang pernah saya tulis di blog ini..
    Andaikan diameter lubang dikedalaman 1200 meter itu kurang dari 3 meter, misal sekarang hanya satu meter, mengingat diameter bornya saja hanya sekitar 13 inci (33 cm), terus bagaimana, apakah jaring dapat berfungsi?.
    Atau andaikan diameter dikedalaman 1200 meter itu ternyata lebih besar dari 3 meter,misal 15 meter , terus jaring tetap dibuka atau tidak ?
    Menurut tulisan Bapak , HDCB yang sudah masuk berfungsi dengan baik, lha sekarang keberadaannya pada kedalaman berapa? Kalau HDCB berada dikedalaman kurang dari dari 1000 meter, misal 500 meter maka jaring laba-laba yang direncanakan akan membuka secara otomatis pada kedalaman 1200 meter tentunya tidak akan membuka karena belum mencapai kedalaman yang diinginkan berhubung terhalang oleh kumpulan HDCB, belum lagi bila dikedalaman tersebut diameternya kurang dari 3 meter.
    Kalau ternyata HDCB yang sudah dimasukkan BABLAS kebawah atau hancur dan tidak diketemukan pada kedalaman 1000 – 3000 meter, sedang dimeter dikedalaman tersebut boleh dikata homogen sekitar 5 meter, mengapa jaring laba-laba tidak dibuka dikedalaman 3000 meter misalnya. Dengan tanpa dihalangi HDCB maka membuka jaring dikedalaman tersebut bukanlah tidak mungkin, bahkan sangat ideal, karena kedalaman 3000 meter adalah mendekati pusat semburan, hingga dampak negatif munculnya semburan ditempat lain dapat dihindarkan.
    Menurut saya ,ada keuntungan lain bila Bapak dapat membuka jaring entah berapa diameternya dikedalaman 3000 meter, yaitu apabila berhasil memperlambat kecepatan semburan keatas kurang dari kecepatan aliran lumpur disungai Porong, tentu lumpur akan mengendap dan pada gilirannya akan menyumbat lubang semburan. Bila sumbatan dilubang semburan bisa bertahan 3 – 4 jam saja, maka seluruh material padat akan mengisi lubang semburan , sedang dibagian atas yang berupa air ( 70 % dari volume lumpur ?) yang terpisah dari endapan material padat bisa Bapak usir dengan menuangkan campuran beton tanpa air (kering) sehingga sesudah beku dapat berfungsi sebagai counter weight untuk memperkuat sumbatan dari endapan lumpur tersebut. Selamat bekerja, saya tetap mendukung seperti sejak awal, tetapi tetap saya kritisi, kalau perlu saya cemooh huuuu . . ., supaya tahan banting.!!
    (ctt: kesalahan ketik 6 m pada komen APA KABAR HDCB sudah dibetulkan menjadi 3 m)

  44. ompapang berkata:

    Tak tambahi ya pak Boxal, ini komen saya menanggapi komen “Wong Ndeso”

    # Wong-Ndeso Says:
    Maret 19th, 2007 at 1:01 pm

    Ada yang pesimis dengan metode memasukkannya bola-bola beton untuk mengurangi volume semburan lumpur. Tetapi FAKTANYA, hari ini (Senin 19-Maret-2007) setelah 374 bola – bola beton dimasukkan, semburan lumpur sempat terhenti selama 30 menit. sekitar jam 11 siang.

    bravo metode insersi bola – bola beton. Selamat bagi penemu ide tersebut (katanya ITB ya…). Semoga setelah tambahan 500 bola beton, baru semakin terasa hasilnya.
    dan menghapus keraguan terhadap metode ini.

    # ompapang Says:
    Maret 19th, 2007 at 2:07 pm

    Saya bukan dari ITB, juga bukan ahli geologi. Sejak awal saya tidak menolak bola-bola beton ITB,namun demikian saya tetap mengkritisinya. Saya bahkan sudah sejak awal punya keyakinan bahwa bola-bola beton yang disebut HDCB (walau tak dirantai/chained) apabila dapat menutup total ( 100 %) semburan tidak akan menimbulkan semburan baru ditempat lain,sebab tekanan dari perut bumi walau berasal dari panas bumi/geothermal tidak akan kuat menembus celah-celah sempit yang punya restriksi besar sekali,yang bisa tembus hanyalah gas berupa bubble/gelembung saja, karena sudah dilawan oleh 3000 m tinggi kolom lumpur, jadi tinggal sisanya saja.
    30 MENIT bukanlah waktu yang singkat, dengan waktu tersebut geothermal mampu menghimpun tenaga untuk membuat lubang baru ditempat lain.Tetapi nyatanya kembali kelubang lama. Jadi kalau mampu menutup selama satu hari saja, itu sudah cukup untuk mengendapkan kolom lumpur sehingga membentuk endapan lumpur padat setinggi 900 meter.( 30% X 3000 m),sedang diatasnya yang 2100 m adalah air.
    Bila kedalam lubang semburan yang bagian atas berisi air tadi dituangkan campuran beton kering (tanpa air),maka air akan keluar dan tempatnya setinggi 2100 m digantikan oleh beton tadi,sehingga penyumbatan total akan terlaksana. Saat inilah HDCB betul-betul sukses, karena tak ada semburan baru ditempat lain. Bravo Wong Ndeso !!

  45. ompapang berkata:

    Pak Boxal, orang yang bisa maju hanyalah orang yang bisa menertawai dirinya sendiri sebelum orang lain menertawakannya, dan bangsa yang ingin maju harus bisa menertawakan dirinya sendiri sebelum bangsa lain menertawakannya.
    Btw, Sukarno Bapak bangsa Indonesia dengan konsep Nasakomnya maunya mempersatukan bangsa Indonesia dalam perbedaan Ideologi, tetapi dalam praktek secara sadar atau tidak telah melakukan politik devide et impera yang dibencinya pada bangsa yang telah diperjuangkan seumur hidupnya untuk berdiri diatas kaki sendiri( BERDIKARI) lepas dari bantuan(pengaruh) asing. Sejarah telah membuktikan itu.
    Jiwa Sukarno yang ada pada para komentator gratisan pada blog ini adalah semangat untuk memihak pada masyarakat korban lumpur Lapindo yang terusik kehidupannya karena kegiatan penguasa dan pengusaha atau pengusaha yang penguasa yang ternyata memporak porandakan tata kehidupan mereka tanpa tahu kapan akan berakhir. Dijaman Sukarno,penderitaan rakyat ini dinamakan penderitaan kaum marhaen, yang menderita karena dijajah bangsa asing dengan sistem kapitalisme dan imperialismenya. Untuk dapat menguasai pasar perdagangan/industri harus menguasai (menjajah) wilayah penghasil bahan baku dan bahan bakar. ( Sekarang konsep itu sudah ditinggalkan , sehingga Jepang tanpa perang pun dapat menguasai perdagangan dan industri diseluruh dunia, berbeda pada era perang dunia ke II. Selain itu andaikan Jepang mau bersabar 30 tahun saja untuk tidak mengobarkan perang Pasifik, Indonesia mungkin masih bernama Nederlands Indie dan SERIBU SUKARNO tak mampu memerdekakan Indonesia KARENA KITA MASIH SUKA BERTENGKAR ANTAR WARGA BANGSA SENDIRI dan kita akan masih dikuasai (dijajah) Nederland seperti kepulauan Antilles ( ACB, Aruba,Curacao,Bonaires) ditepi laut Karibia (Carribean Sea).Kenyataan memang demikian, kita masih suka bertengkar bukan?

  46. usil berkata:

    Disini koq banyak orang salah kaprah dengan reaksi omPapang
    terhadap BOLTON. Padahal sejak Feb lalu, baik omPapang atau
    RIrawan menyerukan: Sebelum bolton dilaksanakan sebaiknya
    dihitung yang benar dan teliti, untuk menghindari trial & error.
    Setelah melalui “perdebatan & perhitungan” yang melelahkan,
    keduanya (RIrawan + omPapang) sepakat: Ada yang kurang
    sempurna pada perhitungan bolton itu.
    Lalu??? apa yang salah jika kedua beliau kemukakan ini???
    Kenyataanya bolton satu memang tidak berhasil!!!
    …dan…hore!!! mereka malahan dicemooh…bukan main!!!

  47. Rovicky berkata:

    Stuju Mas Boxal,
    Saya juga OKeh-okeh saja dengan apapun usaha yg dilakukan. Kegemesan masyarakat ini kan salah satunya kekurang sabaran. Kalau kata wong tuwo dulu “sabar tiada batasnya” … klasik ya ? Tapi ya itulah ketika kesabaran habis semua malah runyem.

    Bagi sebuah usaha, kesabaran itu harus tidak berhenti sebelum berhasil !

    Kesabaran bukan pada saat akhir ketika menerima hasil, tetapi kesabaran mestiny apada saat usaha dijalankan. Kalau menerima hasil buruk atau bagus itu semestinya keikhlasan 😀

    Masyarakat yg bukan sebagai korban, pada umumnya yg “memiliki ilmu” tentunya akan sangat “gemes” ketika dia merasa lebih tahu dari yg ada dilapangan. Nah untuk mengatasai hal ini memang perlu ketebukaan data.

    Namun keterbukaan data dan kemudahan akses mengukur bisa saja menjadi boomerang seperti yang terjadi pada kasus vaksin flu burung. Perusahaan diberi akses untuk melihat dan menganalisa, tetapi ketik amendapatkan hasil malah memberikan harga MAHAL utk vaksinnya. Ini namanya KUPRET !!!

  48. boxal berkata:

    to simpatisan_bolton
    you are absolutely right man…
    viva indonesia…
    persetan pada orang yang hanya bisa nertawain bangsa sendiri…
    it means menertawai diri sendir bukan????
    malu ah kalau masalah ini dilimpahin ke luar negeri…
    apa kata naga bonar nanti kalau terus begini…
    mana jiwa-jiwa sukarno di dirimu…
    atau mungkin sesungguhnya kalian belum merdeka?????

  49. boxal berkata:

    rovicky,
    lapindo ga punya uang skarang jadi mana mau schlumberger sm halliburton bantu pak
    bagi expatriot kayak gitu sih ‘money talk’
    makanya harus kita atasi sendiri.. oleh anak bangsa sendiri…
    kenapa????? karena hanya kitalah yang punya patriotisme terhadap indonesia..
    hanya orang patriot yang mau berjuang untuk bangsa tanpa berhitung untung-rugi sebelumnya…

  50. boxal berkata:

    mending trial & error
    daripada talk only no action
    idea aja ga punya apalagi action
    aku dukung ahli kita lah…
    indonesia harus bisa atasi masalah sendiri…
    jangan merengek terus ke amerika jepang jerman dkk-nya
    merdeka indonesiaku… hidup bangsaku…

  51. Arsolim berkata:

    Nah ini mentor kita, makasih dhe ikut nimbrung, makanya dhe dari awal saya sudah usul untuk ditenderkan saja pasti banyak yang tertantang untuk menangani bencana yang konon satu2nya didunia ini, tidak hanya Schlumberger & Halliburton masih banyak organisasi yang profesional dibidang penanganan bencana perminyakan ini, kita tinggal mencari pemenang yang mempunyai solusi yang komprehensif dengan metodologi, teknologi, pengalaman, peralatan terbaik dan setidaknya sudah teruji ditempat lain biarpun tidak sama persis, jangan lagi memakai akademisi mereka bukan praktisi, jangan lagi berlama-lama dengan eksperimen dan uji coba yang tidak bisa diandalkan hasilnya.

    Perlu saya tambahkan ada syaratnya jaminan pembayaran untuk para profesional itu
    harus jelas sunber dananya, kalau tidak siapa sih yang mau kerja gratisan, iya kan dhe ?

  52. Rovicky berkata:

    Tanggul bisa turun akibat subsidence, tetapi kekritisan tanggul menurutku tidak secara langsung bisa ditimpakan akibat BOLTON. Tanggul HARUS dipelihara.
    Yang paling mungkin adalah melihat jumlah volume yg mengalir perhari atau debit. kalau debitnya meningkat berarti BOLTON tidak ngefek, tetapi kalau debitnya berkurang mungkin saja BOLTON emang ngefek.
    Kita mestinya juga bisa memilah, mana yg diakibatkan BOLTON dan mana yg bukan akibat ulah BOLTON.

    Kalau tiba-tiba brenti saja BOLTON belum bisa menyimpulkan juga kok. Tidak mudah memang 😀

    Yang lebih kritis lagi adalah morfologi lubang yang BELUM diketahui hingga. Dan kalau tanya ke tim BOLTON ya mana mereka bisa njawab. Kalau berani njawab malah aku yakin ngawur …. Average lubang “mungkin” bisa diperkirakan berdasarkan debit serta proterties lumpur yang keluar. Tapi morfologi atau bentuknya ya ngga jelas lah … bis growong, bisa corong, bisa bula mulusssss 😛

    Jadi salah satu yg kritis menurutku sebelum “menjaring lumpur” adalah mengukur atau memperkirakan morfologi lubang.
    Caranya ? Bisa macem-macem … lah wong di perminyakan dikenal Caliper log, yaitu alat untuk mengukur diameter lubang kok. Prinsipnya sederhana hanya menggunakan jangka saja. Setahuku mudah melakukan hal ini untuk sumur minyak, tapi kalau lumpur begini tentunya harus dilihat density lumpurnya supaya alat tersebut tidak “mengambang”.

    Schlumberger dan Halliburton masak ngga mau bantuin sih ?

  53. Arsolim berkata:

    Ok, tim Bolton boleh2 aja meng “CLAIM” macam2 pencapaian dan keberhasilan ini dan itu sah2 aja, tapi coba deh lihat kenyataan dilapangan, lumpurnya tetap aja mengalir deras dan tanggul-tanggulnya tetap kritis tidak tahu sampe kapan ?

    Kalau tetap dengan cara trial & error seperti itu, misalnya saja mau mencoba “Spider Web” tapi belum tahu persis geometri lubang dan kondisi dibawah sana, terus mana bisa maksimal hasilnya iya kan?.

  54. a_otnaidah berkata:

    Peka, curiga dan marah.
    Kelebihan syahwat yang muntah.
    Nafsu fulus dan cari nama menyergah.

    Tender adalah istilah kompetisinya.
    Bisa pula adu gagasannya.
    Netral, tergantung yang memantulkannya.

    Kritik, komentar dan kontra-argumen diperlukan.
    Demi menguji kematangan dan kesahihan.
    Untuk mencapai konsep berkemantapan.

    Yang berisi, tulus, tanpa pamrih, justru haus masukan.
    Senang, syukur dengan batin ringan.
    Jika makalah menuai banyak tanggapan.

    Sewot, kalang kabut.
    Kuatir rejeki atau proyek direbut.
    Ciri penguasaha otoritarian ribut.

    Mental terjajah, inferior.
    Pantulan jiwa error.
    Tak mampu melihat mirror.

    Jagoan mbacot dan ledek.
    Reseh, namun lebih laik.
    Daripada jagoan marah berjingkrak.

    Berhasil atau tidak itu bukan masalah.
    Emang gue pikirin siapa cemas dan susah.
    Pokoke proyek gue terkenal megah.

    Terima kasih itb berdalil.
    Persetan gagal atawa berhasil.
    Tak perlu lagi kaidah intelektuil.

  55. Syad berkata:

    Wakakaka.. 😀 jadi rame gini forumnya
    lumayanlah ada sedikit intermezzo, tp jgn kelamaan dong lumpurnya ngalir terus tuh…

    Gmana nih konsep jaring laba2nya.. apa benar2 ampuh ato cman trial & error doank???
    Katanya si bolton-nya bakal nempel dan tertahan d jaring ini (artikel d atas)
    apa jaringnya kuat? Klo kuat, bisa nahan brp banyak bolton??
    trus nanti jaringnya nempel dmana?? apa emang bisa nempel??
    Klo ternyata gagal apa yg terjadi?? trus langkah selanjutnya apa?
    Bagi2 dong ke kita2 😀 pls
    ato mungkin ada kendala dgn hakcipta??
    ato mungkin ada kendala dgn rencana yg blum matang??
    ato mungkin telalu sibuk ama urusan lain (dana/politik misalnya) jd blum sempat d share??
    ato ada kemungkinan lainnya???
    hmmm… kok ribet yah…
    10×10 = cape deh 😀

  56. usil berkata:

    OmPapang! simpatisannya mirip dengan yang mulia DaLBO pada postingan
    BOLTON 16 Feb yang lalu, ya om?
    Itu lho om, yang sering ngomelin omPapang dan RIrawan.
    Yang saya ingat sih, waktu itu RIrawan hanya nyeletuk: “Koq mbah ini
    kayak pak Suharta, ngomelin saya melulu”
    Bener juga kata orang, justru mereka yang “berisi” sudah pandai
    mengelola emosi. Saya pingin belajar itu, om.

  57. Antoni berkata:

    Buat simpatisan Bolton
    Saya bukan simpatisan Bolton, juga bukan simpatisan sapa-sapa. Tetapi saya bisa ngerti kenapa bolton dilakukan. Paling tidak memang secara logika Pakdhe dengan tiga macam sumber tekanan maka bolton menjadi “penghambat” pembentukan gas. Itu kalau memang mekanismenya bener begitu. Satu-satu kita serbu kekuatannya 😛

    Saya kira bolton diteruskan ga papa …. hehehee
    tapi ya itu tadi ndak usah emongsi 😀

    Pak Dhe,
    mbok Pak Bagus Endar B. Nurhandoko ini dimintain tulisannya tentang teori jaring2 ini dhe. Saya kira sosialisasi ini perlu juga, kaan ?

  58. ompapang berkata:

    APA KABAR HDCB ? Sudah banyak simpatisannya Ya ?

  59. usil berkata:

    Teringat kata2 bijak dari omPapang (saat pak Syahraz terpancing): “koq njur
    emosi?”
    Bagaimanapun jua, orang-tua lebih banyak pengalaman……

  60. Simpatisan_Bolton berkata:

    Jadi sebenarnya apa ya…?, trial error methode atau ndak kebagian proyek… lucu kan yang kalian ributkan. sepertinya kok nggak pernah berpikir dalam hidup, tau maksudku nggak lo…? punya berapa keberhasilan dalam hidupmu yang menutmu lo sanggup mengukurnya or sesuatu yang terukur dalam hidupmu. kenapa nggak lo adili si Rudhop Diesel yang cuma bisa mbakar 30% energi, jadi menrutmu ada yang seratus persen dalam hidup or especially engineerring.

    Dasar mental terjajah, inferior, hanya bisa nertawain diri sendiri,mereka ( ITB ) punya kesanggupan untuk berbuat dan keberanian menanggung resiko, termasuk untuk kalian ledek. Lo pernah berdiri di atas tanggul dengan resiko modarr…?. Berhasil atau tidak itu bukan masalah, tapi intelektual musti punya tanggung jawab bail Keilmuan maupun sosial, sense of crisis bahasa kerennya. berapa masalah yang ada di sekeliling kita dan menurutmu para “jagoan ledek” yang sanggup kita selelsaikan…orang macam kalian termasuk masalah terbersar bangsa ini, berpikirr nggak kerja kagak mbacot doang….

    Terima kasih ITB, semoga yang lain juga tergugah untuk berbuat yang lebih baik
    ” persetan dengan gagal atua berhasil hidup musti diperjuangkan “

  61. usil berkata:

    Seharusnya memang begitu pak Arsolim.

  62. Arsolim berkata:

    Pak/Ibu Dwi, menurut saya masalah penangannan lumpur termasuk proses penghentiannya kalau mau fair seharusnya ditenderkan diikuti baik oleh peserta Dalam / Luar negeri, jadi tidak dimonopoli oleh satu pihak yang terus menerus melakukan trial & error begitu kan pak?

  63. dwi berkata:

    Penderitaan Rakyat Sidoarjo (Porong) sudah begitu lama……Seharusnya saatnya untuk “Un-limited budget” untuk handling bencana ini.
    Dari manapun biayanya…pakai trial and error pun tidak masalah….namanya juga usaha. Dari pada “perang opini”….dan buying time, nunggu lumpur berhenti sendiri.
    Kapaan…!

  64. arul berkata:

    apa benar gak ada ahli yah???

  65. aj berkata:

    wah kebanyakan nonton spiderman

  66. ompapang berkata:

    tiada hari tanpa trial & error !!

  67. Arsolim berkata:

    Wah ! sepertinya penutupan semburan ini dianggap Laboratorium ajang percobaan oleh tim insersi bolton, gagal yang satu dicoba yang lain dstnya, tanpa kepastian berapa tingkat keberhasilannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: