APA KABAR HDCB ??

http://dongenggeologi.files.wordpress.com/2007/02/bola-bola-ajaib-1.pngAPA KABAR HDCB ??
Oleh : Bagus Endar B. Nurhandoko

Ketua Tim Supervisi dan Monitoring Insersi HDCB LPPM ITB hampir genap satu tahun sudah, lumpur panas terus menyembur dari dalam perut bumi hingga nyaris menggenangi bumi Porong Sidoarjo. Bahkan, total volume lumpur yang menyembur sejak 29 Mei 2006 pun diperkirakan sudah mencapai lebih dari 10 juta meter kubik ( Sumber : Timnas).

Kini dua belas desa di tiga kecamatan sudah tergenang. Berbagai penangananpun telah diupayakan untuk menutup semburan lumpur panas tersebut, mulai dari: Snubbing Unit, side‐Tracking, Relief Well‐1 dan Relief Well‐2 menelan biaya sekitar 800 milyar dengan teknologi import dari negara asing (US). Parallel dengan metode sebelumnya, muncul metode yang diusulkan oleh dosen‐dosen dari Institut Teknologi Bandung, yaitu metoda Insersi HDCB (High Density Chained Balls) yang sebetulnya pada awalnya hanya didesain dan diniatkan hanya untuk membantu metode sebelumnya yaitu hanya untuk mengurangi debit dan energi semburan di pusat semburan lumpur.

Kami mendesain insersi HDCB ini dengan bahan dan teknologi cukup terdepan namun semuanya diusahakan harus dilakukan dengan biaya cukup murah (rencana awalnya kurang dari 4 milyar rupiah) namun tidak mengurangi kaidah kecanggihan dan resolusi alat, karena kesemuanya dibangun didalam negeri berbekal pengetahuan kami melayani Industri perminyakan baik didalam maupun diluar negeri. Kemudian, kabar santer yang terpantau dari media massa bahwa setelah metode ini juga akan diterapkan teknik Double Coffer‐Dam dari Jepang dengan biaya 600 milyar.

Hingga kini baru 398 untai HDCB yang sudah berhasil menembus sumber lumpur dari 2000 untai HDCB yang direncanakan ( baru 1/5 target), untaian HDCB itu menembus hingga kedalaman lebih dari 1000 meter (> 3000 kaki) dan sebagai perbandingannya sepatu (shoe) casing terdalam dari BJP‐01 adalah 3550 kaki (sumber Timnas) dan ini adalah target kedalaman yang akan ditembus oleh teknik HDCB ini. Banyak kendala teknis maupun non teknis menghadang misi ini, namun kami merasakan yang non teknis ini lebih dominan, bisa mencapai lebih dari 75% dari total kendalanya. Jatuh bangun misi ini mulai dari pendanaan yang tak kunjung turun hingga ancaman teror di HP kami, cemoohan di mailing list maupun di media massa serta lamanya pengambilan keputusan oleh pengambil kebijakan. Disamping panasnya terik matahari, panas‐sesaknya asap semburan, guyuran hujan dan jauhnya keluarga. Namun ini semua memacu semangat dan ketabahan tim kami untuk melaksanakan niat kami menolong korban semburan lumpur disamping tantangan ilmiah yang luar biasa dari misi ini.

Selama menunggu penantian perihal kelanjutan insersi HDCB ini, tim insersi HDCB ini melakukan beberapa hal yaitu membangun perangkat ukur untuk mengukur tekanan dan temperatur pada kedalaman hingga 1000 meter serta perangkat untuk mendeteksi bentuk geometri dari kawah semburan lumpur hingga kedalaman 1000 meter. Semuanya diukur tanpa kabel ke permukaan, ini dikenal sebagai perangkat wireless logging (di Industri perminyakan yang umum adalah wireline logging). Inipun juga merupakan proyek peluncuran logging pertama kali di dunia untuk pengukuran parameter kawah hingga kedalaman sedalam itu. Proyek misi prestisius secara ilmiah, meski hampir semuanya mengandalkan sumber daya manusia dalam negeri dengan biaya yang relatif murah, namun tetap handal baik secara kelayakan dan perolehan datanya. Setelah pengukuran itu dilaksanakan, strategi insersi HDCB pasca 398 untai adalah penggunaan penambahan teknologi baru yang disebut sebagai Insersi HDCB plus Spider‐web technology® alias insersi HDCB plus jaring laba‐laba. Teknik ini layaknya jaring laba‐laba akan membentuk sistem jaring yang akan dibuka pada kedalaman 1200 meter (3600 kaki), benda ini jika terbuka akan berdiameter 3 meter. Jaring ini yang akan menahan bola‐bola beton ini pada kedalaman yang kita harapkan dan mengantisipasi sifat multifasa aliran lumpur. Dengan demikian insersi bola beton akan terkonsentrasi pada kedalaman tertentu dan hasilnya menjadi kian signifikan. Semua ide ini bisa muncul dari hasil kami mengamati perilaku unik nan aneh dari aliran lumpur dari atas tanggul semburan lumpur dan dari atas tanggul‐tanggul lumpur selama hampir 5 bulan.

Metoda insersi HDCB (High Density Chained Balls) yang dilakukan di kawah utama semburan lumpur panas Sidoarjo bertujuan untuk mengurangi debit dan energi semburan lumpur di kawah utama dipelopori oleh Bagus Endar B. Nurhandoko, Satria Bijaksana, dan Umar Fauzi yang ketiganya merupakan dosen yang tergabung di Kelompok Keahlian Fisika Sistem Kompleks, FMIPA, Institut Teknologi Bandung. Tim HDCB ini mempunyai tim pendukung yang cukup solid dari ahli instrumentasi, mesin, komputasi, geofisikawan, hydrogeologi, serta ahli safety (HSE). Untuk tahap kedepan kami mendapatkan bantuan dari rekan‐rekan ahli dari ITB untuk masalah mekanika fluida, instrumentasi dan mekanika batuan. Sampai dengan hari ini beberapa pihak mulai bersimpati pada usaha keras kami, dengan memberikan sumbangan material, alat dan saran‐saran yang sangat berguna bagi keberhasilan misi ini.

Pemberi sumbangan ini mulai dari perusahaan terkemuka di bidang material bahan yaitu menyumbang penyediaan bahan insulator tahan panas teknologi terbaru (nanoteknologi) sampai dengan pemilik bengkel di sebuah gang kecil di kawasan Gunungsari Surabaya. Kami berharap metode ini menjadi solusi nasional yang dikembangkan oleh ahli‐ahli domestik, setidaknya ini nanti bisa menjadi pembangkit harga diri bangsa, pembangkit kepercayaan diri bangsa dan pemicu semangat inovasi bangsa.

Sesuai namanya, HDCB (high density chained balls) tidak lain adalah sebuah untaian atau rangkaian yang terdiri dari empat buah bola terbuat dari material dengan rapat massa yang cukup tinggi. Dua dari empat bola tersebut berdiameter 40 cm dan dua lainnya berdiameter 20 cm. Keempat bola dihubungkan dengan kabel baja (sling). Pada desain awalnya, bola ini bukanlah bola beton biasa (namun campuran material berdensitas sangat tinggi > 3 gr/cc), namun berdasarkan pertimbangan kemudahan pembuatan, kekuatan bahan dan kelayakan pembiayaan, dipilihlah beton dengan spesifikasi K350 dengan rapat massa sekitar 2,4 gr/cc sebagai bahan pembuatan HDCB. Untuk tahap ini perancangan bahan semen bola dan sistem fabrikasinya dirancang oleh DR. John Dahtar, seorang ahli beton anggota Timnas yang berasal dari Balitbang PU Bandung.

Usulan metoda insersi HDCB dikembangkan berdasarkan model sistem tertutup, dimana tidak ada pasokan (supply) energi dari luar dan sistem memiliki tekanan residual pori (residual pore pressure) tetap. Dengan model seperti ini, maka laju lumpur aliran juga tetap. Sebagai konsekwensinya, debit sepenuhnya bergantung pada luas permukaan yang dilalui lumpur. Dengan mengurangi luas permukaan, maka debit akan menurun. Susunan rangkaian HDCB yang ditujukan untuk berada pada saluran (conduit) lumpur ini, dengan susunan ini akan mengubah sebagian energi semburan menjadi energi mekanik dan juga menyebabkan adanya friksi dengan jejak aliran lumpur yang jauh lebih panjang.

Mekanisme ini menyebabkan head loss pressure cukup besar yang akan mengurangi energi lumpur dan tekanan di dalam konduit (saluran) lumpur. Rekayasa insersi ini akan berurut dari dalam hingga ke atas, kedalaman target minimum adalah 1200‐1300 meter ( 3600‐3900 kaki), dengan menempatkan bolabola pada kedalaman cukup maka akan menghasilkan keadaan yang aman dan tidak akan timbul terobosan‐terobosan baru setelah proses ini dilaksanakan. Data lapangan dari pantauan tim ITB, tim Fergaco dan Lapindo membuktikan bahwa dengan teknik insersi HDCB secara pelan‐pelan ini terbukti sangat aman, terlihat dari gambar 1, dimana gelembung (atau bubble) baru yang timbul per bulannya turun drastis dari penaikan secara eksponensial sebelum insersi HDCB dilakukan (hingga rekornya 9 bubble per bulan pada bulan Februari 2007). Namun begitu insersi HDCB dilakukan, terlihat secara jelas tren penurunan yang sangat tajam, maka hingga bulan Maret 2007 tercatat tidak ada kemunculan gelembung baru dan bulan selanjutnya (April dan Mei, 2007) kemunculan bubble tercatat hanya 1 bubble per bulannya. Data ini membuktikan bahwa insersi HDCB ini juga meredam timbulnya bubble‐bubble baru. Di gambar 2 terlihat total bubble disekitar kawah semburan selalu terjadi didalam dan disekitar tanggul, keseluruhannya berjumlah 60 bubble dengan 35 bubble yang aktif.

Banyak parameter yang diukur dilakukan sebelum, saat dan sesudah dilakukan insersi HDCB ini, diantaranya adalah survey sonar, temperature kawah dan gelembung di sekitarnya, Intensitas dan frekwensi semburan, sifat fisis Lumpur (densitas, kadar air, kadar kimia air, X Ray Difractometer, Scanning Electron Microscope, Suseptibilitas), rekahan (crack) di sekitar kawah semburan dan kadar H2S serta LEL pada asap semburan yang dilakukan oleh PT. Fergaco.

Selain itu, beberapa sensor ditanam disekitar cincin kawah semburan sebagai detektor early warning jika pada saat bekerja ada bocoran lumpur yang mengalir dibawah permukaan.

Berdasarkan hasil pantauan harian kami, data‐data lapangan menunjukkan bahwa insersi HDCB berlangsung aman. Hal ini ditunjukkan dengan tidak terjadinya peningkatan aktivitas gelembung (bubble) dan tidak terpentalnya HDCB ke luar kawah akibat semburan. Sedangkan hasil pantauan terhitung debit berkurang sekitar 30%, dari 150.000 m3 per hari sebelum insersi dilakukan menjadi kisaran 80.000‐100.000 m3 per hari setelah insersi dilakukan. Setelah dilakukan insersi, teridentifikasi adanya penurunan aktivitas semburan di main hole berupa penurunan frekuensi semburan dan mulai muncul adanya ”periode tenang” yang sempat teramati pada hari Raya Nyepi di tahun ini selama 35 menit (periode tenang ini tidak pernah muncul sebelumnya), ini kemungkinan diakibatkan oleh penurunan aktifitas semburan akibat insersi.

Pantauan kadar air dari lumpur secara harian dari pusat semburan mulai menaik pasca insersi, ini mengindikasikan bahwa mekanisme filtering dari bola‐bola beton ini mulai bekerja dengan memerangkap material padatan dan mengalirkan material halus, gas plus airnya, mekanisme filtering ini terjadi pada kedalaman lebih dari 1000 meter yang merupakan zona yang cukup aman. Dengan adanya fenomena ini, kemungkinan akan ada mekanisme self healing yaitu semburan lumpur akan menutup dengan sendirinya secara pelan‐pelan. Sampai saat ini baru 398 rangkaian HDCB yang dimasukkan dari target 2000 rangkaian HDCB.

Bandung, 26 Mei 2007
Bagus Endar B. Nurhandoko
KK Fisika Kompleks, Program Studi Fisika, Institut Teknologi Bandung,
JL. Ganesha 10 Bandung
Email: bagusnur@bdg.centrin.net.id
HP: 08122129829

hdcb_1.jpg

hdcb_2.jpg

hdcb_3.jpg

hdcb_4.jpg

Iklan

9 Responses to APA KABAR HDCB ??

  1. ulfa berkata:

    Smoga saja apapun teknik dan cara2 yg digunakan bisa membuat Lumpur Lapindo mampat…
    Doa anak bangsa buat sodara sebangsa…

  2. RIrawan berkata:

    Pak, metode apa yang dipakai untuk mengukur debit semburan lumpur? Sehingga bisa diketahui, bahwa “… debit berkurang sekitar 30%, dari 150.000 m3 per hari sebelum insersi dilakukan menjadi kisaran 80.000‐100.000 m3 per hari setelah insersi dilakukan …”

    Laporan media menyebutkan, keluaran gas dari lubang utama makin besar, jauh melebihi sebelum insersi. Bukankah logikanya: lubang utama membesar, sehingga gas makin leluasa naik keatas, seperti dikemukakan pak Dedi Ganedi di atas? Bukankah menjadi logis, kalau lubang bubble yang semula 60 turun menjadi 35 setelah insersi?

    Kenapa tidak memasukkan saja besi-bekas dan batu-kali, dari pada repot pakai HDCB (2 x 40 cm + 2 x 20 cm)?

  3. Dedi Ganedi berkata:

    Mengalirnya lumpur ke permukaan akibat dorongan gas.

    Munculnya bubble karena terjadi akumulasi gas yang tertahan di dalam rongga bawah tanah yang tidak dapat langsung keluar menuju permukaan. Kumpulan gas ini baru bisa keluar setelah mencapai jumlah yang melebihi kapasitas ruang dalam rongga.

    Adanya bola-bola beton ini mungkin juga telah menghancurkan rongga-rongga perangkap gas sehingga perjalanan gas ke permukaan menjadi lebih mulus.

    Adanya bola-bola beton bisa juga membentuk perangkap gas di bawah jaring laba-laba membentuk tekanan lebih besar. Kemudian yang dikhawatirkan proses terjadinya semburan akan terulang kembali seperti pada kejadian pemboran sebelumnya yaitu gas yang membawa lumpur akan mencari celah baru untuk keluar ke permukaan. Apalagi jaring laba-laba akan di taruh pada kedalaman 1300 m, sedangkan lubang bor ketika itu telah mencapai 3000m dan gas dapat menerobos kepermukaan.

    Kecuali aliran gas dari bawah tanah tidak dihambat, dan dialirkan bersama airnya dengan sedikit membawa butiran lumpur.

  4. ompapang berkata:

    Terima kasih pak Syad, saya salah tulis yang bener 3 meter,bukan 6 meter. Tapi yang penting berapa diameter dikedalaman 1200 meter tempat jaring itu mau dibuka dan kenapa ndadak pakai jaring , apakah khawatir HDCB meluncur terus kebawah ? Hilang BABLAS seperti yang sudah diinsersikan?
    Sebelum wireless logging dimasukkan, lebih bijaksana kalau kedalamannya diduga dulu secara manual dengan bandul dan kawat biasa atau wire rope kecil yang diulur, sebab bisa-bisa wireless logging hanya sampai kedalaman 500 meter, tersangkut untaian HDCB yang punya kemungkinan berhenti dikedalaman tersebut.

  5. Arsolim berkata:

    Pak Syad lebih keren pakai nama “Thorny Ball Secret Weapon (TBSW)” karena lebih mirip dengan “Senjata Rahasia Bola Berduri” untuk ditembakhan kemusuh besama yaitu lumpur Lapindo.

  6. Syad berkata:

    Om papang..
    Cman sedikit koreksi, klo diameter jaringnya tuh cman 3meter bukan 6 meter 🙂
    Mungkin cara buka jaringnya pake sensor tekanan seperti yg diterapkan waktu awal2 insersi HDCB. Jadi jaring ini akan tetap terbuka pada kedalaman yg telah ditentukan namun bukan berarti jaring ini akan bekerja dengan baik pada kedalaman tersebut selama profil lubang tidak d ketahui. (seperti yg om papang tanyakan di atas)
    Mungkin kenapa mereka akan mengembangkan apa yg d sebut wireless logging. (klo soal ini sy sama skali gak ngerti, soalnya sy cman anak sipil) supaya profile lubangnya bisa ketahuan (seperti yg d tulis d atas).
    Tp sy jg msh bingung kok d taruhnya d kedalaman 1200m yah? sementara pd kedalaman 1000m sudah termasuk zona aman (lagi2 seperti yg d tulis d atas)

    Hayooo buktikan pada dunia klo kita bisa gali lubang dan tutup lubang (hehehe emangnya dangdut 🙂 )

    Pak Arsolim,
    Ide menarik tuh klo pake bola2 duri, jadi namanya kita ganti ama HDCD (high density chained durians) he3x 😀

  7. Arsolim berkata:

    daripada pake jaring laba2, bagaimana kalo diganti dengan bola-bola berduri saja, dimana duri2nya diatur (pake remote atau apa) supaya muncul keluar pada kedalaman tertentu dan akan nancap pada dinding lubang semburan.

  8. ompapang berkata:

    Terima kasih PaK Bagus sudah memberi penjelasan mengenai hasil-hasil HDCB dan rencana memasang jaring laba-laba pada insersi berikutnya.
    Kami memang menunggu- nunggu tulisan dari tim HDCB.Syukurlah sekarang sudah ada.Dari tulisan tersebut kami ingin bertanya tentang hal-hal yang belum tertulis disitu, misal berapa “distribusi” diameter lubang mulai dari permukaan kebawah tiap 50 meter kedalaman hingga kedalaman 3000 meter atau kalau tidak ada data sampai 1200 meter sajalah. Pertanyaan ini saya kemukakan berkaitan dengan rencana Tim HDCB untuk memasang jaring laba-laba yang bila membuka akan berdiameter 6 m pada kedalaman 1200 meter.
    Walaupun tidak Bapak jelaskan fungsi jaring, kami “menduga” pemakaian jaring laba-laba adalah untuk menghindari HDCB BABLAS kebawah tertelan perut bumi seperti kekhawatiran saya pada awal Bapak melakukan insersi HDCB yang pernah saya tulis di blog ini..
    Andaikan diameter lubang dikedalaman 1200 meter itu kurang dari 6 meter, misal sekarang hanya satu meter, mengingat diameter bornya saja hanya sekitar 13 inci (33 cm), terus bagaimana, apakah jaring dapat berfungsi?.
    Atau andaikan diameter dikedalaman 1200 meter itu ternyata lebih besar dari 6 meter,misal 15 meter , terus jaring tetap dibuka atau tidak ?
    Menurut tulisan Bapak , HDCB yang sudah masuk berfungsi dengan baik, lha sekarang keberadaannya pada kedalaman berapa? Kalau HDCB berada dikedalaman kurang dari dari 1000 meter, misal 500 meter maka jaring laba-laba yang direncanakan akan membuka secara otomatis pada kedalaman 1200 meter tentunya tidak akan membuka karena belum mencapai kedalaman yang diinginkan berhubung terhalang oleh kumpulan HDCB, belum lagi bila dikedalaman tersebut diameternya kurang dari 6 meter.
    Kalau ternyata HDCB yang sudah dimasukkan BABLAS kebawah atau hancur dan tidak diketemukan pada kedalaman 1000 – 3000 meter, sedang dimeter dikedalaman tersebut boleh dikata homogen sekitar 5 meter, mengapa jaring laba-laba tidak dibuka dikedalaman 3000 meter misalnya. Dengan tanpa dihalangi HDCB maka membuka jaring dikedalaman tersebut bukanlah tidak mungkin, bahkan sangat ideal, karena kedalaman 3000 meter adalah mendekati pusat semburan, hingga dampak negatif munculnya semburan ditempat lain dapat dihindarkan.
    Menurut saya ,ada keuntungan lain bila Bapak dapat membuka jaring entah berapa diameternya dikedalaman 3000 meter, yaitu apabila berhasil memperlambat kecepatan semburan keatas kurang dari kecepatan aliran lumpur disungai Porong, tentu lumpur akan mengendap dan pada gilirannya akan menyumbat lubang semburan. Bila sumbatan dilubang semburan bisa bertahan 3 – 4 jam saja, maka seluruh material padat akan mengisi lubang semburan , sedang dibagian atas yang berupa air ( 70 % dari volume lumpur ?) yang terpisah dari endapan material padat bisa Bapak usir dengan menuangkan campuran beton tanpa air (kering) sehingga sesudah beku dapat berfungsi sebagai counter weight untuk memperkuat sumbatan dari endapan lumpur tersebut. Selamat bekerja, saya tetap mendukung seperti sejak awal, tetapi tetap saya kritisi, kalau perlu saya cemooh huuuu . . ., supaya tahan banting.!!

  9. Hendro Nugroho W. berkata:

    HOREE…. Ternyata HDCB sudah mendekati berhasil. Teruskan perjuangan…!!!!! Masukkan lagi 1700 bola sisanya!!! Sumbat habis LUSI!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: