Sweeping Kendaraan Proyek Lapindo

RADAR SIDOARJO      Senin, 04 Juni 2007
BPLS: Aksi Warga Bahayakan Desa Mereka
SIDOARJO – Warga sekitar lokasi luapan lumpur panas terus menuntut desa mereka masuk daerah terdampak. Warga Desa Besuki, Kecamatan Jabon, men-sweeping kendaraan proyek penanganan lumpur di bekas jalan tol kilometer 41 kemarin.

Aksi warga itu merupakan kelanjutan demonstrasi di lokasi sama pada Selasa (29/5) hari lalu. Tapi, kemarin mereka meletakkan tumpukan kayu dan batu untuk menghalangi kendaraan proyek masuk area tanggul. “Yang kami hadang memang hanya kendaraan proyek,” ujar Ali Mursyid.

Warga menuntut desa yang sangat dekat dengan lokasi lumpur panas itu masuk peta terdampak 22 Maret versi Tim Nasional Penanggulangan Lumpur (Timnas). “Kami akan bertahan sampai tuntutan dipenuhi,” tegas koordinator aksi Ali Mursyid.

Dia menyatakan, warga siap menginap bergantian sampai ada keputusan lebih lanjut soal nasib mereka. Sebab, beberapa kali Desa Besuki terendam banjir air bercampur lumpur. Meski akhirnya banjir surut, sebagian warga sudah mengungsi. Sebagian rumah mereka pun retak-retak.

Akibat sweeping warga kemarin, aktivitas penanganan lumpur terganggu. Truk-truk pengangkut sirtu sulit menyuplai material. Selama ini bekas jalan tol Porong-Gempol merupakan akses terdekat menuju lokasi semburan lumpur panas. Sopir pun terpaksa memutar lewat Jalan Raya Porong sehingga sering terjebak kemacetan.

Selain tuntutan desa mereka dimasukkan dalam peta terdampak, warga meminta uang ganti rugi gagal panen kepada PT Lapindo. “Sudah setahun kami terus dijanjikan. Kami sudah bosan,” tegas warga lain, Asrofi. Hingga tadi malam sejumlah warga masih bertahan di lokasi.

Sementara itu, upaya Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) mengoptimalkan pengaliran lumpur ke spillway terus memancing kekhawatiran warga. Ratusan warga Kelurahan Mindi, Kecamatan Porong, mengadakan istighotsah. Mereka berharap kawasan tersebut selamat dari luapan lumpur.

“Semoga Allah tetap melindungi kawasan kami dari lumpur Lapindo,” kata Ahmad Rofi’i, tokoh masyarakat Mindi. Pria yang akrab dipanggil Gus Rofi’ itu menyatakan warga masih ingin tinggal di rumah mereka.

Warga meminta BPLS meninggikan tanggul di sekitar tempat tinggal mereka. “Kami butuh jaminan keselamatan dan keamanan,” jelas Gus Rofi’. Saat ini BPLS terus berupaya mengalirkan lumpur ke selatan menuju spillway. Warga tak ingin upaya BPLS itu jadi awal petaka. Tanggul-tanggul tak dapat menahan lumpur sehingga meluber ke permukiman warga.

Kawasan Mindi memang berbatasan langsung dengan tanggul penampungan lumpur. Hingga saat ini, ketinggian tanggul mencapai sekitar 7 meter. “Setidaknya harus ditinggikan lagi sampai 15 meter,” ujar Gus Rofi’. Tanggul di pusat semburan saja sudah mencapai sekitar 20 meter. Jika tanggul cincin jebol atau overtopping, tanggul Mindi diharapkan bisa menahan luberan lumpur. “Jika itu tidak dilakukan, kami akan menolak pengaliran lumpur ke spillway,” tegasnya.

Selain itu, Gus Rofi’ meminta BPLS secara intensif memberikan informasi dini kepada warga soal kemungkinan bencana. “Kami harus diberi informasi ilmiah soal dampak dan kemungkinan penanganan lumpur,” ujarnya.

Menanggapi aksi warga itu, Humas BPLS Ahmad Zulkarnaen menyatakan berusaha mengerti. “Kami sangat menghargai. Bagaimanapun mereka adalah korban yang menuntut haknya,” ujarnya.

Namun, dia berharap aksi tersebut tidak berlangsung terlalu lama. Sebab, kata dia, jika tanggul-tanggul tidak dirawat, kawasan Besuki pun bisa ikut tenggelam total.(dyn)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: