BPLS Minta Warga Mau Kompromi

RADAR SIDOARJO      Selasa, 05 Juni 2007
Tanggul Pusat Semburan Kritis
SIDOARJO – Aksi warga Desa Besuki, Kecamatan Jabon, yang men-sweeping kendaraan proyek pengurukan, mencemaskan Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS). Kepala BPLS Sunarso meminta warga bersedia berkompromi agar perawatan tanggul bisa dilakukan.

Hingga kemarin, aksi blokade jalan dan sweeping warga terhadap kendaraan proyek terus berlangsung. Sebenarnya, perwakilan warga telah diajak berunding di Kantor Pemkab Sidoarjo kemarin sore. Mereka bertemu Wakil Bupati Saiful Ilah.

Kepada Saiful, warga Besuki menuntut desa mereka dimasukkan dalam peta terdampak lumpur versi Tim Nasional Penanggulangan Lumpur (Timnas) pada 22 Maret 2007. Menurut peta tersebut, kawasan seperti Kelurahan Siring, Jatirejo, Desa Renokenongo, Kecamatan Porong, serta Desa Kedungbendo, Kecamatan Tanggulangin, dinyatakan sebagai daerah terdampak langsung lumpur panas. Warganya berhak atas ganti rugi dari PT Lapindo Brantas meski hingga saat ini baru sebagian kecil yang dibayar.

Pertemuan dengan Saiful itu, ternyata, tidak menghasilkan apa-apa. Tuntutan lain warga berupa uang ganti gagal panen juga tidak dijawab pasti. Padahal, sebagian warga Desa Besuki pernah menerima uang sewa bagi yang sawahnya digunakan untuk tanggul lumpur.

“Wabup tak bisa memberi keputusan yang pasti,” ungkap Mursyid. Menurut dia, warga hanya dijanjikan akan mendapat jawaban pada Jumat (8/6) mendatang.

Warga pun menolak dan tetap melanjutkan aksi mereka. “Kami akan tetap menutup akses ini sampai ada keputusan jelas,” tegas koordinator aksi Ali Mursyid.

Dia mengatakan, warga baru mau beranjak jika PT Lapindo, BPLS, maupun pemerintah daerah mengabulkan tuntutan mereka. “Jika tidak, kami terus menginap di sini dan menghadang kendaraan proyek yang akan masuk ke lokasi lumpur,” tegasnya.

Hingga tadi malam, ratusan warga berkumpul di jalan akses bekas tol Porong-Gempol Kilometer 41. Mereka memasang kayu dan batu untuk menghalangi kendaraan proyek masuk. Kendaraan pengangkut urukan, material, maupun kendaraan berat lain dilarang lewat.

Sementara itu, Kepala BPLS Sunarso berharap warga bersedia berkompromi. Sebab, jika jalan masuk kendaraan proyek itu diblokade, tanggul-tanggul sangat rawan jebol. “Kalau begitu, yang rugi kan orang banyak,” ujarnya.

Dia meminta warga membuka jalan tersebut beberapa lama agar perawatan tanggul bisa dilakukan. “Saya bisa mengerti kegelisahan warga. Tapi, tolong mengerti juga tugas kami untuk menjaga tanggul-tanggul ini,” pinta Sunarso.

Berdasar pengamatan Jawa Pos, sejumlah tanggul, terutama di pusat semburan, masih kritis. Jarak bibir tanggul dan lumpur semakin dekat. Kondisi mengkhawatirkan itu terutama terlihat di mulut kanal menuju spillway. Ketinggian lumpur dan bibir tanggul hanya sekitar 10-20 cm.

“Idealnya, perawatan tanggul memang tak boleh berhenti sedetik pun,” tambah Sunarso. Namun, dia mengaku tidak bisa berbuat banyak selain berharap warga segera menghentikan aksi sweeping. “Kami yang di lapangan ini sering serbasalah,” jelasnya. (dyn)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: