Kondisi Kejiwaan Para Remaja dan Dewasa Pengungsi Porong

RADAR SIDOARJO      Selasa, 05 Juni 2007
Jenuh, Pikiran Tumpul, Berakibat Depresi Berat
Hingga kemarin, ribuan pengungsi korban lumpur Lapindo masih menghuni penampungan Pasar Porong Baru (PPB). Ancaman gangguan jiwa yang diderita para pengungsi di sana mendorong sejumlah aktivis Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) untuk membantu mereka.

Dian Wahyudi, Sidoarjo

UNTUK sesaat, anak-anak korban lumpur bisa menari, menyanyi, dan tertawa bersama. Itu terjadi ketika sejumlah mahasiswa dari Fakultas Psikologi Unair dan Ubaya mengajak anak-anak tersebut bermain bersama.

Para mahasiswa itu merupakan anggota Himpsi yang melakukan bakti sosial di lokasi penampungan korban lumpur Lapindo mulai kemarin. Selain menyanyi dan menari bersama, dimainkan pula panggung boneka yang menyajikan beberapa cerita. Kegiatan tersebut hanya tambahan. Kegiatan sebenarnya adalah melihat kondisi kejiwaan para pengungsi, khususnya remaja dan dewasa.

Tak hanya anak-anak yang terlihat begitu ceria, para orang tua juga turut menikmati kegiatan tersebut. “Selama ini, remaja dan orang-orang dewasa memang belum banyak digarap,” jelas salah seorang anggota Himpsi Novi Eka Yanti MSi, psikolog. Sebagian besar perhatian masih diarahkan kepada anak-anak. Padahal, remaja dan orang dewasa juga butuh penanganan.

Karena itulah, sejumlah anggota organisasi psikolog itu mulai kemarin mendata kondisi psikologis pengungsi. Berdasar data tersebut, akan dibuat peta masalah untuk dicari solusi lebih lanjut. Menurut Novi, rata-rata kondisi pengungsi remaja dan dewasa mengkhawatirkan. “Sebagian bahkan sampai pada tahap depresi,” ujarnya.

Jika hal itu terus berlanjut, penderita depresi bisa mengalami skizofrenia (gangguan jiwa berat). “Sebagian besar pengungsi kehilangan pekerjaan,” ungkap Novi.

Muhamad Khusein, 19, misalnya. Di pengungsian, remaja lulusan SMA itu lebih banyak menghabiskan waktu dengan bengong dan tidur setiap hari. “Paling kalau bosan, ya main gitar,” ungkapnya. Saat itu, salah seorang psikolog dengan santai mewawancarai beberapa pengungsi di sana.

“Mereka benar-benar butuh kegiatan,” tambah Koordinator Pengumpulan Data Lapangan Dra Dwi Redjeki Endang H. MSi, psikolog. Menurut dia, berdasar hasil pengumpulan data sementara, keseharian pengungsi hampir tanpa kegiatan berarti. Kondisi tersebut sangat mengkhawatirkan, terutama bagi para remaja dan orang dewasa.

Endang mengatakan, jika hal itu dibiarkan terlalu lama, mereka seperti burung dalam sangkar. Jika keluar dari pengungsian, mereka sulit hidup normal seperti sebelum menjadi pengungsi.

Kondisi tersebut dialami salah seorang pedagang Pasar Kedungbendo Suharso. Setelah empat bulan tinggal di pengungsian, pria 47 tahun itu mengaku insting bisnisnya hilang. Meski beberapa barang dagangan berupa kantong-kantong plastik di tokonya yang tenggelam bisa diselamatkan, dia kesulitan melanjutkan usahanya.

“Saya juga tidak tahu kenapa, otak saya seperti tumpul,” jelas pria yang kini mengontrak bersama keluarganya di Perumahan TAS 2 Tanggulangin itu.(*)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: