Kepanasan, Pompa Spillway Macet

RADAR SIDOARJO      Rabu, 06 Juni 2007
SIDOARJO – Ketika aliran lumpur mulai meninggi, saluran pelimpah (spillway) justru tidak berfungsi optimal. Tiga di antara enam pompa spillway macet gara-gara terlalu panas. BPLS belum punya pompa pengganti.

Pengamatan Jawa Pos di lokasi menyebutkan, saluran penghubung tanggul dan spillway terus dipenuhi lumpur panas. Bibir tanggul hanya tersisa 30 cm sehingga lumpur rawan meluber. Sejumlah ekskavator long arm terus mengaduk lumpur dari kanal di kawasan Jatirejo menuju spillway di Desa Pejarakan, Kecamatan Jabon.

Menurut Humas Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) Ahmad Zulkarnaen, suhu lumpur cukup panas saat masuk ke pompa, sekitar 40 derajat celsius. Panas lumpur itu menjadi salah satu penyebab pompa rusak. Beberapa waktu lalu, pompa spillway juga rusak saat aliran lumpur meluberi rumah pompa. Waktu itu, sejumlah pompa korslet dan tidak berfungsi. “Kami terus berupaya untuk memperbaiki pompa yang sekarang rusak,” kata Zulkarnaen.

Hingga kemarin, BPLS mengalirkan lumpur ke Kali Porong hanya dengan tiga pompa yang tersisa. Kapasitas pompa cuma sekitar 2 meter kubik per detik. Itu pun operasinya bergantian. “Jika tidak, kami khawatir juga rusak,” jelasnya.

Deputi Bidang Operasional BPLS Sofyan Hadi mengatakan, pembuangan lumpur ke Kali Porong merupakan satu-satunya metode yang bisa ditempuh. Pembuatan kanal pembuangan ke laut masih dikaji tim ahli. Karena itu, BPLS akan mengoptimalkan spillway.

Sofyan menyatakan sudah mendatangkan tiga unit pompa lumpur. Namun, pompa itu masih tertahan di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Pompa baru masing-masing berkapasitas 1,5 meter kubik per detik. Diperkirakan, kondisi rawan di spillway akan teratasi.(dyn)

Iklan

21 Responses to Kepanasan, Pompa Spillway Macet

  1. Janatan berkata:

    Terima kasih atas tanggapan Pak Hime & ompapang, tentang problem / kendala dalam penggunaan pompa ini marilah kita fokuskan sbb :

    Apakah Internal Gear Pump ini bisa didesign :
    1 untuk lumpur yang notabene tdk mempunyai sifat lubrication
    2 untuk bekerja pada lumpur yang bertekanan tinggi (max 10bar)
    3 supaya tahan terhadap abrasi.
    4.kapasitasnya sesuai dgn volume semburan 150,000M3/hari atau 1.5M3 per detik

    Ke-empat hal ni akan saya coba konfirmasikan ke pabrik pembuatnya / designer pompa, dan kalau sudah ada jawabannya saya akan infokan ke forum ini.

    Kalau mengenai problem sampah plastik, ranting, batu kerikil dsbnya saya rasa dapat diatasi dengan memmasang filter / saringan sebelum masuk suction port sehingga material padat dengan size tertentu saja yang bisa lewat dan ini adalah problem umum untuk semua jenia pompa.

  2. ompapang berkata:

    Pak Yanatan, saya cenderung setuju dengan pendapat pak Hime, namun berhubung tekanan yang diperlukan juga tidak melebihi 10 bar, mungkin gear pump ini dapat digunakan untuk lusi dengan desain khusus, misal bahan-bahan untuk roda gigi, bulan sabit dan casing nya dibuat dari baja tahan abrasi yang punya kekerasan Brinell (Brinell Hardness) cukup tinggi sehingga mampu bekerja untuk lumpur yang menurut pak Hime sangat abrasif, dalam jangka waktu relatif lama ( umur teknisnya melebihi umur ekonomis).

  3. Hime_furuumun93 berkata:

    Pak Janatan, internal gear pump bekerja berdasarkan karakteristik ini:
    – Rotary positive displacement
    – Fluida dari sisi discharge dihalangi mengalir kembali ke sisi suction, dengan cara celah rotor sebelah atas diisi dengan gigi-gigi idler. Jika ada batu terjabak di sana, pompa rusak.
    – Bidang-bidang luar idler dan rotor saling bergesekan dan juga lawan bagian dalam rumah pompa yang stasioner. Dus pompa ini memerlukan fluida yang memiliki lubrication properties, semacam oli, fet, bitumen, pasta, gliserin, dst.
    – Seluruh beda gaya tekan antara output terhadap input akan diredita seluruhnya oleh poros rotor, yang bersama idler akan menekan dinding pompa ke arah input, sehingga pompa ini tidak mungkin berkerja pada tekanan tinggi. Saya kira maximum sekitar 10 bar untuk ukuran kecil, dan lebih rendah untuk ukuran besar.
    – Perbandingan antara ruang displacement terhadap rumah pompa relatip rendah, sehingga pompa inisangat sulit dibuat dengan ukuran besar, sebab effisiensinya jadi sangat rendah.
    – Ruang hidraulik dengan gigi dan bulan sabit itu akan clogging bila kemasukan sampah (kain, ranting, plastik, dsb).
    – Prinsipnya hanya cocok untuk cairan yang soluble dan sangat tidak dianjurkan untuk fluida yang suspended.
    – Tidak tahan abrasi.
    Jadi maaf pak Janatan, menurut saya jenis pompa itu sangat tidak mungkin bisa dipakai untuk lumpur Lapindo, sebab fluida itu: sama sekali tidak punya sifat pelumas. Mengandung banyak batuan. Jika dialirkan lewat pipa, maka diperlukan daya dorong yang besar. Kapasitas pompa jenis ini tidak cukup besar. Lumpur Lapindo mengandung banyak sampah. Lumpur Lapindo bersifat suspense, padatannya sangat cepat mengendap sebab densitynya jauh diatas air. Lumpur Lapindo juga sangat abrasif

  4. Janatan berkata:

    Kalau Internal Gear Pump ini ternyata berhasil mengalirkan lumpur pekat dengan lancar (tidak macet), maka pompa tersebut dapat dipakai pula dalam metode memompakan kembali lumpur ke ruang kosong dibawah permukaan, supaya tidak meluber kemana-mana metodenya dapat lihat disite :
    http://yanatan.wordpress.com/mudflow-control-backward-circulation-method/

  5. Janatan berkata:

    Oh ya, Ompapang tentang kekhawatiran abrasi pada Internal Gear Pump saya pikir ada satu hal yang perlu diluruskan, kalau kita lihat simulasinya, gigi2 yang bertaut antara Rotor & Idler cuma 3 gigi dibagian kiri atas dan tidak / sedikit sekali menggiling lumpur karena sebelum lumpur sampai ke pertautan gigi2 tersebut sudah dibuang keluar melalui discharge port (lihat gambar)

  6. Janatan berkata:

    Iya ompapang, tapi saya kan cuma mencoba merperkenalkan jenis pompa yang kira2 cocok untuk lumpur supaya tidak macet (yang buat bukan saya om !), bagaimanapun kalau tim BPPLS tidak pernah membuka blog ini dan mungkin tidak pernah tahu tentang pompa ini, jadi saya belum bisa follow-up dan action sekarang om.

  7. ompapang berkata:

    Pak Yanatan, di kotak Baca Ini Dulu (kanan atas) pada Technichal Article ada laporan dari PBB dan lainnya yang memuat komposisi kimia (inorganik) dari sample lumpur yang diteliti, mungkin disitu ada informasi yang Bapak maksudkan.

  8. Janatan berkata:

    ompapang, kalau ada info tentang chemical composition dari lumpur tersebut bisa disampaikan ke pabrik pembuatnya untuk dimodifikasi dengan memakai bahan yang cocok dengan sifat lumpur tersebut karena barang ini kan tidak dijual bebas tapi Turnkey proyect.

  9. ompapang berkata:

    Internal Gear pump untuk pompa aspal cair, oli pekat atau cairan cat/cat tembok mungkin lebih cocok, untuk lumpur apa tidak cepat aus gigi-giginya karena abrasi oleh partikel lumpur yang bersifat seperti skoer(ampelas) ?

  10. usil berkata:

    Bagaimana pak RIrawan? Apa sudah cocok dengan spec pompa
    yang pak Yanatan uraikan, untuk handling media yang panas dan
    berlumpur? Mudah2an cocok agar spillway bisa segera berfungsi.

  11. yanatan berkata:

    Ini simulasi Internal Gear Pump tersebut
    http://yanatan.wordpress.com/internal-gear-pump/

  12. Janatan berkata:

    Mas Rovicky, ini sedikit profil tentang pompa tsb :

    1)Internal gear pumps successfully pump viscosities above 1,320,000 cSt / 6,000,000 SSU and very low-viscosity liquids.

    2)Materials Of Construction / Configuration Options
    Externals (head, casing, bracket) – Cast iron, ductile iron, steel, stainless steel, Alloy 20, and higher alloys.
    Internals (rotor, idler) – Cast iron, ductile iron, steel, stainless steel, Alloy 20, and higher alloys.
    Bushing – Carbon graphite, bronze, silicon carbide, tungsten carbide, ceramic, colomony, and other specials materials as needed.
    Shaft Seal – Lip seals, component mechanical seals, industry-standard cartridge mechanical seals, gas barrier seals, magnetically-driven pumps.
    Packing – Impregnated packing, if seal not required.

    3)kapasitas sesua pesanan, pabriknya di U.K

  13. Rovicky berkata:

    Mas Janathan
    Berapa kapasitas pompa ini (Internal Gear Pump)?
    Adakah dipasaran ?
    Bagaimana spesifikasinya melihat kekentalan (viskositas) lumpur yang sangat ekstrim.

  14. RIrawan berkata:

    Iya pak PapaTITA, semoga pompa yang dibeli kali ini benar. Sudah pengalaman, puluhan pompa rusak, masak kesalahan yang sama diulangi?

  15. PapaTITA berkata:

    ======
    Sofyan menyatakan sudah mendatangkan tiga unit pompa lumpur. Namun, pompa itu masih tertahan di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Pompa baru masing-masing berkapasitas 1,5 meter kubik per detik. Diperkirakan, kondisi rawan di spillway akan teratasi.
    ======

    Lha ini sudah didatangkan, apakah memang sudah memenuhi kriteria sebagai pompa lumpur seperti yg dikatakan pak RIrawan atau kembali memakai pompa air dengan kapasitas besar?

  16. usil berkata:

    Terima kasih pak RIrawan komennya.
    Ternyata betul, salah pilih pompa. Sebetulnya BPLS hanya
    cukup perlihatkan tulisan bapak ini kepada supplier pompa.
    Suppliernya tinggal cari jenis yang cocok, gampang kan?
    Tapi persoalannya apa BPLS membaca blog ini? Walahualam!

  17. RIrawan berkata:

    Baiklah pak usil.
    Minta maaf sedang banyak tugas, belum sempat membaca semua tulisan.
    Sekedar prihatin, ini saya coba komen dulu.

    Ada 2 pokok kesalahan:

    1. Jenis motor-listrik yang dipakai tidak tahan panas.
    Kumparan motor yang kepanasan akan merosot daya dan torsi outputnya, sehingga perlu didinginkan ketika beroperasi. Motor standard umumnya didinginkan oleh udara lingkungan (pakai kipas) atau medium yang dipompa (mengalir lewat motor atau motornya dicelup). Dalam hal ini jelas tidak mungkin, sebab lingkungan dan medium lumpurnya panas. Begitu pula bahan isolasi konduktornya harus memiliki Insulation-Class yang memadai, misalnya Class-H (180 ºC).
    Ada 2 jenis konstruksi khusus yang seharusnya dipakai: 1.a) Motor jenis Immersible dengan double-jacketed (memiliki ruang sirkulasi air pendingin dari luar). 1.b) Motor jenis TEFC dengan kipas pendingin extra, yang dihubungkan ke pompa melalui poros panjang atau gardan, sehingga tidak langsung terkena lumpur panas.

    2. Jenis pompa yang dipakai Sentrifugal.
    Ini sudah pernah saya kemukakan sejak awal di bulan Pebruari 2007. Lihat: https://hotmudflow.wordpress.com/2007/02/16/hari-ini-bola-beton-mulai-sumbat-lumpur/#comment-11241 , yang saya kutip sedikit di sini:
    “…Kisah ironis lain adalah puluhan pompa yang dibeli dan dioperasikan adalah jenis centrifugal. Pompa ini adalah jenis mesin kinetis yang mengkonversi energi masukan menjadi energi kinetis, yakni menaikkan kecepatan gerak pada massa fluida yang dipompa. Caranya dengan memakai roda-pusingan yang diputar sangat cepat, antara 25 s/d 50 putaran per detik, sehingga menghasilkan tegangan-geser τ = F/A yang sangat besar tetapi ideal jika fluidanya air (low-viscosity, newtonian). Namun lumpur pekat bersifat dilatant. Jika lumpur menderita tegangan-geser yang besar, maka serta-merta kekentalannya (viscosity) nya seolah-oleh naik drastis. Sehingga pompa centrifugal tidak mungkin bisa berhasil untuk menggerakkan lumpur. Maka untuk memindahkan lumpur pekat, harus dipakai pompa yang cocok untuk lumpur, yakni pompa yang menimbulkan tegangan-geser serendah mungkin ketika bekerja. Dan pompa jenis itu sudah banyak dipakai dimana-mana, termasuk untuk memompa lumpur pekat. Pertanyaannya: Kenapa justru pompa centrifugal yang dipakai untuk lumpur Lapindo? …”

  18. usil berkata:

    Wah!!! ternyata urusan pompa ini rumit. Bukan hanya pompanya saja
    tapi juga drivernya gampang rusak, karena kondisi suhu lapangan yang
    tidak menunjang (panas dll). Pantesan selama setahun selalu aja
    byar-pet. Tapi heran om, udah tahu sulit tapi pompanya terus disupply
    dan tentunya menghabiskan biaya tidak kecil, sekalipun forde hand???

  19. ompapang berkata:

    Pak Usil, pompa biasanya terdiri atas 2 bagian, unit pompa nya sendiri dan unit motor penggeraknya. Kedua unit tersebut dihubungkan dengan sistem kopling. Motor penggerak ,baik berupa mesin diesel maupun elektro motor umumnya didesain bisa bekerja dengan baik pada suhu 60 – 70 derajat Celsius sesuai kemampuan daya tahan bantalan terhadap kenaikan suhu. Pengaruh panas lumpur terhadap mesin disalurkan secara konduksi dari badan (hausing) pompa yang menerima panas dari lumpur melalui poros dan kopling, kemudian diterima oleh poros mesin. Jadi kalau hanya mendapat panas dari pompa melalui porosnya dengan kenaikan suhu sampai 40 derajat celsius, saya kira hal itu masih dalam batas aman untuk syarat beroperasinya mesin. Demikian juga bantalan pada poros pompa, selama mechanical seal yang melindungi bantalan dari kemungkinan masuknya lumpur kedalamnya masih baik, maka pada suhu 60 derajat celsius pun pompa tersebut masih aman untuk dioperasikan.
    Masalahnya sekarang penyebab kemacetan unit pompanya atau unit mesin penggeraknya?
    Kalau penyebab kemacetan unit pompanya, mungkin bantalan pada porosnya kemasukan lumpur, karena mechanical sealnya rusak. Jadi bukan karena suhu lumpur yang dipompanya 40 derajat celsius.
    Kalau penyebab kemacetan karena unit mesin penggeraknya rusak, maka kerusakan ini bukan pula karena suhu 40 derajat Celsius, melainkan sebab lain,misal bantalan poros pompa kemasukan lumpur sehingga “seret” (tidak licin) atau lumpur yang dipompakan terlalu kental sehingga unit mesin penggerak mengalami beban lebih (over loading) sehingga mengalami kenaikan suhu berlebihan.
    Bila mesin penggeraknya adalah motor listrik, maka bisa jadi secara otomatis akan off (mati) atau bila tidak mati maka isolator kumparannya menjadi terbakar,sehingga kumparan motor listrik menjadi terhubung pendek (korsleting).
    Bila mesin penggeraknya adalah mesin diesel, dalam mengalami beban lebih ia akan turun RPMnya dan suhu mesin menjadi bertambah. Bila operator menambah gas (throttle) untuk menaikkan daya atau putarannya, suhu mesin akan makin besar tambahnya dan pada gilirannya kalau suhu mesin sudah melebihi kemampuan pelumasan dalam cylindernya,maka piston mesin ybs akan macet pada cylinder linernya dan mesin akan berhenti bekerja.
    Btw,ada suatu bahaya yang mengancam apabila mesin disel berhenti mendadak dari putaran tinggi saat piston macet, yaitu patahnya leher poros engkol (crank shaft) pada roda gilanya.Pada putaran tinggi roda gila menghimpun daya dari mesin. Bila tiba-tiba roda gila harus berhenti berputar maka energi inertia yang dikandungnya akan dipakai untuk momen puntir pada leher poros engkol tersebut sehingga bila leher tersebut tidak mampu. ia akan patah dan roda gila dapat mencelat (terbang melambung ) lepas dari ikatannya. Banyak kasus terjadi seperti ini, diantaranya di Pabrik Kertas Blabak belasan tahun yang silam.
    Pak Usil, menurut ompapang,bukan salah pilih TYPE/MODEL pompa,melainkan salah pilih UMUR pompa. Mungkin pompa tersebut tweede hand (seken hen) atau bahkan driede hand (tangan ketiga) alias bekas pakai yang sudah lewat umur teknisnya.(cari yang murah kali !)

  20. usil berkata:

    Ada gak komentator di blog ini yang ahli pompa?
    Tolong dong kasih solusi kepada BPLS itu.
    Koq pompa mereka selama setahun gagal mlulu?
    Salah pilih pompa ngkali???

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: