Tidak Ingin Sidoarjo Dianggap Mati

RADAR SIDOARJO      Sabtu, 09 Juni 2007
SIDOARJO – Sidoarjo Bangkit. Itulah pesan yang ingin disampaikan para seniman Sidoarjo dalam setiap karya dan aktivitasnya. Kemarin 25 pelukis dari Sidoarjo memamerkan karyanya dalam pameran bertajuk Refleksi Kebangkitan Nasional. Pameran itu dilaksanakan di Gedung Bank Indonesia Surabaya.

Pameran yang dibuka Gubernur Bank Indonesia Burhanuddin Abdullah tersebut merupakan hasil kerja sama Badan Musyawarah Perbankan Daerah (BMPD) Jawa Timur dengan Kampung Seni Pondok Mutiara Sidoarjo. Pameran itu juga didukung PKK Kabupaten Sidoarjo. Selain karya seniman Sidoarjo, akan dipamerkan lukisan karya lima karyawan dari berbagai bank di Surabaya.

Novita Sechan, ketua Kampung Seni Pondok Mutiara Sidoarjo sekaligus wakil ketua panitia pameran, mengungkapkan, 120 lukisan yang dipamerkan berasal dari semua aliran. “Melalui ini semua, kami ingin bangkit dan meneruskan perjuangan hidup. Sama seperti sebelumnya, semua hasil penjualan lukisan akan diserahkan ke PKK Sidoarjo untuk disumbangkan kepada korban lumpur,” jelasnya.

Amdo Brada, salah seorang kurator lukisan dan demang di Kampung Seni Pondok Mutiara Sidoarjo, menyatakan, dia bersama rekan-rekannya ingin memberitahukan kepada masyarakat bahwa kesenian di Sidoarjo tidak lantas mati karena pengaruh Lumpur. Masih menurut Amdo, kriteria lukisan untuk bisa dipamerkan adalah nilai spirit dan sensitivitas lukisan terhadap bencana lumpur.

“Kami memilih lukisan yang dapat menyampaikan pesan bahwa di Sidoarjo dan sekitarnya masih ada aktivitas kehidupan yang normal atau tidak seperti yang dibayangkan bahwa kami telah tenggelam dan kolaps karena lumpur,” katanya.

Menurut Amdo, mayoritas lukisan yang dipamerkan bercerita kondisi lingkungan Sidoarjo dan Porong pada masa dulu dan sekarang. Salah satunya adalah karya Ellis Susanti yang berjudul Memoriku.

Dalam lukisan itu, dia bercerita kenangan pada kehidupan di sekitar rumahnya di kompleks Tanggulangin Sejahtera yang kini telah tenggelam oleh lumpur. Karya lain yang bercerita tentang lumpur adalah lukisan Budi Omaya. Karya Budi berjudul Pusat Semburan. “Lukisan ini laku cepat dan harganya lumayan, Rp 6 juta,” ujarnya. (luq)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: