Siswa Korban Lumpur Drop Out

RADAR SIDOARJO      Senin, 11 Juni 2007
SIDOARJO – Putus sekolah (drop out) kini menjadi monster bagi para siswa korban lumpur. Sedikitnya tiga siswa di Pengungsian Pasar Porong Baru telah berhenti sekolah karena orang tua mereka tidak lagi punya biaya. Ibarat gunung es, angka anak putus sekolah sebenarnya jauh lebih besar.

Fakta memprihatinkan itu diungkap Koordinator Posko Layanan Pendidikan Pasar Porong Baru (PPB) Mustofa. Menurut dia, yang tercatat di pengungsian baru tiga orang. Mereka adalah anak-anak pengungsi yang masih bertahan di pasar. “Saya yakin itu karena tahu betul kondisi di lapangan,” kata Mustofa, yang juga kepala SDN Renokenongo II.

Jumlah anak sekolah korban lumpur mencapai ribuan. Mereka menyebar di berbagai tempat karena mengungsi. Namun, sebagian masih bertahan di pengungsian. Penyebab anak putus sekolah ini, kata Mustofa, ialah soal biaya.

Orang tua mereka tidak punya lagi pekerjaan setelah rumah dan sawah mereka tenggelam oleh lumpur. Padahal, biaya sekolah anak-anak sekarang masih tinggi. Beban paling berat ditanggung siswa yang belajar di sekolah swasta. Orang tua mereka mengaku dalam satu bulan minimal harus membayar Rp 50 ribu.

“Tiga anak yang putus sekolah itu dari sekolah swasta,” ungkapnya. Bantuan operasional sekolah (BOS) Rp 27.500 per siswa SD setiap bulan biasanya digunakan sekolah swasta untuk membayar guru.

Muhammad Khoirun, 40, warga Desa Renokenongo, mengaku tidak tahu harus mencari ke mana biaya sekolah anaknya. Sebab, dirinya tidak lagi bekerja setelah rumah dan sawahnya diterjang lumpur panas. Sementara ini, Khoirun meminta famili membantu biaya anaknya yang masih di SD. Tapi, anaknya yang kini duduk di SMA hampir pasti tidak meneruskan sekolah. “Saya bingung,” tutur Khoirun.

Kepala MTs Khalid bin Walid Ali Mas’ad menyatakan, sekolah swasta yang dikelolanya tidak punya sumber dana lain selain dari orang tua murid. Selama ini MTs tersebut terus berupaya mencari donatur agar bisa terus berjalan meski sudah terimbas lumpur. Sekolah butuh biaya untuk alat tulis, seragam, maupun praktik siswa. “Kami tidak mungkin menutupnya sendiri,” jelasnya.

Sebenarnya, Bupati Sidoarjo Win Hendrarso telah memerintahkan sekolah-sekolah negeri menggratiskan biaya pendidikan bagi anak-anak korban lumpur. Mereka cukup menunjukkan kartu tanda korban lumpur agar dibebaskan dari biaya. Namun, ternyata masih ada saja anak-anak pengungsi yang terpaksa drop out.

Kondisi memprihatinkan itu direspons artis-artis dari Persatuan Artis Film Indonesia (Parfi). Ketua Umum PB Parfi Yenny Rahman kemarin menyerahkan sejumlah bantuan untuk anak-anak sekolah di Pasar Porong Baru. Bantuan itu, antara lain, berupa seragam sekolah maupun alat-alat tulis.

“Sumbangan kami tidak besar. Tapi, semoga bisa merangsang pihak-pihak lain untuk lebih peduli,” ungkap Yenny yang menggandeng PT Telkom Divre V Jatim untuk membantu korban lumpur. (dyn)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: