Tim Bola Beton ITB Belum Dibayar Lapindo

KOMPAS Laporan Wartawan Kompas Antonius Ponco A
SIDOARJO, KOMPAS – Tim dari Institut Teknologi Bandung yang memasukkan rangkaian bola beton ke pusat semburan lumpur di Porong, Sidoarjo belum dibayar oleh pihak PT Lapindo Brantas Inc. Utang yang belum dibayar itu sebesar Rp 1 miliar.

Ketua Tim Supervisi dan Monitoring Pemasukan Bola Beton ke pusat semburan, Bagus, Senin (11/6), menjelaskan uang sebesar itu merupakan upah untuk peneliti yang terlibat dalam pemasukan bola beton dan juga biaya untuk penelitian pada saat bola beton dimasukkan ke pusat semburan.

Bagus tidak tahu mengapa utang ini belum juga dibayar oleh Lapindo. “Akhirnya untuk menutup biaya itu, saya harus membiayainya dari proyek-proyek lain yang saya dan teman-teman saya kerjakan,” ungkapnya.

Utang yang belum dibayar Lapindo ini juga berdampak pada penyelesaian alat-alat untuk meneliti konfigurasi pusat semburan lumpur yang ditugaskan oleh Badan Pelaksana Badan Penanggulangan Lumpur di Sidoarjo (BP BPLS). “Desainnya sudah selesai tetapi untuk membuat alat-alat itu kami belum lakukan karena khawatir nanti tidak dibayar juga oleh Lapindo,” ujar Bagus.

Padahal penelitian konfigurasi pusat semburan ini sangat penting untuk menentukan cara apa yang cocok dalam menutup semburan lumpur Lapindo Brantas Inc di Porong, Sidoarjo.

Iklan

60 Responses to Tim Bola Beton ITB Belum Dibayar Lapindo

  1. ompapang berkata:

    Setahuku untuk kasus HDCB tak ada klausul “no cure no pay”, kontraktornya BUMN PT Widjaya Karya sudah dibayar, sedang Tim HDCB bertindak sebagai konsultan Perencana dan Konsultan Pengawas. Jadi sebagai konsultan mungkin tim HDCB belum dibayar. Kebetulan saja tim HDCB sebagai pencetus ide killing mud softly degan bolton, karena bisa saja seorang atau beberapa orang penggagas suatu ide tidak (tidak mau) ditunjuk sebagai konsultan pengawas pekerjaan lapangan disebabkan karena mereka bukan orang lapangan (field engineer), melainkan berprofesi ilmuwan. Para ilmuwan adalah ibarat ASTRONOM yang ngetung-ngetung seperti pak RIrawan di blog ini, sedang field engineer adalah ASTRONOT yang melaksanakan, mengawasi atau mengamati dilapangan. Contoh lain, ilmuwan ibarat AHLI HISAB dan field engineer semisal ahli RUKYAT dalam menentukan saat bulan mati. Yang menjadi istimewa disini adalah tim HDCB , selain sebagai penggagas juga sebagai konsultan perencana dan pengawas dilapangan. Ilmuwan merangkap field engineer yang dalam peribahasa Jawa disebut DEMANG NGIRAS TANGKILAN ( Kepala Desa merangkap pengantar surat).
    Jadi belum dibayarnya tim HDCB oleh Lapindo berkaitan dengan kegiatan sebagai konsultan perencana atau sebagai penggagas ide bolton, sedang sebagai pengawas pekerjaan insersi bolton kalau sampai tidak dibayar Lapindo, ya sangat kebangeten si Lapindo itu.

  2. dedek berkata:

    Pada prinsipnya saya tahu bahwa harusnya ada jaminan kerja, asuransi, bank garansi dsb. sebagai mekanisme pelaksanaan proyek. Dan memang benar, kalau tidak seperti ini bakalan ada antrean kontraktor.
    Cuman yang ingin saya garis bawahi adalah :
    1. apapun tekniknya, mau HDBC kek, mau bodon kek, tidak perlu melihat institusinya dulu lah, mau ITB, mau UGM, siapa saja…untuk kasus seperti ini, pasti ada kemungkinan tidak berhasil dan tim TAHU dan SADAR akan hal ini.
    2. tim sudah MEMUTUSKAN untuk memilih, dalam hal ini HDBC.

    Ini kasus istimewa dan berbeda. Tidak ada yang menghadapi kasus seperti ini sebelumnya. Pasti bapak dan ibu di sini setuju bahwa unsur ketidakpastian semua metoda yang ditawarkan pasti ada. Dan 2 poin di atas adalah wajar menurut saya.

    Jadi, yang dituntut di sini adalah, “hargailah keputusan yang sudah diambil”.

    Saya ambil contoh bagaimana penanggulangan penyakit influenza yang dulu pernah membunuh jutaan jiwa di dunia. Berapa lama waktu yang dibutuhkan hingga para ilmuwan dapat menemukan obat anti influenza ? Berapa banyak jiwa yang terus melayang selama progress penelitian tsb ? Berapa banyak kegagalan yang terjadi saat penelitian ? Apakah selama penelitian itu ilmuwan tidak dibayar ? Kalau demikian, ya…gak akan pernah ada ilmuwan yang mau meneliti dan masalah tidak akan pernah selesai.

    Inilah yang mendasari saya mengatakan : kok ya lucu ada klausul “no cure no pay” buat kasus seperti ini.

  3. ompapang berkata:

    Pak Arsolim, seperti komen2 saya sebelumnya dalam aneka topik di blog ini, sepertinya kita sependapat bahwa action lebih lanjut adalah dengan melihat situasi dan kondisi dibawah sana .Jadi sebelum tahu keadaan yang pasti-benar dibawah sana, maka segala metode untuk tindakan penyumbatan semburan lumpur sebaiknya tidak dilakukan. Fokus tindakan pada penanganan aliran lumpur dipermukaan.
    Dalam kasus HDCB, berkaitan dengan topik ini, cara bodon yang saya uraikan diatas adalah untuk memastikan berhasil tidaknya HDCB yang berkaitan dengan kesepakatan yang telah dibuat dalam hal cara pembayaran imbalan jasa tim HDCB. Kalau kenyataan dengan cara bodon dan tidak rumit tim HDCB layak mendapat imbalan jasa, ya harus segera diberikan,jangan ditunda-tunda dan dicari-cari kekurangannya. Yang dimulai dengan kesepakatan yang baik harus pula diakhiri dengan kesepakatan yang baik pula. Tapi bila dengan cara bodon saja efektifitas Bolton diragukan, tim HDCB harusnya legawa bila metodenya oleh publik (bukan oleh Lapindo atau BPLS, karena BPLS bisa beda pendapat dengan publik ) dinilai tidak atau kurang berhasil disertai fenomena lapangan yang mendukung penilaian itu.

  4. Arsolim berkata:

    Ompapang, mungkin disini ada mis-understanding, maksud saya memetakan geometri lubang semburan terbawah adalah untuk melihat situasi, kondisi dan apa yang terjadi dibawah sana secara visual dan data ini dapat dipakai sebagai dasar untuk action lebih lanjut sekaligus dapat mengetahui apa yang terjadi dengan hdcb tersebut.

  5. ompapang berkata:

    Pak Arsolim, kalau teknologi canggih belum ada, mungkin pakai teknologi sederhana saja atau cara bodon, yaitu pakai bola kulit besi diisi beton dengan diameter 40 cm atau 60 cm,cukup satu saja, kita masukkan dengan uluran tali baja/sling/wire rope. Bila panjang tali yang masuk mendekati 3000 meter berarti bolton bablas kebawah atau hancur sehingga tak menghalangi bola besi, sebaliknya kalau uluran tali hanya sampai 500 m,berarti disitu terhambat kumpulan bolton atau ada timbunan material karena longsor dikedalaman tersebut sehingga saluran berbelok-belok tajam ( misal seperti huruf S). Dan bila uluran tali mencapai 1000 an meter,berarti lokasi bolton sesuai yang diharapkan dan dapat disebut BOLTON BERHASIL sesuai teori killing mud softly yang dicetuskan tim HDCB dari ITB. Tidak rumit kan ?

  6. Arsolim berkata:

    Nah Ompapng kalau kita sudah concern mau memetakan dulu geometri saluran lumpur sampai kepusat semburan yang paling bawah yuk kita cari solusinya, sebab cari devicenya yang bisa mem-plot sampai kedalaman 3000m, dengan tekanan 10 Bar atau lebih dan temperatur mungkin sampai 200 derajat Celcius bukan perkara gampang om, ada Downhole camera, Geo Penetration Radar (GPR), Magnetic ranging etc, tapi semuanya terbatas jangkauannya om.

  7. dian berkata:

    ini mah jawaban klasik kontrak EPC yang ndak bikin risk analysis. jadi sengaja ndak dibuat spek yg jelas, jadi biar ada celah untuk cari way out.
    jadi ya gitulah kalau semua mau diambil sendiri. gitu aja kok repot.

  8. ompapang berkata:

    keberhasilan tim HDCB dapat diketahui setelah diadakan pemetaan geometri saluran lumpur sampai sedalam lebih dari 1300 m atau bahkan sampai 3000 meter kurang sedikit, yaitu kedalaman pengeboran Lapindo tanpa casing. Kalau ternyata alat pengukur atau sensornya tidak dihambat oleh bola beton, berarti bola beton hilang bablas ditelan bumu atau hancur menjadi bubur, sebaliknya kalau alat sensornya terhalang bola dikedalaman 500 meter, berarti bola beton memang berhasil berfungsi dikedalaman tersebut, namun belum sesuai dengan apa yang diharapkan oleh tim HDCB yaitu bolton berfungsi efektif dikedalaman 1300 meter. Jadi kita tidak bisa berdebat tentang keberhasilan atau ketidak berhasilan bolton sebelum mengetahui geometri saluran (conduit) lumpur dari kedalaman 3000 -an meter sampai permukaan.

  9. mang Ipin berkata:

    Benar sekali apa yang dikatakan mas.Arsolim,kalo ada pemberi gawe tidak menuntut
    hasil kerja dari kontraktornya sukses maka buanyak yang akan menjadi
    kontraktor ASBUN,sedangkan yang sudah berhasil saja . . . masih saja ada yang coba
    gak dibayar . . . memang fulusnya uda gak beseri ato ngitungnya pakai
    dikilo??????maaf ya Pak.Dedek sekiranya team awal yang dibentuk mendukung untuk proyek BolTon dan pada akhirnya ikut2an angkat tangan alias gak tanggung
    jawab itu mah sudah jadi sifat manusia,kalo sukses maju paling depan untuk minta
    bagian yang paling berjasa,tapi sekiranya gagal . . . . . ya paling mudah menyalahkan
    orang lain. . . . pepatah ADA UBI ADA TALAS , salam

  10. Arsolim berkata:

    Pak Dedek :
    – Keberhasilan suatu metode terlihat dari hasil implementasinya, dalam hal LUSI
    dapat dilihat bahwa dalam kurun waktu tertentu apakah memang volume semburan
    cenderung menurun terus, kalau masih turun-naik yang belum bisa dikatakan
    berhasil pak.

    – Kalau kontraktor suatu proyek khususnya penanganan lusi tidak bisa memberikan
    suatu jaminan pasti bahwa proyeknya pasti berhasil, dan kemudian mengajukan
    syarat pokoknya pekerjaan selesai harus langsung bayar, ya ngak usah kontrak
    kerja pak ya cukup lisan saja.

    Dan saya yakin sekali ratusan kontraktor akan antre mau mencobakan metode
    mereka yang penting proyekselesai langsung bayar tanpa mempedulikan hasilnya.

  11. dedek berkata:

    Kalau menurut saya sih, penerapan HDBC pastilah diputuskan dengan mekanisme yang ketat. Mosok sih di antara mereka yang terlibat tidak ada yang mengkritisi. Peduli amat dengan nama institusi, saya yakin di antara mereka pasti ada yang mengkritik. Jika sudah diputuskan, harusnya ini menjadi tanggung jawab bersama, entah itu berhasil ataupun gagal. Jadi cuap-cuap : “tuh khan…gagal” harusnya gak boleh muncul lagi. Semuanya bertanggung jawab.
    Nah, atas dasar ini, menurut saya lucu kalau ada klausul “no cure no pay”, apalagi pihak dari ITB sendiri pernah mengatakan bahwa metoda ini ada kemungkinan kegagalannya. Anggap saja kalau ada klausul yang begitu, jika saya jadi orang ITB tsb, maka saya tidak akan mau terlibat. Saya akan katakan : “Silakan pake metoda kami, tapi kami tidak akan ikut-ikut-an merealisasikannya. Lha wong kami nggak punya uang untuk menanggulagi resiko kegagalan. Kalau tetap ingin mengajak kami, ayolah sama-sama kita kerjakan, berhasil atau gagal kita hadapi bersama.”
    Dari pihak Lapindo pun, kalau sudah dikasih tau bahwa ada kemungkinan gagal, harus sudah siap dengan kondisi ini. Kalau tidak bersedia untuk gagal, lebih baik cari metoda lain. Kalau begini kan kesannya Lapindo (atau pemerintah ?) seolah-olah ‘mentransfer kesalahan’ ke pihak lain alias ‘mencari kambing hitam’. Sekarang kesalahan seolah-olah ada pada ‘pihak lain’ khan ?
    Tapi ngomong-ngomong tentang kegagalan HDBC, terus terang hanya saya baca di blog ini. Buat menyeimbangkan informasi, silakan diakses :
    http://rendrasyah.wordpress.com/2007/06/05/pengaruh-metode-bolton-untuk-lumpur-lapindo/

  12. mang Ipin berkata:

    Waduuh dek Boxal kok jadi emongsi gitu sich!!!!!!! maksud Aa bukan berarti para
    Ilmuwan/dosen/pakar dari team HDCB yang sudah menjadi kontraktor dadakan
    juga para keluarganya gak boleh maem???ya namanya orang makan walau gak dari usaha satu ke yang lain tetap aza makan dek! karena dengan kita makan artinya
    sudah mengeliminasi satu masalah ,coba tolong diperteliti yang saya uraikan yaitu BAHWA
    TIAP ORANG BEKERJA HARUS MENDAPATKAN UPAHNYA,sedangkan pemulung/
    pembersih selokan/pengumpul tinja, dll nya juga habis bekerja mendapatkan
    upahnya. . . iya gak!!!!! jadi kalo dibilang kekurangan pembayaran kontrak 1M belum
    dibayar itu merupakan resiko pekerjaan yang namanya ‘”COMMISSIONING'”
    yang menjadi para kontraktor pasti dah tahu bahwa ada penahanan sisa pembayaran
    yang akan dilunasi dari pemberi gawe kepada kontraktornya
    setelah 1bulan s/d 3bulan pekerjaan selesai baru akan dilunasi!jadi semacam uang
    jaminan bila gak/belum sukses maka tugas dari si kontraktor tsb untuk membaiki
    hasil pekerjaannya tsb sampai sukses,seperti tulisan diatas bahwa bila insersi BolTon
    sudah mencapai 30% up, maka akan dapat dipastikan debit LUSI akan berkurang
    Memang sudah ada prestasi bahwa ada pernah kejadian selama hampir 30’ pada tanggal LUSI gak menyembur tapi sayangnya hanya waktu tsb saja , setelah
    itu kembali terjadi semburan dengan volume gak berkurang ,jadi saran saya untuk dek Boxal jangan terlalu cepat emosinya???Yang terpenting sekarang seperti kata para pakar di blog ini
    yaitu bagaimana cara untuk menghentikan keluarnya LUSI tsb,serta membantu para
    pengungsi khususnya di PBB untuk se-cepat2nya mendapatkan dana kompensasi LBI
    jangan diperhambat dengan segala macam BIROKRASI/PERATURAN yang kesannya meng-ada2 hanya untuk tujuan memperlambat pembayaran dana kompensasi tsb, salam

  13. boxal berkata:

    buat pemerhati_moral,
    metoda HDCB harus dibandingkan dengan yang lain… (comparative)
    karena kalau tidak dibandingkan terhadap metoda lain, maka kita tidak akan pernah tahu metoda HDCB ini lebih bagus/lebih buruk..
    (lbh buruk/bgs terhadap apa???) terhadap suatu metoda yang sempurna??? adakah metoda sempurna itu???

    ->nothing perfect sir, apalagi untuk masalah baru&unik seperti LUSI ini

    jadinya kalau terus-terusan begini2 aja terus (tanpa pembanding), kita gak akan pernah mendapatkan solusi penanggulangan lumpur yang tepat..

    jadinya pengaliran lumpur saja kalau gitu… bolehhh..

    sori semua posting dari Pak pemerhati_moral, dll
    sangat ingin aku tanggapin tapi gak sempat.. dahhh

    maaf pak/bu, aku mesti pamit dulu.. mau pulkam bentar… libur tlah tiba 3x hatiku gembira..
    cao… i’ll be right back..

    salam hormat untuk anda semua…

  14. ompapang berkata:

    Sejak awal metode HDCB memang BELUM JELAS akan bekerja dikedalaman berapa. Apakah -100m, -500m, -1000 m,- 1300m, -2000m, atau -3000 m. Pada tiap kedalaman tersebut mesti terjadi perbedaan unjuk kerja HDCB karena perbedaan jenis tanah atau batuan ya. Jadi antara HDCB pada kedalaman tersebut sebetulnya sudah dapat diperbandingkan unjuk kerjanya, karena masing- masing kedalaman mungkin jenis tanah atau batuannya berbeda kekerasannya, ada yang mudah tergerus ada yang sulit.
    Jadi kalau sekarang pembayarannya juga BELUM JELAS kapan, mungkin juga karena belum ada TOLOK UKUR keberhasilannya yang disepakati antara pemberi kerja dan penerima kerja. Mungkin dikedalaman -100 m, sudah berhasil sesuai teori atau simulasi , tapi sifatnya sementara karena lapisan tanahnya tidak terlalu keras yang lama-lama tergerus dan ambles sehingga membentuk kawah misalnya.

  15. pemerhati_moral berkata:

    quote: “mas yang bermoral”
    pujian yang salah!
    pemerhati_ham tidak berarti: mas yang ber-ham.
    pemerhati_senjata tidak berarti: mas yang bersenjata.
    pemerhati_limbah tidak berarti: mas yang berlimbah.
    siapa yang salah?

  16. pemerhati_moral berkata:

    o—o—o, mengungkapkan perasaan, tidak perlu kualifikasi. rakyat jelata boleh mengatakan apa yang dilihatnya. lumpur mengecil atau sebaliknya. apakah janji setelah masuk 374 untai lumpur surut tersisa 30-50% sudah terpenuhi atau tidak? janganlah dibuat rumit.

    presentasi metode? dikoran, majalah, internet, juga di blog ini sudah ada. tetapi sejak awal menurut yang kontra, metode yang gegabah atau tidak benar. tanyakan ke sidoarjo sana. apa mereka tidak marah bila bola beton dilanjutkan dengan 2000 untai. kalau lumpur mengganas, semburan gas liar tiba2 muncul dirumah, mereka yang harus menanggung. sedangkan kontraktor2 sibuk cari duit.

    harus ada metode pembanding? ini urusan elit2 teknik. tetapi sebaiknya tidak arogan. bukan ahli teknik bukan berarti diskusi buta. orang biasapun bisa mikir dan berhak bicara.

    (—but you have a progress in your trying, guy—)

  17. boxal berkata:

    i completely agree with you, Pak Toto…
    jadi terkesan diskusi buta ya pak??
    Pak Toto ini sendiri ahli apa?? aku tahu pasti ahli nujum… 🙂 becanda pak..
    bapak bisa baca pikiran orang sih….

    salam

  18. boxal berkata:

    hehehe…
    bapak pemrhati_moral,
    HDCB ya ada dong kajian ilmiahnya pasti… dan telah dipresentasikan beberapa kali sebelum diluncurkan, yang menialinya ya mungkin timnas, lapindo sendiri, atau bahkan mungkin jajaran menteri dan dirjennya, dan ahli2 yang lain. (MUNGKIN.. 🙂 )
    yg jelas setahu saya metoda itu tuh sudah dipresentasikan… mungkin saudara aja yang gak hadir..

    Jadi,, -> menurut saya, menurut saya, sekali lagi menurut saya… hdcb yang paling resonable untuk saat ini dibandingkan metode yang lain….

    mungkin bagi anda HDCB tidak resonable… terus menurut anda metoda apa yang lebih reasonable?? harus ada pembandingnya dong?? ayo apa coba???
    –> ayo metoda apa, tolong dipaparkan, biar kita bahas bersama reaosnability-nya bersama… ok?
    kalau nanti ternyata metoda bapak lebih reasonable di kepala saya, saya pasti mendukung metoda bapak.

    trims

  19. Toto berkata:

    Mas yang bermoral,
    Munurt saya yang kotra itu lebih disebabkan karena tidak tahu. Ini kesalahan tim HDCB yg ngg apernah memberitahukan dengan bahasa mudah ke politisi, ahli sipil, ahli ekonomi, ahli hukum. Jadi yg muncul sekedar kecurigaan. Ya kecurigaan karena ketidak tahuan.
    Kalau curiga tapi karena tahu ya ndak apa-apa. Wong disini ternyata semua ga tau apa itu HDCB tapi tau2 bilang gagal totalll … dan akhire si ahli hukum dan ekonom bilang wis ga usah dibayar. SI ti HDBC ya mowoh mlongo dowank.

    Padahal mereka ngakunya dosen kaan ? Masak njelasin metodenya aja kagak besus 😦
    Padahal ada pemerhati moral … yang ini aku ga tau kualifikasinya juga seeh 😛

  20. pemerhati_moral berkata:

    ooo sadar duit sensitive? duit membuat negara ini dinobatkan nomor 7 terkorup didunia. duit pula yang diributkan pembayarannya untuk tim hdcb itb. duit pula yang membuat orang sidoarjo hidup mengharapkan janji trial & error, tetapi sampai mati terus dikelilingi lumpur. disini aturan serba longgar. selalu ada cara dan alasan untuk memandulkan aturan. benarkah kontraktor dosen itb lebih terjamin daripada kontraktor yang punya manajemen, sdm, tim-pekerja, alat, mesin dan tentu saja duit modal?

    MIT sekalian? yang begini di MIT, oknumnya dipecat. wolfowitz yang perkasa juga kena pecat. tidak punya hati? soal duit dan korupsi, kita selalu kebanyakan hati. —banyak berjasa, —punya anak, —dermawan. maka soal korupsi, tetaplah kita juara sejati.

    hdcb metode paling reasonable? ada kajian ilmiahnya? ada proses prakualifikasinya? siapa yang menilai? bukankah banyak suara kontra dari publik? apakah memakai almamater institut ternama untuk trial & error dan menyalip deretan kontraktor yang antri kerjaan, juga perlu terus diberi hati?

  21. dian berkata:

    nah ini yang saya takutkan, kalau sudah mulai menyinggung nama institusi, unversitas kek, lembaga kek. makanya jangan bawa-bawa nama almamater. divide et impera bisa terjadi seperti yg ditulis sama hati nurani.
    anak saya saja mulai tanya-tanya kok bisa begitu padahal kan itu katanya universitas hebat.
    jadi sekali lagi, sabar berpikir dengan bijaksana, lupakan nama besar, gengsi, atau memang kita maunya berantem terus membela nama almamater, yang tadinya maksudnya baik, tetapi karena keadaan dan kurang awasnya para pengambil kebijakkan, maka nama almamater tercoreng. sudahlah -indonesia masih tetap akan berkibar, karena rakyatnya masih sederhana, tidak berpikiran macam-macam.
    malu saya jadinya yng katanya engineer.

  22. edogawa berkata:

    hehe.he
    om Rino bisa ajah..
    saya sama seperti ompapang, pak dhe rovic, om usil, kang Dedi, boxal, mang Ipin, RIrawan, dan rekan-rekan yang lainnya..
    manusia indonesia yang berupaya mencari kebenaran, bukan pembenaran 😛

    buat om boxal, semangatnya berapi-api sekali ya..
    jangan2 pernah terlibat langsung dalam pekerjaan di porong,
    sampai panas lumpurnya kebawa-bawa.
    hehe.

    salam

  23. boxal berkata:

    mas pemerhati_moral yth,
    aku sih ga pernah mau tau bapak ini atau yang lain pun dari mana asalnya?
    anda juga mau datang darimana terserah? ngaku sebagai apa, terserah? (wong nama anda sendiri juga disamarkan koq)..!!! apakah dari ITB, UGM, ITS, UI atau MIT sekalian, atau bahkan professor… atau mungkin pengusul metoda yang lain yang metodanya tidak terpakai…. semuanya gak masalah bagiku!!
    mas memangnya kalau saya rada2 pro sama hdcb, saya mesti dari itb atau tim hdcb kah? saya adalah orang yang pro sama metode (apapun itu) yang menurutku paling reasonable, walaupun mungkin tidak perfect. (nothing perfect)
    Kalau saudara punya metoda yang lebih reasonable dari HDCB aku akan dukung metodenya mas, oke? so show me your method?

    kalau masalah relawan yang ngaco itu sih OKNUM aja menurutku….
    kalau ngomongin OKNUM, jangankan relawan mas, OKNUM polisi aja.. ada yang ngedarin narkoba.. nah gimana tuh..
    jadi kita ga usah meng-generalisir aja deh… ga baik.

  24. Rino berkata:

    hahaha masalah duit emang masalah yang paling sensitive ya?

    Benar juga perkiraan saya seperti posting tanggal 12. Lapindo ataupun timnas pasti akan minta orang yang memberikan ide untuk terjun langsung. Ini sebagai pertanggung jawaban mereka. Selain itu kalau kita punya ide, pasti akan mengerjakan pekerjaan se ideal mungkin. Kalau diserahin ke kontraktor ga ada jaminan kan?

    Pak edogawa kayaknya tau banyak juga ya?w artawan atau apa pak? Atau memang detektive Conan Edogawa?

    Sekarang lagi menyelidiki apa di Indonesia? Penyebab lumpur lapindo?

  25. pemerhati_moral berkata:

    boxal, dari itb? benaran suporter atau tim hdcb?
    saat tsunami banyak orang ngaku relawan kesana, tetapi paling banyak menghabiskan dana sumbangan daripada korban sebenarnya. ada pula penganggur ngaku dokter.
    profesi dosen adalah pendidikan. apbn dari rakyat diberikan untuk mencetak generasi cerdas dan bermoral. membuat penelitian, konsep dan hitungan masih boleh, asal terrencana dan jelas, jangan cuma menghabiskan uang.
    pada bencana lapindo, ada ratusan malah ribuan kontraktor mau ikut menangani. termasuk yang petualang cari nama dan duit, tetapi tidak becus dan tidak pengalaman. namun mereka paham, kalau salah dan rugi, harus jual rumah dan harta.
    na, dosen ikut terjun jadi kontraktor, sudahkah siap rugi? pekerjaan mengajar ditinggal? apa mahasiswanya tidak terlantar? apa gaji dosennya distop saat jadi kontraktor?
    jadi kontraktor perlu profi. misalnya membangun jalan transsumatra, baru 3 bulan hancur, maka kontraktornya harus digugat, itu merugikan ekonomi rakyat. jadi kontraktor mau mengurangi semburan lumpur lapindo dengan promosi hebat, tetapi lumpurnya malah tambah ganas melanda rumah2 penduduk, apa sanksinya?
    tidakkah kita sudah waktunya lurus pada aturan?

  26. boxal berkata:

    mang ipin… pemadam kebakaran/dokter UGD/PMI/relawan Tsumnami juga butuh makan kali yah… anggota tim-nya juga beserta keluarga yang mereka tanggung…
    mau usahanya berhasil/belum/tidak tetap mesti makan tidak?
    atau tidak begitu kah? tidak usah makan kalau belum berhasil??
    bagaimananih bang ipin yang bijak?

    bagi saya, yg mesti kita hargai adalah usahanya, jangan lantas karena belum berhasil maka dipojokkan seperti itu…

    saya pikir mereka bisa hidup koq dengan kerjaannya sebelum terjun ke LUSI… mereka tidak harus koq mikirin LUSI… (seperti kebanyakan orang yang tidak peduli).. tapi apa yang mereka lakukan?? meninggalkan pekerjaan untuk terjun ke LUSI…
    coba ukur seberapa besar KEPEDULIAN & USAHA mereka daripada kita yang hanya menulis kritik ‘dengan nama samaran pula’?

    Terus dengan ituapa mereka gak usah diberi makan bang ipin??
    ayolah bang ipin?? pakai hati komment-nya…

  27. boxal berkata:

    hebat mang ipin…. mental2 kayak anda cocok untuk jadi kontraktor penanggulangan LUSI berikutnya…
    i vote you lah..

  28. boxal berkata:

    pak usil,
    i dont go away… see you in ‘diskusi HDCB’

  29. boxal berkata:

    waduh ada professor, sementara saya ini hanya anak kecil yg lg thesis…
    sementara itu saya juga dirayu2 kayak anak kecil biar gak ngambek… (aduuh manisnya..)
    jangan2 professor-nya itu, pak usil sendiri…
    tapi professor apa dulu nih… (karena untuk jadi professorkan bisa banyak bidang, becanda prof…. hebatlah kalau udah professor) semoga komentarnya sehebat gelarnya…

    baca topik, iyya suatu saat saya pasti baca, karena terlalu banyak jadi saya baca aja dikit2 dan pelan2 gpp ya…
    i’ll find who is the professor.. hormat pak!

    pak professor mana sumbangsihnya untuk prong…. porong & indonesia butuh professor kayak anda..
    lebih dari sekedar kritikan, porong butuh ide2 segar..

    salam prof…

  30. edogawa berkata:

    hhmm..
    makin rame aja yang posting masalah ini..
    walau gak btatap muka tapi tetep “hangat” hehe.

    menanggapi mang Ipin (dan mungkin juga posting2 yang sebelumnya), saya ingin mencoba sedikit fles bek.

    Sepengetahuan saya, dari media juga, bahwa tidak ada penulisan nominal yang pasti dan persis sama antara satu media dengan media lainnya, termasuk dari stetmen ketua BPLS dan jubirnya, semuanya hanya kisaran saja. yang paling tahu angka tersebut adalah pihak Lapindo, Timnas, Tim HDCB dan Tuhan saja.

    Namun, angka 4M yang disebutkan oleh Mang Ipin, itu kemungkinan besar adalah nilai total pekerjaan yang bukan hanya dilakukan oleh Tim HDCB, karena dalam nilai 4M itu ada kontribusi Wika sebagai pembuat bolton, Tim HDCB dengan segala peralatan dan personilnya, dan tim pendukung lainnya di lapangan.

    Harap menjadi perhatian bersama juga oleh kita, bahwa ide insersi bolton ini pada awalnya hanya merupakan usulan tim ITB kepada Lapindo dan Timnas. Betul, hanya usulan metoda! ITB sebenarnya ingin menjadi pendamping pengawas (konsultan) dan tidak ingin masuk terlalu dalam pada tatataran teknis di lapangan. Tapi karena permintaan dari Timnas dan Lapindo (bisa diklarifikasi kembali kepada mereka), bahwa ide ini harus dijabarkan dalam bentuk proposal teknis dan tertuang dalam kontrak, maka ITB akhirnya menyepakati. saya rasa, nada dasar yang dikeluarkan Bapak2 dari ITB itu sama, niat awalnya adalah menolong.

    Jika kemudian pada pelaksanaannya timbul kejadian seperti ini, saya rasa kita perlu tinjau (jika diperkenankan) ulang isi kontrak yang ada. seperti yang disebut oleh Mang Ipin, klausul apa saja yang terdapat di dalamnya berkenaan dengan syarat perjanjian pembayaran. Jika memang ternyata disebutkan bahwa pekerjaan tidak akan dibayar apabila tidak beroleh hasil, maka tindakan Lapindo ini dapat dibenarkan.

    Namun, seperti yang saya sebutkan sebelumnya, isi kontrak itu hanya Lapindo, Timnas, Tim HDCB dan Tuhan saja yang tahu…

    salam

  31. mang Ipin berkata:

    Maaf nambah dikit, pada waktu awal2 ramainya proyek HDCB dari team ITB, saya
    pernah membaca dari harian media koran bahwa seluruh biaya dari
    proyek HDCB tersebut hampir mencapai 4M, jadi kalo sekarang yang diklaim tinggal
    1M utangnya LBI,berarti itu hanya utang royalti? iya tah? ya wajar aza kalo gak mau
    dibayar yang namanya belum sukses gak dibayar,jadi IKHLAS kan sajalah untuk membantu mempercepat pembayaran bagi para pengungsi/korban langsung
    dari LUSI yang sudah pada stres akibat lamanya janji kompensasi ganti rugi belum selesai2 sampai kini.

  32. mang Ipin berkata:

    Sedikit urun rembug dari Aa masalah yang dihadapi para Pakar/conractor HDCB sbb:
    Sebagaimana peraturan dan prinsip kerja bila seseorang/badan sudah melaksanakan
    tugasnya maka ybs berHAK mendapatkan hasil/upah dari karyanya tsb,kecuali bila
    memang ada klausal yang dengan tegas mencantumkan perjanjian NO CURE NO PAY!
    alias KALO GAK BERHASIL GAK DIBAYAR,jadi bila memang sekarang LBI tidak mau
    ngebayar tentu ada sabanya, apakah charge nya terlampau muaahal!!!!! untuk ide
    memasukan BolTon tsb,karena apa yang ditabur orang itulah yang akan dituainya,
    Aa yakin biaya2 dan segala macam expenses yang sudah dikeluarkan team HDCB tsb
    adalah dari koceknya LBI,gak mungkinlah para pakar/prof/contractor mau membayar
    yang semua keperluaan notabene untuk kepentingan LBI,jadi harus dipilah-pilah yang
    LBI gak mau bayar apa biaya2 non teknis seperti idenya yang memang belum sukses
    tsb,bukan biaya material&expenses/transport/meal/laundry alias biaya nyata,salam

  33. usil berkata:

    Kalau bang Boxal sudah baca(dengan lengkap) ke-2 topik diatas,
    maka pasti akan kenal lebih jauh, siapa itu:
    – RIrawan
    – omPapang
    – Herman
    – Janatan
    – Dedi Ganedi
    – Syahraz
    – tcz
    – dll
    pak Dhe Rovicky gak usah disebut. Dia owner blog ini.
    Malahan omPapang menaruh curiga, bahwa satu diantara nama
    diatas mestinya “profesor”, gitu ya om?

  34. usil berkata:

    Lho…bang Boxal, ingat! calon sarjana gak boleh ngambek.
    Disini tempatnya orang adu cerewet, ya adu kritik, adu ilmu juga,
    adu nyali….ya adu mental juga. Jangan permisi! mari tetap disini!
    kita saling share, saling tertawa…kalau perlu nge-baso.
    Supaya lebih akrap lagi kedepannya, bagaimana kalau saya usul
    bang Boxal mengenal lebih dalam lagi mereka yang aktif disini.
    Caranya? gampang! Pada sebelah kanan atas (DISKUSI), buka
    dua topik:
    1. Diskusi HDCB
    2. Mengalirkan Lumpur Secara Optimal.
    Syaratnya harus baca dari awal. Usil juga dulu mengenal mereka2 itu
    dengan cara ini. Itupun kalau bang Boxal masih cukup waktu pada
    saat sibuk ngurus thesisnya. Ok? so don’t go away

  35. boxal berkata:

    iyya.. mungkin ada benarnya ‘kakak/bapak’ usil dan ‘kakak/bapak’ syad…..
    harusnya saya cari tahu dulu sebelumnya,
    kalau ternyata ini adalah forum kakak-kakak & bapak-bapak

    permisi..

  36. usil berkata:

    Lho! diskusi tanpa “berantem” mana seru?
    Kritik membangun…cemohan ‘mendirikan’…bole aja to?
    Tapi kalo memaki orang…ya aku gak mau diskusi lagi dengan ybs.

    Ha!!…pemain sekali-gus suporter? bagaimana caranya?
    Om ini ada2 aja deh!

    Iya….omPapang, ini pak Syahraz koq udah lama gak muncul.
    Masak iya masih terus bertapa dipedalaman Kalimantan sana?

  37. ompapang berkata:

    Pak Usil ,sebetulnya komen yang jauh lebih pedas ngabangke kuping terhadap tim HDCB ada lho ditopik yang lain,kalo gak salah di DISKUSI HDCB dan INSERSI BETON . Tapi kayaknya disana berantemnya gak seperti disini. Ibarat pertandingan bola, di blog ini pemain-pemainnya tidak berantem,yang berantem para suporternya. Tapi bisa juga lho, pemain ngaku suporter. Seperti Pak Syahraz dll, beliau adalah pemain , dan disini tetap menunjukkan jati diri sebagai pemain bukan suporter, tapi kadang-kadang juga kasih suport pada ide yang ketemu nalar, itu syah-syah saja ,lha wong namanya saja Syahraz.(guyon lho pak !)

  38. Arsolim berkata:

    Kita akhiri saja kontroversi ini dengan mem-persepsikan bahwa pekerjaan tim hdcb adalah sebagai sumbangsih dan kepedulian masyarakat ITB terhadap rakyat Porong, jadi jangan lagi pikirkan duitnya, dibayar ya syukur ngak dibayar ya diambil saja berkah dan hikmahnya OK ?

  39. usil berkata:

    Pak Syad! ini memang lucu tapi isinya jelas bermutu to?
    Ada “adik” kita yang lagi berjuang meraih sarjana, jelas ini
    harus kita dukung. Walau cara dukungnya melalui “moral”,
    seperti caranya si-pemerhati diatas. Tapi kita kan tetap
    positive thinking!
    Maaf pak Syad, kali ini gak pake MATHE…RAMAL lho..

  40. rino berkata:

    Mas Syad kayaknya saya tau deh sapa?
    sepertinya kita pernah ketemu
    Sekarang domisili jkt kan?

    Salam…………….

  41. Syad berkata:

    wakakaka… 😀
    lucu juga yah klo baca om.. om yg lagi berantem

  42. hati nurani berkata:

    saya kira, disini masalahnya ada nama institusi yg (maaf) kadang-kadang jadi lebih mengedepankan kehebatannya. saya kira kita mesti lebih arif dan lebih mengedepankan kebersamaan. misal tim yang akan berbuat diberi nama yang tidak ada kaitannya dengan nama universitas atau institusi lainnya dan supaya lebih baik lagi juga merupakan gabungan dari universitas ataupun institusi tidak hanya satu saja sehingga “kebersamaan” di sini dalam menghadapi masalah lebih diutamakan. dan jangan lupa, tidak ada yang sempurna untuk satu institusi saja.
    sayang sedikit orang berfikir bijak seperti ini. kadang memang membela nama baik institusi lebih penting dari segala hal bahkan dengan cara yang tidak tepat pula.
    sebagai rakyat kecil yang memang sering dipinggirkan dan dikorbankan, mereka masih punya hati nurani dan selalu melihat para pemimpin dan para insinyur kita untuk berbuat yang terbaik, meskipun kadang selalu menjadi terpinggirkan lagi.
    para insinyur dan perguruan tinggi atau pun institusi bukanlah “mercusuar” ataupun “yg merasa paling bertanggung jawab”.
    moral spirit disini, adalah “kebersamaan”. atau jangan-jangan kita lupa akan amanat penderitaan rakyat dan mudah menjadi :divide et impera.
    coba merenung sejenak, bersihkan hati dan coba tanya kepada hati nurani untuk bisa mendapatkan jawaban yang benar.
    kritik yg benar kadang memang menyakitkan tetapi merupakan pil pahit untuk kesembuhan.
    dan jangan lupa ini hanya salah satu ujian bagi wawasan kebangsaan kita

  43. pemerhati_moral berkata:

    ooo—marah? baiklah, ini kesempatan membuktikan bermoral dan cerdas. lumpurnya masih mancur deras, sudahlah jangan ributin duit. duitnya untuk korban pengungsi saja ya? orang sidoarjo hancur habis2 an diberi harapan kosong melulu. rela ya?

    ‘maaf’ itu bahasa santun, tidak berarti yang sana benar. tapi oke juga. kita diskusikan yang lebih penting.

  44. boxal berkata:

    okelah kalau gt..
    kita akhiri saja diskusi yang non teknis-nya..

    walaupun niat-nya baik tapi ungkapkanlah dengan baik pula.. (so do i, i am going to try)
    tapi kalau mau lihat seberapa kasar, baca & pahami lg yang tersirat dalam komentar anda sendiri tuan pemerhati_moral..
    walopun tim-hdcd belum tentu baca tapi pikirin lg sisi kesopanannya.. ok?

    tapi okelah saudara juga sudah menulis ‘maaf’ di page yang sama,
    kita akhiri saja ngebahasnya, mari kita diskusikan yang lebih penting dari sisi yang lain..

  45. chilo berkata:

    iya ih segitunya kalian, menuduh dosen/tim-bolabeton tanpa bukti…
    kualat ntar lho…
    pemerhati_moral koq malah keliatan tidak bermoral gitu sih.. iiyyyy
    komentarnya gak cerdas ah…

  46. usil berkata:

    Saya klop dengan komen “si-pemerhati” juga pak Dhe diatas. Sepertinya
    cocok dengan realita.

    Orang beda pendapat di alam demokrasi sah2 saja. Tapi….”rude”….”kasar”….
    Dimana rude dan kasarnya? Rasanya kita belum pernah (maaf) memaki orang,
    walaupun ada yang bilag “persetan”, kita tetap legowo koq.

  47. pemerhati_moral berkata:

    kuncinya mas rovic sebutkan dibaris pertama, “asalkan—–profesional”. dosen rangkap kontraktor, profi terhadap mahasiswa dan proyeknya? bule LSM naik business class, asal tidak nipu laporan atau korup, yang nilai para sponsornya, kalau 80% dana dihabiskan oleh si bule jalan2, jangan sebut “menolong”. pasien meninggal akibat infeksi, itu bukan salah dokter anestesi, tetapi mantri membius dan mengoperasi semaunya sendiri, namanya malpraktek. baris terakhirnya mas rovic cocok, semua harus PRE-DEFINED, apa yang akan diperbuat, apa tolok ukur sukses, kemungkinan dampaknya dll. kalau tiba2 brenti karepe dewe, masa klaim sukses, bayaran? debat dan kritik begini tidak jelek, malah perlu, daripada banyak yang ngawur dan makin tidak keruan.

    tahu bedanya profesi dan kontraktor? konsultan, pengacara, dosen dibayar jasanya sebab dipercaya profesi ahlinya. tidak diikat kontrak harus sukses, menang perkara, lulus sarjana. tetapi konraktor pakai kontrak, tidak selesai didenda, tidak suskses tidak dibayar, jembatan ambruk dan kontraktornya salah, ya dipenjara. terlalu kasar? yang penting niatnya jahat atau baik. kalau salah? minta ampun dan maaf. dosa? yang tahu yang diatas. orang sudah berusaha diobok2? lebih baiklah daripada dicuekin. ada banyak sekali yang yakin punya konsep lebih bagus (malah 100% sukses), tetapi tidak pernah digubris.

  48. boxal berkata:

    setahu saya itu bukan belum dilunasi tapi belum dibayar 1 rupiah pun, (DP-pun belum red)
    jadi mau bongkar2 kontraknya bagaimanalagi?
    Tim-HDCB itu ada lebi dari 20 orang + alat2/sensor yang mesti dibuat + akomodasi dan sewa hunian sementra tentunya dan segala pengeluaran yg lain..

    untuk bpk pemerhati_moral, usil, dan yg lain yg serupa:
    you are too rude… terlalu kasar… kalau belum tahu betul masalah sebenarnya, jadi jangan main tuduh seperti itu ah… gpp kalo kata2 anda terbukti benar, tapi KALAU TERNYATA TUDUHAN ANDA SALAH… seberapa besar dosa anda?
    orang sudah berusaha malah diobok2 gitu..
    orang bijak bilang pikir dulu 10x baru bicara…

    malu dikit ah!!

  49. Rovicky berkata:

    Aku pribadi tidak anti proyek. Bahkan proyek penanggulangan bencana alam asalkan semua didasarkan atas pekerjaan profesional.

    Banyak orang-orang bule yang bekerja di LSM atau bahkan bekerja untuk Palang Merah (RedCross) yang kalau naik peswat menggunakan bussiness class. Mereka memang “Profesinya menolong”. Artinya mereka juga pemain bayaran dalam sebuah kecelakaan atau bencana.

    Aku sih stuju aja ITB ITS atau UGM dan univ lain minta bayaran atas jerih payahnya. Niat dibelakang itu jangan diutik-utik, hanya Tuhan yang tahu. Kalau kita prositip thinking semestinya tidak suudzon dengan ITB. JUga ngga boleh suudzon dg Bahriro, Pak RIrawan, Boxal dll disini.

    Saya yakin niat kita baik untuk satu hal yang sama, hanya jalan yang ditepuh beda-beda. Tetapi jangan menyatakan bahwa jalan orang lain itu pasti salah, lah wong kita saja juga belum nyampe kesana kok.

    Problem mis-komunikasi ini saja yg sering menjadi kendala sehingga si X ngga tahu metode si A, demikian juga si B sok tahu karena dia “merasa” pendapatnya benar. Ketika kita buka bersama-sama disitu potensial konfliknya besar. KIta harus sama-sama terbuka dengan pemikiran orang lain. Karena saling tidak tahu sehingga saling menyalahkan.

    Saya prihatin kalau ITB sampai belum mendapatkan bayaran. tetapi kalau memang kontraknya “no cure no pay” kita harus bisa membuktikan bahwa tindakannya memang menyembuhkan. Sulitnya nanti adalah definisi “menyembuhkan”.

    Sukse seorang dokter anestesi ?

    Dokter yang mengobati seserang sakit kangker akut dan akhirnya dioperasi, sulit menyebutkan kesuksesannya. Dokter ahli anestesi menyatakan sukses karena berhasil membius si Pasien sewaktu operasi. Tapi kalau si pasien meninggal akibat infeksi apakah dokter anastesi juga gagal ?

    Lesson learnt !

    Setiap tindakan di Lusi disini tentu hanya satu tujuan kecil yg bisa dicapai. Apakah sekedar mengalirkan, sekedar mencegah luber, ataukah sekedar memberi makan pengungsi. Jadi harus didefinisikan jelas apa yang akan diperbuat dan dijelaskan apa tolok ukur kesuksesannya, serta kemungkinan dampaknya.

    Semua harus PRE-DEFINED sebelum dimulai.

    Kalau anda kerja belum apa-apa tiba-tiba brenti karepe dewe apa ya bisa ngeklaim perbuatannya ?

    Salam

  50. rino berkata:

    haha aneh ya negara ini.
    Saya ga peduli hdcb dibaya apa ga. Tapi melihat komentar yang ada di blog ini saya jadi tertawa sendiri. Apa memang masih banyak orang-orang yang idealis seperti bapak-bapak atau malah kebanyakan dari kita cuma berpikirikan naif.

    OK lah kita punya ide dicantumin di blog ini, siapa yang jamin kalau ide kita itu dijalankan walaupun semua pembaca diblog ini setuju dengan ide tersebut. Itu kalau semua setuju, kalau tidak paling dicari-cari kesalahannya sehingga kapan actionnnya, padahal lumpur tambah meluber.

    Saya pikir, Timnas ataupun Lapindo ga akan sembarangan menerima ide seseorang jika orang tersebut tidak terlibat langsung. Ini bentuk tanggung jawab orang itu. Tambahan, ga semua pihak yang memiliki alat2 yang dibutuhkan dalam pelaksanaaan sebuah ide termasuk HDCB. Kalau kita terlibat langsung, pasti ada biaya operasional. dan itu ga mungkin dari kocek sendiri. Pasti ada prosedur yang ngatur. Jadi, kalau anda punya ide dan ingin ide anda dijalankan mau tak mau akan terjun secara langsung(Walaupun tidak anda setujui ini sudah dinamakan proyek)

    Yang ketiga. Saya bukan dosen, tapi saya pernah jadi mahasiswa dan menikmati fasilitas Lab serta membuat skripsi. Semua fasilitas yang saya pakai itu dari lab (yang nota bene biayanya dari project2 itu) mana ada dari kampus apalagi pemerintah mampu membelikan alat2 up todate zaman sekarang ini. Untuk mengerjakan skripsi atau tugas akhirpun sama saja tidak satu sen pun biaya yang saya keluarkan, bahkan saya dapat honor sebagai reward atas apa yang saya lakukan. Ini sangat bertolak belakang dengan apa yang dialami saudara saya dikampus lain. Karena biaya skripsi sangat mahal akhirnya terpaksa telat lulus 3 tahun.

    Jangan bicara luar negeri deh. Setahu saya lab2 yang maju itu adalah lab2 yang bisa masuk industri (baca project). Dana hasil project dikembalikan lagi untuk riset sehingga riset mereka maju. Kalau ingin maju semua instansi harus memiliki usaha. Ini ga cuma berlaku buat lab, tapi juga panti asuhan, yayasan sosial atau yang lainnya.

    Jadi, saya lebih cendrung berpendapat kalau rakyat indonesia itu kebanyakan berpikiran pendek. Mungkin aja kita bisa berkomentar seperti ini karena kita tidak punya kesempatan atau tidak dalam posisi itu. Saya tidak menyalahkan, tapi bagaimana kalau kita mencoba untuk berpikir lebih jauh dan menempatkan diri diposisi orang lain?

  51. t berkata:

    Selingan:) Seingat saya, Kereta Kencana Yudhistira hanya satu kali menyentuh tanah, itupun tidak secara langsung (lakon apa saya tidak ingat), benar tidak Om?

    Sebenarnya saya suka mengikuti epik Barata Yudha (kalau didongengkan / mendengar, kalau membaca, saya malas). Dari awal saya pikir Kurawa berada di pihak yang lemah (selain tidak cerdas terutama ketika Resi Dorna meminta sesuatu dalam perumpamaan), la wong Pandawa didukung Kresna yang katanya Titisan Dewa Wisnu (Dewa Pemelihara). Saya sendiri kurang suka sama Kresna terutama ketika mengarahkan Panah Arjuna ke Karna (Dewa koq main trik-trikan!). Mohon maaf Om kalau pemahaman saya untuk Barata Yudha cuman kulitnya saja.

  52. ompapang berkata:

    Pak Usil, aku curiga jangan-jangan Pak RIrawan itu juga profesor, tapi ngaku akuntan(tukang ngetung angka). Tapi aku yakin, selain berdarah biru dengan R (Raden)nya ,beliau juga “berdarah putih”. Sebab didunia wayang, Raden Irawan (nama yang mirip pak RIrawan) adalah putra dari Prabu Darmakusuma iya Prabu Puntadewa alias Yudistiro yang tidak bisa berdusta, konsisten,jujur, tanpa dosa sehingga dikatakan “berdarah putih”.
    Maka jangan kasih komen :”gak kalah kok sama profesor2 itu “.
    Btw, kalau pak RIrawan nggak ngaku profesor, kita panggil dengan sebutan: R ANGKAWIJAYA ( anak R Harjuna/Janoko/Permadi) saja ya, soalnya beliau kan ahli ngotak atik ANGKA.

  53. usil berkata:

    Ha…ha…bapak Pemerhati ini, main langsung aja! Tapi saya suka itu pak.
    Dari pada resminya berlabel “intelektual” tapi UUD juga. Ini bau nya gak
    sedap pak. Di negara maju, dosen itu loyal dengan profesi mereka. Malah
    mendapat dana yang besar dari perusahaan2 untuk penelitian produknya.
    Tapi disini koq terbalik ya? Apa ada yang salah dengan sistem Univ. kita?

    Jelas diblog ini ada beberapa orang komentator yang tanpa pamrih!
    Enak lho pak kalo baca tulisan2 mereka yang idealis, gak kalah koq sama
    profesor2 itu. Ada yang masih muda, tapi ada juga yang sudah tua lho!
    Tapi bukan macan tua ompong! Gagasan mereka komplit, pake rumus lagi.
    Malahan siap dikritik! Bapak ikutin terus aja disini, tapi yang aktif pak!

  54. ompapang berkata:

    kalau punya ide ,tuangkan di blog ini biar dibuat wacana,diuji nalarnya, kalau ternyata ketemu nalar untuk diaplikasi/implementasi, silahkan BPLS tunjuk kontraktor mengerjakannya seperti komen Pak Usil diatas. Saya yakin penyumbang ide cukup berbesar hati tidak nuntut macem-mecem, misal royalti, bila idenya dipakai. Niatnya kan nyumbang pikiran, bukan jual ide. Hai para komendador, mari belajar dari pengalaman Tim HDCB ini. Gak enak kan ?

  55. pemerhati_moral berkata:

    na betul, menelanjangi diri sendiri. niatnya sekarang dibuka sendiri: duit, duit, duit! intelek yang sudah luntur idealismenya. melihat bencana dan orang susahpun, pikirannya langsung mau nambah gaji. pura2 ilmiah mau menghentikan lumpur, tapi sekaligus diborong, mengambil ide orang, memaparkan teori yang tanggung dan tak jelas, menjadi konsultan, menjadi kontraktor, menjadi pengawas, menjadi penilai, semuanya diborong. ya pasti bukannya profi, tapi rakus dan konyol.

    ya sudah pantas, lapindo tidak perlu bayar! transaksi beginia. tidak jelas aturannya. cuma coba2, trial & error, tanpa perasaan dan tanpa moral. lebih baik uangnya buat rakyat sidoarjo yang korban langsung.

    yang tulus dan yang berilmu sudah kelihatan dari cara sikapnya. omongnya tidak muter kemana-mana, ada perhitungan dan asal-usul logika ilmiah yang jelas, argumentasi, tidak sensiitif dikritik, tidak keroyokan membela-bela. dan paling penting tidak ngincer duit. lagi banyak orang susah. bisa kualat.

  56. Arsolim berkata:

    Teman-teman tanpa membela dan menuduh salah satu pihak mana yang salah dan mana yang benar, mungkin perlu dikaji terlebih dahulu bunyi kontrak perjanjian implementasi HDCB itu seperti apa, terutama syarat pembayarannya seperti apa, apakah ada kemungkinan satu klausul dalam kontrak tersebut yang tidak terpenuhi sehingga belum bisa dibayar penuh (100%) dan hanya bisa dibayar sebagian dulu baru sisanya sesuai schedule yang sudah diatur dalam kontrak dsbnya.

  57. hati nurani berkata:

    coba baca tulisan saya dulu,
    akhirnya juga seperti metode yang lain, yang juga nyatanya tidak berhasil.
    kita sudah kehilangan common sense, maunya dari sisi uang melulu.
    secara hitung-hitung, ya tidak dibayar jika gagal.
    jadi ya memang kurang gajinya, tapi berusaha cari proyek dan sok pinter.
    lupa harus ada trias politica, ada ekesekutif, yudikatif, dan pemerintah atau kontraktor, konsultan desain, dan konsultan pengawas, biar tanggungjawabnya jelas dan tidak hanya klaim kalau sukses dan kalau gagal cari “kambing hitam”.
    kita sudah kehilangan niat dasar, project management secara dasar saja sudah kehilangan.

  58. Joyo.S berkata:

    “Tim Bola Beton ITB Belum Dibayar Lapindo”
    =================================

    🙂 DIbayar pake lumpur mau ga ya? 🙂

  59. usil berkata:

    Sebetulnya kasihan juga ya? Kalau ilmuan/dosen sampe ngurus
    proyek yang nota-bene bukan habitat mereka, indikasinya cuma
    satu: Gaji tidak cukup!!! Harus ada perhatian dari MenDikBud??
    Lha…kalo bapak dosen habis waktu cari uang untuk nombok, sebab
    tidak dibayar Lapindo, kan mahasiswanya terlanntar! Dosa ini harus
    dicatat lagi ke rekening Lapindo.
    Makanya!! Urusan ginian, ilmuan cukup kasih ide, selanjudnya biar
    diurus kontraktor, karena itu memang habitat mereka.
    Kalo dosen sekaligus pengusaha, bisa perot…eh repot, kata omPapang

  60. edogawa berkata:

    maakk..!!
    jangan2 angka yang selama ini diklaim oleh Lapindo cuma sebatas kontrak dan bon2 di atas kertas, tanpa ada realisasi pembayarannya..
    gimana nih mas rovic..
    minta audit ama BPK ajah…

    boleh jadi metoda2 seblumnya juga belum berhasil karena gak ada dana operasional yang mereka terima..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: