Coretan Spidol Diganti Lumpur

RADAR SIDOARJO      Rabu, 13 Juni 2007
SIDOARJO – Berbeda dengan perayaan kelulusan siswa SMA pada umumnya yang melakukan coretan di baju dengan spidol, kemarin siswa kelas 12 Madrasah Aliyah (MA) Khalid bin Walid, Desa Renokenongo, melabur baju mereka dengan lumpur. Sebanyak 18 siswa yang mengikuti ujian nasional (unas) di sekolah yang sempat terendam lumpur itu begitu gembira karena lulus 100 persen.

“Meski beberapa nilainya pas-pasan, alhamdulillah semua tak perlu lagi mengikuti ujian paket C,” kata Kepala Sekolah MA Khalid bin Walid Ali Mas’ad. Di sekolah tersebut, nilai terendah adalah 17,65. Nilai tertinggi 21,25 diraih Ahmad Muzakki, salah sorang siswa korban lumpur dari Desa Renokenongo.

Menurut Ali Mas’ad, semua pantas disyukuri karena selama ini siswa-siswanya memang harus sekolah dengan kondisi amat memprihatinkan. Sekolah tersebut berada tak jauh dari pusat semburan, jaraknya hanya sekitar 1 kilometer. Sedangkan dari tanggul terdekat di Km 40 eks tol Porong-Gempol, jarak sekolah Khalid bin Walid hanya sekitar 300 meter. “Kami pun sudah akrab dengan bau lumpur yang menyengat setiap hari,” ujarnya.

Selain itu, berada di Desa Renokenongo yang sebagian besar penduduknya sudah mengungsi, siswa yang tersisa di sekolah itu sekitar 65 orang. Sebagian besar di antara mereka adalah korban lumpur.

Sekolah itu pun sempat terendam sekitar Desember 2006. Namun, genangan bisa surut sehingga siswa-siswanya bisa belajar kembali. “Kami bertekad akan tetap bertahan karena memang tak ada pilihan lain,” ujar Ali Mas’ad.

Selain siswa, hampir seluruh pengajar harus rela menempuh perjalanan lebih jauh dengan memutar. Hal itu disebabkan lokasi sekolah sudah dikelilingi tanggul.

“Tapi, semua tak sia-sia. Kami bisa lulus semua,” kata salah seorang siswi Novi Linda Sari riang. Sesaat setelah pengumuman kelulusan mereka diterima, bersama teman-teman yang lain Novi melumuri seragam sekolah yang dikenakan dengan lumpur Lapindo.

“Kami tak akan lupa dengan sekolah ini. Sekolah ini memberikan banyak kenangan,” ujarnya.

Sementara itu, di sisi lain, kesedihan dirasakan Puput Setyawan, 18, salah seorang korban lumpur dari Desa Renokenongo. Siswa SMA Kemala Bhayangkari Porong itu tak lulus unas. Sebab, nilai ujian mata pelajaran ekonomi jeblok, hanya 3,75.

Padahal, menurut ibunya, Titik Susianti, nilai ujian mata pelajaran yang lain bagus. Bahasa Indonesia Puput mendapat nilai 6, sedangkan bahasa Inggris 8. “Waktu mengerjakan ekonomi, anak saya tak bisa konsentrasi karena terus diajak ngomong bupati,” tuturnya.

Saat itu, pada hari kedua pelaksanaan unas SMA, Bupati Win Hendrarso melakukan sidak ke sejumlah sekolah di Porong dan sekitarnya. Salah satu sekolah yang dikunjungi bupati saat itu SMA Kemala Bhayangkari, tempat Puput sekolah. Kebetulan, bupati duduk di sebelah Puput sekitar 20 menit. (dyn)

Iklan

2 Responses to Coretan Spidol Diganti Lumpur

  1. ompapang berkata:

    Kasihan si Puput Setiawan gak lulus. Pak Bupati dan rombongan mungkin tak berpikir bahwa nongkrongi siswa ujian dapat mengganggu konsentrasi mengerjakan soal, apalagi sampai 20 menit. Waktu segitu kan sudah dapat untuk njawab lebih dari 10 soal multiple choice !

  2. Joyo.S berkata:

    “Coretan Spidol Diganti Lumpur”
    ========================

    🙂 Sebentar lagi,semua pengantin di Sidoarjo harus mandi lumpur dulu saat siraman 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: