BPLS Utang untuk Evakuasi Warga

RADAR SIDOARJO      Jumat, 22 Juni 2007
SIDOARJO – Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) akhirnya mencarikan dana talangan untuk mengganti biaya evakuasi warga di selatan pusat semburan. Misalnya, warga Desa Mindi, Kecamatan Porong, serta Desa Pejarakan dan Desa Kedungcangkring, Kecamatan Jabon, yang sebelumnya sempat tenggelam. Tujuannya, polemik izin warga untuk pembangunan sudetan (over flow) ke Sungai Porong bisa segera berakhir.

“Kami optimistis, dana itu bisa kami dapat dalam waktu dekat,” jelas Humas BPLS Ahmad Zulkarnaen. Dia mengatakan, upaya mencarikan dana talangan itu sudah resmi menjadi keputusan rapat BPLS yang dilaksanakan di Surabaya pada Rabu (20 Juni) lalu.

Diperkirakan, dana yang dibutuhkan Rp 894 juta untuk sekitar 1.580 KK. Masing-masing warga dari Desa Pejarakan, Desa Kedungcangkring, dan Desa Besuki, Kecamatan Jabon, akan menerima Rp 500 ribu.

“Dananya dari pemerintah dan berstatus utang,” jelasnya. Hingga kini, BPLS memang bekerja tanpa dana di tangan. Dana dari pemerintah untuk penanganan luapan lumpur masih menunggu APBN Perubahan, yang terealisasi September nanti.

Menurut Zulkarnaen, pihaknya sebenarnya beberapa kali menagih dana tersebut ke Lapindo. Sebab, menurut Perpres No 14, masalah sosial, termasuk biaya evakuasi, merupakan tanggung jawab Lapindo. “Namun, hingga saat ini, tak kunjung dapat,” ungkapnya.

Padahal, lanjut dia, kondisi di spill way dan sekitarnya makin kritis. Penanganan yang perlu dilakukan tak bisa menunggu lebih lama lagi. “Kami hanya ingin secepatnya bisa selesai,” ujar Zulkarnaen.

Selama ini upaya pembangunan sudetan dari spill way ke Sungai Porong menjadi tumpuan harapan BPLS untuk menangani kondisi kritis di sana. Sebab, metode tersebut akan menjadi alternatif pembuangan lumpur dari spill way, selain dengan menggunakan pompa.

Sudetan yang menembus tangkis Sungai Porong pada kedalaman sekitar 1,5 meter itu dibangun dengan memasang pipa berdiameter sekitar 1 meter. Panjang pipa yang dipasang miring mengikuti arah aliran sungai tersebut sekitar 30 meter.

“Konstruksi ini kami harap aman. Sebab, kami juga akan memasang klep buka tutup di sana,” jelas Zulkarnaen. Hal itu dilakukan, kata dia, untuk mengantisipasi sewaktu-waktu air sungai pasang agar tidak masuk ke spill way.

Namun, langkah BPLS tersebut ditanggapi dingin warga. Mereka menganggap, upaya tersebut salah kaprah dan tidak sesuai dengan masalah utama yang dipersoalkan warga. “Langkah itu lucu. Kami ini dianggap seperti anak kecil yang diberi permen, lantas nurut,” ujar Ketua Gerakan Masyarakat Korban Lumpur 4 Desa (Gempur 4D) Ahmad Zakaria.

Menurut dia, inti penolakan masyarakat terhadap pembangunan sudetan karena tidak adanya jaminan keselamatan bagi warga. “Mereka (BPLS, Red.) selalu ngomong aman. Timnas saat membangun spill way juga seperti itu,” katanya. Namun, kenyataannya, tambah dia, lumpur di spill way meluber dua kali dan sempat menenggelamkan sejumlah permukiman warga sekitar.

Zakaria mengatakan, pihaknya menghargai upaya yang dilakukan BPLS dengan mencari dana talangan untuk mengganti biaya evakuasi warga. Namun, lanjut dia, dana itu hak warga yang sudah seharusnya didapat. “Sudetan adalah murni masalah jaminan keselamatan,” jelas warga Desa Pejarakan itu.

Hingga kini, warga empat desa di selatan pusat semburan menuntut dimasukkan ke peta terdampak. Namun, tuntutan tersebut sulit terealisasi karena sudah menjadi keputusan politik di tingkat pusat melalui Perpres No 14 Tahun 2007.

“Kalau kami dianggap masyarakat normal, mengapa proyek-proyek penanganan lumpur di atas tanah kami tidak dilakukan seperti halnya proyek pembangunan tol atau yang lain,” protesnya. Namun, tambah Zakaria, BPLS maupun tim-tim sebelumnya langsung mengerjakan proyek begitu saja. Selain itu, seharusnya ada pengurusan semacam analisis mengenai dampak lingkungan (amdal) dan lain-lain. (dyn)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: