Warga Reno Khawatir Listrik Diputus

RADAR SIDOARJO      Sabtu, 23 Juni 2007
WARGA Desa Renokenongo yang telah menerima uang kontrak dan masih menghuni rumah asal mereka terancam tinggal tanpa penerangan listrik. Sebab, mulai Juli 2007 mendatang, listrik di kawasan tersebut akan dicabut.

Menurut Ali Mas’ad, salah seorang tokoh warga Renokenongo, PLN akan mencabut listrik di Desa Renokenongo karena diminta PT Lapindo. “Saya membuktikannya sendiri saat membayar tagihan listrik bulanan,” ujar warga RT 13 RW 4 Desa Renokenongo itu.

Saat itu, katanya, petugas PLN yang menangani mengatakan bahwa warga tak perlu lagi membayar tagihan yang ada. Sebab, mulai Juli nanti, listrik di kawasan tersebut akan dicabut. “Sudah di-end (dihentikan, Red) sama Lapindo,” jelas Ali, menirukan apa yang disampaikan petugas PLN.

Selama ini, Desa Renokenongo sudah masuk dalam peta area terdampak. Karena itu, sebagian besar warga telah menerima uang kontrak rumah dari Lapindo selama dua tahun sebesar Rp 5 juta. Namun, sebagian warga yang rumahnya belum tenggelam total, hingga kemarin masih terlihat tinggal di sana.

“Kami tetap di sini karena uang ganti rugi belum kami dapatkan,” jelas Ali. Jadi, tambahnya, hak warga untuk memilih tetap bertahan. Jika ingin warga segera meninggalkan rumah, kata Ali, Lapindo harus membayar ganti rugi terlebih dahulu. “Bukan dengan mematikan listrik seperti itu,” protesnya.

Dikonfirmasi tentang itu, Manajer Area PLN Sidoarjo Rajasa Gautama hanya mengatakan, pihak manajemen Sidoarjo tidak pernah memerintahkan hal itu. “Kami juga tidak bisa diminta pihak lain untuk melakukan pemutusan,” tegasnya.

Pemutusan, kata Rajasa, hanya akan dilakukan terhadap mereka yang menunggak pembayaran. Sedangkan untuk korban lumpur, sejumlah dispensasi dan pengecualian telah diberikan sejak bencana lumpur terjadi. “Namun, kami akan cek lebih jauh, sepertinya tidak ada,” jelasnya.

Hal yang sama juga disampaikan Manajer Security & External Relation PT Lapindo Brantas Budi Susanto. Menurut dia, selama ini, Lapindo tidak pernah meminta pemutusan aliran listrik. “Yang jelas, tidak pernah ada,” tandasnya.

Sementara itu, jumlah warga Desa Renokenongo yang menolak uang kontrak dari Lapindo semakin berkurang. Kemarin, 48 KK atau sekitar 174 jiwa menandatangani penerimaan uang kontrak Rp 5 juta, dana evakuasi Rp 500 ribu, dan uang jatah hidup bulan pertama Rp 300 ribu. Sebagian di antara mereka selama ini tinggal di pengungsian. (dyn)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: