PD Tawarkan Solusi Teknologi Geothermal Atasi Lumpur Lapindo

Nasional 21/06/07 23:07Jakarta (ANTARA News) – Dewan Pakar DPP Partai Demokrat (PD) mengusulkan perlunya pengalihan pencarian solusi alternatif masalah Lumpur Lapindo dari perspektif minyak dan gas alam menjadi berorientasi pada teknologi kepanasbumian (geothermal).

Kepada pers di Jakarta, Kamis, Ketua Dewan Pakar DPP PD Prof. Akhmad Syakhroza mengatakan bahwa secara teknis kasus semburan lumpur di Sidoarjo itu sudah masuk pada wilayah geothermal dan bukan lagi sekedar minyak atau gas alam.

“Karena itu pencarian solusi alternatif masalah ini juga perlu bergeser kepada pendekatan geothermal yang berbeda dengan solusi ala teknologi perminyakan,” ujarnya.

Dari perspektif geothermal, luapan lumpur dari perut bumi tersebut tidak akan pernah berhenti sampai kapan pun sehingga berbagai upaya untuk menghentikan semburan tidak akan bisa berhasil, seperti menyumbat lubang dengan bola-bola beton.

“Lumpur tidak akan pernah berhenti dan karenanya jangan kita berupaya menutup semburan tapi sebaliknya kita manfaatkan saja lumpur dan geothermal itu untuk berbagai keperluan,” katanya.

Hal senada disampaikan pula oleh ahli geothermal yang juga anggota Dewan Pakar DPP PD Dr Vincent Raja. Vincent mengatakan bahwa suhu tinggi uap yang keluar dari lubang semburan lumpur telah mengindikasikan bahwa hal itu adalah geothermal.

Karenanya, dia berpendapat, panas bumi yang keluar itu sebaiknya digunakan saja untuk pembangkit tenaga listrik.

Introduksi teknologi geothermal sebagai alternatif solusi masalah lumpur Lapindo akan memberikan sejumlah produk berupa partikel solid, air, panas bumi dan juga area geowisata.

Menurut Vincent, jika panas bumi yang keluar dari pusat semburan bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku pembangkit listrik, lumpur yang ada bisa dimanfaatkan untuk banyak industri semisal semen (seperti di Itali), keramik (Selandia Baru) atau bahkan kosmetik di Jepang.

Sementara itu Syakhroza mengatakan bahwa pihaknya dalam waktu dekat ini akan menggelar diskusi terkait gagasan solusi alternatif tersebut dengan menghadirkan pakar-pakar geothermal.

Hasil dari diskusi itu nantinya akan diserahkan kepada pemerintah sebagai sumbangan PD dalam mencari solusi masalah lumpur Lapindo.(*)

Copyright © 2007 ANTARA

Iklan

12 Responses to PD Tawarkan Solusi Teknologi Geothermal Atasi Lumpur Lapindo

  1. mang Ipin berkata:

    Setuju one hundred percent pak.Edi S,Lah wong sekarang aza masyarakat dari se-
    kitar yang kena musibah sudah bolak balik ke Jakarta,ngadu kepada pemerintah pusat
    masih belum ada kejelasan dari apa yang pernah di
    tuangkan dalam bentuk kepres???? yaitu masalah yang sudah sama2 disepakati
    oleh masyarakat Porong mengenai ganti rugi dengan skim 20% & 80%. . . pancet aja
    mereka punya hak kompensasi tsb dipersulit??????kabarya hari ini kembali Bapak
    Presiden & rombongan menyempatkan diri come back ke Sidoarjo. . .kita doa
    kan bersama agar kali ini himbauan serta keputusan dari orang No.1 dinegri tercinta NKRI mendapatkan realisasinya bagi semua saudara2 kita yang sudah setahun lebih
    menderita lahir&batin, ….amin

  2. Edi S berkata:

    Wah, Lusi ini memang imut, tapi ya ndablek (susah diurus). jika disimak perkembangannya, kok tarik ulurnya semakin tidak jelas. Atau karena terlalu banyaknya wacana yg sifatnya sains dan teknologi, sehingga yang paling urgent jadi tidak kerumat.
    Mestinyakan urusan rakyat yg tidak bisa hidup manusiawi itu didahulukan; di manusiakan dulu. Perkara semburan lumpur dan peluang pemanfaatannya mau dibagaimanakan, itukan yang kedua. Memang penting, tapi harus ada prioritas.
    Pemerintah itu semestinya bertindak bagaimana juga tidak jelas. Sehingga korban lumpur itu dibiarkan tidak jelas hidupnya lebih dari satu tahun. Inikan sudah keterlaluan.
    Korban lumpur itu bereskan dulu. Entah mau direlokasi, diberi ganti rugi, atau di apakan? Yang penting beri kejelasan. Kalau mereka minta ganti rugi, ya dikasih saja, dan prosesnya dipercepat, jangan dipermainkan seperti sampai saat ini.
    Orang-orang pinter di Lapindo itu sepertinya sok bodoh, yang lebih mementingkan uang ketimbang memanusiakan manusia. Lah uang hilangkan bisa dicari lagi lebih mudah, tetapi memulihkan masa depan dan trauma itukan lebih susah. Sayangnya mereka justru sibuk menyelamatkan uangnya, bukannya bertanggung jawab mendholimi manusia.
    Kalau Lapindo tidak mau, harus diambil tindakan tegas. Di meja hijaukan, dan disita semua asetnya (holdingnya juga) bila perlu untuk menyelesaikan tuntutan korban lumpur ini. Kalau tidak mampu bayar, ya dibantu dulu; kewajibannya diselesaikan dengan pemerintah setelah itu.
    Memang untuk membuktikan bahwa mereka harus bertanggung jawab penuh dalam masalah ini tidak mudah, tetapi dengan kejernihan dan pembelaan terhadap kebenaran, toh semua akan terungkap. Kan jika disimak kebanyakan para ahli juga mengindikasikan bahwa masalah ini terkait pengeboran yang tidak prosedural.
    Kalau mereka dengan gentle bertanggung jawab, toh jika nanti ada peluang pemanfaatan dari bencana ini, mereka juga dapat memanfaatkannya. Pemerintah juga hendaknya berpikir bahwa masalah ini bukan berarti semuanya adalah bencana dan kerugian. Wacana tentang Geothermal juga patut dikaji, setelah itu diambil tindak lanjutnya.
    Intinya, perhatikan manusianya dulu

  3. ompapang berkata:

    Kalau kita mau ambil energi panas bumi melalui “pintu keluar” lubang bekas bor Lapindo yang menyemburkan air/lumpur 150.000 m3 dan menyerap panas bumi 100 Mw, ya tentu saja semburan 150.000 m3 itu harus dimatikan dulu, sebab kalau tidak dimatikan akan menyerap daya yang 100 Mw itu. Berhubung panas bumi yang bisa di”SERAP” pada lubang tersebut hanya 100 Mw, maka walaupun panas bumi yang tersedia dalam jumlah ukuran GIGA Mw-jam, akan tetapi dibekas bor Lapindo, sekali lagi hanya berkapasitas 100 Mw. Jadi semburan yang 150.000 m3/jam harus mati dulu supaya jangan ikut “MAKAN” kalori panas bumi dilubang bekas bor Lapindo. Dengan kapasitas panas bumi berukuran GIGA Mw-jam tersebut (menurut pak Arsolim LUAR BIASA BESARnya), mungkin dengan pengeboran yang diameternya lebih besar ditempat lain serta dapat mencapai sumber panas bumi lebih dalam , akan didapat Mw yang lebih besar,misal 1000 Mw, tanpa harus mematikan semburan Lusi yang sudah setahun berlangsung.( Ctt: Kalau ternyata memang suhunya mencapai 230 der C, kalau hanya 120 der C ya percuma untuk memproduksi uap penggerak turbin )

  4. Arsolim berkata:

    Kalau kita lihat sekarang ini lumpur yang nyembur tidak terkendali (menyebar kemana-mana jadi prioritas utama seharusnya kendalikan dulu semburan liar tersebut baru mulai memikirkan pemanfaatannya, jadi jangan dibalik apa bisa dengan memanfaatkan teknologi geothermalnya terus lumpurnya secara otomatis bisa dikendalikan ? sumber kekuatan (geothermal atau apapun) yg menyebabkan semburan luar biasa besarnya sehingga kalaupun dimanfaatkan sekian persennya tidak akan mempengaruhi tekanan semburan..

  5. ompapang berkata:

    Aku bukan dari orang geologi atau pertambangan minyak, pemahamanku casing itu berbentuk seperti pipa teleskop, yang diatas besar, makin kebawah makin kecil . Lha menurut informasi yang saya tahu casingnya dipasang hanya sampai 1000 an meter atau 3000 ft an,sedang ngebornya mendekati 3000 meter ( 2800 an meter lebih).
    Sekarang kok ada informasi baru dari pak Ardianto, bahwa kedalaman yang pakai casing buckling hanya 1500 ft atau 500 an meter ditambah mau dipasangi PIPA, njur PIPA itu untuk apa aku kok belum tahu fungsinya. Jadi ada dua informasi yang berbeda, mana yang benar ? Pak Ardiyanto atau BP1 Well Data sheet pak Dhe ?

  6. adrianto berkata:

    Boro-boro mau buat seperti Relief Well, lha wong waktu itu pada kedalaman 1500 ft, pipa dimasukan kedalam casing saja tidak bisa, soale casingnya bengkak-bengkok alias buckling. Apalagi ngomong soal energi ribuan megawatt…..opo tumon

  7. ompapang berkata:

    Pak Dhe, katanya kalau kita pompakan air melalui kedalam sumberpanas bumi ,air akan menjadi uap dan uap yang timbul kita alirkan kemesin turbin uap bisa menghasilkan tenaga mekanik yang dapat untuk memutar generator listrik. Jadi kalau kita ngebor seperti membuat relief well, trus kita pasang 2 pipa ko-aksial ( yang luar ujungnya tertutup, sedang yang dalam ujungnya terbuka untuk jalan keluar uap keatas), sampai kesumber panas,mungkin antara -3000m—10.000 m, maka ujung kedua pipa yang terpanaskan oleh geotermal menjadi penukar panas (heat exchanger). Misal air dipompakan kebawah melalui PIPA LUAR, maka sesudah sampai diujung (penukar panas) air terpanasi hingga menjadi uap 230 der C yang kemudian karena mempunyai tekanan tinggi ,uap keluar keatas melalui PIPA DALAM yang selanjutnya disalurkan keturbin uap. Secara teknis sistem pipa ko-aksial tersebut memungkinkan air sebelum menjadi uap dipanasi lebih dulu (pre heating) oleh uap yang mengalir keatas, sehingga sampai di penukar panas proses menjadi uap bisa lebih cepat..
    Dari tabel uap dapat diketahui “sifat & kemampuan” uap, misal tekanan, enthalpi,volume spesifik dll pada suhu 230 der C yang dapat dipakai untuk dasar perhitungan keperluan air sesuai kapasitas pembangkit listrik yang akan kita pasang.
    Untuk kedalaman sampai -3000 meter atau lebih, berarti tekanan air masuk sudah dibantu tekanan hidrostatis setinggi kolom air 3000 meter atau tekanan 300 bar,padahal pada suhu 230 der C tekanan uap hanya 28 an bar. Jadi teoritis kita hanya perlu pompa bertekanan 28 an bar pada saat pertama kali memasukkan air kedalam penukar panas(ketika PIPA LUAR belum penuh terisi air), selanjutnya aliran air masuk (feed water) cukup secara gravitasi saja(tanpa pompa).
    Menurut hitungan terdahulu dan juga hitungan pak RIrawan dibawah sana ada TUNGKU PEMANAS alami yang menyediakan daya 100 MW. Panas TUNGKU tersebut apakah mau dimanfaatkan semuanya atau sebagian tergantung perencanaannya. Namun bila mau dimanfaatkan mestinya semburan lumpur harus dihentikan supaya tidak menyerap panas dari TUNGKU tersebut.
    Jadi kita kembali kepada LINGKARAN SETAN, bagaimana caranya mematikan semburan Lusi. Soal TANTANGAN pemanfaatan geothermal, uraian diatas mungkin dapat dipakai sebagai PELUANG.
    Btw Pak Dhe , sementara gunung api yang “nggilani” dan bledek yang “ngeget-geti” semenyara belum ada teknologi yang dapat memanfaatkan.
    Kalau batu ngglundung mah gampang pak dhe, seperti batu-batu dari gunung Merapi itu, cepet sekali dikonversi jadi tenaga listrik. Caranya? Dikonversi dulu ke RUPIAH , per meter kibiknya atau per rit truk berapa RUPIAH, kemudian RUPIAH dikonversi ke SOLAR atau BENSIN untuk menghidupkan GENSET, kan jadi energi listrik, sesuai hukum kekekalan tenaga !! He 4X

  8. Rovicky berkata:

    Itu total energinya saja Ompapang. Tetapi apakah sebesar itu pula yang bisa dikonversi menjadi energi yang dapat digunakan. Misal energi listrik, energi panas dll.
    Lah gunung api itu tenaganya ya “nggilani” besarnya … tapi kan ngga bisa dengan mudah dikonversi menjadi energi listrik ta … 😛
    Energi batu ngglundung itu guedhee … tapi gimana mengkonversi energi watu ngglundung menjadi energi listrik ??? 😀

  9. ompapang berkata:

    Perhitungan energi tersedia :
    Bila debit lumpur 150.000 m3/hari = 1736 liter/detik mengalami kenaikan suhu 200 derajat Celsius dari suhu awal ( misal 30 der C), dan Berat Jenis lumpur 1,3, maka energi yang terserap oleh lumpur =1736 liter/det X 1,3 kg/liter X 200 der C= 451360 kg-der/detik C =451360 kilokalori/det = 0,24 X 451360 Kw = 108326,4 Kw atau kira-kira 100 MW. ( Ctt :Ditopik lain Pak RIrawan juga menghitung 100 MW)
    Sebagai perbandingan Indonesia mau membangun PLTN 1000 Mw, jadi energi panas bumi LUSI kira-kira 1/10 PLTN Jepara. Lumayan juga kalau dapat dipakai untuk pembangkit listrik.
    Btw, daya 100Mw tersebut baru panas/kalor yang diserap oleh lumpur, sedang energi hidrodinamik berupa tekanan yang mengalirkan lumpur keatas , katakan dari – 3000 meter kepermukaan (h=3000m) tidak dihitung, sebab yang didapat dipermukaan adalah SISA (residu) energi yang secara teknis sulit dimanfaatkan untuk menggerakkan turbin lumpur.
    Jadi kalau semburan dapat berhenti, energi panas buminya dapat dimanfaatkan untuk listrik, walau dengan efisiensi 25 % hingga hanya keluar 25 MW kan lumayan. Selamat meneliti !!!

  10. adrianto berkata:

    Wah-wah-wah, makin ramai saja nih, cuma yang saya heran para pakar kita ini hanya main ngomong saja, tapi tindakan kurang dan yang terpenting untuk dewan pakar yang notabene dari partai, sebaiknya mengatasi manusianya saja dulu yang terkena dampak lingkungan. Kalau soal suhu lumpur yang keluar dari perut bumi ya tentu saja panas, karena di dalam dunia oil&gas ada yang namanya gradien geothermal dan kalau geothermal tunjukan dulu contohnya dimana ada proses mud vulcano di Indonesia ini yang menyembur secara ganas begitu. Nah bapak-bapak pakar, jangan persoalan LUSI nantinya dipolotosir oleh PD

  11. BAMBANG BAHRIRO berkata:

    Maaf ada yang lupa,

    Pak Dhe Rovicky, Ompapang dan kepada yang lainnya….

    Rupa-rupanya diskusi yang akan digelar oleh Yth. Bapak Prof.Akhmad Syakhroza Ketua Dewan Pakar DPP PD (Partai Demokrat) sangat membuat hati saya ingin turut hadir dalam diskusi tersebut. Apakah mungkin yaaah…? saya diperbolehkan datang dan masuk ikut-ikutan mendengarkan dan mengemukakan solusi atau menyampaikan buah pikiran dalam diskusi tsb?

    Saya mohon alamatnya Bapak Prof.Akhmad Syakhroza, untuk sekedar menanyakan apakah saya bisa atau boleh mengikuti acara diskusi tersebut.

    Ada yang bisa membantu saya?

    Terimakasih.

  12. BAMBANG BAHRIRO berkata:

    Ya Allah… kenapa baru sekarang. Ooom……….??

    Metode BLOKATH DOTHON dari awal presentasi 13 Oktober 2006 sudah dijelaskan bahwa LuSi tidak akan bersahabat dengan berbagai macam alat pemboran …..

    Dan energi LuSi bisa digunakan untuk pembangkit tenaga listrik…

    Syukurlah kalau kita semua sudah menyadarinya..…..
    Semoga teori BLOKATH DOTHON bukan hanya sekedar ilusi dari seorang satpam karyawan rendahan, akan tetapi semoga dapat dijadikan sebagai pedoman teknik untuk penanggulangannya.

    Yang belum mengetahui uraian teknik BLOKATH-DOTHON, dapat melihatnya di arsip bulan Mei 2007 pada Blog ini. Atau bisa menanyakannya :

    -Kepada BPLS
    -Bahkan mungkin bisa menanyakannya langsung kepada Presiden
    atau Wakil Presiden
    -Kepada Bapak Luluk Sumiarso (Direktor General of Oil and
    Gas/Direktur Migas),
    -Kepada Bapak H.Sutan Bhatoegana (Anggota DPR/MPR-RI,
    Sekretaris Fraksi Partai Demokrat, Wakil Ketua Komisi VII
    DPR-RI),
    -Kepada Bapak Ir.Wahyudin Munawir (Anggota DPR/MPR-RI F-
    PKS/Komisi VII DPR-RI),
    -Kepada Bapak DR.H.M. Edward Azran, SE, MS (Kepala Dinas
    Penanaman Modal Daerah Pemerintah Kabupaten Kutai
    Timur-Kaltim),
    -Atau kepada Bapak Direktur Utama Pertamina, serta kepada
    beberapa para wartawan.

    Karena kepada beliau-beliaulah saya serahkan metode bergambar teknik BLOKATH-DOTHON yang teknisnya sangat jelas dan mudah dipelajari.

    Syukur alhamdulillah, seandainya metode BLOKATH-DOTHON bisa diterima sebagai solusi alternatif untuk dipakai sepenuhnya atau dikombinasikan dengan Teknologi Geothermal untuk penanganan LuSi.

    Terimakasih.

    Indramayu, 23 Juni 2007

    Salam :
    Bambang Bahriro.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: