Waswas, ITS Stop Tutup Semburan

RADAR SIDOARJO      Selasa, 26 Juni 2007
SIDOARJO – Upaya Tim ITS menghentikan semburan air bercampur pasir dan gas di rumah warga Kelurahan Jatirejo belum maksimal. Tim ITS yang menggunakan hukum Bernoulli itu mengakhiri metode tersebut kemarin.

Mereka mencoba menghentikan semburan itu dengan memasang pipa vertikal. Panjang pipa sekitar 24 meter. Prinsipnya, metode tersebut bertujuan menyeimbangkan tekanan semburan ke atas dengan tekanan air ke bawah sesuai gravitasi bumi.

“Kalau ini berhasil, kami akan coba menyumbat pusat semburan di sumur Banjar Panji (BJP) 1,” ujar Ir Djaja Laksana, koordinator tim, sebelum memulai percobaan.

Pada pukul 15.30, pipa vertikal dipasang. Namun, semburan tidak langsung berhenti. Air masih menyembur deras di ujung pipa PVC. Karena diterpa angin, di sekitar lokasi seperti turun hujan lokal. “Kalau begini terus, buka persewaan payung bisa laku keras,” celetuk seorang warga yang menonton percobaan itu.

Beberapa menit kemudian, semburan di ujung atas pipa mulai berhenti. Itu terjadi setelah keran yang dipasang di salah satu sambungan pipa bagian bawah dibuka. Tekanan air terbagi menjadi ke atas dan melalui keran. “Kami buka keran ini hanya untuk menghindari semburan baru di tempat lain,” jelasnya. Djaja mengatakan, kalau percobaan penyumbatan dilakukan terlalu lama, dirinya khawatir semburan baru malah muncul. Dia menolak percobaan itu disebut gagal.

Sayang, upaya percobaan menghentikan semburan tersebut terkendala sikap warga sekitar. Pemilik bangunan, Herman Samin, dan warga bersikukuh melarang penanganan permanen di tempat itu sebelum ganti rugi diberikan. Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) akhirnya tak bisa berbuat apa pun. “Kami masih menunggu kesediaan warga,” ungkap Humas BPLS Ahmad Zulkarnaen.

Meski demikian, lanjut dia, BPLS bersama Tim Fergaco akan tetap memantau perkembangan kadar gas yang keluar. Menurut Zulkarnaen, kadar gas yang termasuk low explosive limit (LEL) itu masih sekitar 4 persen. Ambang batas bahaya gas tersebut antara 10-15 persen. “Jadi masih aman,” tuturnya. (dyn)

Iklan

33 Responses to Waswas, ITS Stop Tutup Semburan

  1. ompapang berkata:

    Pak Chilo, lumpur yang mau dialirkan kekali Porong ( tekanan 1 bar) katanya dalam satu hari sudah mengendap. Lha ,kalau demikian kan bisa juga mengendap didalam saluran bila aliran bisa berhenti satu hari saja. Dalam proses mengendap tersebut, makin kebawah tekanannya makin besar, jadi endapan lumpur kan makin padat dalam arti butir-butir materialnya makin rapat, sehingga terbentuk semacam batuan padas, seperti terbentuknya lapisan padas kedap air dari endapan lumpur dilahan sawah atau telaga di Gunung Kidul yang semula dasarnya batuan gamping yang porous menjadi kedap air. Sesudah air terpisah dibagian atas, seperti telah saya bahas ditopik lain diblog ini, maka untuk mengeluarkan air tersebut kedalam saluran dituangkan campuran beton kering(tanpa air) sehingga air akan TERUSIR dan keluar dengan sendirinya mengalir seperti yang terjadi sekarang. Dengan demikian beton akan memperkuat penyumbatan.
    Umpama sasaran penyumbatan -1000 meter, dan kandungan material padat pada lumpur 30 %, maka endapan yang terbentuk setinggi 300 meter dan beton yang kita tuang setinggi 700 meter. Cukup kuat menahan tekanan dari bawah namun perlu dipertimbangkan kemungkinan dikedalaman 1000 meter tersebut dapat tidaknya terjadi percabangan saluran yang akan menimbulkan semburan baru ditempat lain.

  2. chilo berkata:

    water saturation pada lumpur itu sangat tinggi lebih dari 70%.
    1 hari saja sangat tidak cukup untuk memadatkan lumpur, apalagi kalau hanya mengandalkan airnya akan menguap… sulit itu pak.
    atau ada jalan lain airnya mau dikemanain
    jadi sumbat otomatis cara gitu kayaknya sulit deh.. mana pasokan air tersedia terus..

  3. ompapang berkata:

    Apanya yang harus dimistik menjadi LIFEBUOY Pak Usil ?

  4. ompapang berkata:

    Pak dhe, Bernoulli juga berlaku untuk gas lho, cuma bedanya pada density. Jadi kalau cairan campur gas , besaran density nya ada antara densiy cairan dan density gas, tergantung berapa persen volume gas yang terkandung didalamnya. Jadi makin keatas density lumpur makin kecil karena volume gelembung gas makin besar, tetapi tetap saja hukum Bernoulli berlaku, sebab dalam persamaan energi fluida menurut Bernoulli ada komponen kecepatan (v), tekanan (p), beda tinggi (z) dan rapat jenis (rho).
    Btw, kecepatan relatif naik gelembung gas karena gaya “buoyance” terhadap lumpur dan kecepatan aliran lumpurnya sendiri mungkin lebih cepat aliran lumpurnya. Jadi gelembungnya yang terseret lumpur, bukan lumpurnya yang terseret gelembung. Hal ini dapat diandaikan perahu yang berlayar kehilir, ketika kecepatan relatif perahu terhadap air lebih kecil dari kecepatan aliran air sungai,perahu seolah hanyut dengan kecepatan kehilir = kecepatan relatif terhadap air + kecepatan air sungai. (ctt:Kalau perahunya diam, ia hanya terseret hanyut dengan kecepatan = kecepatan air sungai. )
    Tapi ,yaitu …. yang bisa ngetung Pak RIrawan, terus terang …aku gak bisa.

  5. usil berkata:

    Aduuuh!!! pak Dhe, pak Arsolim…
    ANGIN DUDUK karena BOUYANCY? gas apaan tuh!!!

    Sebentar lagi omPapang pasti akan MEMISTIK nya, aku gak
    tanggunbg-jawab lho~!

  6. ompapang berkata:

    Gene pak Usil yang katanya lulusan SMEA tahun70 bisa nggunakan wejangannya eyang Bernoulli, hex3.
    Btw, aku gak ngerjain pak usil & pak Arsolim lho, cuma buka wacana, boleh saja to ?
    Soalnya kalau ada tekanan dari bawah kan EMBOLI dalam saluran volumenya dapat mengecil, seperti sokbreker angin, sehingga saat mengangkat berat kolom lumpur diatasnya hasilnya hanya mendul-mendul saja,karena udara sifatnya kompresibel !
    Kalau menurut pak Usil saluran harus tertutup,ya saluran diatasnya ditutup dulu, sambil memasukkan udara pakai selang atau pipa kedalam saluran.
    Bila berhasil menghentikan aliran selama 1 hari saja,mesti saluran sudah dipadati oleh endapan, menjadi sumbat otomatis.

  7. usil berkata:

    Hooy…. omPapang bangun! udah diserang kiri kanan, koq pura2 tidur sih?

  8. Arsolim berkata:

    Pak Usil tentang EMBOLI, Ompapang ini mungkin membayangkan kalau ada orang kena angin duduk (angin masuk dalam darah) kan tahu2 bisa mati mendadak, kemudian kalau ditrapkan di lumpur Lapindo siapa tahu semburannya juga bisa mati mendadak ? begitu Om ?

  9. Rovicky berkata:

    Pak Usil dkk

    Bagaimana kalau mengatasi semburandari gas-nya ?
    gas ini naik keatas karena “bouyancy” bukan karena tekanan. Sampai kapan gas ini akan berhenti “sambil menggeret” material cair dan padat ketika pipa sudah setinggi ratusan meter ?

    Selain karena bouyancy, volume gelembung dibawah dan diatas ini akan berbeda. Ketika dibawah vol gelembung kecil2 karena adanya tekanan hydrostatis, tetapi ketika sudah deket permukaan volume gelembung akan menggelembung …

    Aku kok ga yakin bernoulli bisa dipakai disini.

  10. usil berkata:

    Ompapang! pak Arsolim! usil cuma ingin “bernostalgia”…tau to??

  11. usil berkata:

    Andaikata pipa/dam bernoulli bisa dipasang pada lubang semburan utama. Apakah
    semburan akan stop?? Jawabannya sudah lama ada disini!!!

    Analoginya dari sudut terapan, diperlukan mesin dengan kekuatan daya sebesar P = ρ . H . Q = 13000 N/m3 X 177 m X 1,736 m3/detik = 3994536 Nm/detik ≈ 4 Mw; untuk dapat menaikkan 150.000 m3/ hari lumpur Lapindo setinggi 177 m. Atau contoh lain: kita pasangkan suatu pipa vertikal yang pas sebesar lubang semburan BJP1 dengan ketinggian 177 m diatas permukaan dan semua lumpur diharuskan lewat pipa itu, maka pastilah lumpur akan naik memenuhi pipa vertikal 177 m itu. Kenapa? Sebab dibawah sana ada semacam mesin besar dengan kekuatan 100 Mw. Tetapi akibat tambahan pipa vertikal 177 m itu, maka sisa daya untuk menaikkan lumpur setinggi 3000 m tinggal tersisa 100 Mw – 4 Mw = 96 Mw, sehingga sudah pasti debit lumpur (Q) yang keluar berkurang. Melalui perhitungan numerik sederhana dengan memasukkan parameter koeffisien geser sebagai fungsi kecepatan arus, dapatlah diketahui hampiran atas pengurangan besarnya debit lumpur.
    Dengan cara diatas, misalnya kita pasangkan pipa besar langsung dari dalam kepundan BJP1, lalu pipanya belok horizontal sepanjang 20 Km ke Timur, maka lumpur pasti akan sampai ke Selat Madura sebab 100 Mw itu teramat sangat cukup, meskipun debitnya agak berkurang beberapa persen daripada sekarang, sebab sebagian energi itu diperlukan untuk melawan rugi geser di pipa.
    Kenapa lumpur tidak muncrat ke udara setinggi 177 m?
    Itu sebab lumpur yang keluar dari kepundan BJP1 energi kinetisnya sangat sangat kecil.
    Dengan misalnya penampang lubang 1 m2, maka untuk mengalirkan debit 1,736 m3/detik (Q), lumpurnya naik dengan kecepatan 1,736 m/detik (v).
    Sehingga daya kinetisnya cuma: ½.δ.Q.v^2 = 0,5 X 1300 Kg/m3 X 1,736 m3/detik X 1,736^2 m2/detik2 = 3400 Kgm2/detik3 = 3400 Nm/detik ≈ 3,4 Kw saja.
    Lalu berapa tinggi naiknya?
    Setelah berada diatas, lumpur itu kehilangan momentum dan kecepatannya berangsur kurang oleh gravitasi bumi. Secara sederhana dapat kita pakai persamaan Bernoulli, bahwa lumpur akan berhenti, sesudah seluruh energi kinetis itu terkonversikan menjadi energi potensial δ.Q.g.h; sehingga diperoleh:
    h = v^2/(2.g) = 1,736^2 m2/det2 / (2 X 9,80665 m/det2) = 0,154 m.
    Karena lumpur dan uap panas mendorong terus dari bawah yang memberikan residual momentum, maka tinggi kenaikan itu bisa terlihat sedikit lebih.
    Lalu sisa energi yang saya perkirakan 4 Mw itu berupa apa?
    Hampir seluruhnya berupa energi panas yang dikandung oleh lumpur dan uap.
    Bisakah lumpur dibuat muncrat ke udara setinggi 177 m?
    Jelas bisa, kendati teoritis!
    Caranya: di ujung atas pipa itu dipasangkan sebuah nozzle (lubang sempit).
    Maka energi yang tersekap akan segera membangun tekanan yang sangat hebat didalam pipa (dan di sepanjang lubang semburan lumpur), hingga terjadi muncratan lumpur a’la semprotan nozzle-hidrant pemadam kebakaran yang sangat tinggi. Dan 177 m itu bukan apa-apa bagi sumber energi 100 Mw. Kendati ketinggian puncak dapat dihitung dengan mudah melalui persamaan konvensional Bernoulli, namun dalam realitanya, masih ada faktor yang menentukan ketinggian puncak itu, yakni hambatan udara, arah angin, konversi energi menjadi panas pada nozzle dan faktor penguapan (evaporasi) air yang dikandung lumpur. Hitungannya memang menjadi komplex, namun dapat dipecahkan melalui deret Euler dengan pengandaian variabel konstan pada setiap langkah kecil sepanjang interval waktu lintasan.

  12. chilo berkata:

    nambah dikit,
    Karena Subsidnce di Porong, bukan hanya ada penambahan tekanan terus menerus, yang lebih penting lagi subsidence itu sendiri akan ikut mengambleskan Pipa/Dam ‘bernuolli’ pelan2.. Jadi biar bernuollinya tetap stabil mesti gimana? mesti tinggikan Dam terus-menerus… kerjanya Tim-Ini jadi ngambil alih kerjaan BPLS dong. Peninggian Tanggul terus menerus… tarik mang…

  13. chilo berkata:

    kalau kasus diatas mah (asumsi: P fluktuatif tapi tidak meningkat terus-menerus) bisa diseserhanakan jadi gini mungkin pak:
    pasang pipa paralon dan pasangkan kran arahkan menuju ke pembuangan,
    kalau tekanan didkt kran pipa melampaui batas (alias takut pipa rusak or kran jebol), buka aja krannya pelan2… beres kan… ga usah bikin pipa tinggi2.. gitu aja ko repot…
    kran ditutup kan juga berfungsi sebagai counter pressure…

    (dilur konteks, btw ya: lagian itu kan semburannya dari akuifer air tanah, tidak panass, tidak ada lumpur… bukannya itu berkah ga usah capek2 ngebor+isap pk mesin lg…)

  14. chilo berkata:

    halo om semuanya, sehat?
    bernuolli? apakah nama bernuolli itu cocok??, coba baca lg deh bagaimana sebenarnya bernuolli itu di buku2 fisika.. disana orang berbicara tekanan P tetap, antara ujung yang satu dengan ujung yang lain. Tidak ada penambahan tekanan dari luar yang terus-menerus,
    sedangkan di porong? karena subsidence, P di permukaan akan meningkat terus selama saluran lumpur tidak dipadatkan terlebih dahulu, karena subsidence akan terus-menerus mendesak zona lemah di subsurface..

  15. usil berkata:

    Pak Arsolim! kita berdua dijailin sama omPapang. Wong emboli itu hanya
    bisa terjadi jika semua saluran urat/pipa tertutup rapat koq.
    Ha! Om itu begimana to??

  16. Rovicky berkata:

    Iya Mas Agus,
    Sekarang konsentrasinya ke penggantian ganti-rugi, akan jauuh sulit kalau “ganti untung”. Ini jelas bukan solusi yang paling enak buat siapa saja, tapi aku yakin ini solusi terbaik dari yang terburuk.

    Satu lagi yang harus diperhatikan adalah mengeluarkan LAPINDO dalam penanganan. Semestinya LAPINDO berkonsentrasi pembayarannya saja 😦

  17. mas agus berkata:

    sepertinya BPLS akan memakai teknik yang “dianjurkan” Pakdhe Rovick, seperti yang dituliskan di dongeng geologi yaitu “Menenggelamkan/menimbun lokasi semburan lumpur panas” dan “Salam Duka, daerah ini wajar ditenggelamkan-ditimbun”.
    kenapa????
    1. tidak perlu itung2an teknik yang rumit wal njlimet untuk kostruksi de el el
    2. tidak perlu biaya, biaya diperuntukkan untuk pembebasan lahan yang terendam, atau dengan kata lain biaya dikonsentrasikan untuk masalah sosial
    3. tidak perlu mengkhawatirkan amblesan, toh teknik ini justru memanfaatkan amblesan tsb
    4. meskipun berhasil ditutup, lahan yang sudah tertutup lumpur sudah tidak bisa dimanfaatkan lagi, so buat apa ditutup
    5. biaya bisa juga diperuntukkan untuk upaya pengaliran lumpur ke laut, agar luberan lumpur tidak meluas

    yang terpenting bagi warga sidoarjo yang terkena dampak semburan lumpur yaitu mereka segera memperoleh ganti rugi atau ganti untung atau apalah, setelah itu habis perkara!

    Salam duka!

  18. ompapang berkata:

    Aku mah gak tahu,orang geologi yang tahu ,pak Arsolim.

  19. Arsolim berkata:

    Ompapang, ide bagus om, tapi ada syarat yang harus dipenuhi om yaitu dinding sumur semburan (dinding pembuluh darah) harus super kuat dan harus mampu menahan tekanan yang hampir sama besarnya baik dari atas maupun dari bawah sekaligus otomatis akan menekan kesamping (dinding sumur), jadi mampukah dinding sumur menahan tekanan yang besarnya 2 kali lipat tersebut ?

  20. ompapang berkata:

    Pak Arsolim, ompapang punya gagasan baru, yuk kita buat wacana sama pak Usil.
    Gini, rem hidrolik mobil atau pipa injeksi mesin diesel kalau kemasukan angin kan gak mau kerja. Juga pembuluh darah kalau ada EMBOLI (ada gelembung udara) juga darah gak bisa mengalir kejantung sehingga menyebabkan sudden death (kematian mendadak).
    Lha sekarang, umpama dikedalaman misal 1000 pada lubang semburan lumpur kita masukkan beberapa m3 udara bertekanan 100 bar sehingga dalam saluran terbentuk EMBOLI , dan dinding saluran kedap udara, barangkali tekanan dari bawah EMBOLI tidak dapat diteruskan mendoronn bagian kolom lumpur yang diatas EMBOLI tadi. Hal tersebut seperti layaknya rem yang tidak dapat bekerja karena kemasukan angin/udara, dimana tekanan dari central /master silinder rem yang timbul akibat kita injak pedal rem tidak mampu menekan kampas rem, dan terasa ringan injakannya yang kita sebut sebagai rem blong.
    Dengan cara itu kalau berhasil menghentikan semburan mungkin tidak terlalu banyak mengeluarkan biaya. Bagaimana menurut pak Arsolim atau lainnya?

  21. Arsolim berkata:

    Ya deh pak usil saya tahu, tapi karena Pak Bambang ini begiru ngotot untuk mengimplementasikan metodenya dengan jaminan pasti keberhasilan 100%, makanya saya kasih saran, siapa tahu ada investor beneran yang tertarik dan berani dengan kondisi no cure no pay yang ditawarkan oleh BPLS.

  22. usil berkata:

    Ah! pak Arsolim pasti juga tahu kalo investor itu punya engineer
    yang akan ngetung secara tehnis berapa tingkat suksesnya. Apa
    ada investor DN yang berani dengal klausal no cure no pay?
    Maka itu omPapang pernah himbau ke pak Bambang agar proposal
    beliau dipaparkan saja diblog ini. Biar bisa dibedah para ahli yang
    setia berkunjung diblog ini. Kalau sudah lulus uji-publik disini, bisa
    jadi investornya akan datang sendiri.
    Yang pasti usil cuma bisa jadi wasit doang! he2x

  23. Arsolim berkata:

    Pak Asi, metodenya Pak Bambang bisa diaplikasikan asalkan ada investor yang mau menaruh jaminan berupa bank garansi (BG) senilai proyek tersebut, tapi kalau tidak berhasil tentu saja BG nya akan hangus dan seharusnya investor tersebut ngak usah takut kan pak Bambang sudah menyatakan tingkat keberhasilannya 100% pasti lagi, Hayo siapa yang berani jadi INVESTOR pasti untung dah!

  24. ASI berkata:

    Itulah masalahnya, pak Bambang. Tim ITS bisa mencoba2 dengan biaya sendiri. Dan itupun utk skala yg besar (pusat semburan) yang membutuhkan biaya besar, dan resiko besar jelas tidak bisa seenaknya mencoba2. Karena jaminan utk keberhasilan harus ada, sedangkan Lapindo yang uangnya M- sampai saat ini juga tidak bisa diandalkan jaminannya utk menanggulangi masalah sosial disana. Lha kalau BLOKATH DOTHON jaminannya cuma “satu sepeda motor”, terus kalau terjadi sesuatu gimana?
    Jadi di sini kita bicara mengenai Tanggung jawab, jaminan utk nasib dari ratusan ribu orang warga Porong, yang tidak bisa diputuskan sendiri.
    Kalau cuma urun rembug ide seperti teman2 lainnya disini ya boleh2 saja, tapi ya jangan berharap berlebihan untuk diaplikasikan.

  25. BAMBANG BAHRIRO berkata:

    Halo apa kabar ompapang?
    Saya ngirim e-mail ke pak Dhe Rovicky ga masuk2.

    Kita memang menghargai semua usaha yang telah dilakukan oleh siapapun, untuk menghentikan semburan air dan semburan lumpur di Sidoarjo.

    Akan tetapi saya pribadi sangat menghawatirkan (mudah2an tdk berlebihan), apabila tidak berhasil atau gagal menanganinya, maka semburan air yang baru diuji coba oleh ITS itu tekanan dan volumenya akan terus bertambah membesar seperti halnya semburan lumpur utama.

    Maaf, semuanya pasti sudah bosan dengan kata BLOKATH DOTHON.
    Ya, BLOKATH DOTHON, hanya itu metode yang mungkin menjadi alternatif setelah semuanya berguguran.

    Bagi yang belum mengetahui APA ITU BLOKATH DOTHON? silahkan buka arsip bulan Mei 2007.

    Terimakasih.

  26. Arek Doarjo berkata:

    Om,
    Kalau kandungan gas itu sebagai gas drive atau gas lift seperti dalam pompa air jet-pump … itu kan membawa air bisa sampai tinggi banget karena kandungan udaranya. Begitu kah ? kan ?
    Kalau melihat gambarnya Pakdhe Picky tentang tiga sumber tekanan seperinya tekanan semburan lumpur ini akan terus saja ada walaupun ditutup dengan prinsip bernouli. Gelembung akan “membawa” lumpur keatas.
    Proses ini kalau tidak salah seperti proses meletusnya gunung api tipe tertentu yg banyak mengandung gas. Material terbawa oleh gas-gas dan terlemparkan keatas ketika gas tersebut muncul dan meledak di permukaan.

    Soal Herrier VTOL itu sangat menarik
    Matur suwun penjelasannya, oom

  27. ompapang berkata:

    Arek Doarjo, semua fluida yang mengalir baik cair maupun gas ngetungnya pake Bernoulli. Buble atau gelembung gas yang bertekanan ,bila bercampur dengan cairan masih dalam bentuk gelembung gas, akan mempengaruhi rapat jenis (density) cairan menjadi lebih kecil dibanding kalau cairan tidak ada gelembungnya, namun tekanannya bertambah sesuai tekanan gelembung yang dikandungnya. Contoh : kalau kita buka tutup botol coca cola atau fanta (minuman berkarbonasi) secara hati-hati , cairan minuman tidak meluap, tetapi kalau kita kocok-kocok dulu terjadi gelembung bertekanan sehingga waktu dibuka minuman akan menyembur keluar botol. Jadi terbentuknya gelembung menambah tekanan dan volume.Karena volume tambah dalam bentuk buih tapi berat tetap,maka rapat jenisnya menjadi berkurang.
    Btw, kebalikan dari hal tersebut, pada pesawat JUMP JET HARRIER yang bisa take of & landing vertikal ,untuk menambah gaya sembur (thrust) pada saat tinggal landas vertikal, semburan gas jetnya dicampur semburan air agar densitynya tambah yang berarti menambah gaya sembur. ( dipesawat tersedia 150 gallon air untuk pemakaian 90 detik)

  28. ompapang berkata:

    Pak Chilo, cerita sederhananya begini : dimulut semburan dipasang pipa bercabang dua membentuk huruf T, pada pipa T tersebut dipasang manometer(alat pengukur tekanan).Katakan ujung yang keKIRI disambung keran biasa yang bisa dibuka dan ditutup, sedang ujung yang keKANAN disambung dengan keran yang sudah dimodifikasi (tambah per) yang bisa disetel berapa tekanan yang mampu membuka katup keran tersebut. Tekanan yang mampu membuka katup keran kanan tersebut dibaca pada manometer. Pada saat keran kiri ditutup,dilakukan pengencangan pegas pada keran kanan. Selama pengencangan gaya tekan pegas,tekanan dimonitor pake manometernya. Misal air masih menyembur keluar dan tekanan terbaca di manometer 10 bar, berarti sisa tekanan yang sampai permukaan setara dengan tinggi kolom air 100 meter.
    Jadi dikedalaman -500 meter misalnya, tekanannya MINIMAL 50 bar+10 bar= 60 bar. Tinggal sekarang kondisi batuan dikedalaman itu rentan nggak terhadap tekanan 60 bar. Kalau rentan mestinya akan tertembus tekanan tersebut dan berpotensi adanya semburan baru ditempat lain. Makin kedalam makin besar tekanannya dan makin berpotensi menembus batuan atau tanah yang retak atau lemah.
    Walaupun penyetelan gaya tekan pegas masih memungkinkan air menyembur keluar melalui relief valve, namun kalau tekanan yang ditunjukkan manometer dirasa cukup berpotensi menimbulkan semburan ditempat lain ya sebaiknya ahli geologi memutuskan bahwa keran yang satunya dibuka saja biar air keluar leluasa. Disini manometer & reliev valve hanya berfungsi mengecek berapa sisa tekanan yang sesungguhnya ada dipermukaan. Jadi kalau semburan berhenti tapi berpotensi timbul semburan ditempat lain ya harus dibuka saja, sebaliknya bila manometer menunjukkan tekanan yang tidak mengkhawatirkan, maka kedua keran tersebut bisa ditutup rapat-rapat. Tapi ini tergantung kemampuan ahli geologi menginterpretasi kondisi dibawah permukaan.

  29. chilo berkata:

    ompapang: ide ompapang kedengerannya modern, ga primitif. Pake istilah, nama dan cerita rumit.. ompapang, apa gak bisa diceritakan lebih sederhana lagi.. biar kita2 ngerti..
    terus jika semburan terhenti, apa yang akan terjadi dibagian bawah pipa yang tertanam pak?

  30. Arek Doarjo berkata:

    Kalau sumber tekanannya karena “bubble gas” ngitung tekanannya apakah bisa dengan bernouli ?

  31. ompapang berkata:

    Walau saya seorang praktisi,dhi saya memposisikan diri sebagai “astronom”,bukan “astronot”, jadi tidak perlu kelapangan, saya sih cuma urun rembug gratis-tis, kalau tertarik, silahkan coba , toh keputusan ada di BPLS.
    Lha wong tekanannya belum diukur kok masang pipa setinggi 24 meter, lha terjadi hujan lokal. Untung eyang Bernoulli sudah wafat lebih seabad yang lalu, kalau belum kan marah dia , HUKUMnya diterapkan sembarangan, seperti dimeja hijau saja!

  32. arul berkata:

    to ompapang :kalo misalnya berfikir begitu… terjun langsung aja kelapangan pak… bantuin

  33. ompapang berkata:

    kok primitif sekali, ndadak pakai pipa setinggi 24 meter,mbok pake relief valve +manometer kan lebih bisa diketahui tekanan airnya. Relief valve dapat dibuat sendiri memodifikasi dengan MENAMBAHKAN PEGAS DAN PENYETELNYA pada stop keran JIS F7377 atau F7378 yang tahan tekanan 16 kg/cm2(setara tinggi pipa vertikal 160 m). Cara kerjanya juga tidak rumit. Pada posisi keran by pass ditutup,penyetel tekanan pegas pada relief valve dikendori, sehingga air leluasa keluar melalui relief valve. Secara pelahan penyetel tekanan pegas pada relief valve dikencangkan.Selama gaya tekan(bukan tekanan) air pada katup relief valve lebih besar dari gaya tekan pegas, maka air akan dapat menyembur keluar melalui relief valve. Bila penyetel tekanan pegas lebih dikencangkan sehingga gaya tekan air pada katup lebih besar dari gaya tekan pegas relief valve, maka air akan berhenti menyembur.
    Yang harus diperhatikan disini adalah pipa yang ditanam masuk kedalam lubang semburan dimana pipa keran by pass dan pipa untuk relief valve yang berbentuk huruf T, harus terpasang/terikat dengan kuat ,dapat menahan gaya tekan air dari bawah manakala semburan air terhenti. Kalau tidak kuat pasangan pipa berbentuk huruf T tersebut akan jebol keatas. Silahkan ITS mencoba bila tertarik !

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: