ALUMNI ITS BERHASIL MENUTUP SEMBURAN AIR DI JATIREJO

ALUMNI ITS BERHASIL MENUTUP SEMBURAN AIR DI JATIREJO
Jaya Laksana.

Metrotvnews.com, Sidoarjo: Upaya penutupan pusat semburan lumpur dengan biaya relatif rendah dan peralatan sederhana, makin terbuka. Upaya penutupan kembali diaktifkan menyusul keberhasilan penutupan semburan air di Desa Jatirejo, Porong, Jawa Timur.

Penelitian kekuatan semburan air dilakukan tim alumni Institut Teknologi 10 Nopember Surabaya (ITS) dengan menggunakan pipa paralon setinggi lebih dari 24 meter. Tim ITS menerapkan teori Bernoulli, yakni hukum fisika dasar soal berat jenis zat cair. Djaya Laksana, Koordinator Tim Alumni ITS meyakini metode Bernoulli merupakan upaya paling efektif untuk menghentikan semburan lumpur panas yang telah berlangsung lebih dari satu tahun.

Dalam praktik kemarin, meski berhasil menutup semburan air, tim melepaskan kembali pipa peredam semburan. Ini merupakan bagian dari kesepakatan dengan warga setempat. Warga menuntut pembayaran 20 persen dari nilai ganti rugi lahan sebelum pemerintah mengupayakan penutupan semburan baru yang berjarak sekitar 500 meter dari pusat utama semburan.(DEN)

Iklan

26 Responses to ALUMNI ITS BERHASIL MENUTUP SEMBURAN AIR DI JATIREJO

  1. inyo berkata:

    YTH. Bapak Irsal:
    kritik Bapak sangat baik, tapi sarannya koq kurang pas yah, bolton 10 m?
    karena apapun medianya(yg sifatnya keras) ada kecenderungan utk merusak/menghancurkan diding lubang itu sendiri karena adanya energi lawan yg sangat kuat dari bawah yg mendorong media tsb terlontar ke sembarang arah(nambrak diding),. fatalnya klo rontokan diding tsb semakin lama semakin besar shg memembetuk sebuah rongga yg cukup luas …maka lapisan tanah yg ada diatasnya/permukaan jadi semakin tipis dan tiba2 brol…!! ambrol..! wah ini sama aja dg pasang “BOM WAKTU”
    coba cermati : https://hotmudflow.wordpress.com/diskusi/diskusi-hdcb-high-density-chained-ball/
    simak komentar/ulasan2 dari Bapak RIrawan, Ibu hime_furuumun93, Dkk yg lain

  2. irsal berkata:

    memang dengan sistem Bernoulli itu bisa berhasil menutup semburan lumpur tapi ingat pak diameter yang di tutup ini sangat kecil, sedangkan tujuan utama yang harus di pusat semburan itu sendiri yang di perkirakan kan lebar diameter nya saja sudah lebih dari 10 meter, apa ingin di buat pipi yang lebarnya diameternya 10 meter yang meletakkan nya pada pusat seburan yang bener saja dan pakai apa meletakkannya.

    hanya saran : sebaikknya teruskan saja untuk melakukan penutupan dengan bola beton tapi bola beton sendiri di ganti dengan batu koral ukuran besar sehingga biaya bisa ditekan. dan proses pemasukkan batu itu sendiri harus di lakukan dengan cepat dengan target harus bisa memasukkan batu 5 sampai 10 meter kubik setiap hari.

    dan untuk proses pemasukkan bisa di lakukan dengan berbagai cara tapi jgn di lakukan seperti memasukkan bola beton yang selama ini di lakukan.

    hanya saran dan kritik 🙂

    irsal

  3. ASI berkata:

    Analogi Titanic digunakan utk mengingatkan lagi bahwa gaya tekan ke bawah bisa diatasi/dilawan. Yang pasti semakin Luas gaya yang mendesak ke bawah, tekanannya akan semakin berkurang (P=F/A).
    Bukan dam di atas dam, karena sekarang ini bukan dam yang terkonstruksi, hanya tanggul dari tanah yang dipadatkan. Kalau digali dan pondasinya masuk lebih dalam dari tinggi tanggul tsb, memang sulit kalau disebut dam di atas dam (atau dam di dalam dam?). Kalau cuma istilah sih rasanya nggak perlu terlalu diperdebatkan…

    1. Utk pipa dgn diameter kecil, maka air masih bisa muncrat melebihi tinggi pipa tsb, karena kelembaman dari gerakan air itu sendiri. Kalau diameter pipa besar, hal itu akan terantisipasi, karena dengan cepatnya ruang kosong akan terisi air di sekitarnya. Jadi tetap berlaku, ini hanya utk menjelaskan kejadian muncrat nya air. Yang pada kondisi sebenarnya (bukan simulasi) tidak akan terjadi. Seperti halnya saat dimana lubang kawah membesar seperti sekarang, tidak ada lagi semburan sampai 10 meter, seperti halnya diawal2 terjadinya semburan.
    2. Ya betul, pressure disebabkan oleh gas dan temperatur yang tinggi. Penjelasan ada di Dongeng Geologi, http://rovicky.wordpress.com/2007/06/07/menahan-gelembung-lumpur/
    3. Trims juga.

    Utk pak Agus S :
    Temperature lumpur terlalu rendah kalau itu merupakan aktifitas Vulkanik, pun dengan skala terkecil. Jadi ini belum masuk ke Vulkanologi.

  4. agus s. berkata:

    Kayaknya persamaan Bernoulli tidak bisa diterapkan untuk menanggulangi semburan lumpur panas. Semburan lumpur panas lapindo merupakan erupsi vulkanik skala kecil tetapi menerus. Sebaiknya BPLS kontak para ahli vulkanologi, siapa tahu mereka punya ide yang aplikatif.

  5. chilo berkata:

    pondasi macam mana tuh pak ya yang kayak gitu…
    (*koq menganalogikan pondasi ke titanic sih pak, kan kalau pondasi bisa terapung kacau jadinya…)
    kalau itu bukan membangun dam diatas dam terus apa dong pak namanya??
    biar tidak diatas dam nanam pondasinya berapa dalam?? (dan mungkinkah??)

    **
    1.apa hubungannya sama diameter pipa?apakah hukum ‘bernuolli’ tidak bekerja untuk pipa yang diameternya lebih kecil??
    2. apakah pressure yang ada dikawah hanya disebabkan oleh gas saja??
    berapa persen sih gas yg keluar di lubang utama??
    3. Trims

    Thx

  6. ASI berkata:

    Pak Wandi dan Pak Chilo,

    memang benar ada keraguan dalam mengatasi masalah semburan ini, yg diakibatkan oleh Subsidence. Tapi point saya adalah sekali kita berniat utk mengatasinya (dengan cara apapun yg pernah dibahas di Blog ini), kita terpaksa hrs melawan subsidence ini. Bagaimana caranya? Mungkin dengan memasukkan pondasi lebih dalam ke bawah, bentuk pondisi dengan konstruksi tertentu, yang pasti berbeda dgn kondisi normal.
    Apakah ada pondasi yg tidak memiliki gaya berat, jelas tidak ada. Tapi suatu contoh, Titanic yang beratnya ratusan ton bisa mengapung di air, tentunya dengan konstruksi yang memadai akan bisa pula diatur agar pondasi tidak terus tertarik ke dalam.
    Dan itu bukan membangun Dam di atas Dam, hanya saja melihat situasi lapangan, yang paling tidak berbahaya/beresiko, adalah membangun Dam tsb di atas tanah Tanggul, tapi jika kita memasukkan pondasi cukup dalam, itu berbeda dengan membangun dam di atas dam.

    Itulah hukum Bernoulli, yg merupakan “penyeimbangan” antara tekanan yang muncul di dasar, dengan tekanan akibat berat jenis zat cair itu sendiri. Terus kalau gas berupa bubble2 terus mendesak ke atas? Ya dia akan tetap ke atas, sampai terbebaskan, tetapi tidak akan mampu mengangkut air/lumpur lebih ke atas lagi. Air/lumpur memang akan bergolak karena bubble2 gas tsb, tapi tidak akan naik lagi ketinggiannya.

    Yang saya maksudkan dengan keluar masuk tsb, ya berputarnya air/lumpur tsb. Jadi kondisi akhir tetap tidak akan tenang (baik air/lumpur), karena gelembung2 gas dan tekanan di bawah akan tetap mendesak ke atas. Tapi karena tidak mampu membawa air/lumpur lebih tinggi lagi maka ya hanya akan bergolak itu tadi. Dan ini bukan kontradiktif, tapi justru sesuai dgn tujuan Dam tsb, yaitu menggunakan hukum Bernoulli utk menghabiskan energi dari gas tsb.

    1. Karena sambungan memang dibuat tidak permanen (permintaan warga), sehingga jelas keluar ke sana kemari. Dan dalam percobaan tsb, memang digunakan pipa dgn diameter yang tidak terlalu besar (utk menghemat biaya), sehingga tekanan dari bawah meluncur dengan kecepat yg lebih tinggi. Dan kadang2 masih melewati pipa tsb. Tentu berbeda kalau pipa yang digunakan misalnya memiliki diameter 30cm atau bahkan 50cm.

    2. TIDAK SETUJU. Tidak setujunya di kata “menyumbat”. Kenapa berbeda? intinya kan membuat air tidak mengalir keluar ke mana2? Bedanya kalau ditutup/disumbat total tekanan dari bawah (dari bubble2 gas tsb) tidak dibebaskan. Sedangkan dengan Bernoulli maka ada “pressure release”, hanya intinya adalah : kalau itu gas yg didalam mau keluar, keluarlah … tapi jangan terus bawa air /lumpur dari bawah. Gerakan air/lumpur dari bawah yang terseret, dilawan dgn menggunakan Hukum Bernoulli tsb.

    3. Ok, Salam saya sampaikan.

    Salam juga.

  7. chilo berkata:

    Trimakasih sebelumnya
    Saya tanggapi beberapa dulu pak ASI.
    Pertama sy setuju sama mas Wandi. Saya juga pernah baca itu. Benner gak pak Dhe??

    TIDAK ADA TEMPAT YG AMAN DARI SUBSIDENCE PADA RADIUS SAMPAI 2KM DARI PUSAT SEMBURAN (MUNGKIN SAJA LEBIH DI WAKTU YG AKAN DATANG). APA HARUS DIBIARKAN DAERAH TSB TERKUBUR (SEPERTI IDE PAK DHE).
    Oleh karena itu, maka sebainya metoda yang diusulkan haruslah sesuai dengan kondisi lapangan? dan sangat memperhatikan faktor subsidence…
    Sehingga tidak main hantam buta2 saja pak. tanpa mempedulikan subsidence..
    makanya mesti distudy kelayakan dulu biar malah gak buang2 uang saja
    (takutnya malah Dam yang telah dibangun akan ambruk/roboh dalam waktu dekat..)

    KALAU MAU MELAWAN, YA TERPAKSA HRS BERHADAPAN DGN SUBSIDENCE. INI BERLAKU UTK SOLUSI LAIN APAPUN YANG TELAH DIBAHAS DI BLOG INI.
    iya tapi tetap saja metodenya harus sesuai.., Low risk.. dan tidak mudah ambruk..

    DAM DIBANGUN MULA2 DI TENGAH2 TANGGUL CINCIN – BUKAN DIPUSATNYA, MUNGKIN PAK CHILO SALAH TANGKAP (TANGGUL CINCIN ITU LEBAR LHO PAK = 45M)
    Apakah Pak Asi Akan membangun Dam dengan metoda penanggulan & penanaman pondasi yang dilakukan diatas tanggul tanah timbunan yg sudah ada?
    Singkatnya, membangun Dam Baru (beton) diatas Dam Lama (tanah timbunan)???
    jika begitu, apakah tanggul itu nantinya cukup kuat? dan akan tahan lamakah? jangan2 baru seminggu sudah ambruk lagi pak..

    JADI DI JALUR TANGGUL CINCIN TSB DIBUAT DAM TAPI DISIAPKAN LUBANG PENGGANTI UNTUK MENGGANTIKAN LUBANG DI SELATAN TANGGUL CINCIN. SETELAH JADI, LUBANG TERSEBUT DIBUKA – SEHINGGA ADA 2 LUBANG, LUBANG PENGGANTI DAN LUBANG SELATAN YG BELUM ADA DAMNYA. KEMUDIAN LUBANG SELATAN TSB DITUTUP/DITANGGUL SELEBAR/SETEBAL 45M JUGA. BARU NANTI DI TENGAHNYA TANGGUL (BUKAN DI PUSAT) DIBUAT DAM PENUTUP. JADI PONDASI/DAM TIDAK PERNAH BERSENTUHAN LANGSUNG DGN LUMPUR PANAS.
    berarti benner, bapak mau membangun tanggul beton diatas tanggul tanah timbunan.
    sekali lagi apakah Dam-nya akan kuat? apakah akan bertahan lama? belum lg masalah ‘gempa2 kecil’ yang akan muncul (dr pertayaa saya sebelumnya & belum bapak bahas…)

    KALAUPUN TIDAK MAU “MENEKAN KE BAWAH” BISA DILAKUKAN DGN MENGGUNAKAN MODEL PONDASI TERTENTU.
    Pondasi Model apa itu pak? apakah ada podasi + Dam yang tidak memiliki gaya berat / gaya tekan kebawah ??

    JALAN KELUAR TIDAK DIBUNTU, HANYA ENERGINYA DIUBAH MENJADI ENERGI PERPUTARAN AIR/LUMPUR. SEHINGGA SELURUH AIR/LUMPUR DI DALAM DAM AKAN TERUS BERPUTAR DAN BERGOLAK
    bagaimana itu bisa terjadi?? teori pendukungnya darimana?? prinsip fisika apa yang memutar air di situ??
    Misal saja, kalaupun gaya putar itu benar2 ada & terjadi, energi luimpur diubah menjadi energi putar… berarti energi putar akan dirasakan juga oleh Dam,
    kembali lagi apakah si Dam yang notabene dibangun diatas tanggul tanah timbunan itu cukup kuat untuk mengimbangi energi centrifuga si lumpur tadi?? minta analiasa struktur Dam dan analisa geotekniknya..

    SEHINGGA AIR/LUMPUR TETAP LEBIH AKAN MEMILIH KELUAR/MASUK DAM DARI PADA KELUAR TETAPI HARUS MENEMBUS TANAH LEWAT JALUR LAIN.
    Kontradiktif dengan tujuan Dam itu sendiri pak?
    Keluar masuk? Gimana kajian hidrostatiknya, apakah mungkin bisa begitu?

    Mohon Klarifikasi:
    1. Waktu pipa bernuolli dipasang di semburan akuifer air tanah, denger2 air sempat keluar lewat samping2 pipa.. + tetap keluar dari atas sehingga mirip hujan lokal.
    Bener gak pak tuh info??

    2. Bapak setuju gak dengan pernyataan:
    Secara sederhananya, Metoda Double Cover Dam tidak lain hanya bertujuan untuk menyumbat lumpur dibagian mulut lubang saja.

    3. Titip salam lg buat pak Djaya pak.

    Thx

    Regards

  8. wandi berkata:

    Pak ASI, saya kurang setuju dengan pernyataan pak asi yang mengatakan subsidence ga usah terlalu ditakuti. penjelasan yang referensikan di http://rovicky.wordpress.com/2007/05/14/masalah_counter_weight/ justru menurut saya malah meragukan metode ini. atau saya yang salah paham. mohon penjelasan lebih lanjut.

    untuk lebar tanggul yang 45 meter (dari tulisan pak ASI), ketinggian tanggul (tanah)maksimal 21 meter. Ini tidak dapat menahan semburan sama sekali.
    Mungkin pak asi yakin kalau ketinggian yang diperlukan 50 meter.Untuk mencapai ketinggian ini dengan massa jenis beton jauh lebih besar dari pada tanah minimal lebar dam yang diperlukan berapa???apa 100 meter?

    kalau subsidence terjadi sedikit saja pasti akan berefek pada dam yang kita buat? Kalau rumah yang dibawah tanahnya ada gorong2 sehingga menyebabkan subsidence, waktu pembuatan pondasinya aja biasanya sudah roboh.

  9. ASI berkata:

    Terimakasih atas tanggapannya, pak Chilo.
    Saya coba menjawab lagi :

    Bapak tidak bisa menjamin posisi subsidence tapi Dam mau dibangun di tepi kawah, berarti sama saja kalau mengatakan bahwa ngebangun Dam itu tanpa memperhitungkan faktor subsidence dong, gawat tuh pak… bisa sia2 saja..
    TIDAK ADA TEMPAT YG AMAN DARI SUBSIDENCE PADA RADIUS SAMPAI 2KM DARI PUSAT SEMBURAN (MUNGKIN SAJA LEBIH DI WAKTU YG AKAN DATANG). APA HARUS DIBIARKAN DAERAH TSB TERKUBUR (SEPERTI IDE PAK DHE).
    LIHAT : http://rovicky.wordpress.com/2007/07/02/ikhlas_kah/
    KALAU MAU MELAWAN, YA TERPAKSA HRS BERHADAPAN DGN SUBSIDENCE. INI BERLAKU UTK SOLUSI LAIN APAPUN YANG TELAH DIBAHAS DI BLOG INI.

    Untuk teknik membangun Dam pada daerah selatan U, saya gak kebayang aja posisi dan sistem buka-tutup kayak gimana ya yang cocok sama kondisi lokasi, mengingat debit yang sangat besar & sangat panas..
    DAM DIBANGUN MULA2 DI TENGAH2 TANGGUL CINCIN – BUKAN DIPUSATNYA, MUNGKIN PAK CHILO SALAH TANGKAP (TANGGUL CINCIN ITU LEBAR LHO PAK = 45M). JADI DI JALUR TANGGUL CINCIN TSB DIBUAT DAM TAPI DISIAPKAN LUBANG PENGGANTI UNTUK MENGGANTIKAN LUBANG DI SELATAN TANGGUL CINCIN. SETELAH JADI, LUBANG TERSEBUT DIBUKA – SEHINGGA ADA 2 LUBANG, LUBANG PENGGANTI DAN LUBANG SELATAN YG BELUM ADA DAMNYA. KEMUDIAN LUBANG SELATAN TSB DITUTUP/DITANGGUL SELEBAR/SETEBAL 45M JUGA. BARU NANTI DI TENGAHNYA TANGGUL (BUKAN DI PUSAT) DIBUAT DAM PENUTUP. JADI PONDASI/DAM TIDAK PERNAH BERSENTUHAN LANGSUNG DGN LUMPUR PANAS.

    (apalagi kalau mikirin siapa yang mau pasang pondasi diderah Selatan kawah, bekerja pada tanah keras dengan -18 meter dari lump[ur sekiar.. hiiii bisa bunuh diri pak..)
    SAMPAI SAAT INI SEMUA AKTIFITAS PENANGGULAN DSBNYA, DILAKUKAN MENGGUNAKAN ALAT2 BERAT. JADI TIDAK PERLU ADA ORANG YG BEKERJA DI KEDALAMAN -18M. CUKUP ALAT2 BERAT DGN LENGANNYA YG PANJANG2.

    Subsidence akan memadatkan tanah dibawah semburan?” (koq bisa gitu ya..)
    Yakin?
    Selama ini terjadi subsidence tapi tanah di bawah semburan gak padat2 juga ya…
    Menurut saya malah sebaliknya.. subsidence terjadi karena tanah dibawahnya lunak..
    Justru karena lunak itulah ada subsidence… sementara subsidence sendiri tidak akan menghilangkan si ‘lunak’ karena kalau si ‘lunak’ sudah hilang berarti subsidence tidak terjadi lagi… sementara sampai saat ini subsidence masih terjadi terusss…
    SUBSIDENCE JANGAN TERLALU DITAKUTI, KARENA BISA DILAWAN. COBA DILIHAT PENJELASAN LEBIH LANJUT DI DONGENG GEOLOGI :
    http://rovicky.wordpress.com/2007/05/14/masalah_counter_weight/
    KALAUPUN TIDAK MAU “MENEKAN KE BAWAH” BISA DILAKUKAN DGN MENGGUNAKAN MODEL PONDASI TERTENTU.

    “Semburan di tempat yang lain akan ditutup dengan cara yang sama?”
    Bakal banyak benner Damnya pak.. dananya nambah lagi tuh..
    Rp. 50M mungkin gak akan cukup
    SUDAH ADA CONTOH SEMBURAN DITEMPAT LAIN YG JUSTRU TIDAK MEMBAWA LUMPUR. KALAU YG SEPERTI INI TIDAK PERLU MENGGUNAKAN DAM, MALAH BISA DIMANFAATKAN UTK HAL2 LAIN.

    Kalau semburan keluar dari sisi luar Dam?? karena itu mungkin saja pak, mengingat sistem ini hanya nyumbat mulut saja sehingga lumpur akan selalu mencari jalan keluar yang mudah, paling mudah ya lewat sisi luar Dam itu sendiri..
    JALAN KELUAR TIDAK DIBUNTU, HANYA ENERGINYA DIUBAH MENJADI ENERGI PERPUTARAN AIR/LUMPUR. SEHINGGA SELURUH AIR/LUMPUR DI DALAM DAM AKAN TERUS BERPUTAR DAN BERGOLAK. YANG PENTING BUBBLE2 YANG KELUAR DARI DALAM – LIHAT : http://rovicky.wordpress.com/2007/06/07/menahan-gelembung-lumpur/
    TIDAK AKAN BEBAS MENGANGKUT DAN MENGELUARKAN LUMPUR. KALAU HANYA MENGOCOK AIR/LUMPUR DI DALAM DAM, TIDAK MASALAH KAN? SEHINGGA AIR/LUMPUR TETAP LEBIH AKAN MEMILIH KELUAR/MASUK DAM DARI PADA KELUAR TETAPI HARUS MENEMBUS TANAH LEWAT JALUR LAIN.

    Semoga Penjelasan ini bisa cukup memuaskan Pak Chilo,

    Regards juga…

  10. chilo berkata:

    Terimakasih Jawabannya pak ASI..
    wah jawaban yang menarik pak ASI tapi kelihatannya ulasannya kurang dalam dan kurang fokus.. sebatas teori aja tanpa memperhatikan kondisi lapangan

    Ada beberapa jawaban yang tidak kena poin pertanyaan saya
    Misalnya jawaban no.2 dan 3.
    Bapak tidak bisa menjamin posisi subsidence tapi Dam mau dibangun di tepi kawah, berarti sama saja kalau mengatakan bahwa ngebangun Dam itu tanpa memperhitungkan faktor subsidence dong, gawat tuh pak… bisa sia2 saja..

    Untuk teknik membangun Dam pada daerah selatan U, saya gak kebayang aja posisi dan sistem buka-tutup kayak gimana ya yang cocok sama kondisi lokasi, mengingat debit yang sangat besar & sangat panas..
    Ditambah lagi mau ngebayangin mau pasang pondasi pada daerah yang sudah tertutup lumpur panas setebal sekitar 18 meter.. gak kebayang aja pak? (dikeruk dulu lumpunya??)..
    Sementara itu, Pondasi Dam kan harus bagus tuh, Ga bolong, atau biar teorinya bekerja…
    Maka untuk kajian lubang buka-tutupnya: untuk membangun pondasi di daerah selatan (arah aliran) berarti bapak harus membuat lubang buka-tutup yang lebih rendah dari Pondasi selatan itu sendiri, gimana caranya? sedangkan tebal lumpur daerah situ aja sudah 18 meter..
    Belum lagi, masalah baru yang akan menggangu, lumpur yang dikolam selatan pasti akan ngalir balik ke lubang utama jika permukaan dilubang utama dibuat lebih rendah untuk keperluan pembuatan pondasi,..

    (apalagi kalau mikirin siapa yang mau pasang pondasi diderah Selatan kawah, bekerja pada tanah keras dengan -18 meter dari lump[ur sekiar.. hiiii bisa bunuh diri pak..)

    Masalah membangun Pondasi Dam pada tanah lunak? (no.5) belum dijawab, sementara untuk membangun sebuah Dam yang tinggi harus didukung oleh kekuatan tanah yang cukup (geoteknik), apakah tanah selembek itu mampu menahan Dam yg tingginya 50 m, analisis geotekniknya gimana?
    Berapa dalam pondasi untuk membangun Dam 50m+18 m (dihitung dari tanah keras yang ditemui, =tanah yang telah tertimbun lumpur panas lunak -18 meter)
    Tolong analisis juga gempa2 kecil yang terjadi akibat hantaman laju lumpur itu sendiri ke dinding lubang utama terhadap analisis konstruksi Dam??

    “Subsidence akan memadatkan tanah dibawah semburan?” (koq bisa gitu ya..)
    Yakin?
    Selama ini terjadi subsidence tapi tanah di bawah semburan gak padat2 juga ya…
    Menurut saya malah sebaliknya.. subsidence terjadi karena tanah dibawahnya lunak..
    Justru karena lunak itulah ada subsidence… sementara subsidence sendiri tidak akan menghilangkan si ‘lunak’ karena kalau si ‘lunak’ sudah hilang berarti subsidence tidak terjadi lagi… sementara sampai saat ini subsidence masih terjadi terusss…

    “Semburan di tempat yang lain akan ditutup dengan cara yang sama?”
    Bakal banyak benner Damnya pak.. dananya nambah lagi tuh..
    Rp. 50M mungkin gak akan cukup

    Kalau semburan keluar dari sisi luar Dam?? karena itu mungkin saja pak, mengingat sistem ini hanya nyumbat mulut saja sehingga lumpur akan selalu mencari jalan keluar yang mudah, paling mudah ya lewat sisi luar Dam itu sendiri..

    Kalau pak ASI kenal sama pak Djaya, Salam hormat sama Pak Djaya pak.
    Saya tetap apreciate terhadap idenya dia dkk..
    Karena Lusi harus tetap dilawan, tidak boleh dibiarkan begitu saja..
    meski ‘Sang Baginda Yangmulia’ hanya bisa menangis pasrah di camp penampungan…

    mohon penjelasan lagi..

    Regards

  11. usil berkata:

    Nah!!! Perbandingan kayak gini baru terasa pas, pak Arsolim.
    Biar pemerintah kita jadi melek. Lho! dananya pasti ada. Wong
    kekayaan Bakrie Group itu buanyak..triliun. Tinggal pemerintah
    talangi dahulu, baru kemudian tagih (sesuai saran omPapang).
    Jadi, klausal No Cure No Pay harus diganti dulu menjadi:
    TIDAK ADA DUIT, TIDAK ADA JASA/BARANG. Rakyat
    jangan disuruh gratis mlulu.

  12. Arsolim berkata:

    Mintalah petunjuk sampai ke negeri China

    China telah berhasil membangun cofferdam terbesar didunia, hydroelectric project di daerah Chongqing membendung sungai Yangtse yang panjangnya 6300 KM, “The Three Gorges Dam Project” mempunyai ketinggian dam 185 m (600 feet), lebar dam 1100m (3600 feet), panjang/keliling dam 632KM (375 miles) membentuk reservoir super raksasa yang mampu menampung air 39.3 milyard m3 of water, pengerjaan dimulai October 1997 diperkirakan selesai total pada 2009

    Untuk membendung Lusi yang hanya seluas 3 Km2 (daerah rawan bencana) dengan volume lumpur 400hari x 150000 M3 atau 60 juta m3 jelas tidak ada apa2nya, asal ada dananya ?

  13. ASI berkata:

    PERKIRAAN JAWABAN :
    1. Daya semburan lubang utama pasti lebih dahsyat di bandingkan kasus diatas, maka berapa semestinya tinggi pipia bernuolli (dam)… 50m? 100m? atau 150m?
    TIDAK LEBIH DARI 50M.
    2. Diamana posisi yang tepat untuk membangun Dam biar tidak miring/retak/tumbang mengingat adanya subsidence yang tidak teratur… subsidence juga terjadi di tempat yang tidak terrtur pula..
    TIDAK ADA POSISI YG BISA MENJAMIN TIDAK TERJADI SUBSIDENCE.
    3. Berapa Luas daerah yang akan ditanggul,masalahnya luas penanggulan idientik dgn biaya..
    SELUAS TANGGUL CINCIN = 15000M2 (DIAMETER 140M)
    4. oh iyya berapa biayanya..
    BIAYA RP 50 MILYAR
    5. bagaimana membangun podasi Dam, mengingat tanahnya sangat lunak dan lumpur dekat tanggul suangat panas (sumber SuaraSurabaya: 94 der.celcius)…
    HARUS DIBANGUN TANPA BERSENTUHAN LANGSUNG DGN LUMPUR (DI BAGIAN TENGAH TANGGUL).
    5,5. Saat ini tanggul yang sudah ada di lubang utama tidaklah satu lingkaran penuh, hanya berbentuk U, bagaimana teknik membangun dam satu lingkaran penuh disitu?? utamanya di daerah sebelah selatan (arah penyaluran lumpur ke kali porong) mengingat disitu hanya ada lumpur yang dalamnya bisa sampai 15 meter… dan ingat: lumpurnya puanasss
    WAKTU MEMBUAT LINGKARAN DI BAGIAN U, SUDAH DISIAPKAN LUBANG PENGGANTI (YG NANTINYA BISA DIBUKA/TUTUP), SESUDAH ITU, LUBANG U YG SEKARANG DITUTUP/DITANGGUL – KEMUDIAN BARU DIBUAT DAM NYA SAMA SPT SEBELUMNYA. KALAU DAM SUDAH JADI TOTAL, BARU LUBANG PENGGANTI DI BAGIAN BAWAH DAM DITUTUP (PINTU PENUTUP DIBUAT DARI BESI BAJA- SUPAYA TAHAN PANAS DAN DIBUAT SLIDING UP/DOWN).
    6. Metode Itu kan sama aja dengan menyumbat di mulut saja ya? apakah tidak akan muncul semburan baru??? bagaimana studi G&G-nya, apa sudah dikaji?
    SEMBURAN DITEMPAT LAIN AKAN DITUTUP DGN CARA YG SAMA.
    7. Pastilah Dam sendiri itu nantinya akan sangat berat berat total dari dam ini nantinya, sehingga takan menambah beban daerah sekitar lubang, itu dapat mempercepat laju local subsudence…
    SUBSIDENCE AKAN MEMADATKAN TANAH DIBAWAH SEMBURAN, SEHINGGA DIHARAPKAN AIR/LUMPUR MAKIN SULIT MENEKAN KELUAR, DAN MENGURANGI TERJADINYA SEMBURAN DI TEMPAT LAIN.
    8. Karena adanya subsidence >1cm/hari berarti Dam juga ikut tersubsidence, akhirnya Dam harus dipertinggi minimal >1cm perhari juga untuk menjaga stabilitas bernuolli… Capek deh… dan itu kan sama aja sama kerjaan BPLS/TIMNAS dong selama ini (mempertinggi tanggul terus-menerus)…
    PADA SAAT TANAH DIBAWAH SUDAH PADAT, KARENA TERTEKAN BEBAN BERAT DIATAS, SEDANGKAN LUMPUR TIDAK BISA KELUAR DAN MENGENDAP, MAKA SUBSIDENCE AKAN BERHENTI DAN PENINGGIAN DAM TIDAK PERLU DILAKUKAN LAGI.

    INI PERKIRAAN JAWABAN, JAWABAN DARI TEAM YANG BERWENANG SILAKAN KONTAK SENDIRI.

  14. ompapang berkata:

    8 pertanyaan/soal yang bagus Pak Chilo, itu merupakan inventarisasi masalah, tinggal kita yang peduli dan mereka yang berwenang menjawab peretanyaan atau memecahkan persoalan tersebut. Seperti anjuran pak Andrianto, walau kita bukan pakar , mari kita diskusikan sebagai pengasah otak.

  15. adrianto berkata:

    Mulakno saya bilang lumpur Lapindo tidak bisa dihentikan, bukan karena metoda-metoda cara mengatasinya tidak bisa dipakai, tapi bagaimana kita bisa melakukan metoda itu ditengah-tengah lautan lumpur yang bersuhu tinggi ada H2S nya lagi. Moggo para pakar lanjutkan lagi diskusinya…he..he..he

  16. chilo berkata:

    Koq jd ngebahas diluar topik posting ya..
    Kembali ke topik Bernuolli
    Oh ya berhasilkah? Yakin?? trus berita mana yang benner nih…
    harusnya kalau mau tahu keberhasilan harusnya jangan cepat2 dilepas dulu untuk tau respon gelogisnya..
    atau minimal tunngu dulu sampai “hujan lokal”nya benar2 berhenti (untung saja airnya ga panas, kalau hujan air panas kan repot)
    atau trus tunggu apa ada kebocoran baru di dekat/di sisi pipia bernuolli tadi…

    Jika bernuolli ini dicobakan di lubang utama,
    1. Daya semburan lubang utama pasti lebih dahsyat di bandingkan kasus diatas, maka berapa semestinya tinggi pipia bernuolli (dam)… 50m? 100m? atau 150m?
    2. Diamana posisi yang tepat untuk membangun Dam biar tidak miring/retak/tumbang mengingat adanya subsidence yang tidak teratur… subsidence juga terjadi di tempat yang tidak terrtur pula..
    3. Berapa Luas daerah yang akan ditanggul,masalahnya luas penanggulan idientik dgn biaya..
    4. oh iyya berapa biayanya..
    5. bagaimana membangun podasi Dam, mengingat tanahnya sangat lunak dan lumpur dekat tanggul suangat panas (sumber SuaraSurabaya: 94 der.celcius)…
    5,5. Saat ini tanggul yang sudah ada di lubang utama tidaklah satu lingkaran penuh, hanya berbentuk U, bagaimana teknik membangun dam satu lingkaran penuh disitu?? utamanya di daerah sebelah selatan (arah penyaluran lumpur ke kali porong) mengingat disitu hanya ada lumpur yang dalamnya bisa sampai 15 meter… dan ingat: lumpurnya puanasss
    6. Metode Itu kan sama aja dengan menyumbat di mulut saja ya? apakah tidak akan muncul semburan baru??? bagaimana studi G&G-nya, apa sudah dikaji?
    7. Pastilah Dam sendiri itu nantinya akan sangat berat berat total dari dam ini nantinya, sehingga takan menambah beban daerah sekitar lubang, itu dapat mempercepat laju local subsudence…
    8. Karena adanya subsidence >1cm/hari berarti Dam juga ikut tersubsidence, akhirnya Dam harus dipertinggi minimal >1cm perhari juga untuk menjaga stabilitas bernuolli… Capek deh… dan itu kan sama aja sama kerjaan BPLS/TIMNAS dong selama ini (mempertinggi tanggul terus-menerus)…

    mohon penjelasan dari tim ITS

    Terimakasih

  17. chilo berkata:

    Pak Bambang, ada banyak sekali ide yang masuk ke TIMNAS/BPLS lebih dari seratus…
    Dan kayaknya Timnas/BPLS bukannya tidak menghargai ide bapak berdasarkan latar belakang pendidikan, tetapi mungkin bagi tim2 ahli penilai ini ada hal lain yang dipertimbangkan, utamanya tentang posibility (mungkin/tdk) blokath-dolthon dapat diinstalasi dilapangan mengingat kondisi medan yang sangat sulit, tanah lembek, subsidence >1cm/hari, serta masalah2 yang lain di lapangan. Pertanyaan saya buat pak bambang:
    1. Apakah pak bambang pernah ke lokasi dan tahu persis kondisi/kendala lapangan?
    2. Apakah pak bambang sudah membahasakan proposal bapak dengan baik dan mudah dipahami oleh orang lain, sehingga orang2 dapat mengerti dengan jelas metode bapak? mngkin bahasa proposalnya mesti digodok lagi..

    Tapi apaun masalah itu, saya adalah orang yang sangat apreciate dengan Pak bambang, Bapak termasuk orang yang peduli dan mau berfikir untuk solusi LUSI…
    dibandingkan orang lain yang hanya nonton dan kritik saja seperti saya & teman2 yang lain…

    Thx

  18. usil berkata:

    Konon katanya inventor zaman dulu itu lebih banyak datangnya
    bukan dari kalangan ilmuwan, malahan dari praktisi. Liem Swie Liong dan
    Usman Atmadjaja menjadi melyuner bukan karena Sarjana Management,
    Malahan ada yang bilang cuma SMA.
    Dengan alasan apapun pak Bambang B. dapat diberi beslit sebagai
    PENEMU. Nah! tugas yang pinter ngetung sekarang ini, agar dapat
    membantu ngetung ‘engineeringnya’ ide pak Bambang itu. Kalau semua
    gak pada bisa, nanti Usil yang etung!!!

  19. ASI berkata:

    Ompapang, rasanya terlalu jauh perbedaan antara Pak Bambang dengan Pak Sumantri, abang ompapang. Pada usia 23 th, Pak Sumantri sudah masuk ke “Track” yg benar, yaitu Biro Insinyur Baja. Baik bidang keilmuan, maupun orang2 di sekitarnya bersifat mendukung dan sesuai dengan keahlian beliau. Sedangkan pak Bambang pada usia yg sama sudah di Track yg agak melenceng dari keahliannya, yaitu di Fire & Safety. Setelah 5 th di bidang tsb, ternyata pak Bambang malah pindah ke bidang yang “makin jauh” dari keahlian/study yang pernah didapatkannya, yaitu SECURITY selama 17 th sampai sekarang. Walaupun di sana pak Bambang juga berprestasi, tapi tentu saja itu diluar keahlian dasar yang dipunyainya, yaitu di bidang kelistrikan atau permesinan. Tetapi utk orang bisa bertahan selama itu, dan berprestasi lagi, tentu saja saya yakin dalam diri pak Bambang juga ada bakat/keahlian di bidang SECURITY tsb, yg ternyata berbeda dgn ilmu dasar yang didapatnya.

    Masalahnya, ternyata masih ada “sisa2” keinginan dalam diri pak Bambang utk kembali ke bidang/ilmu dasar yang dimilikinya, sekaligus niatan dari beliau utk memecahkan masalah di Lapindo ini. Jadi karena kasusnya tidak serupa dan tidak sama, maka semboyan dari ompapang memang betul, tapi untuk bagian “DREAM” tersebut hendaknya dilalui dengan tidak terlalu berharap/PD. Yang penting jangan sampai karir di bidang Security malah ter”kacau”kan.

  20. ompapang berkata:

    Saya salut pada Pak Bambang Bahriro, yang berpendidikan dasar STM listrik bisa menatar diri sedemikian hingga bisa saya sebut “insinyur praktek”.
    Saya membandingkan Pak Bambang dengan SUMANTRI abang saya sekaligus guru saya dalam bidang teknik pesawat terbang, mesin dan listrik serta melukis,yang sudah pernah saya sebut namanya dalam salah satu komen diblog ini juga( lupa topiknya!). Beliau sekarang ber usia 74 tahun (lahir 1933 kata Bapak saya) adalah lulusan ST (setingkat SLTP), STMnya gak lulus karena selalu ngeyel terhadap gurunya. Dalam karier pekerjaannya saya akui tidak dapat menyamainya. Diusia 23 tahun, beliau bekerja di Biro Insinyur Baja pimpinan Ir.Dipokusumo ( menteri PU dijaman Bung Karno) dan dipercaya sebagai pelaksana (uitvoerder) pembangunan pabrik milik Balai Penelitian Beras Krawang dekat Indramayu.Sesudah selesai di Krawang , diserahi tugas membangun pabrik pemintalan kapas di Bali. Dari Bali membangun Gudang di Pabrik Madukismo Yogya dan tahun 1959 pindah dari Biro Insinyur Baja ikut membangun pabrik kertas Blabak dan bekerja di Litbang Pabrik sampai 1972. Kemudian keluar dan menjadi asisten manager Kayu Papa Enterprise (PMA ITALI) di Pontianak.( Saat itu gaji insinyur PNS gol III A Rp 5000,–, gaji beliau yang STM gak lulus Rp 100.000,–/bulan). Kemudian pada umur 42 th ditarik menjadi konsultan pembangunan pabrik di UEEC milik Ir Dipokusumo ( bossnya yang dulu). Selama menjadi konsultan sering mengisi acara HASTA KARYA di TVRI Jakarta mengenai fotograpi/optika dan sempat dikursuskan di LPPM UI dan BPA UGM dalam hal managemen (Dulu belum ada sekolah MM dan MBA, yang ada BBA). Bosan di UEEC membuka usaha sendiri sebagai sub kontraktor membuat alat-alat peraga fisika untuk keperluan pelajaran sekolah.
    Pekerjaan terakhir sebelum DRS (dirumah saja)adalah sebagai Manager Teknik suatu Pabrik karoseri terkenal di Magelang.( satu-satunya manager pribumi)
    Yang saya terkesan pada beliau adalah visinya jauh kedepan, misal beliau mengusulkan full press body di pabrik karoseri tersebut. Contoh lain, beliau menciptakan bumbu instan untuk soto, belasan tahun mendahului adanya mie instan dan royco masuk kepasaran. Sayang tak diikuti dengan produksi masal.
    Demikian dongengan saya mengenai guru dan abang saya yang gak lulus STM untuk pak Bambang Bahriro yang menurut saya serupa tapi tak sama dengan Pak Mantri. Semoga Bapak tetap PD ( bukan partai demokrat lho) dan bersemboyanlah : REMEMBER YESTERDAY, DREAM ABOUT TOMORROW ,but LIVE TO DAY. yang maknanya kurang lebih adalah:Mengenang prestasi masa lalu itu perlu, berpikir menghentikan semburan lumpur diwaktu mendatang boleh-boleh saja, tetapi yang penting adalah tugas sehari hari sekarang.

  21. BAMBANG BAHRIRO berkata:

    HARAPAN BLOKATH-DOTHON BUAT YANG TERHORMAT PARA REKTOR, DOSEN, POLRI DAN PEMBACA DIMANA SAJA BERADA.

    Maaf nimbrung nih.. hanya skedar ngisi waktu luang saja, kan blog ini terbuka untuk umum, jadi tukang becak atau siapapun bisa masuk dengan sembarangan dan sesuka hati, tidak ada ketentuan dan larangannya yang bisa menghalang-halangi.

    Ya, bagi yang tidak berkenan dan merasa tidak level dengan tulisan dan pemikiran saya mahluk rendahan, lebih baik stop berhenti membacanya sampai disini saja ya..!?

    Kalau anda yang pernah mengatakan tidak level dengan pendidikan rendahan (seperti ada pernyataan dari seseorang, lihat di arsip Mei 2007 pada tanggapan APA ITU BLOKATH-DOTHON?) tapi terus membaca tulisan ini, berarti anda seorang yang munafik! Gantian ya, sekarang saya yang bilang persetan dengan anda!

    Maaf pembaca, rada error dikit nih…

    Ga apa2 kok, sekedar mengungkapkan sedikit perasaan yang harus disampaikan. Tapi sebenarnya positif thinking saya, pernyataan itu sebenarnya menyinggung para Top diatas sana. Ya, maksudnya sih membela saya. Kalau betul demikian, saya haturkan banyak terimakasih. Tapi seandainya betul ditujukan kepada saya, yaa..h terimakasih juga sii..h. Saya do’akan semoga anda jangan hanya Top di dunia tapi juga Top diakhirat kelak. Saya do’akan semoga anda masuk surga, amiin…

    Oya, kita lupakan saja, anggap saja itu angin lalu.

    Mau tidak mau siapapun boleh membaca dan menanggapi, saya hanya sekedar ingin ikut sedikit saja mengomentari pendapat dari Pak Adrianto, bahwa tanggapan beliau sebenarnya menyatakan bahwa semburan itu tidak dapat dihentikan dan hanya satu cara mengatasinya dengan dialirkan kesungai. Dengan harapan sedikit banyaknya bisa mendorong atau membawa lumpur ke muara. Betul!

    Lagi-lagi pembaca pasti sudah bosan dengan kata BLOKATH-DOTHON, ya BLOKATH-DOTHON metode yang saya desain untuk menutup semburan dari perut bumi (Blow Out).

    Kalau Bapak-Bapak dengan seksama membaca teknisnya di arsip bulan Mei 2007 dengan judul APA ITU BLOKATH-DOTHON? Disana sudah saya jelaskan metode tersebut yang sangat sederhana tetapi intinya dipastikan bisa untuk menghentikan semburan utama lumpur lapindo.
    Jadi untuk masalah semburan air yang sedang dibahas sekarang ini, sangat-sangat MUDAH proses atau teknik untuk menghentikannya, dengan biaya murah paling2 untuk membeli materialnya tdak sampai 5 juta. Kalau yang saya jelaskan biayanya hingga kurang lebih 50juta itu untuk biaya keseluruhan dengan ganti rugi terhadap bangunan.

    Dengan metode BLOKATHDOTHON semburan air itu dengan MUDAH bisa kita tutup total, kemudian bisa juga dialirkan ke sungai untuk sedikit banyaknya mendorong lumpur ke muara. Dan saya yakin kekuatan semburannya bisa dipakai sebagai pembangkit tenaga listrik walau hanya untuk ukuran kecil.

    Kenapa ya? Pemerintah (Presiden dan yang lainnya), BPLS atau yang pernah menerima buku metode BD serta yang pernah membaca tulisan saya ini tidak ada yang mau peduli? Apa karena latar belakang pendidikan saya yang rendah tidak Top? Atau ada sesuatu (faktor X) ? Yang tahu pasti mesem2 saja ya? Ga usah diungkap, suuzon itu.

    Baik, seandainya karena latar belakang pendidikan saya yang menjadi permasalahannya, maka saya akan mencoba membuat diri saya ini diakui atau tidak diremehkan. Saya akan mencoba memohon kepada perguruan tinggi mana saja yang mau menerima saya belajar dengan cara biaya gratis (beasiswa) atau paling tidak mendapat discount atau umpamanya dengan cara barter, yaitu saya bekerja di T.U, jadi tukang kebun, cleaning service, atau apa saja yang penting saya bisa kuliah mumpung saya belum dipanggil oleh-Nya (usia saya sudah 44 tahun).

    Sekedar untuk diketahui, pengalaman saya yang juga merupakan kesukaan atau hobby (menguasai) mesin diesel atau bensin, dan semua yang berbentuk mekanika/fisika, ilmu gaya. Walaupun sebenarnya saya lulusan STM Listrik

    5 tahun saya pernah bekerja di Fire & Safety (kalau ga salah pd tahun 1987 saya mengikuti kursus komputer dengan ranking I), dan 17 tahun hingga sekarang saya bekerja diperusahaan yang sama sebagai anggota satpam (bhs kerennya SECURITY) . Empat kali kursus Satpam selalu mendapat ranking I dalam menembak, sehingga selalu menjadi perwakilan siswa (terbaik) dalam setiap upacara pembukaan maupun penutupan kursus. Pengalaman lainnya, selalu ikut serta berbagai macam perlombaan dan sebagai pemandu SKJ didalam maupun diluar instansi. dengan selalu menjadi juara.

    Hobby saya yang lain, photography dan edit film dari handycam, elektronik dan membaca buku pengetahuan.
    Saya nyambi sebagai photographer panggilan untuk berbagai macam acara. Menguasai berbagai macam program komputer.

    Wah waaa…h, jadi saya sepertinya membanggakan diri niih..
    Tujuan saya bukan mengharapkan sanjungan atau pujian, sengaja saya ungkapkan dengan harapan sebagai bahan pertimbangan para Bapak Rektor, Bapak Dosen, Pemerintah (Presiden dan BPLS), POLRI juga yang terhormat para pembaca. Siapa tahu bisa memberikan jalan keluarnya.

    Menurut saya, sekali lagi ini sih menurut saya… Seharusnya POLRI bangga ya, mempunyai anggota mitranya (satpam) seperti saya ini. Maaf bukan saya berlebihan, tapi kalau mau tahu banyak tentang metode saya yang lain, saya siap dipanggil.

    Yang Terhormat Bapak Bambang dan Bapak Sukriawan (Ka.Sat.Intelkam POLRES Indramayu), mohon dapat berkenan memberikan petunjuk buat saya, terimakasih.

    Juga kepada Yang terhormat Bapak Nurjaman (Dosen UNWIR Indramayu), apa kabar pak? semoga tulisan saya ini nyambung dengan yang telah kita bicarakan. Mohon dukungannya ya pak…., terimakasih.

    Saya sudah menyiapkan beberapa (banyak) metode lain yang sangat dibutuhkan bukan saja oleh negara Indonesia tapi semoga untuk kehidupan manusia di dunia.

    Nah, Bapak-Bapak Rektor, Bapak-Bapak Dosen, Bapak POLRI dan kepada siapa saja yang berhubungan dengan harapan saya tersebut diatas, yang tersentuh hatinya untuk membantu saya, mohon berkenan dapat menghubungi saya kapan saja ke :

    BAMBANG BAHRIRO
    Jln.Gagak C-4
    Komperta Cemara
    Pangkalan – Losarang
    Indramayu – Jawa Barat 45253

    HP.0852 2121 6555 atau 081 2230 2423

    Atas perhatian serta tanggapan dari Yang Terhormat Bapak-Bapak selama ini, saya haturkan banyak terimakasih.

    Salam…
    Bambang Bahriro

    Tambahan :
    Oya, supaya air sumur ga kekeringan, sbaiknya tutup total saja, tidak usah dialirkan ke sungai. Lagian sangat kecil sekali prosentasenya untuk membawa atau mendorong lumpur ke laut. Tks.

    Sebaiknya, memang penuhi dulu permintaan warga. Baru kita atasi masalahnya/penanggulangannya. Kalau tidak, apa yang dikhawatirkan oleh Cak Nun bisa benar2 terjadi.

  22. kump45 berkata:

    sep2…hebat2…

  23. ABe berkata:

    lha ntar kalo airnya kering, pengaruh ga dengan air tanah? kan kasian penduduk sekitar ga bisa nimba lagi 🙂

  24. adrianto berkata:

    Kalau memang berhasil sebaiknya air itu jangan ditutup tapi alirkan saja lagi untuk mendorong lumpur yang mengering ke sungai, karena semburan itu tidak dapat dihentikan dan hanya satu cara mengatasinya yaitu mengalirkannya ke sungai dan air yang keluar itu ikut membantu mendorong lumpur supaya lancar……setuju Pak ?

  25. AA berkata:

    lha kepiye beritane?
    sing bener gagal opo berhasil?
    ojo-ojo sekadar kepengen olih project to pak!
    rep ra rusake kepiye?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: