Rumah Ambles, Nekat Bertahan

RADAR SIDOARJO      Jumat, 29 Juni 2007
SIDOARJO – Peringatan geolog tentang ancaman penurunan tanah (subsidence) lalu tak menyurutkan nyali sebagian warga Desa Renokenongo. Meski desa itu dinyatakan tidak layak huni, mereka nekat tinggal di desa tersebut.

Ir Ahmad Zainudin MST, geolog dari Badan Geologi Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), menyatakan, subsidence di Desa Renokenongo, Kecamatan Porong, mencapai 1-1,5 cm per hari. Penurunan tanah di sebelah timur laut lokasi pusat semburan itu memang yang terbesar dibandingkan kawasan lain. “Bisa dikatakan, daerah itu sudah tidak layak huni,” tegasnya.

Menurut dia, selama beberapa waktu terakhir, para geolog terus memantau pergerakan tanah di sekitar pusat semburan. Selain secara visual, pantauan dilakukan menggunakan alat global positioning system (GPS) dan tilt meter. “Meski hasil penghitungan tidak linier, rata-rata tiap hari memang cukup tinggi,” ungkapnya.

Berdasar pengamatan Jawa Pos di lapangan, sangat banyak bangunan rumah di Desa Renokenongo yang retak-retak. Kerusakan terparah terjadi di RT 1, 2, 3, 4, dan 9 Desa Renokenongo. Dinding bangunan dan atap rumah terlihat roboh akibat pergeseran tanah. Banyak rumah yang ditinggal penghuninya karena sudah terendam lumpur.

Namun, sejumlah warga memutuskan bertahan. Mereka tetap tinggal di rumah kawasan RT 5, 6, 7, dan 8. Alasan mereka beragam. Di antaranya, kesulitan memindahkan sekolah anak dari sekolah. “Saya sebenarnya juga selalu waswas. Tapi, bagaimana lagi, wong anak-anak masih sekolah di sini,” ungkap Santiah, 40, warga RT 7/RW 2.

Ibu tiga anak tersebut mengungkapkan, keluarganya telah menerima uang kontrak dari Lapindo dan sudah mendapatkan kontrakan di Desa Kajeksan, Kecamatan Tulangan. Namun, karena anaknya masih bersekolah di SDN Renokenongo 1, dia memilih bertahan. “Hanya barang-barang yang saya taruh di kontrakan,” jelasnya.

Sumantar, 53, warga RT 6/RW 2 yang juga telah menerima uang kontrak, beralasan, dirinya sangat berat meninggalkan rumah. “Istri saya kerja di pabrik kerupuk di Desa Besuki, Jabon. Saya dapat rumah kontrakan yang cukup jauh,” katanya yang mengaku mendapat kontrakan di Desa Kalitengah, Kecamatan Tanggulangin.

Dia berterus terang waswas tetap tinggal di situ. Sebagian dinding rumahnya juga sudah retak-retak.

Penurunan tanah cukup besar juga bisa dilihat di ruas jalan RT 2/RW 1. Badan jalan yang sudah diaspal tersebut sampai terputus. Hal itu disebabkan bagian badan jalan yang lain turun hingga sekitar 25 sentimeter.

Humas Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) Ahmad Zulkarnaen mengungkapkan, penurunan tanah paling besar terjadi di pusat semburan. Setiap hari tanah turun sekitar 4 cm. “Tapi, Renokenongo itu kan kawasan permukiman,” ujarnya. (dyn)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: