Yang Penting Temukan Cara Atasi Lumpur

Lumpur Panas KOMPAS

Jakarta, Kompas – Wakil Presiden Jusuf Kalla menyatakan, sekarang ini bukan saatnya mahasiswa marah-marah dan mengecam adanya luapan lumpur panas yang ditimbulkan Lapindo Brantas Inc di Porong, Sidoarjo, Jawa Timur. Sebaliknya, justru berupaya mengkaji untuk mendapatkan cara mengatasi luapan tersebut.

Ini dikemukakan Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla di Istana Wapres, Jakarta, menjawab pertanyaan mahasiswa di kawasan Sulawesi melalui telekonferensi, Kamis (28/6). Hadir dalam acara itu Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional Satrio Soemantri Brodjonegoro dan Rektor Universitas Hasanuddin, Makassar, Idrus Paturusi.

“Sekarang dibutuhkan teknologi yang tepat. Kita tidak bisa marah-marah lagi dengan alam dan lumpur tersebut. Lumpur itulah yang harus kita taklukan dengan teknologi yang baik dan tepat,” ujar Wapres.

Menurut Wapres, pemerintah berterima kasih kepada Institut Teknologi 10 Nopember Surabaya (ITS) dan Institut Teknologi Bandung (ITB) yang juga mempunyai teknologi dan tengah mencoba mengatasinya.

Dari Sidoarjo dilaporkan, warga korban lumpur Lapindo Brantas Inc diminta cepat melengkapi dokumen yang dibutuhkan untuk mendapatkan ganti rugi tanah dan bangunan. Selama ini, salah satu hal yang membuat ganti rugi berjalan lambat karena warga lambat melengkapi dokumen yang dibutuhkan.

Ketua Tim Verifikasi Badan Pelaksana Badan Penanggulangan Lumpur di Sidoarjo (BP BPLS) Yusuf Purnama menjelaskan, tim verifikasi berupaya menambah kekuatannya dari sisi personel maupun sarana dan prasarana agar uang muka ganti rugi sebesar 20 persen dari total ganti rugi bagi seluruh korban lumpur dapat diselesaikan dalam waktu sepuluh minggu. Namun, semua itu tak akan ada artinya jika warga tak cepat melengkapi dokumen yang dibutuhkan. Tanpa itu, tim verifikasi tidak bisa memprosesnya.

Bambang Prasetyo Widodo, Direktur Operasional PT Minarak Lapindo Jaya, perusahaan yang ditunjuk Lapindo Brantas Inc mengganti rugi tanah dan bangunan milik korban lumpur, juga mengatakan hal yang sama. (APA/AB8/HAR)

Iklan

21 Responses to Yang Penting Temukan Cara Atasi Lumpur

  1. abas basuki berkata:

    saya mampu mengatasi semburan lumpur lapindo dari abas cianjur
    h[ 085624568685

  2. adrianto berkata:

    Kalau di Indonesia penduduknya pancen neko-neko kok Pak, tapi kalau omahku kerendem koyok ngono yo pasti………. Tapi uangnya uang rakyat liwat APBN opo Lapindo Pak ?

  3. Arsolim berkata:

    Pasti pak Adrianto, kalau di China yang namanya proyek cofferdam tsb, ya sudah termasuk biaya resettlement 1,2 Juta penduduk yang tanahnya terkena genangan air, kalau lusi mungkin hanya sekitar 50,000 orang saja (cuma mungkin bedanya kalau di China penduduknya relatif mudah diatur dan tidak terlalu banyak tuntutan).

  4. adrianto berkata:

    Proyek coverdam sih gampang yang penting rakyatnya yang kena bencana dibayar dulu baru ngomong soal teknologi

  5. Arsolim berkata:

    Tambahan,

    Proyek diatur supaya ditangani oleh enam kontraktor bonafide sekaligus masing2 sepanjang 2 KM, dam bisa dibuat 5 tahap masing2 tingginya 20M per tahap, bila tahap pertama selesai bisa menampung 240 juta M3 lumpur cukup untuk menampung lumpur kira2 4tahun semburan @ 60 Juta M3/Tahun, dengan demikian alokasi biaya bisa diatur per tahap

    Kalau tahap pertama bisa selesai kurang dari setahun, tahap2 berikutnya bisa dilakukan dengan tenang & santai karena masih ada sisa waktu 3 tahun,

    kalau semburan ternyata berhenti sebelum 20 tahun maka proyek ini dianggap selesai.

  6. Arsolim berkata:

    Nah pak sebelumnya saya kan sudah bilang mengenai teknis & pembiayaan carilah petunjuk kepada negeri China yang sudah berpengalaman dalam hal pembuatan dam super raksasa khususnya kepelaksana proyek “the three Georges dam” tersebut .

    Saya pikir untuk proyek Lusi mungkin jauh lebih gampang karena diluar radius 2-3 KM kan sudah ada tanggul2 lama dan belum seberapa tergenang, sedangkan tujuannya akhirnya sama kalau China untuk mengendalikan banjir dari sungai Yangtse yang sering menewaskan ratusan ribu orang setiap tahunnya sekaligus untuk pembangkit tenaga listrik 83 Milyar KWH, kalau di Lusi untuk mengantisipasi kedepan kemungkinan terendamnya kota Porong & Sidoarjo seperti yang disinyalir oleh Bappenas, apa kita mau tunggu sampai benar2 terjadi ?

  7. Realist berkata:

    Arsolim
    Membangun dam setinggi 100 meter itu berapa lama ? dan selama itu apakah semburan tidak ditata ? Ya kudu ditata juga kan ?
    Berapa lama dam itu dibuat perencanaannya, gambar tekniknya, perencanaan pendanaannya. Cina merencakana dan memutuskan dam itu sepuluh tahun sebelum dibangun. Itupun untuk tujuan yang sudah sejak lama, yaitu mengendalikan banjir dan hal-hal lain. Dam itu bukan dibangun karena bencana.
    Bukan sekedar masalah bisa dan ga bisa, tetapi apakah bisa dilaksanakan …

    Not all of our dream is doable today !

  8. Arsolim berkata:

    Kok, susah amat asal ada dananya, bikin cofferdam dalam radius 2KM dari pusat semburan, keliling dam 12KM, lebar dam 30-50m, tinggi dam 100 m, cukup untuk menampung lumpur 1,2 milyard M3, sampai habis keluar semua 20 th lagi masih cukup, tidak usah mikir lumpur lagi.

    Biaya kalau diperbadingkangkan dengan “three George Dam” di China dari segi vulume perkerjaan yang 635KM x 1100m X 185m biayanya paling cuma 1-1.5 permil nya dari 75 Milyard dollar alias cuma 75-100 Juta dollar.

    Sekarang kalau dihitung untuk ganti 10,000 unit rumah yang terendam ambail rata2 100 juta per unit rumah, sudah 1 trilyun belum tegal, sawah, infrastruktur dll.
    lebih2 lagi kalau Porong & Sidoarjo tenggelam kerugian bisa puluhan Trilyun !!

  9. yangyung berkata:

    edan………….gini nih….tabiat kita orang punya pejabat.
    suka menganggap enteng masalah karena dilihat masih kecil….,tapi kalau sudah membesar dan tak sanggup mengatasi,bisanya dan selalu biasa mencari alasan dan melempar tanggung jawab! emang mahasiswa kalo dibandingin tingkat ilmunya sama pakar-pakar dengan sederetan gelarnya itu……gak nututi pak!wong seng wis doktor ae gak mampu…….

  10. heri berkata:

    “Yang Penting Manusia yang menjadi korban dunk”, jangan sampai itu dilupakan…

  11. sweeptakes berkata:

    apakah liumpur bisa dicampur gula,dibikin gulali. atau dibikin jenang, dibuat semacam jenang dodol? pokoknya harus kreatiplah bagaimana supaya lumpur itu bisa dimakan?

  12. phoenixblood berkata:

    Tidak akan ada solusi. Teknologi? Blah!, Teknologi paling murah untuk mengatur drainase lumpur saja >5Triliyun. Itu siapa yang mau bayar?rakyat? BLAH!

    Mahasiswa marah sudah sewajarnya. Kaum akademis zaman sekarang sudah terlalu digerogoti uang otaknya. Kampus berbisnis boleh, tapi jangan jual fakta & harga diri dong! BLAH!

    Politik, Bisnis, Birokrasi, Mafia dan Darah.
    http://phoenixblood.wordpress.com

  13. alifmastur berkata:

    Menarik untuk dibaca, bedah telisik spiritual MENYIBAK TABIR MISTERI NUSANTARA di http://nurahmad.wordpress.com

  14. adrianto berkata:

    Kalau tidak salah dulu Bapak yang pertama-tama meyakinkan rakyat kalau Bakri akan bertanggung jawab deh ? Kok sekarang marahnya sama Mahasiswa…..opo tumon

  15. Bud's berkata:

    blah blah blah…….. lucu..

  16. […] Lumpur Lemper Andaikata lumpur bisa dibungkus, jadi lemper […]

  17. Mahasiswa_itu_adalah_kami berkata:

    Kalau JK sendiri, Apa yang bisa bapak JK lakukan,
    kalau bapak gak kuat mikir/riset, sumbang aja dana ke institusi ITB?ITS/UNHAS dll untuk riset penanggulangan lumpur..
    emang mahasiswa bisa riset tanpa dukungan dana??
    Sudahkah bapak JK yang terhormat memikirkan untuk mendanai riset itu??
    intrispeksi diri dulu dong JK, pemerintah yang aneh…

    Pak dapat dana kampanye berape sih kemaren dari abu rizal sampai pemerintah ini kayak kerbau yang congornya di ikat…. tidak tegas…
    Palsu lah…

  18. wandi berkata:

    Sudah puluhan ide untuk menanggulangi luapan lumpur. Itu juga dari berbagai kalangan dengan semua latar belakang, tapi ga ada tanggapan.
    Bahkan ide2 yang sudah sempat diterapkan seperti relief well, bola beton dan bernaulli itu juga ga jelas nasibnya.
    *Sampai sekarang penyebab utama kegagalan relief well ga dijelaskan. (apa benar gagal?) atau hanya gara2 masalah dana?
    *Bola beton yang diklaim menampakkan hasil positif (minimal sampai sekarang belum ada hasil pengukuran yang membantahnya) nasibnya juga digantung.
    *bernaulli yang sudah diberitakan dapat mengatasi semburan baru juga ga langsung di follow up.

    Apalagi ide baru dari mahasiswa. Mana mungkin ditanggapi. Wajar aja mahasiswa melakukan demo agar pemerintah segera dan serius menyelesaikan masalah ini.

    Pernyataan bapak wapres menunjukkan pemerintah ga punya tenaga untuk menanggulangi kejadian ini.
    Sama saja dengan bapak presidennya yang baru nangis ketika mendatangi korban. apa ga ada info sebelumnya kalau porong udah parah? Atau tangisan itu menunjukkan ketidakberdayaan pemerintah???

  19. noname berkata:

    kalo mahasiswa itu tugasnya menuntut ilmu. Cara mengatasi lumpur ya tugasnya para pejabat-pejabat yang sudah dibayar untuk berpikir mengatasi masalah yang menimpa rakyatnya.

  20. Joyo.S berkata:

    “Yang Penting Temukan Cara Atasi Lumpur”
    =================================

    🙂 Cara menghukum Lapindo dkk juga penting lho pak 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: