Liburan Sekolah, Anak Korban Lumpur Diboyong ke Tugu Proklamasi

Minggu, 15 Juli 2007,
Bertemu Kawan Senasib, Semangat Bangkit Kembali
Lagi-lagi para korban lumpur Lapindo datang ke Jakarta. Namun, kali ini yang datang bukan orang dewasa, tetapi anak-anak usia sekolah. Mereka juga tidak berdemonstrasi seperti orang tuanya. Para bocah itu diundang berpartisipasi dalam Festival Budaya Anak Pinggiran yang digelar di Tugu Proklamasi.

Tidak selamanya musibah lumpur mendatangkan derita bagi anak-anak yang keluarganya menjadi korban. Pada musim liburan sekolah pekan ini, beberapa anak korban lumpur terpilih mendapatkan kesempatan melancong ke ibu kota gara-gara nasib nahas mereka.

Uplink, organisasi jaringan miskin kota yang selama ini menjadi relawan pendamping bagi anak korban lumpur di Sidoarjo, memfasilitasi membawa anak korban lumpur ke Jakarta untuk sejenak melupakan kesumpekan yang dihadapi di kampung halaman.

Tak heran, saat ditemui kemarin siang, wajah-wajah anak-anak itu tampak ceria. “Ini kali pertama kami ke Jakarta,” kata Slamet Hadi, siswa kelas 6 SDN1 Renokenongo, Porong.

Menurut dia, keluarganya, termasuk ayahnya, Supangat, yang tinggal di pengungsian Pasar Baru Porong juga tak melarang kepergian mereka. “Daripada stres di sana,” katanya, lalu tergelak. Ayahnya juga memberikan uang saku Rp 60 ribu.

Mereka sampai di Jakarta pada Jumat pagi (13/7) dengan menggunakan travel dan berencana pulang Senin sore (16/7). Selama di Jakarta mereka didampingi Didik Mulyono, aktivis Uplink.

Selain Slamet, ikut serta Ninik Urina (lulusan SMP 2 Porong), Ririn Widiningsih (SMA 1 Porong kelas 3), Nanik Nurfatimah (SMP 2 Porong kelas 2), Dian Utami (SMP 3 Porong kelas 1), dan Yursi Khoirudin (SMP Jabon kelas 3). Lalu, ikut juga Handoko (lulus SMA), Heni Widianti (SMA Krembung kelas 3), Desi Dermawan (SMP Jabon kelas 1). Mereka semua adalah warga Desa Renokenongo yang sudah tenggelam oleh lumpur. “Saya pilih anak yang berani bicara,” kata Didik.

Di dalam acara tersebut, selain beraktivitas laiknya anak-anak, seperti menggambar mereka juga mempunyai kesempatan untuk memberikan kesaksian (testimoni) kondisi mereka di atas panggung.

Ninik termasuk yang paling bersemangat. Anak nomor tiga di antara lima bersaudara itu memang tak akan mungkin melupakan lumpur panas yang merenggut kebahagiaannya sekeluarga. Tangan kiri dan kedua kakinya hingga lutut menderita luka bakar. Dia sempat terendam lumpur dan meninggalkan cacat permanen berupa keloid.

“Saya mencoba menyelamatkan diri dan lalu terjatuh,” katanya, mengingat kejadian 3 Desember 2006. Itu karena lumpur mengepung rumahnya pada pukul 05.00.

Di tengah kepanikan itu, dia yang saat itu bergegas pergi mengayuh sepeda terperosok ke dalam lumpur panas. “Sejak itu sampai kini kaki ini tak kuat lagi diajak berdiri terlalu lama,” tuturnya. Dia sempat dirawat di RSU Sidoarjo hampir sebulan.

Romo Sandyawan Sumardi, penggagas yang juga penanggung jawab acara, mengatakan bahwa anak-anak korban Lapindo sengaja diundang karena mereka termasuk kategori pengungsi domestik. Hak mereka atas penghidupan dan pendidikan yang layak tercerabut begitu saja.

Selain dari Sidoarjo, ada 49 komunitas sanggar anak-anak se-Jabotabek yang diundang dalam acara itu dengan jumlah peserta mencapai 2.150 orang.

Mereka tidur dalam puluhan tenda yang dibangun di halaman Tugu Proklamasi. Untuk urusan makan, disediakan panitia sedangkan untuk urusan MCK dipersiapkan beberapa mobil toilet keliling. “Ini murni untuk memberikan ruang bagi anak-anak sehingga mereka merasa tidak menjadi objek dalam permasalahan lumpur ini,” kata Romo Sandyawan.

Bagi anak-anak korban lumpur Lapindo, acara yang mereka hadiri itu memang bagaikan telaga untuk membasuh peluh. Bertemu dengan anak-anak pinggiran usia mereka -misalnya, anak jalanan yang bernasib lebih buruk- juga membangkitkan semangat hidup mereka.

“Ternyata ada yang lebih nggak enak hidupnya,” kata Slamet. Tak ingin lebih lama menderita mereka mendesak Lapindo segera memenuhi hak mereka. (naz)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: