Warga Siring Tolak Data ITS

Minggu, 15 Juli 2007, JawaPOS
Jadi Acuan Klaim Ganti Rugi
SIDOARJO – Proses verifikasi data lahan milik warga korban lumpur Lapindo kembali menghadapi kendala. Kemarin warga Kelurahan Siring, Kecamatan Porong, yang menjadi korban lumpur Lapindo, menolak data dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dijadikan acuan pengajuan klaim ganti rugi.

“Kami merapatkannya sejak tiga minggu lalu. Keputusannya, sekarang kami cuma pakai data berdasar surat pernyataan warga,” tutur Syaroni, warga RT 06 RW 01, Kelurahan Siring. Data hasil pengumpulan tim ITS itu, lanjut dia, banyak yang tidak cocok dengan fakta di lapangan.

Menurut dia, saat pengumpulan data, tim ITS hanya mewawancarai warga korban lumpur tanpa mengukur secara fisik di lapangan. “Warga, kalau ditanya, kan cuma berdasar ingatannya atau keinginannya sendiri,” imbuhnya.

Di bagian lain, Joko Suprastowo, warga Siring lain, menyebutkan data dari tim ITS yang tidak cocok melebihi separo dari yang ada. “Di Siring, yang tidak cocok mencapai 75 persen,” katanya. “Banyak yang dicatat lebih besar daripada kenyataan,” imbuhnya.

Bagaimana tanggapan ITS? Unit Pengkajian dan Pengembangan Potensi Daerah (P3D) ITS yang mengumpulkan data tersebut punya keterangan berbeda. “Yang tidak cocok kurang dari 20 persen. Tapi, itu sudah bisa diklarifikasi dengan warga korban lumpur dan sudah ada titik temu dengan data berdasar pernyataan mereka,” tegas Ketua P3D ITS Dra Agnes Tuti Rumiati MSc.

Agnes menambahkan, tim yang dipimpinnya mampu mengumpulkan data hingga sekitar 10 ribu bidang lahan milik warga korban lumpur Lapindo. Pengumpulan data dilakukan mulai 11 Juli 2006 hingga sebelum pipa gas Pertamina di tol meledak (22 November 2006, Red).

Sepuluh ribu bidang itu, kata Agnes, tersebar di Kedungbendo, Perumahan Tanggulangin Anggun Sejahtera I, Renokenongo, Siring, Jatirejo, Mindi, Pejarakan, Kedungcangkring, dan Besuki. Dia membantah data dari desa-desa tersebut dikumpulkan hanya melalui wawancara dengan warga. “Terutama untuk Siring yang kali pertama tenggelam. Tim kami dibagi dua. Yang pertama mewawancarai warga Siring di pengungsian, lalu tim kedua mengukur di lapangan,” jelasnya.

Meski demikian, Agnes mengakui bahwa tidak semua data yang dikumpulkan timnya akurat. Sebab, kondisi di lapangan tidak memungkinkan semua data dilengkapi dengan hasil pengukuran fisik di lapangan. Terlebih, waktu yang digunakan untuk pengumpulan data sangat terbatas.

“Di antara sekitar 10 ribu data yang berhasil kami kumpulkan, cuma separonya yang tidak dilengkapi dengan data lapangan. Misalnya, di RT 8-16, Desa Kedungbendo, dan Perum TAS I yang di sebelah utara sungai,” ungkapnya.

Karena itu, Agnes juga berkeberatan jika data dari tim ITS itu dijadikan sebagai acuan utama untuk mengajukan klaim ganti rugi atas lahan yang belum bersertifikat dan bangunan yang tidak ber-IMB (izin mendirikan bangunan).

“Masalahnya, sejak awal tidak ada instruksi kepada kami bahwa data itu untuk keperluan mengajukan klaim ganti rugi. Akibatnya, definisi tentang keakuratan data yang diperlukan tidak jelas,” beber Agnes. “Data kami itu cuma bisa sebagai referensi,” lanjutnya.

Ketua Tim Verifikasi BPLS (Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo) Yusuf Purnama mengatakan bahwa penolakan warga Siring itu bisa menyusahkan mereka sendiri. “Sebagian besar lahan milik warga (korban lumpur Lapindo) kan tidak bersertifikat. Rumah mereka juga tidak dilengkapi IMB. Kalau mereka menolak data dari ITS, itu bisa mempersulit diri sendiri,” tandasnya.

Yusuf juga yakin sebagian besar warga Siring dan warga lain korban lumpur Lapindo tetap sepakat bahwa data dari ITS dipakai sebagai salah satu acuan.(sat)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: