Mimpi Anak-Anak Korban Lumpur yang Ingin Terus Bersekolah

RADAR SIDOARJO      Senin, 16 Juli 2007
Tidak Beli Buku Pelajaran, Hanya Catat di Sekolah
Wajah kusut bocah-bocah korban lumpur berubah riang setelah menerima buku-buku dari mahasiswa Unesa Surabaya yang mengajak mereka belajar bersama. Sampai kapan senyum anak-anak tidak berdosa itu mengembang?

DIAN WAHYUDI, Sidoarjo

Kening Ainur Ilmi, 7, mengerut. Siswi SDN Renokenongo 2 Porong itu sedang menyelesaikan soal matematika. Tak berselang lama, wajahnya berubah semringah. Dia lantas menyodorkan selembar kertas putih kepada seseorang di depannya. “Sudah selesai, Mbak,” ujarnya.

Di terpal biru yang digelar di salah satu sudut penampungan korban lumpur Pasar Porong Baru (PPB), Ainur dan puluhan anak korban lumpur usia SD tampak bersemangat. Mereka mengikuti kegiatan belajar bersama yang dilakukan sejak tiga hari lalu oleh mahasiswa Jurusan Kimia Universitas Negeri Surabaya (Unesa).

Pada kegiatan tersebut, tak ada papan tulis, tak ada pula kursi dan bangku. Mereka hanya duduk lesehan dengan hanya berbekal beberapa lembar kertas putih dan pensil. Meski dengan fasilitas serba terbatas, keinginan kuat untuk merengkuh pendidikan tetap terlihat di wajah polos mereka.

Ainur mengaku sempat kesulitan karena selama ini tidak punya cukup buku penunjang untuk belajar sendiri selepas sekolah. Praktis, dia hanya mengandalkan catatan yang didapat dari sekolah. “Buku dan LKS (lembar kerja siswa, Red) mahal. Kata ibu tidak usah beli dulu,” ungkap anak kedua dari tiga bersaudara itu.

Menurut Ainur, ayahnya, Supriono, kini tidak memiliki pekerjaan tetap. Sejak di-PHK dari pabrik jam di Siring, ayahnya kini menjadi tukang batu. “Sebulan ini Bapak tidak kerja. Tidak ada yang membangun rumah sih,” tuturnya.

Biaya sekolah Ainur juga masih menunggak. “Tapi, guru-gurunya baik. Rapor saya kemarin masih diberikan kok,” ujar gadis kecil yang bercita-cita menjadi dokter itu.

Kondisi yang dialami Ainur, menurut Ketua Panitia Kegiatan Belajar Bersama BEM Unesa Defitra, banyak ditemui pada anak pengungsi lain di penampungan PPB. Selama beberapa hari berinteraksi langsung dengan anak-anak korban lumpur, dia menyatakan cukup khawatir pada kelanjutan belajar mereka. “Kelanjutan pendidikan mereka terancam. Rata-rata berawal dari masalah biaya,” ungkapnya.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sidoarjo M.G. Hadi Sutjipto mengatakan akan membantu sepenuhnya anak-anak korban lumpur yang tidak mampu bersekolah. Namun, tidak semua siswa digratiskan. Siswa yang tinggal di pengungsian dan termasuk keluarga tidak mampu akan dapat keringanan. “Tidak semua korban lumpur miskin sehingga tidak semua diberi keringanan,” ujarnya.

Sutjipto meminta sekolah-sekolah negeri tidak menarik biaya yang memberatkan para korban lumpur. Itu pun setelah ada pertemuan antara wali murid korban lumpur dan komite sekolah. Jadi, yang menentukan dana partisipatif adalah komite sekolah dan wali murid. Dikkab sudah mengimbau sekolah agar siswa korban lumpur dikenai biaya seringan-ringannya.

“Untuk siswa korban lumpur yang termasuk keluarga kurang mampu, kami minta biaya sekolah seringan-ringannya,” ujarnya. (*)

Iklan

One Response to Mimpi Anak-Anak Korban Lumpur yang Ingin Terus Bersekolah

  1. agus berkata:

    Kepada seluruh warga yang terkena bencana anda lulusan STLA ( SMA,SMK,MAN Paket C) kami memebrikan kesempatan kuliah beasiswa untuk orang-orang yang mendapat musibah tetapi terbatas hanya untuk 20 orang silahkan hubungi agus di 02168943243 atau 08522014141414, Insya Alloh kami akan segera membantu untuk biaya perkuliahan dengan sistem KULIAH BEASISWA Peduli Putra Bangsa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: