Pengungsi Korban Lumpur Lapindo Terancam Diusir

Sidoarjo – Pemkab Sidoarjo masih belum melakukan langkah-langkah “pengusiran” pada warga korban lumpur yang masih bertahan di pengungsian Pasar Baru Porong (PBP). Meski sebelumnya Bupati Sidoarjo Win Hendrarso memberikan batas waktu hingga 15 Juli 2007 seluruh pengungsi harus meninggalkan PBP, tetapi hingga Senin (16/7) pagi lebih dari 1.600 pengungsi masih bertahan.
Bahkan, jatah makanan pagi untuk pengungsi dari Lapindo Brantas Inc yang dikelola Dinas Kesejahteraan Sosial Pemkab Sidoarjo masih tetap diberikan pada para pengungsi. “Kami siap melawan jika harus diusir dari tempat ini. Sebab tuntutan kami belum dipenuhi oleh Lapindo maupun Pemkab,” kata Bambang Wuryantoyo, Sekretaris Paguyuban Rakyat Desa Renokenongo Menolak Kontrak (Pagar Rekontrak) dihubungi SH, Senin pagi.
Bambang Wuryantoyo bersama warga korban lumpur lainnya saat ini masih berada di home base korban lumpur di Tugu Proklamasi Ja-karta. Mereka menuntut agar dilakukan revisi terhadap Perpres 14/2007 khususnya aturan proses pembayaran ganti rugi cash and carry.
Menurutnya, warga di pengungsian yang semuanya dari Desa Renokenongo tersebut, siap pindah jika tuntutan mereka dipenuhi. Tuntutan tersebut adalah mendapatkan ganti rugi atas tanah dan bangunan mereka yang telah tenggelam dengan uang muka 50 persen. Mereka juga menuntut pengadaan tanah untuk relokasi warga di daerah Kecamatan Pandaan, Kabupaten Pasuruan.
“Hari ini teman-teman di pengungsian masih mendapatkan jatah makan seperti biasa. Aktivitas para pengungsi di PBP tetap berjalan seperti biasa. Kami tidak perlu diusir, jika memang tuntutan dipenuhi, kami akan pindah dengan sendirinya,” tambah Bambang.

Beri Pelatihan
Sementara itu, PT PLN (Persero) Distribusi Jatim merasa prihatin dengan kondisi warga korban lumpur, khususnya pelaku usaha kecil yang kehilangan penghasilan karena usahanya hancur. Karena itu, BUMN penyedia listrik ini memberikan keterampilan pada warga melalui Program Partisipasi Pemberdayaan Lingkungan (P3L) atau community development.
Corporate Speaker PT PLN Distribusi Jatim, Ir Faisal Ashyari mengatakan, pihaknya telah memberikan pelatihan pada 108 warga korban lumpur selama enam hari. Pelatihan meliputi bidang teknisi komputer, tata boga, tata busana, otomotif, lassery dan gulung dinamo.
Ia menambahkan, seluruh biaya pelatihan ditanggung oleh PLN Distribusi Jatim sebagai bentuk Corporate Social Responsibility (CSR). Usai pelatihan, peserta diberikan sertifikat keahlian dan toolkit (peralatan) untuk memasuki dunia kerja.
Di sisi lain, Faisal menyatakan bahwa PLN mengalami kerugian besar akibat semburan lumpur ini, karena harus merelokasi gardu induk, jaringan transmisi tegangan tinggi, tegangan menengah dan tegangan rendah, tiang listrik, trafo, bahkan kantor unit pelayanan. (chusnun hadi)

Copyright © Sinar Harapan 2003

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: