BPLS: Lumpur Mungkin Berhenti

RADAR SIDOARJO      Kamis, 19 Juli 2007
Geolog Anggap Masih “Katanya”
SIDOARJO – Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) menyatakan bahwa semburan lumpur mulai turun, bahkan bisa berhenti. Debit lumpur dari pusat semburan turun dari sekitar 100 ribu meter kubik menjadi 80 ribu meter kubik per hari. Namun, geolog mempertanyakan hal itu karena tidak disertai metode pengukuran yang valid.

Menurut Deputi Bidang Operasional BPLS Sofyan Hadi, kemungkinan bahwa semburan lumpur bisa berhenti dalam waktu dekat sangat besar. Kondisi di pusat semburan memang terus menunjukkan kecenderungan yang positif. “Kenapa tidak? Hal itu sangat mungkin kok,” ujarnya.

Debit lumpur panas, kata Sofyan, saat ini mencapai sekitar 80 ribu meter kubik per hari. Perkiraan tersebut memang baru didasari dari pengamatan secara kasat mata. “Untuk angka pastinya, saya masih belum bisa memastikan,” katanya.

Dia berharap, tren penurunan semburan akan terus berlangsung hingga beberapa waktu ke depan. Jika hal itu terjadi, bukan tidak mungkin semburan lumpur akan berhenti. “Setidaknya mengecil, seperti referensi yang terjadi di Kalanganyar, Sedati, atau yang lain,” jelas Sofyan.

Selama ini, lanjut geolog dari UPN Veteran Jogja itu, masyarakat telanjur percaya bahwa lumpur baru dapat berhenti sekitar 31 tahun lagi. “Masyarakat keburu percaya tanpa berusaha untuk tahu lebih dulu awal munculnya penghitungan tersebut,” jelasnya.

Sofyan menilai, perkiraan seperti itu muncul disertai sejumlah asumsi dan batasan. Batasan yang ada yaitu, cadangan lempung di dalam tanah sebanyak 1,1 miliar, semburan lumpur rata-rata seratus ribu meter kubik per hari, dan tekanan semburan konsisten pada besaran volume semburan tersebut. “Kalau kondisinya berbeda, tentu penghitungan matematikanya akan berubah. Contohnya, ya saat ini,” katanya.

Meski BPLS menyatakan debit lumpur turun, kondisi tanggul cincin dan sekitarnya tetap mengkhawatirkan. Hingga kemarin (17/7), beberapa kali tanggul yang terbangun setinggi 19 meter itu mengalami overtopping. Pagi kemarin, lumpur di kolam penampungan utama tumpah.

Juru Bicara BPLS Ahmad Zulkarnaen menyatakan bahwa secara bertahap kondisi kritis akan diminimalkan dengan terus dilakukan perbaikan sistem pengaliran lumpur ke Kali Porong. “Sekarang, itu memang masih dibahas oleh tim ahli,” ujarnya.

Zulkarnaen mengakui, pembahasan masalah-masalah teknis di BPLS belum bisa cepat selesai. “Selain butuh pembahasan matang, energi kami banyak tersedot di masalah sosial,” ungkapnya.

Sementara itu, geolog independen Andang Bachtiar menilai bahwa pernyataan BPLS tersebut terlalu terburu-buru. Sebab, sejak zaman Timnas (Tim Nasional) sampai BPLS, perhitungan itu hanya berdasar pada asumsi kasar.

Andang mengatakan, Timnas dan Lapindo sendiri menyebut bahwa metode untuk menentukan volume semburan adalah mengukur kecepatan aliran semburan lumpur.

Setelah diketahui kecepatan aliran semburan lumpur, tingkat keenceran (viscositas) lumpur dan penampang kawah dapat ditentukan volumenya. “Tapi, seharusnya itu dilakukan dengan menyebar di banyak titik. Sementara yang dilakukan selama ini hanya pada titik yang mereka anggap (semburannya) paling tinggi,” beber Andang.

Selain itu, pengukuran harus dilakukan setiap hari. “Yang jadi pertanyaan, apakah mereka melakukan pengukuran seperti itu setiap hari? Kalau saya tanya, mereka cuma bilang, katanya seperti itu. Nah, kalau cuma berdasar katanya, apa bisa itu dianggap sebagai data yang valid?” katanya. (dyn/sat)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: