Perjuangan Perempuan Korban Lumpur Bangkit dari Keterpurukan

RADAR SIDOARJO      Kamis, 19 Juli 2007
Buat Kue dan Kerupuk untuk Hilangkan Stres
Perempuan korban lumpur mulai bangkit. Bermodal dari dana kas pengungsi, 12 perempuan korban lumpur di Penampungan Pasar Porong Baru (PPB) membuka usaha produksi makanan. Mampukah mereka eksis?

DIAN WAHYUDI, Sidoarjo

Berbulan-bulan tinggal di pengungsian tanpa kepastian, mengakibatkan hidup Yuli Rahmawati, 32, tak normal lagi. Seperti halnya pengungsi korban lumpur lain, Yuli dan keluarganya harus rela hidup dengan serba terbatas lebih dari tujuh bulan. Bersama suami dan dua anaknya, Yuli juga harus rela berbagi dengan yang lain.

Yuli stres berat. “Bagaimana tidak. Semua harus antre dan berdesak-desakan. Kehidupan yang saya jalani sekarang tak pernah terbayang sebelumnya,” ujarnya.

Stres makin parah karena mereka tidak punya aktivitas selama mengungsi. Sejak Agustus 2006, saat lumpur menghantam desa mereka, warga Renokenongo RT 2 RW 1 jadi pengangguran. Yuli pun demikian. Sebab, Pabrik Kerupuk Candi Jaya di Kelurahan Siring, tempatnya bekerja, tenggelam. “Setiap hari, saya tidak tahu harus apa,” katanya.

Tekanan batin mereka mulai berkurang. Sejak Sabtu (14/7) lalu, para perempuan -khususnya ibu-ibu- memulai usaha produksi makanan kecil di pengungsian. Dengan modal awal hanya Rp 400 ribu dari pinjaman di kas pengungsian, mereka membuat kue kering, antara lain, kue nastar, larut keju, dan larut cokelat untuk dijual.

Tiap tiga ons kue yang dikemas secara sederhana dengan kemasan plastik itu dijual Rp 15 ribu. Hingga kemarin (17/7), kue-kue tersebut hanya dijual kepada orang yang datang ke lokasi pengungsian. “Kendala kami memang modal dan pasar,” ungkap Purni Asih, 32, salah seorang pengungsi yang ikut menjalankan usaha itu.

Yuli berharap, ada sejumlah pihak yang nanti bersedia membantu untuk memasarkan produk kue dari para perempuan korban lumpur tersebut. “Sebab, selain bisa menambah penghasilan, yang lebih penting, kami punya kegiatan yang positif,” papar perempuan yang pernah menjadi pedagang buah di Pasar Porong Lama tersebut.

Senada dengan Yuli, Asih menyatakan bahwa sejak usahanya terpuruk setahun lalu, dia lebih banyak menganggur. “Karena tak banyak kegiatan, pikiran saya makin hari makin buntu,” tuturnya.

Upaya ibu-ibu di pengungsian itu memang pantas ditiru. Selain kue kering, mereka menjual jahe instan dan kunir asam instan buatan mereka. “Kami juga jual kerupuk puli dari sisa jatah nasi yang termakan,” tambah ibu tiga anak itu.

Menurut Asih, kemampuan ibu-ibu di sana tak lepas dari pelatihan yang mereka ikuti dua minggu lalu. Pelatihan dari PT PLN Persero Distribusi Jatim yang bekerja sama dengan Badan Latihan Kerja Usaha Kecil Menengah (BLKUKM) Bojonegoro banyak memberikan inspirasi kepada mereka. “Semoga kegiatan sejenis terus berlanjut agar ibu-ibu juga makin banyak kegiatan,” harapnya.

Salah satu dorongan yang dia harapkan adalah efektivitas penyaluran dana bantuan Rp 10 M dari Presiden SBY beberapa waktu lalu. Sebab, menurut Ketua Pelaksana Dana Bantuan Hariyadi Purwantoro, pemberdayaan usaha perempuan akan lebih diperhatikan dalam penyaluran dana. “Arahan presiden sendiri memang sudah seperti itu,” jelasnya.(*)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: