Bantuan Rp 10 Miliar Diributkan

RADAR SIDOARJO      Kamis, 26 Juli 2007
SIDOARJO – Pemkab Sidoarjo bingung menyalurkan bantuan presiden Rp 10 miliar untuk korban lumpur. Bantuan itu terus diprotes, baik oleh warga maupun kalangan LSM.

Pemkab berencana memanfaatkan bantuan tersebut untuk pemberdayaan usaha perempuan, kegiatan unit simpan pinjam, pembukaan lapangan kerja, dan pendidikan keterampilan bagi masyarakat.

Namun, rencana tersebut menghadapi banyak tentangan. Sekitar 300 warga Desa Renokenongo, Kecamatan Porong, kemarin meminta dana itu dicairkan tunai. “Intinya, kami minta bantuan Rp 10 miliar dari presiden dibagi rata dalam bentuk uang seperti bantuan Rp 1 miliar sebelumnya,” jelas Nanang Achdiat, salah seorang warga. Saat itu setiap korban lumpur mendapat Rp 300 ribu.

Alasannya, kata dia, pemanfaatan bantuan dengan model pelatihan dan sebagainya bisa memunculkan kecemburuan. Sebab, tidak semua warga tersentuh program itu. “Kami tak ingin bertengkar hanya karena bantuan tersebut,” ujar Nanang.

Persoalan pemanfaatan bantuan itu telah disorot tajam sejumlah kalangan. Karena merasa gerah, salah satu LSM yang akan dilibatkan sebagai pendamping, yaitu Centre Participatory for Development Indonesia (CePAD Ind) akhirnya memutuskan mundur. “Kami tidak enak disorot seperti itu. Akhirnya kami putuskan tidak akan terlibat,” jelas Kasmuin, koordinator CePAD Ind, kemarin.

Sementara itu, upaya penanggulangan kemacetan di Jl Raya Porong dengan membuka jalur alternatif butuh dana besar sekitar Rp 3,6 miliar. Jalur alternatif tersebut berada di desa sekitar luapan lumpur, tepatnya, di sisi timur.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Bina Marga Sidoarjo Bambang Joelianto menjelaskan, peningkatan jalan desa di sisi timur Jl Raya Porong dilakukan agar dapat dilalui mobil penumpang kelas ringan. Bambang mengaku sudah mengajukan anggaran itu ke Pemprov Jatim. “Tapi, sampai hari ini (kemarin, Red), saya kok belum dengar ada respons,” katanya.

Peningkatan jalan yang dapat dilakukan dengan dana tersebut, lanjut Bambang, hanya meliputi overlay (perkerasan) badan jalan selebar sekitar 3-4 meter dengan panjang antara 4-5 kilometer. “Ini tidak mungkin melebarkan badan jalan. Itu butuh pembebasan lahan yang dananya jauh lebih besar,” tuturnya.

Untuk arah Sidoarjo-Porong, jalur alternatif yang menjadi sasaran rencana peningkatan jalan tersebut mencakup jalan desa di Pasar Ngaban, Tanggulangin. Kemudian, jalur itu diteruskan ke Desa Sentul, Renokenongo, Besuki, dan masuk ke bekas jalan tol Porong-Gempol Km 39.

Selanjutnya, terus ke arah Gempol. Sedangkan, dari arah sebaliknya, tetap melalui jalur yang sama. Hanya saja, exit-nya diarahkan ke perlintasan KA di Desa Kalitengah. “Sebab, kalau dibuat dua arah dalam satu jalur, bisa terjadi kemacetan,” tuturnya. (dyn/sat)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: