PT Minarak dan Warga Disumpah

Kamis, 26 Juli 2007,JawaPOS
SIDOARJO – Berlarut-larutnya pembayaran ganti rugi akibat perbedaan data luasan bangunan yang diajukan korban lumpur Lapindo dan PT Minarak Lapindo Jaya (Minarak), pembayar ganti rugi, akhirnya coba diatasi lewat sumpah. Bertempat di Pendapa Kabupaten Sidoarjo, sekitar 500 orang warga Perumahan Tanggulangin Anggun Sejahtera (TAS) I menjalani sumpah, kemarin.

Pada acara yang awalnya dipandu oleh budayawan Emha Ainun Najib itu, bukan hanya warga korban lumpur yang disumpah. Tapi, juga para pimpinan PT Minarak. Bahkan, sebelum warga, Direktur Operasional Minarak Bambang Prasetyo Widodo adalah orang pertama yang diambil sumpahnya.

“Pada prinsipnya, Minarak akan membayar klaim sesuai dengan (data) yang diajukan warga (korban lumpur Lapindo),” ujar Bambang Prasetyo Widodo yang akrab disapa Wiwid di hadapan warga Perum TAS I yang memadati pendapa.

Atas permintaan Emha –yang merangkul pundak Wiwid saat membuat pernyataan itu-Wiwid mengulang kata-katanya dua kali. Sontak, hadirin lalu membalas dengan menggemakan takbir. “Allahu akbar,” seru para hadirin.

Emha pun menimpalinya. “Iku mau sumpah opo duduk (Itu tadi sumpah apa bukan),” tanya Emha kepada hadirin. “Sumpah,” jawab mereka . “Amin. Disaksikan Allah disaksikan Rasulullah. Apakah ak Wiwid sedih atau gembira mengucapkan itu?” kata Emha kepada Wiwid. “Oh, ternyata bergembira,” ujar kiai mbleing tersebut setelah mendapat isyarat dari Wiwid.

Prosesi sumpah itu kemudian dilanjutkan dengan pengambilan sumpah warga. Namun sebelum hal itu dilakukan, Emha memberikan wejangan. Dia mengatakan bahwa pengambilan sumpah itu adalah solusi terakhir untuk memecahkan masalah penentuaan luasan lahan nonsertifikat dan bangunan tanpa IMB. Data yang diajukan warga itu yang akan dijadikan dasar untuk membayar ganti rugi.

Kepada warga, Emha menegaskan jika mereka tidak jujur dalam mengungkapkan data maka sanksinya langsung datang dari Allah. “Allah sudah hadir. Dan Rasulullah juga hadir untuk menyaksikan sumpah yang panjenengan (Saudara) lakukan. Untuk itu, apa yang saudara ucapkan hari ini akan menjadi tanggung jawab saudara kepada Allah,” kata Cak Nun, sapaan akrab pria yang menjadi fasilitator para korban lumpur Lampindo.

Mendapat peringatan seperti itu, sejumlah warga TAS I yang ikut menjalani prosesi sumpah, tampak buru-buru meralat data yang mereka tulis di atas selembar surat pernyataan di bawah sumpah. Selanjutnya, mereka kembali mengikuti jalannya upacara hingga tuntas.

“Sebenarnya warga tidak keberatan untuk disumpah dan mengisi data sesuai dengan yang benar, asalkan Lapindo atau Minarak juga disumpah agar melunasi sisa pembayaran yang 80 persen. Tapi, itu tadi Lapindo sudah disumpah,” tutur Suwardi, warga blok I6 Perumahan TAS I.

Setelah memberikan wejangan, budayawan asal Jombang itu pun memimpin ratusan warga tersebut untuk membaca Surat Yaasin dan beberapa surat lainnya. Saat membacakan Surat Yaasin, terlihat beberapa ibu warga korban lumpur tak kuasa menahan linangan air matanya.

Cak Nun lalu memberikan kesempatan kepada pemuka-pemuka agama untuk mengambil supah warga di hadapan dirinya dan Bupati Win Hendrarso, serta Ketua BPLS (Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo) Soenarso. Yang pertama kali menyumpah adalah pemuka agama Kristen, lalu Katholik, Budha, Hindu, dan Islam.

Usai sumpah diucapkan, belasan anggota Kyai Kanjeng (grup musik hadrah yang dipimpin Cak Nun, red), langsung mengumandangkan lagu-lagu solawat. “Tapi ini bukan yang terakhir. Selanjutnya akan dilaksanakan prosesi yang sama. Warga akan disumpah secara bertahap,” ujar Cak Nun.

Sementara itu, prosesi sumpah terhadap 500 warga Perum TAS I kemarin digelar dalam dua tahap, pagi dan siang. Prosesi pagi hari diikuti sebanyak 250 orang yang dipandu langsung oleh Cak Nun. Sedangkan 250 orang lainnya akan disumpah pada siang hari, dipimpin oleh pemuka agama dari Depag Sidoarjo.

Sumpah itu sendiri akan dilakukan kepada sekitar 2 ribu warga korban lumpur yang akan terus digelar hingga 1 Agustus. Sebagian besar mereka adalah warga Perum TAS I. Sedangkan sisanya berasal dari Kelurahan Siring, Jatirejo, Renokenongo, dan Kedungbendo.

Prosesi sumpah itu terpaksa ditempuh, lantaran data luasan bangunan yang dinyatakan warga korban lumpur berbeda dengan hasil verifikasi BPLS yang menggunakan acuan hasil verifikasi Tim ITS.

“Saya sangat gembira dengan dilakukannya sumpah ini. Sehingga antara kita (PT Minarak) dan warga bisa segera melakukan transaksi berlandaskan kejujuran,” papar Bambang Prasetyo Widodo saat dikonfirmasi usai prosesi sumpah. (sat)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: