Kisruh, Bantuan Rp 10 M dari SBY Di-Pending

Jumat, 27 Juli 2007, JawaPOS, SIDOARJO – Karena polemik terus muncul, penyaluran bantuan Rp 10 miliar dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) untuk korban lumpur akhirnya di-pending. Tak hanya itu, dana yang diserahkan SBY saat berkunjung ke Sidoarjo sebulan lalu itu juga terancam dikembalikan.

Menurut Ketua Tim Pelaksana Penyaluran Bantuan Presiden Hariadi Purwantoro, pembekuan sementara bantuan tersebut dilakukan karena masih banyak pro-kontra di masyarakat soal mekanisme penyaluran. Seharusnya, bantuan mulai disalurkan akhir Juli ini.

“Kami akan merumuskan format baru yang lebih akomodatif,” jelas Hariadi yang juga menjabat asisten II Pemkab Sidoarjo itu. Menurut dia, dalam format baru nanti, sangat mungkin jumlah dana bantuan-langsung diperbesar.

Sebelumnya, sebagian besar dana bantuan tersebut dialokasikan untuk sejumlah kegiatan pelatihan. Nilainya lebih dari Rp 3 miliar. Anggaran untuk bantuan modal dan bimbingan pengelolaan keuangan perkoperasian sekitar Rp 5,9 miliar. Sisanya digunakan untuk biaya lain-lain, seperti biaya pemetaan dan pendampingan.

Selain itu, fokus garapannya adalah pemberdayaan usaha perempuan. Alokasi dana dan desain program seperti itulah, yang memancing kritik sejumlah pihak.

Menanggapi hal tersebut, Bupati Sidoarjo Win Hendrarso mengakui, keinginan mengembalikan dana itu muncul dari sejumlah stafnya. Mereka mengalami kesulitan untuk memenuhi keinginan masyarakat yang bermacam-macam.

“Tapi, saya minta tim bersabar dulu dan berembuk lagi dengan stakeholder (pihak-pihak terkait, Red),” ujarnya. Sebab, tambah Win, dana tersebut bisa sangat membantu korban lumpur untuk bangkit dari keterpurukan.

Sementara itu, anggota Komisi III DPR Ahmad Fauzi setuju penyaluran bantuan di-pending. Perlu dibuat dulu formulasi baru penyalurannya. “Tapi, saya juga sempat meminta setidaknya setelah Hari Raya Idul Fitri nanti bantuan bisa disalurkan,” katanya.

Kepada bupati, Fauzi meminta bantuan untuk korban lumpur dari presiden tetap disalurkan. “Saya tadi berpesan, jangan sampai bantuan itu dikembalikan,” tandas politikus dari Partai Demokrat itu. Kalau bantuan tersebut dikembalikan, kata Fauzi, artinya bupati tidak mampu menjalankan amanat.

Mengenai target penerima bantuan, Fauzi menyatakan sangat tidak setuju jika bantuan itu diprioritaskan untuk pemberdayaan perempuan. Sebab, menurut dia, kalau disalurkan untuk pemberdayaan perempuan, bantuan itu tidak akan merata ke seluruh korban lumpur. “Waktu bertemu bupati, saya ingatkan lagi bahwa dana itu harus digunakan untuk pemberdayaan korban lumpur, bukan pemberdayaan perempuan,” tegasnya. Jadi, tambah dia, pemkab harus merumuskan format baru agar bantuan itu tepat sasaran.

Bagaimana soal permintaan sejumlah kalangan agar bantuan itu dibagikan secara tunai kepada korban lumpur? Fauzi tidak setuju. “Ibarat memberikan sesuatu, lebih baik memberikan kail daripada ikan,” jelasnya. (dyn/sat)

Iklan

2 Responses to Kisruh, Bantuan Rp 10 M dari SBY Di-Pending

  1. dwi berkata:

    Wah…uang sumbangan koq ya diributkan.
    Jadi tidak salah donk kalau warga sampai saat ini masih meributkan hak atas tanah dan kehidupan yang sudah hilang oleh LUSI…
    Yang merasa Leader….hayo tunjukkan leadership anda.

  2. Syawal berkata:

    wah daripada pak sby nya nyumbang 10 M mending di lakukan dengan tangan sendiri jangan pake birokrasi ntar kelamaan, nantinya uangnya dah berkurang, >>>>

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: