Endapan Lumpur di Kali Porong Makin Tebal

Sabtu, 28 Juli 2007  20:22:00
Sidoarjo-RoL– Badan Penanggulangan Lumpur Sidorjo (BPLS) mulai melakukan pengerukan sedimen lumpur hasil pembuangan luapan lumpur Lapindo Brantas Inc. dari “spillway” (saluran pelimpah) ke Kali Porong Sidoarjo yang sudah menumpuk, Sabtu.

Pengerukan itu dilakukan karena ketinggian endapan sudah sangat tebal dan mengakibatkan Kali Porong mengalami pendangkalan, utamanya di areal yang berada di dekat spillway di Desa Pejarakan Kecamatan Jabon.

Berdasarkan pantauan di lapangan, luasan endapan tersebut mencapai radius sekitar 25 meter dari pipa pembuangan lumpur spillway. Petugas BPLS menempatkan satu unit eskaponton di Kali Porong untuk mengeruk endapan tersebut.

“Baru upaya itu yang bisa kami lakukan untuk mengurangi endapan lumpur yang terjadi di Kali Porong, tepatnya di bawah saluran pipa pembuangan spillway. Ini terus dilakukan sambil menunggu musim penghujan datang,” kata Humas BPLS, Ahmad Zulkarnaen.

Menurut dia, sedikitnya debit air di Kali Porong membuat upaya penggelontoran cukup terkendala. Saat ini debit air di Kali Porong prosentasenya lebih banyak dipakai untuk air minum PDAM serta saluran irigasi.

“Air yang mengalir ke Kali Porong debitnya sedikit dan tidak cukup untuk dilakukan penggelontoran,” kata Zulkarnaen.

Lumpur Kian Pekat
Sementara itu, lumpur panas yang keluar dari pusat semburan, beberapa hari ini mulai ada perubahan yakni bertambah pekat, karena kandungan air yang biasa menyertai lumpur panas mulai berkurang.

Akibat kurangnya debit air itu membuat kesulitan tersendiri untuk kelancaran mengalirkan lumpur ke spillway. Beberapa eskavator long arm yang ditempatkan di kanal lumpur dan berfungsi mengaduk serta mengarahkan lumpur ke spillway tidak berfungsi maksimal.

Selain itu, dua unit pompa jenis Toyo yang ditempatkan di pond pengendali (intake) tidak bisa berfungsi maksimal, karena pasokan air dari Kali Porong ke pond intake yang bertujuan untuk mencairkan lumpur agar bisa disedot dan dibuang langsung ke Kali Porong tidak bisa dilaksanakan secara maksimal pula. Hal ini, karena debit air Kali Porong sedikit.

Humas BPLS, Ahmad Zulkarnaen mengakui, kondisi seperti ini membuat pihaknya bekerja lebih keras agar lumpur tetap bisa diarahkan ke selatan pusat semburan menuju ke spillway.

“Bila hal itu tidak dilakukan maka lumpur justru akan mengendap dan semakin menambah permasalahan lagi. Apapun caranya kami berusaha agar lumpur tetap bisa lari atau mengalir ke selatan (spillway) dan diteruskan pembuangan ke Kali Porong,” tambahnya. antara

abi

Iklan

10 Responses to Endapan Lumpur di Kali Porong Makin Tebal

  1. ompapang berkata:

    perasaan atawa hati yang mengendap agar pikiran menjadi jernih mang Ipin , kompak juga !

  2. mang Ipin berkata:

    He..he..he ,begitu pagi nongol dikantor ogut langsung ngebet pengin ngebuka blog warkop nya Pak.Dhe ….eehh ternyata dah banyak masukan2 dari yang diharapkan oleh
    bung Usil alias dari Om Papang,karena terus terang ya Om kalo satu hari aza gak ada
    masukan dari Om Papang rasanya diskusi gak lengkap,…… so ini sich harapan kita2
    seandainya si Om and Pak.Dhe gak keberatan alangkah baiknya tiap hari ada ulasan
    alias pencerahan baik dari Om Papang or Pak.Dhe????????? ogut yakin bung Usil akan gumbira menyambutnya…..Iya khan bro!!!!!!!!ngomong2 masalah Emongsi yang harus kita kendalikan dalam hal kasus Lusi tsb, benar sekuaali Om coz walaupun
    kita sangat meng-gebu2 memberikan masukan/usul/ide yang seyogianya akan sangat
    banyak membantu bapak2 yang berkompeten untuk masalah Lusi tsb………ya tapinya
    gak ada yang perhatian ,barangkali nasihat/pencerahan dari Om Papang diatas patut kita simak dengan hati yang JERNIH!makasih banyak ya
    Om , lam kompak selalu

  3. ompapang berkata:

    sik sik Mang Ipin, nyimpang dari Topik, ada pelajaran yang dapat dipetik dari Lusi, yaitu bahwa tindakan atau perbuatan manusia itu didorong pleh EMOSI dan PIKIRAN. Emosi dan pikiran itu bercampur menjadi satu seperti lempung dan air menjadi LUMPUR. EMOSI ibarat LEMPUNG(padat) nya,sedang AIR adalah ibarat PIKIRAN manusia. Jadi manakala EMOSI dan PIKIRAN manusia masih berujut lumpur yang pekat dan keruh, maka TINDAKAN/PERBUATAN manusiapun akan didorong oleh sesuatu yang keruh.Namun, apabila EMOSInya diendapkan terpisah dengan PIKIRAN seperti terpisahnya lempung (padatan) dengan air, maka TINDAKAN/PERBUATAN manusia akan didorong oleh PIKIRAN yang JERNIH sejernih air dari lumpur yang sudah mengendap material padatnya. Nah, oleh karena itu mang Ipin jangan keburu EMOSI, endapkan dulu LUSI, eh EMOSINYA nya,biar PIKIRAN menjadi JERNIH ……. he3X.

  4. mang Ipin berkata:

    Yup…Yup…..Pak.Dhe kulo hanya orang awam yang sangat concern dengan kasus LuSi
    wis berjalan 14bulan namung belum ada solusi yang gak mubazir dalam penanganan
    nya????????trial and error teruuuuuus!!!!!!!!!!!!!!!!!moso para pakar yang terlibat
    dalam team penanggulangan tsb gak punya data2 yang essential tsb yo Pak.Dhe?????
    peringatan kasus meledaknya Pipa Gas Pertamina kalo gak salah sudah diwarning ber
    kali2 bahkan seminggu sebelumnya masih ada yang memberikan peringatan wanti2
    agar masalah Pipa Gas tsb sangat urgent untuk dijadikan “top priority”…..eehhh malah
    akhirnya memakan 13Korban jiwa secaras sia2?????????? opo tumon??????????
    apa gak ngenas melihat ada yang kecebur kedalam danau LuSi secara sia2 lagi?????
    mbuh !

  5. Rovicky berkata:

    Sik Sik Mang Ipin,
    aku hanya menduga kalau, sekali lagi kalau apa yang ditulis ompapang bener. Saya tidak melihat laporan adanya penurunan jumlah air atau pengentalan material lumpur yang berkurang sih.

    Data dari hari-kehari yang saya usulkan dahulu semestinya bisa diplot untuk melihat dinamika dari semburan yang tercermin dalam debit, kualitas lumpur, slow subsidence dari pengukuran geodetik dll. Tentusaja tidak hanya satu aspek (pengentalan) saja.

    Dugaan ini harus diverifikasi dengan data lain. Jangan buru-buru tapi jangan lengah 🙂

  6. mang Ipin berkata:

    Met pagi Pak.Dhe,Om Papang, Bung Usil, Dek Inyo, dan sohib2 lainnya di warkop blog
    masalah LuSi, uraian Pak.Dhe mengenai JEDA waktu aliran air dari Bogor ke Jakarta
    membutuhkan waktu s/d 3jam karena elevasi ketinggian kota Bogor dpl dibanding dgn
    kota Jakarta hanya +- 10 derajat saja,seperti yang sudah diketahui bahwa keluar
    nya si LuSi disamping adanya tekanan air dari perut bumi juga adanya gas yang turut
    keluar…….jadi asumsi Pak.Dhe diatas mengenai akan mulai terjadinya periode subsidence/amblesan,dan masukan Om Papang mengenai volume si LuSi apakah dari
    faktor debit air kemarau/penghujan…..so dapat ditarik kesimpulan bahwa memang akan
    terjadi amblesan/subsidence dalam waktu yang dekat sehubungan dengan daya dorong keatas sudah semakin mengecil!!!!!!!!!!!!! ogut mengaharapkan agar yang
    berwewenang dalam hal ini BPLS meningkatkatkan kewaspadaannya dalam masalah periode akan terjadinya amblesan tsb,jangan sampai ada lagi korban2 jiwa sebagai
    akibat ketidak perdulian masalah subsidence ini!!!!!!!!!biarlah pelajaran tempo lalu
    pada waktu Pipa GAS Pertamina meledak tidak akan terulang kembali!!!!!!! salam

  7. dobelden berkata:

    Yaang jelas… kasihan warga porong…. :nohope:

  8. Rovicky berkata:

    Seandainya dugaan Ompapang benar, saya memperkirakan akan terjadi periode amblesan. Tekanan air berkurang berarti daya dukung juga berkurang. Tekanan akan meningkat lagi ketika load atau beban diatasnya tidak ada yg menahan.

    Air yang berkurang bisa saja karena influx berkurang, tetapi sangat mungkin ada delay atau jeda waktu dari air masuk dan keluarn. Air yang lewat permukaan di bogor sampai jakarta ada delay hingga sekitar 2-3 jam. Di bawah permukaan (lewat pori-pori batuan, delay atau jedanya bisa beberapa bulan looh.

  9. ompapang berkata:

    kalau lumpur makin pekat berarti semburan air makin kecil tekanannya atau persediaan air hampir habis. Kalau persediaan air tidak tergantung curah hujan,maka ada kemungkianan semburan sudah anti klimaks dalam arti akan terus menurun debitnya. Tetapi kalau kepekatannya berkaitan musim kemarau yang jarang hujan, boleh jadi akan membesar lagi dimusim hujan nanti.

  10. TeDi berkata:

    iseng baca-baca tulisan pakdhe yang lama disini jauh sebelum pak irawan membuat design tanggul V :
    http://rovicky.wordpress.com/2006/10/09/membuang-lempung-ke-laut-gimana-ya/
    ternyata terbukti bahwa mengalirkan lumpur itu bukan hal yg praktis, pasti mahal dan justru menebar masalah.
    salut pakde

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: