ITS Kenalkan Metode Alirkan Lumpur Bukan Lewat Kali Porong

06/08/07 18:38 Surabaya (ANTARA News) – Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya memperkenalkan metode baru untuk membuang aliran lumpur di Porong, Sidoarjo, namun bukan dialirkan lewat Kali/Sungai Porong seperti selama ini.

Metode baru yang dinamakan “Balance Energy” itu diperkenalkan Tim Penanganan Lumpur Permukaan dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) ITS Surabaya, Senin.

“Metode itu cukup sederhana dan tidak akan memakan biaya operasional yang terlalu besar, karena metode itu memanfaatkan kekuatan atau energi di pusat semburan lumpur untuk mendorong aliran lumpur yang akan dibuang,” ujar anggota tim ITS, Prof Dr Ir I Made Arya Djoni MSc.

Selain itu, katanya, peralatan yang dibutuhkan untuk mengalirkan lumpur ke lokasi pembuangan juga hanya pipa baja sepanjang 4.000 meter dengan diameter sekitar 42 inci.

Menurut dia, energi dari pusat semburan nantinya digunakan mendorong lumpur masuk ke dalam pipa yang dipasang tepat di pusat semburan dan ditanam satu meter di bawah permukaan tanggul kolam penampungan (pond).

“Setelah lumpur berhasil masuk ke dalam pipa, air lumpur itu akan dengan sendirinya mengalir megikuti kelandaian tanggul yang ada hingga akhirnya menuju ke wet land (area tambak),” tuturnya.

Jadi, katanya, tidak perlu lagi menggunakan pompa untuk mendorong aliran lumpur, karena dengan sendirinya akan mengikuti gravitasi bumi ke tempat yang lebih rendah.

“Nantinya, area pembuangan aliran lumpur itu diusulkan ke area tambak (wet land) seluas 4.500 hektar yang berada di sebelah timur pusat semburan. Saat ini, sekitar 10 hektar area tambak itu masih merupakan hunian, sedang sisanya lahan tambak,” tegasnya.

Oleh karena itu, katanya, harus dipikirkan untuk memindahkan penghuni yang ada. “Kami sengaja tidak mengusulkan pembuangan ke laut, karena khawatir terjadi pasang surut air laut yang akan berpengaruh pada aliran pembuangan dan juga diperkirakan kekuatan dorongan aliran tidak bisa sampai menuju laut,” paparnya.

Ia menegaskan bahwa penampungan aliran lumpur di wet land itu diperkirakan bisa bertahan hingga 10-15 tahun mendatang dan untuk selanjutya perlu dipikirkan lagi lokasi pembuangan lainnya.

“Penggunaan pipa baja untuk mengalirkan lumpur itu karena mampu membantu mempertahankan ketinggian suhu lebih lama, sehingga suhu pada pusat semburan lumpur yang diperkirakan mencapai 120 derajat celcius itu hanya turun sekitar 1,5 derajat celcius setiap mengalir sepanjang 1,5 kilometer,” ungkapnya.

Dengan kondisi suhu yang masih tinggi, katanya, berarti kepadatan lumpur bisa ditekan dan aliran bisa mencapai lokasi pembuangan dengan baik.

“Metode itu memang sekilas hampir mirip dengan yang dikenalkan tim dari Jepang kepada tim Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) belum lama ini, namun metode dari Jepang harus menggunakan pompa untuk mendorong air yang mengalirkan lumpur ke lokasi pembuangan, sehingga dibutuhkan biaya Rp3,5 miliar per hari,” ucapnya.

Ia berencana mempresentasikan metode baru temuan LPPM-ITS itu kepada tim BPLS, karena itu pihaknya akan mengajukan surat ke BPLS guna minta izin melakukan presentasi dan juga minta data lapangan yang dibutuhkan lebih lanjut.

Tim yang dikoordinasi Dr Tantowi Ismail itu membawahi tujuh anggota, termasuk ketua LPPM ITS Surabaya, Prof Ir I Nyoman Sutantra MSc PhD. Tim itu akan terus melakukan kajian untuk menyempurnakan metode baru itu. (*)

Copyright © 2007 ANTARA

Iklan

41 Responses to ITS Kenalkan Metode Alirkan Lumpur Bukan Lewat Kali Porong

  1. mang Ipin berkata:

    Plol..plok..plok, aplus tuk bantuan jawban dari Om Papang, bukannya jurus ngelit bung
    Usil tapi memang seyogianya qta harus menyerahkan pada pakarnya…iya nggak bro.
    abisnya yang punya hajat aza sdh divonis agak sulit tuk 7jawaban?kalau boleh ogut
    usulkan sama team BPLS agar pakai alat sonar yang dapat ngintip kedalam sumur
    LuSi tsb,supaya kita semua jadi tahu apa gerangan dengan si HDCB
    setelah sekian bulan kok gak ngirim berita dari dalam ??? apa sudah jadi bubur or pada
    nyangkut dimana?????sedikit masukan mungkin berguna sekiranya mau mengontak
    konsorsium dari China yang sedang ngebangun jembatan SURAMADU,ada memakai
    alat sonar tsb..barangkali dapat disewa or pinjam?????lam kompak selalu from Aa

  2. ompapang berkata:

    Pak Usil, aku sudah ngebantu ITS njawab pertanyaan pak Otnaidah no 3,4,5,6, 9 dan 10, demikian jawaban kami, selanjutnya waktu dan tempat saya kembalikan kepada MC. terima kasih !

  3. usil berkata:

    Mang Ipin! sori banget kalo jatanya seabreg-abreg. Sebetulnya itu
    sudah disesuaikan dengan bakat terpendam yang usil lihat! Eh, ternyata
    jurus berkelitnya jempolan punya tuh!

    He he mang Ipin, diatas si Om bilang: “MARATON? keciiiil!” Aduh mak!
    bener2 tenaga BANTENG, gak sangka aku!
    Sudah gitu nulis nada, RE…MI….SY….LA….DO… kalah si Oma Irama dong!
    Aku jadi curiga, waktu nulis kayaknya dia lupa pake kaca mata tuh!

    Kembali pada 12 pertanyaan pak Otnaidah diatas.
    Menurut usil, paling tidak ada 7 pertanyaan yang gak bakal terjawab oleh
    tim ITS. Tapi sapa tahu mereka juga punya partner di tim yang punya
    pengalaman lapangan kayak si Om. Maka ceritanya tentu lain lagi.

  4. usil berkata:

    tok……..tok……..tok………apa ada orang?

    GEDEBUK….GEDEBUK….GEDEBUK…..

    eh, kayak ada suara karapan kebo lagi rally?

    BUKAN LAUTAAAAN HANYA KOLAM SUSUUUUUUU….

    eh bukan, ternyata ada orang yang lagi ngaji, eh keliru ….nyanyi!

    ???

  5. ompapang berkata:

    Mang Ipin, kompak selalu! Yang memberi mandat kepada pak Usil kan Pak dhe, founding father blog ini, lagian Pak Usil sudah menerima beslit sebagai pemandu sorak, lha kok kembali ke Om lagi . Yang bener…Mang Ipin !
    Pak Inyo, HDCB sudah tamat riwayatnya, tinggal sejarah yang menorehkan kegagalan anak manusia melawan bencana alam yang diakibatkan ulah sesamanya.Jadi HDCB saat ini entah dimana, apakah sudah bablas atau sudah hancur jadi bubur seperti yang om pernah tulis, atau slingnya sudah putus karena korosi. Lubangnya saja sekarang kan besar sekali. Diawalnya sih ompapang membayangkan HDCB menari-nari seperti gaya bertinju Mochamad Ali. tapi sekarang, keadaan sudah berkembang,situasi sudah berubah, HDCB tinggal nama alias almarhum.
    Kembali ke PIPA, kalau lubang memang bisa dimasuki dan BPLS bisa mendapatkan cara memasukkan pipa kedalam lubang, sampai 500 meter saja, saya kira yang keluar lewat pipa berupa lumpur lebih encer atau bahkan air jernih, sebab tidak ada material
    padat yang terangkut/terseret keatas, kalau sudah demikian, maka lumpur diluar pipa akan otomatis mengendap dan pada gilirannya nanyi akan ikut menahan/mengurangi
    subsidence. Sukur-sukur bisa masuk 1000 meter, mungkin hasilnya lebih sempurna dan ITS silahkan melanjutkan ide ‘balance energy’nya untuk mengalirkan air tersebut kemana menurut pendapat mereka yang tepat, sebagai penyelesaian masalah atas permukaan. Sedang bawah permukaan kan sudah tak bantu dengan cara diatas. Silahkan ITS lanjut !

  6. inyo berkata:

    OmPapang, akan masukin pipa stainless ke lubang semburan…..? gimana perilaku HDCB skr? klo bener spr yg Om ceritakan( maret 9th,2007 at 12.21 pm) “me-nari2 spt gaya tinju moh. Ali”, lha kalo suatu
    saat “Tinju’an” tsb ngena’in ujung pipa/bawah khan terjadi rambatan getaran ke seluruh badan pipa, diding2 tanah diluar badan pipa akan terusik/rentan kmd sedikit demi sedikit turun kebawah tapi di bawah sana ada gerakan hidrodinamik yg mengakibatkan tanah2 tsb kemabali terangkat ke permukaan… lumpur muncul lagi donk…!
    semantara itu jika “ditinju” bukan cuma sekali tapi berkali-kali dan terus-menerus lubang diluar badan pipa(diding tanah) akan semakin lebar…pipa yg Om buat meluncur
    kebawah hilang…!!….wah “ambles2…”: teriak pak Alpindo 😦

  7. mang Ipin berkata:

    Merdeka!!! …menjelang detik2 hari raya Proklamasi mari kita lupakan sejenak semua
    beban penderitaan tapi qta belajar lagi nyanyian Indonesia Raya versi Om Papang :
    1/.Dapat mandat dari Bung Usil tuk ngejawab pertanyaan Mas.Otnaidah sebanyak 9 item ? maka sebagai orang timur yang selalu mengkedapankan rasa hormat??? dengan
    ini dengan legowo memberikan kepada yang lebih senior!!! yaitu siapa lagi…kalo bukan si Om Papang……jadi resmi mulai HARI ini 9 item dari Bung Usil sudah tak kasih kepada Om Papang.
    2/.Duuuh pilu dan mereras sekali hati ini membaca kisah P.Alpindo dan Kel,walaupun
    sudah tinggal di lahan tambak plus hidup gak neko2 masih aza kena “gusur”, apa ini
    bukan yang namanya orang asing di negeri sendiri?????.
    3/.Berani bertaruh bahwa ide para Pakar/Doktor dari team ITS adalah nyontek blue
    print dari ide RIrawan cs…iya nggak bro?????coman di persulit alias di permahal dgn
    pakai pipa baja stainless dia 42″ dari pada pakai material yang disarankan suanget
    ekonomis ……karena gak ada UUD nya??????.
    4/Nyambung no.3 …Kalau bisa dipersulit kenapa dibuat mudah????? slogan nee yeee!
    yaitu akibatnya P.Alpindo dll harus tergusur dari tempat nenek moyangnya sudah ting
    gal ratusan tahun silam???kenapa gak ngikuti ide Kanal V langsung dibuang ke laut saja???????jawab kenapa?????? mbuh!!!!!
    5/.Mau tahu jawabannya….jangan kasih tahu yang lain ya!!!!!! karena kalo sudah dpt
    solusi permanen dalam penanganan bung Usil ….eeeh sorry bro maksud ogut yaitu si
    LuSi binti LulA….maka sudah selesai lahan untuk mendapatkan pesta bagi2 fulus???
    tak iyeu cak!!!!!
    6/.Last but not least kata si Om Papang???Common Mistake di Negri tercinta ini bukan hanya dalam menyanyikan Indonesia Raya saja…..namuuun dalam segala aspek kehidupan teruuuuus aza dipelihara!!!!!! apa iya yaaah???????
    Lam kompak selalu sohib tercinta.

  8. ompapang berkata:

    eh,pak Usil, cara nyanyi Indonesia Raya 3 kuplet menurut PP no.44 Th1958 (tak jabel,bukan PPno.5 1958 !) dari 3 refrein, yang dinyanyikan 2 X (ulangan) hanya pada refrein terakhir (ke 3). Tapi kalu hanya menyanyikan 1 bait seperti yang biasa dilakukan dalam upacara -upacara sekarang, kita harus membaca refrein 2 X.
    Btw, saya jadi ingat saat mengikuti seminar di hotel Ambarukmo Yk 20 tahun yang lalu ( 1987 ), dalam rangka DIES Keluarga Mahasiswa Teknik Sipil (KMTS) FT UGM,dimana disitu hadir Bapak Aburizal Bakrie sebagai pembicara dari perusahaan BAKRIE dan kebetulan saya duduk berdekatan dan sempat ngobrol dengan Bapak Adi Sarwoko (yang sekarang jadi sekretaris BPLS.). Pada saat pembukaan hadirin menyanyikan lagu Indonesia Raya dipimpin seorang mahasiswi. Namun …, ha ..ini yang masih kuingat, lagu Indonesia raya dinyanyikan hanya i bait, tetapi refrein hanya dinyanyikan 1 X sebagai penutup lagu. Dan ternyata, ditempat dan waktu yang lain pada beberapa acara (misal di Kampung), saya menjumpai kesalahan yang sama. Rupanya menyanyikan Indonesia raya dengan 1 X refrein sudah menjadi COMMON MISTAKE in singing Indonesia Raya. Semoga setelah 62 tahun Indonesia Merdeka putri-putri Pak Usil dapat menyanyikan Indonesia Raya dengan benar dan tidak GUMUNAN seperti Bapak ROY SURYO ahli telematika kita. MERDEKA !!!

  9. ompapang berkata:

    Pak Usil, ndinginkan otak, ayo nyanyi Tiada Seindah HARI INI, kelak kalau LUla sudah finis, kita nyanyi Indonesia Raya 3 Stanza /kuplet /bait. Caranya yang mungkin bener menurut PP5Th1958 : Setelah Bait pertama diikuti dengan refrein I dimana refrein I ini dinyanyikan 2 X. Lalu bait kedua dengan refrein cukup 1 X , selanjutnya bait III disusul yang terakhir refrein III dinyanyikan 2 X dengan irama melambat pada ulangan refrein III sebagai penutup. Ayo ambil suara pak Usil : do …..sol……dol !!!

  10. a_otnaidah berkata:

    Cocok mang Ipin dan teman2 blog semuanya. Salam kompak slalu, buat pak Alpindo ama temen2 nya senasib ga berdaya, cuma bisa nrimo dan berharap. Cantik banget dikisahkan oleh pak inyo. Mereka cuma harepin ada orang pinter yang tulus. Punya cara yang jitu buat menangani musibah gara2 keserakahan orang2 gedean. Udah berat banget beban penderitaan mereka, makanya lusi bin lula ini jangan lagi dijadiin panggung nyari untung, nyari kesohor, nyari pamor, trial & error mulu, bikin metode sok hebat pake istilah2 ilmiah tapi isinya kosong. Uda waktunya kalo bukannya udah amat terlambat, para pajabat penguasa yang berwenang musti serius, kerja yang masuk akal dan efektif. Mosok cuma ngabisin duit ninggiin tanggul mulu? Ntar musim ujan ya ambyar total. Dari blog ini udah ada konsep kanal-V pake rumus ama itungan kumplit angka2nya. Ya mbok dikaji dan dipelajari gitu ama profesor2 universitas se Indo ini. Kalo memang konsep kanal-V itu sahih dan akurat, ya mbok segera dilaksanakan guna menangani pembuangan lumpur ke laut, ato ditampung dulu sementara ditambaknya tim ITS. Ngapain ikutan getol bikin ide2 yang masih mentah.

  11. usil berkata:

    Usil janji….HARI INI….terakhir. ctt: gak ada yang boleh menggoda ya??
    Karena terakhir HARI, maka semua mesti dapat jatah.

    Mas Giusty:
    Conveyor itu sudah ada yang ngusul, tapi baiayanya mahal sekali.

    Mas Prem:
    Aduuh, koq irit sekali sih! Apa mas Prem gak kuatir kita dicap kurang
    patriot? Mas Prem cara cementingnya didalam lumpur panas gimana(#@*)
    Kalo betonnya dibuat pracetak, mesti nyewa chinook dong…he2x
    ctt: memang sih gak ada tanda (?) nya diatas, tapi ya……ehmm!

    Ompapang:
    ALKAPONE? ini pasti godaan, gak ah! Om itu senangnya kalo usil
    diomelin tetangga sebelah, kayak kemarin itu, wuuuuuu!

    Ya? sayang!! ini yang terakhir………………………………………………………….HARI ini

  12. Preman berkata:

    Ok, saya coba terima Lelang nya pak Usil. Karena jatah saya satu, jadi saya hanya jawab satu saja :

    4. Lubang kawah udah 70 m, gimana cara masukin lumpur 100% ke pipa?
    Caranya masukin 100% ke pipa ya harus ditutup atasnya bisa dgn beton misalnya
    , sehingga lumpur tidak meluber dan pasti melewati pipa.

    Karena jatah cuma satu, tidak boleh ada pertanyaan lanjutan dan lain-lain.

    Pak Usil ini memang selalu setia di Blog ini (lihat saja di kolom Diskusi Anda isinya Usil melulu…)
    Mungkin karena : USIL, kalau L nya diletakkan di depan jadi : LUSI. Nah ternyata Usil ini memang jodohnya LUSI sejak dahulu kala, makanya lengket terus…..

  13. Giusty berkata:

    Bagaimana kalau pakai conveyor untuk memindahkan lumpur?
    seperti yang di pakai di pengisian batu bara ke kapal tongkang.
    untuk biaya yang timbul aku nggak bisa ngitung.

  14. ompapang berkata:

    Pak Inyo & Pak Usil, ini aku punya ide berkaitan dengan penggunaan pipa baja oleh ITS.Tapi sebetulnya komen saya ini lebih tepat untuk diskusi bawah permukaan. Begini, untuk mencegah material padat terangkut keatas oleh semburan AIR dari dalam sana, bagaimana kalau kedalam lubang dimasukkan pipa stainless steel yang tahan karat dan tahan gesekan dengan diameter kira-kira setengah meter. Bila ternyata kedalam lubang semburan dapat dimasukkan pipa tersebut secara sambung menyambung menjadi satu, ITULAH INDO….., eh kleru, maka apabila bisa mencapai kedalaman 500 meter saja, berarti sudah dapat mengamankan erosi tanah setebal 500 meter, selanjutnya berarti dapat mencegah/memperlambat amblesan disekitar lubang semburan. Lha kalau sampai 1000 meter kan lebih bisa mencegah amblesan ? Nantinya yang keluar dari pipa diharapkan hanya air melulu, sehingga metode ITS bisa dilanjutkan implementasinya dilapangan tanpa dihantui penegendapan dan pengorbanan mata pencaharian Pak LAPINDO. eh ALKAPONE kleru lagi…, maksud saya ALPINDO.Itu kalau lubangnya bisa dimasuki pipa !!

  15. usil berkata:

    Koreksi 1.98…/dt seharusnya 1.9277../dt

  16. usil berkata:

    SETUJU!!!!!!!!!!!!!!!!!
    Memang pak Inyo, terkesan institusi2 itu hanya sepelekan ide yang ada
    diblog ini. Faktanya, ide disini ada hitungannya. Sedangkan mereka tidak.

    Dulu waktu HDCB, tim mereka sendiri yang menghitung, kecepatan turun
    ‘kelerengnya’ mereka adalah 30m/dt. Sedangkan hitungan orang ‘awam’
    diblog ini (RIrawan) adalah 1.98…./dt
    Fakta dilapangan 2m/dt

    OmPapang bilang: Siapa yang lebih punya nyali?

  17. inyo berkata:

    P. Usil, metode dr kawan2 ITS itu khan skr msh dlm tahap pengenalan dan akan dikaji lebih lanjut.., btw utk menangani proyek bencana, aspek teknik dan non tekniknya khan hrs dipikirkan, kedua aspek tsb hrs balance dulu…baru “done”, lha klo diantara kedua aspek tsb ternyata ga balance apa mau nekat diteruskan ?? sy ini sekedar kasih input utk dikaji, apa bener ga ada alternatif lain (klimaks) shg hrs meneggelam/korbankan lahan penduduk ??
    – coba dikaji metode “balance energy/ITS” dg “Kanal-V/IRiawan utk mendapatkan solusi yg terbaik
    Setuju…??

  18. usil berkata:

    Ha?? pak Inyo! prosa diatas kalo dibaca tim ITS, mereka bisa gregetan!!
    Tambah gak diberikan etung2annya….yeeee!

  19. inyo berkata:

    ini cerita fiktif utk Renungan : “SUN SET” di RAWA LUMPUR
    Alkisah Pak Alpindo (seorang penjaga tambak di porong) merenungi nasibnya diatas tanggul penahan lumpur, sembari menatap dengan
    “pandangan kosong” ke Gedung Sekolah anaknya yg tinggal kelihatan atapnya saja, hari itu sudah sore, matahari sedikit demi sedikit menghilang
    seakan-akan ditelan oleh ganasnya semburan lumpur, dalam lubuk hatinya dia berkata “Ya Allah sebenarnya saya tidak mengharapakan sesuatu yg “lebih”,
    saya “wong cilik”, keinginan saya hanya berharap pasrah: “tanah leluhurku ini bisa kembali sediakala seperti sebelum terjadi bencana, …temtrem..adem-Ayem…”
    ceritanya 3 hari sebelum Pak Alpindo ke tanggul tsb. di pagi harinya dia kedatangan tamu( Juragan, si pemilik tambak yg dijaganya),
    boss tsb dtg diantar sopirnya kelihatan buru2, dengan langkah cepat dia menghampiri Pak Alpindo:
    ” Tumben bos, pagi2 datang kesini..ada apa ya ?” sapa Pak Alpin akrab
    “Ya Pak Al..sengaja saya akan menyapaikan langsung kabar ini ke kamu, awal bulan depan kamu dan anak istrimu harus pindah dari tempat ini
    karena sumua tambak plus rumah disini akan dipakai utk tempat penampungan lumpur”. sedang saya sendiri minggu depan harus cepat2 ke luar negeri selama2 bulan
    “Waduh….? lha trus saya, istri dan anak saya mau tidur dimana bos, wong rumah saudara2 sy juga sudah “klelep”, semua?” tanya pak alpin terheran-heran.
    ” Gini aja Pak Al,… utk sementara, biar nanti Pak sopir yang nyarikan rumah kontrakan buat kamu, utk biaya hidup dan sekolah anakmu…minta saja ke “nyonya(istri bos)”
    Pak alpin “manggut2″…kmd bospun pergi….
    Pak Alpindo adl sosok “Wong cilik” hidupnya sangat bersahaja, tidah macem2, kelebihanya hanya bisa berharap, “manut” dan “pasrah”, dia tidak kenal planning + scedule masa depan, yg dalam benaknya hanya terpikir “hari ini berusaha utk bisa kasih makan dan menyekolahkan anaknya”.
    Kasihan sekali nasib Pak Al…,
    – akankah beliau2 “para pengambil kebijaksannan/keputusan” TEGA menenggelamkan mata pencaharian/sumber hidup sehari hari mereka yg sudah ditekuni secara turun temurun ??
    – akankah ditempat yg baru nanti, mereka bisa menemukan kembali pekerjaannya sesuai dg keahlian yg mereka miliki ??

  20. usil berkata:

    Ada yang bilang ‘ngelantur’…….ini mah gam*paaaang*
    Yang merasa punya elmu MISTIK, silahkan jawab! usil gak punya.

    Tapi ini serius, dulu ada yg protes, KEBANYAKAN INTERMEZO, makanya
    sekarang kembali ke Rap-Top…..tuh kan? keseleo lagi, Om sih!

    Ke 12 pertanyaan keramat dari pak a_otnaidah, jika terjawab, akan
    menentukan sukses tidaknya tim ITS. Kalo tim ITS sungkan memberi
    tahu etungan mereka, mari kita ‘lelang’ saja 12 pertanyaan tsb di blog ini.
    Seumpama masing2 kebagian sbb:
    Usil = 1 nomor
    pak Prem = 1 nomor
    pak Inyo = 1 nomor
    mang Ipin = 9 nomor
    mbak Hime & omPapang = ….kehabisan?? ya sudah, merangkum saja!

  21. mang Ipin berkata:

    Yuuup bung Usil, abdi mhn dihampura atuh,janji dech gak bakal bolos2 lg..tapi hadiah
    nya zangan digenti Bebek Amoy ahh,itu Aa estafet ke Om Papang aza ya!ke 12 per-
    tanyaan yang cukup berbobot dari Mas Otnaidah qta salurkan saza ke
    team ITS yang punya hajatnya…setuju nggak bro???? monggo para pakar team ITS
    untuk memberikan pencerahannya….lam kompak selalu

  22. usil berkata:

    Mang Ipiiiiiin! begimana ini, minggu lalu libur 2 hari, lalu kemarin juga.
    Ntar lagi ada pilkada RT/RW, libur lagi 3 hari……..teganya!
    Kalo begini terus, tak lapor pak Dhe, agar kado untuk mang Ipin gak usah
    bebek peking, tapi bebek amoy aja dah… (^_^)

    Ha?? pak a_otnaidah(hadianto?) sudah lama gak muncul! sekali muncul
    langsung ‘cari perkara’. Ke 12 pertanyaan diatas itu, keramat lho pak!
    Pertanyaan seperti itu berpotensi bikin huru-hara, tapi juga sekali-gus
    menggelitik ‘menantang’ dan HARUS dijawab. Siapa mo mulai? monggo…

  23. mang Ipin berkata:

    Met pagi dulu sohib2ku…maap kemarin ogut ikutan Pilkada dan kebagian jadi saksi
    buat ngetung2 hasil coblosan….so absen dah seharian gak lari ke-mana2 kok ,coman
    ya terlewatkan diskusi “Energy Balance” dari para pakar ITS ntu kemarin!!!ogut harap
    sedikit masukan sebagai urun rembug mengenai pencerahan dari para ahli dapat kita
    renungkan dengan Fikiran dan Hati yang JERNIH …itu nasihat dari kita punya Pen-
    dekar senior alias si Om papang…..iya gak bung Usil? btw sedikit pengalaman ogut dalam proses CTT yang sering terjadi yaitu kasus dimana
    pipanya sering mengalami sumbatan akibat proses aliran air panas,karena adanya Kalsium/Kapur yang mengerak dan menempel pada dinding pipa,jangan lupa itu hanya
    aliran AIR saja tetap lama kelamaan akan ada penyumbatan….seperti Question dari
    bung Usil ….sekiranya terjadi penyumbatan disebabkan si lumpur yang mengendap dan
    timbulnya pengerakan ….apakah pipanya harus dibelah??????sangat bijaksana sekali
    disamping biaya yang lebih hemat dengan Metode memakai Kanal V -Kaskade dari para bloger kita sebelumnya,karena Technical System podo wae yaitu bermaksud agar
    si LuSi binti LuLa dialirkan kesatu tempat agar gak liar meluber ke-mana2!!!!iya khan
    bro????sekiranya para pakar ITS dan pihak BPLS mau mengundang para pencetus
    ide memakai Kanal V untuk bersama urun rembug hal tsb alangkah Indahnya damai itu
    …….kata2 spanduk yang pernah ogut lihat…..lam kompak all

  24. a_otnaidah berkata:

    Wadoh aku liat, ide tim its ini malah bikin segunung pertanyaan. Katanya dari tim ahli Institut Teknologi ternama ama profesor2, tapi kok sama sekali kaga ada rumus, itungan dan kaga jelas alur logikanya?
    1. Mana itungannya yang ngejamin lumpur ngalir nyampe ke 4000 m?
    2. Berapa elevasi ato beda tinggi antara hulu ke hilir pipa 4000 m itu?
    3. Apa jaminannya padatan lumpur gak mengendap dipipa?
    4. Lubang kawah udah 70 m, gimana cara masukin lumpur 100% ke pipa?
    5. Gimana cara nyalurin energi dari pusat semburan untuk mendorong lumpur di pipa?
    6. Gimana cara memaksakan tekanan dari pusat semburan bisa ngalir ke pipa?
    7. Apa maksudnya “balance energy” itu?
    8. Kenapa pake pipa baja 42” (diameter 107 cm) yang mahal? Berapa tebalnya?
    9. Kalo mengendap dan buntu, gimana ngebersihinnya? Dibelah kayak usulannya pak usil?
    10. Baja apaan yang bisa tahan lumpur ama sulphur/belerang pada suhu 120 der-C? Padahal buanyak mesin dan pipa2 yang dipasang sebelumnya udah pada ancur dan keropos?
    11. Darimana angka 1,5 derajat penurunan temperature setiap mengalir 1,5 km? Apa sama ketika terik panas siang atau malam atau saat hujan?
    12. Berapa kecepatan aliran yang diprediksikan? Mana itungannya?

  25. ompapang berkata:

    walau 64 tahun, belum pernah balancing & spoering lho Pak Usil, nggak bakalan ‘semi’rodanya. Tapi fly wheel ( roda gila ) mesinnya PaK Usil rasakan sendiri pusingannya ! Endurance sanggup, drag race juga siap. Btw, rally ? keciiil !! Meski tua , kalau lari seperti KARAPAN BULL di Madura Ha 4 X

  26. kangtutur berkata:

    Lumpur itu terus mengalir bagai tutur yang ngelantur 😆

  27. usil berkata:

    Eh Om, kalo urusan Balance Sheet dan Income Statement, gampang itu!
    Kalo usil gak bisa, percuma dong SMEAnya. Tapi BALANCE yang satu ini,
    MAMA MIA!!!
    Jelas hanya buyut2 dari Opa Bern….mampu to? salah satunya, ya..si
    ‘broer’ yang umurnya sekarang usil taksir 63/64 thn itu, maar tetap fit to?

  28. ompapang berkata:

    Saya yakin pak Usil bisa ngetung “balangce energy” soalnya pak Usil sudah familier dengan “Neraca debet kredit” do ? Btw, selamat datang dibelantara impian pak Preman di blognya pak Dhe, sebagai teman “JOGELEMAN’nya pak Dhe !

  29. usil berkata:

    OmPapang! kalo ular piton raksasa masuk akal bisa telan benda yang
    lebih besar dari mulutnya. Wong mulut piton bisa melar lueebar eh!
    Lha…mulut pipa baja raksasa (42 inci), mana bisa ‘telan’ mulut lubang
    semburan yang konon diameternya 70m? Caranya bagaimana?
    Belum lagi medianya yang korosi (ada belerang to?), berapa lama pipa
    baja bisa tahan gak karatan?
    Kayaknya project “Balance Energy”nya ITS ini sepertinya gak kelop.

  30. usil berkata:

    Pssst…. pak Prem jangan gitu dong! ini beneran usil gak bisa,
    seluruh dunia blog ini tahu kalo usil bisanya materamal doang….

    Btw, selamat bergabung pak Prem! Belum apa2 pak Prem udah
    bikin semarak disini. Nanti kita rame2 nuntut kado dari pak Dhe.
    Kabarnya sih, bebek peking! Lumayan to?

    Sambutan selanjudnya….dari mang Ipin & omPapang. Silahkan mang/Om!

  31. Preman berkata:

    Hukum matematika, – dan – jadi +

    Usil jelas gak bisa, gak usah ragu itu!

    jadi

    Usil jelas bisa, pasti itu!

    :))

  32. usil berkata:

    Pak Inyo! diatas itu omPapang sudah dapat ‘meraba’ dua sumber
    energi yang menjadi dasar perhitungan DR Tantowi/ITS.
    Saya kira kalo saat ini kita punya data berapa besar tekanan yang
    ada dimulut sumur dan berapa meter elevasi antara mulut sumur dan
    tempat pembuangan. Maka dengan memakai dasar hitungan pak RIrawan,
    mestinya bisa diketahui berhasil tidaknya tim ITS.
    Kalo datanya ada, kita bisa minta bantuan para komentators blog
    untuk menghitungnya. Usil jelas gak bisa, gak usah ragu itu!

  33. Preman berkata:

    Yang penting ingat, jangan sampai gara2 ambles, pipanya bocor dan malah timbul masalah baru. Jika amblesan terjadi, bisa juga pipa yang semula diharapkan mampu mengalirkan lumpur secara gravitasi jadi tidak berfungsi lagi.

  34. inyo berkata:

    wah2… nyambung command OmPapang neh, apa Dr. Tantowi Ismail beserta team ITS. lom baca metode kanal-Vnya Pak IRiawan yah??
    https://hotmudflow.wordpress.com/diskusi/mengalirkan-lumpur-secara-optimal/
    pdhl di metode tsb Pak IRiawan dah wanti2 :
    Lumpur yang keluar dari Banjar Panji 1 tidak dianjurkan dialirkan melalui pipa, karena:
    Lumpur akan mengendap di pipa, jika aliran berhenti atau bersifat laminer.
    Endapan cepat menjadi liat dan keras, sehingga sangat sulit untuk dikeruk atau dibuang keraknya.
    Endapan lumpur akan membuat penyempitan lubang pipa, sehingga aliran menjadi tidak efektif.
    Aliran lumpur menimbulkan geseran besar terhadap seluruh bidang bagian dalam pipa.
    Diperlukan tekanan dan energi yang sangat besar untuk dapat mengalirkan lumpur melalui pipa.
    Padatan lumpur diketahui cepat mengendap. Akibat kohesi molekular, lumpur bersifat dilatant. Artinya, diperlukan tenaga (F) besar guna melakukan gerakan-gerakan mengaduk lumpur, lha tenaga/dorongan tsb oleh Team kawan kita dr ITS khan mo diambilkan dr pusat semburan lumpur itu sendiri, yg jadi pertanyaan adl apakah lumpur yg terlanjur masuk ke dlm pipa(suatu saat bisa terjadi endapan) sepanjang 4000m/diameter 42 inci itu nantinya bisa “ngaduk2” sendiri dg tenaga dorong + mempertahankan suhu dari ujung Pipa/pusat semburan yah??

  35. Preman berkata:

    Iya, betul juga, daripada kali porong nya tersumbat, mendingan dibuang di tambak. Dan dibandingkan ganti rugi utk rumah penduduk, seharusnya lebih murah ganti rugi utk tambak. Siapa tahu jalan raya Porongnya nggak jadi dipindahkan.
    Moga2 kali ini BPLS setuju, supaya bisa segera di implementasikan.

  36. usil berkata:

    OmPapaaaaang!!! jangan diforsir tenaganya, pelan2 aja dulu.
    Ingat kesehatannya, jangan sampe ada batuk/pilek beberapa hari
    kedepan….bakal runyam urusannya!
    Lagian mang Ipin lagi ngacir kemana ya? Olala!

  37. Salut tetapi lebih salut lagi segeri dibuktkan!

  38. ompapang berkata:

    Pak Usil, dalam metode ini kalau dicermati ada 2 sumber energi yang dipakai, yairu dari tekanan lumpur sewaktu keluar dan gravitasi sesudah lumpur masuk kedalam pipa. Pertanyaannya pertama : Apakah bentuk aliran semi horisontal yang ada didalam pipa diameter 42 in(1m) itu, apakah menurut penampang penuh atau sebagian (didalam pipa masih ada rongga diatas permukaan lumpur. Kalau masih ada rongganya, pengaruh gravitasi sangat diandalkan,tetapi mungkin rongga akan dipenuhi uap yang bertekanan sehingga bisa-bisa akan mengurangi efektifitas tekanan yang mendorong lumpur dari bawah permukaan tanah. Kalau penuh pengaruh gravitasi mungkin tak terlalu signifikan.
    Namun hambata aliran karena gesekan dengan dinding pipa sepanjang 1,5 km mungkin juga akan mengurangi gaya dorong semburan,sehingga kecepatannya menurun yang pada akhirnya akan menyebabkan pengendapan dan last but not least , menurut pak Usil pipa akan DIBELAH, seperti membelah perut ular pithon raksasa yang menelan manusia.
    Berhubung sifat lumpur berbeda dengan cairan GULA, AGAR-AGAR ataupun JELLY panas yang peka terhadap perbedaan suhu, maka pertanyaan kedua : apakah perlu analisis penurunan suhu ini dimasukkan dalam pertimbangan teknik pelaksanaan. Sebab kalau suhu lumpur turun hingga 50 derajat ,viskositas tak berbeda jauh, berbeda dengan ketiga cairan yang saya sebut diatas.

  39. usil berkata:

    Yaaaaa?? komputer usil rusak!!
    Menurut katanya teknisi, baru bisa dibetulin awal September.
    nyesel aku…..ngintip keblog jadinya lewat warnet.
    Warnetnya gak sedia keyboard lagi, payah!!!

  40. usil berkata:

    OmPapang! tolong jaga kesehatan, jangan sampe libur ya??
    Ingat Om, Yo Ko masih lama munculnya. Padahal Liehiap Hime
    ngkali udah balik ke Fuji sana. Mate aku!!!

  41. usil berkata:

    Nah ini dia metode hebat dari Dr Tantowi Ismail. Kalo tim pak Tantowi
    bisa uraikan disini hitung2annya. Usil gak akan ragu ‘MEMIMPIN dan
    MELURUSKAN’ barisan Tayhiapnya agar bisa memberi bantuaqn analisa,
    kalo diminta!

    Sebelum para Tayhiap turun gunung, biar usil yang mulai:
    1. Kenapa harus pipa baja? kalo lumpur mengendap dalam pipa, gimana
    ngatasinya? Usil jawab sendiri: gampang, pipa baja dibelah!
    2. Apa iya suhu hanya turun 1.5 derajat, setelah mengalir 1.5km?
    3. Bagaimana kalo turunnya suhu lebih besar dari 1.5 derajat, mengingat
    jika suhu turun, maka viskositas cairan naik dan sesuai dengan teori
    Bernoulli, pengendapan makin cepat!

    Segitu dulu, nanti disambung kalo ada ‘perlawanan’……ehhhhm!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: