Liku-Liku Korban Lumpur Mengurus Berkas Ganti Rugi 2

RADAR SIDOARJO      Sabtu, 11 Agt 2007
Mulai Uang Transpor hingga 20 Kali Beli Meterai
Keawaman warga korban lumpur Lapindo dalam proses administrasi berkas ganti rugi menjadi makanan empuk para oknum. Mereka menjadi korban praktik pungutan dan pembelian kelengkapan berkas.

HARI sudah beranjak sore. Di seberang gedung eks Kantor BTPN (Bank Tabungan Pensiunan Nasional) di Jl Sultan Agung 19, Sidoarjo, Nurhasim, 53, terlihat sedang menyerahkan empat lembar Rp 1.000-an kepada penjual rokok. “Rokok Inter (Gudang Garam International, Red),” sebut dia. Lembaran uang tersebut terlihat lusuh. Mirip penampilannya yang terlihat capai.

Nurhasim adalah petani korban lumpur asal Dusun Balongkenongo, Desa Renokenongo, Kecamatan Porong. Rumahnya 198 m2 dan berdiri di atas tanah 420 m2. Rumah itu telah terbenam lumpur.

Sore kemarin (10/8), dia mengurus pencairan uang muka ganti rugi atas rumah dan tanahnya di Kantor PT Minarak Lapindo Jaya. “Saya sudah tanda tangan (ikatan jual beli) 20 Juli lalu. Tapi, sampai sekarang, uang (muka)-nya belum cair-cair,” ujarnya dengan gusar. “Sekarang, saya mau menanyakan ke Minarak,” tambahnya.

Bapak empat anak tersebut tidak punya pekerjaan lagi. Sebab, tanah sawah 1.318 meter persegi yang menjadi gantungan nafkahnya terbenam lumpur. “Sertifikat tanah sawah itu diatasnamakan istri saya. Jadi, itu belum bisa diurus ganti ruginya,” tuturnya dengan lugu.

Dia mengaku sudah berkali-kali bolak-balik mengurus berkas. Beli meterai pun, kata Nurhasim, dia lakukan hingga 20 kali. Bahkan, meterai yang mestinya hanya Rp 6 ribuan dijual Rp 10 ribu. “Lha wong bolak-balik salah,” paparnya sambil mengingat-ingat. Padahal, uang muka 20 persen dari sawah dan rumah sekitar Rp 143 juta pun belum cair.

Tidak hanya meterai yang membuat Nurhasim jadi korban pungutan liar (pungli). Dia mengaku harus mengongkosi warga yang menjadi koordinator korban lumpur. Dengan dalih uang transpor untuk mengurusi proses pencairan, dia beberapa kali merogoh koceknya sebesar Rp 5 ribu. “Tapi, nggak banyak sih. Paling, sekitar 4-5 kali, saya mengeluarkan uang transpor. Ya nggak apa-apa. Kasihan, mereka wira-wiri,” katanya.

Jika dibandingkan dengan uang ganti rugi yang bakal dia dapat, segala pengeluaran tersebut memang tidak seberapa nilainya. Masalahnya, untuk uang muka ganti ruginya saja tidak kunjung cair, meskipun Nurhasim sudah menunggu selama 22 hari. Dia sendiri tidak punya penghasilan.

“Untuk beli meterai dan sebagainya itu, saya pakai uang jadup (jatah hidup Rp 300 ribu per jiwa per bulan, Red). Untuk menafkahi keluarga saya, saya sekarang harus utang sana-sini,” tuturnya. (satriyo eko putro)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: