Romi Utomo, Perajin Dompet Kedungbendo yang Tak Lekang Digempur Lumpur

RADAR SIDOARJO      Jumat, 10 Agt 2007
Tunggu Ganti Rugi, Tidak Tergiur Banpres Rp 10 M
Jerit dan keluh kesah Romi Utomo, 48, mungkin sudah habis. Namun, cucuran keringat menghangatkan tubuh dan jiwanya untuk terus bangkit. Di tengah hantaman lumpur, pria asal Kedungbendo, Tanggulangin, itu tetap memproduksi dompet dan tas, sumber hidupnya.

RACHMAD S., Sidoarjo

SIANG itu, suasana lengang menutup kain tabir penutup los penampungan korban lumpur di Pasar Baru, Porong. Di salah satu sudut, tampak keluarga Romi Utomo dan tiga pegawainya. Mereka sedang membuat kerajinan dompet dan tas dari kulit.

Gerakan-gerakan terampil mereka sedang beraksi dengan sentuhan pengalaman. Ya, meski dengan peralatan seadanya, dari tangan Romi dkk, dompet-dompet kulit cokelat dan hitam terus mengalir.

Walaupun tampak lelah dan berkeringat, Romi menyambut Jawa Pos dengan sopan. Jawa Pos siang itu bertamu ke tempat tinggal daruratnya di Pasar Porong Baru. “Selamat siang, Mas. Ada yang bisa dibantu?” sambut warga Kedungbendo tersebut. Dia lalu duduk bersila di atas kasur kapuk tua tanpa ranjang. Romi adalah potret seorang di antara ratusan perajin kecil yang kolaps karena lumpur panas.

Romi mulai menceritakan sejumlah hal tentang usaha yang dia geluti. “Sejak saya masih bujang, dompet dan tas sudah jadi kesibukan saya sehari-hari,” katanya. Pria berkumis itu menjelaskan, usaha tersebut dirintis sejak 15 tahun lalu. “Namun, akhirakhir ini, usaha saya kembang kempis. Ya, sejak ada lumpur itu,” paparnya. Dari usaha kecil yang beromzet ratusan ribu hingga jutaan, Romi kini hanya mengantongi Rp 300 ribu per minggu. Itu pun harus dibagi-bagi dengan tiga pegawainya. Penghasilan tersebut diperoleh dari pembuatan 30 lusin dompet.

“Dulu, omzet saya lumayan. Paling tidak, Rp 700 ribu per minggu, ujarnya. Sejak banjir lumpur, Romi hanya mengandalkan dompet. Sebab, tas sangat lesu. Dengan penghasilan yang kecil tersebut, Romi mengaku tidak bisa berbuat banyak. Karena itu, dia memilih bertahan di Pasar Porong Baru. “Saya ada di sini sejak tujuh bulan lalu,” jelasnya.

Seperti warga lain, saat ini, Romi menunggu giliran uang muka ganti rugi 20 persen turun. “Dana tersebut sedang diproses,” paparnya. Setelah itu, dia berencana tinggal di tempat lain yang lebih baik. Dia ingin memulai kembali usahanya dan hidup normal bersama istri dan seorang anaknya.

Romi mengaku mendengar bahwa ada bantuan presiden (banpres) Rp 10 miliar untuk korban lumpur. Informasi bantuan itu diumumkan di Kantor Desa Kedungbendo. Namun, melihat jumlah dana dan jumlah korban lumpur yang sangat njomplang, Romi mengaku tidak ingin berharap.

Yang dia tunggu adalah pencairan uang muka ganti rugi atas rumahnya yang tenggelam. “Saya tidak berharap banyak. Yang penting, usaha saya bisa kembali normal, saya sudah senang,” katanya. Kerajinan tas dan dompet sudah menjadi simbol perjuangan hidup Romi bertahun-tahun. (*)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: