Liku-Liku Korban Lumpur Mengurus Berkas Ganti Rugi (5-habis)

RADAR SIDOARJO      Rabu, 15 Agt 2007
Dapat Giliran Terakhir, Berharap Uang Lapindo Masih Banyak
Perjuangan para korban lumpur untuk mendapatkan ganti rugi benar-benar panjang. Selain korban waktu dan uang, mereka harus bersabar menunggu detik-detik pencairan ganti rugi, yang juga baru uang muka.

“Mudah-mudahan uang PT Lapindo untuk uang muka masih cukup,” tutur Suwardi, bukan nama sebenarnya, korban lumpur asal Kelurahan Siring. Suwardi meminta namanya dirahasiakan karena takut hambatan dalam proses pengurusan berkas yang belum selesai. Dia mengaku punya tiga aset yang tenggelam, yaitu dua rumah dan satu bidang tanah. Satu sudah besertifikat, dua lainnya masih pethok D.

Dia mengaku sempat apatis akan memperoleh uang muka ganti rugi. Apalagi, saat itu Presiden SBY belum menetapkan target pembayaran uang muka harus selesai September mendatang. “Saya sempat malas mengurus. Soalnya, uang muka belum pasti, urusannya panjang,” kata Suwardi.

Begitu ada kepastian tentang pembayaran uang muka, dia mulai mengurus persyaratan verifikasi yang diminta Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS). Untuk yang sertifikat, pengecekan tidak banyak masalah karena cukup datang ke Badan Pertanahan Nasional (BPN) Sidoarjo dan membayar Rp 25 ribu.

Namun, untuk yang berstatus pethok D, urusannya sungguh panjang. Format BPLS mengharuskan ada daftar riwayat kepemilikan tanah dan bukti jual-beli tanah tersebut. Masalahnya, tanah yang dia beli sudah berpindah tangan dua kali. Itu berarti, Suwardi harus mencari pemilik tanah sebelum pemilik terakhir.

“Ternyata, orangnya sudah meninggal. Jadi, saya harus minta tanda tangan empat ahli warisnya,” ujarnya. Itu belum termasuk pemilik terakhir yang kini sudah pindah karena juga korban lumpur. Belum selesai di situ. Suwardi masih harus mencocokkan riwayat tanahnya dengan buku kerawangan (buku peta lokasi tanah) di kelurahan. “Untungnya tidak ada hambatan,” katanya.

Berkas pun diluncurkan ke BPLS. Di BPLS, ternyata berkas itu harus dikembalikan lagi. Sebab, ternyata KTP Suwardi habis masa berlakunya sehari sebelum berkas masuk ke BPLS. Ketika dia menyetorkan KTP baru di tempat tinggal berbeda, KTP itu ditolak. Alasannya, alamat KTP pemilik harus sama dengan alamat rumah yang tenggelam. “Ya saya ngurus KTP lagi,” tambahnya.

Selesai? Belum. Suwardi pun lantas memasukkan lagi berkas-berkas kepemilikan rumahnya ke BPLS Juli lalu. Hingga kini, dia belum menerima panggilan, undangan, atau pemberitahuan tentang kelanjutan uang muka ganti rugi. Dia mendengar ada selisih antara luas tanah dan bangunan dengan luas yang diukur oleh ITS. “Katanya, saya juga ikut disumpah, tapi nama saya kok tidak ada di daftar sampai sekarang,” ujarnya.

Suwardi pun memilih menunggu. Dia yakin, suatu saat toh uang muka ganti rugi atas dua rumah dan tanahnya bakal dibayar. Bahkan, mungkin, karena banyaknya berkas yang harus ditangani BPLS, dirinya bakal mendapat giliran paling akhir. Dia menyatakan akan menunggu. “Tapi, sampai kapan? Mudah-mudahan waktu tiba giliran saya uang PT Lapindo masih banyak,” ucapnya. (fathur rozi)

Iklan

4 Responses to Liku-Liku Korban Lumpur Mengurus Berkas Ganti Rugi (5-habis)

  1. Mas Karebet berkata:

    “Liku-Liku Korban Lumpur Mengurus Berkas Ganti Rugi (5-habis)”
    =================================================

    🙂 Kok habis? Jalan liku-likunya ketemu gang buntu yo Pakdhe? 🙂

  2. mang Ipin berkata:

    Merdeka juga Dek Inyo..and sohib2 yang lain….khan apa ogut bilang sebelumnya….
    Janji..jani ..tinggal Janji????????janjinya siapa ayooooooo!!!!!! bahwa sampai awal
    puasa alias bulan depanseluruh pembayaran halus..eh maaf jadi kelatahan sama si Om papang?..maksudnya ..HARUS.. sudah tuntas..tas..tas ! eeeh jebul malah ada yang sudah sebulan bolak balik ngurusnya masih di pimpong aza!!!! iya gak pak.
    Suwardi….moga2 saja harapan P.Suwardi sama dengan harapan para RKL yang lain
    yaitu bila waktu pembayarannya sampai..maka fulusnya LBI masih ada??????????
    karena semua juga sdh pada faham kalo dapat dipersulit kenapa harus dipermudah???
    akhirnya menjadi suatu slogan/moto agar orang lain yang memerlukan bantuan biar
    pada kebelingsatan dulu…habis memang sudah wataknya kalo gak bikin orang lain su-
    sah yang gak happy????mbuh!!!!!!

  3. inyo berkata:

    Klo P. Suwardi jelas blom “MERDEKA”, beliau pilih menunggu..nenunggu dan selalu menunggu !!!

  4. inyo berkata:

    “Pak Alpindo”…( inyo says: agustus 9th,2007 SUNSET di RAWA LUMPUR…on ITS Kenalkan Metode Alirkan Lumpur…) , temen2 di bog ini turut prihatin…, prihatin banget, bahkan saking prihatinya temen2 ga bisa kasih komentar apa2 stlh tgl 14/8/2007 ICALLEVI says:……dst.)…saya sendiri juga kehabisan kata2 neh , hanya bisa menyap’in sepatah kata2…eh kata sepatah2: “MERDEKA….PakDhe, MERDEKA Ompapang..MERDEKA P. Usil, MERDEKA mang Ipin, MERDEKA temen2 semuanya, MERDEKAlah yaouuw !!” tapi…eh, pikir2 orang2 spt kita ini sudah merdeka apa blom seh??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: