Bupati Sidoarjo Angkat Tangan Soal Pengungsi Pasar Baru Porong

Kamis, 23 Agustus 2007  18:20:00 REPUBLIKA ONLINE
Sidoarjo-RoL– Bupati Sidoarjo menyatakan ketidaksanggupannya memperjuangkan aspirasi warga pengungsi korban luapan lumpur Lapindo Brantas Inc. di Pasar Baru Porong.

Hal itu disampaikannya di depan perwakilan pengungsi Pasar Baru Porong dan ulama di Pendopo Kabupaten Sidoarjo, Kamis.

“Terus terang, saya tidak mampu memperjuangkan aspirasi saudara-saudara, karena 94 persen korban lumpur sudah menerima sistem ganti rugi sesuai Perpres 14/2007,” kata Bupati Sidoarjo.

Dalam pertemuan tersebut, Win menganalogikan para pengungsi di penanmpungan Pasar Baru Porong adalah anak-anaknya dan dia sendiri sebagai Bapak yang mengayomi anak-anaknya.

“Anda-anda semua ini adalah anak-anak saya. Kalau mau menyelesaikan masalah keluarga, bapak khan harus bijaksana dan berdiri netral. Pada sisi yang lain, ada anak saya lainnya yaitu pedagang Pasar Porong yang mendesak saya untuk segera menempati Pasar Baru Porong. Ini kan juga harus dicarikan solusinya,” katanya.

Ketidakmampuan memperjuangkan aspirasi warga pengungsi lumpur di Pasar Baru Porong tersebut, menurut dia, jangan kemudian dipersepsikan bahwa dirinya memihak Lapindo daripada rakyat.

“Demi Allah saya tidak pernah berada di belakang Lapindo. Sebagai pemimpin, saya harus membuat kebijakan yang proporsional dan bijak. Kalau saya seperti itu (membela Lapindo) silakan para kyai melaknat saya biar tidak selamat,” katanya dengan nada tinggi.

Ia mengatakan, belum jelasnya status hukum kasus Lapindo ini, juga menyulitkan solusi kasus tersebut. “Saya rasa dengan status hukum Lapindo yang masih belum pasti dinyatakan bersalah, namun punya komitmen untuk mencairkan ganti rugi dengan sistem jual beli harus dihargai,” katanya.

Dituntut Mundur
Mendapat jawaban yang mengecewakan dari Win Hendrarso, para perwakilan pengungsi lumpur Pasar Baru Porong dan ulama langsung menyatakan pamit dari Pendopo Kabupaten Sidoarjo, Kamis.

Ketua Paguyuban Warga Reno Kenongo Menolak Kontrak (Pagar Rekontrak) Sunarto tak bisa menutupi kekecewaannya, karena jawaban itu bukan untuk didiskusikan.

“Terimakasih Bapak Bupati berkenan menerima kami. Maaf jika kehadiran kami ini mengganggu aktivitas Bapak. Kami mohon diri,” kata Sunarto diikuti seluruh perwakilan warga pengungsi dan ulama.

Di luar pendopo saat ditemui wartawan, Sunarto mengatakan apa yang disampaikan Bupati Sidoarjo kepada warga korban lumpur dan ulama lebih bernuansa diplomatis dan tidak menjawab permasalahan.

“Bupati punya tanggung jawab moral untuk memperjuangkan nasib kami yang hak kami dirampas Lapindo,” katanya menegaskan.

Ia mengatakan, jawaban yang tidak tegas mendukung perjuangan warga pengungsi Pasar Baru Porong ini, menegaskan Win Hendrarso tidak layak menjadi Bupati yang seharusnya memperjuangkan hak-hak rakyatnya yang tertindas.

“Kalau tidak punya ketegasan, jika saya jadi Bupati, saya akan mundur daripada tidak bisa memperjuangkan nasib rakyatnya. Toh masa jabatan tinggal beberapa tahun lagi,” katanya. antara/abi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: