KEPRIHATINAN BUDAYAWAN BERSAMA PENGUNGSI KORBAN LUMPUR

MEDIA CENTER:
Penderitaan korban luapan lumpur Porong Sidoarjo yang belum juga terhenti, mengetuk semua hati kalangan dan lapisan masyarakat. Salah satunya kaum budayawan Indonesia.
Kamis (23/8) malam, para budayawan seperti penyair berjuluk celurit emas, D Zawawi Imron, Emha Ainun Nadjib (Cak Nun), dan Acep Zam Zam Noer, pengasuh Ponpes Cipayung, Tasikmalaya, Jawa Barat datang ke pengungsian Pasar Baru Porong (PBP).
Para budayawan yang terjun langsung ke pengungsian melihat saudaranya yang terkena musibah, tak kuasa melihat derita yang berkepanjangan, sampai kapan derita tersebut berakhir, secara tidak sadar air mata menetes di pipi para budayawan. Mereka prihatin, selain jadi korban banjir lumpur, pengungsi juga jadi alat untuk mencari keuntungan bagi orang yang tidak bertangung jawab.
”Semua ini karena perilaku serakah oleh segelintir orang. Bahkan, perilaku serakah itu pun dilakukan orang-orang yang mengambil keuntungan di atas bencana dan penderitaan orang lain. Banyak yang menjadikan ini sebagai ajang mengumpulkan harta. Itu fenomena yang terjadi,” ungkap Acep.
Acep menyempatkan diri tinggal di PBP untuk sementara waktu, bersama warga korban lumpur. Dia mencoba merasakan derita pengungsi dan berdialog tentang apa yang mereka inginkan. “Saya ikut merasakan semua kepedihan di sini, namun kita harus bangkit dari persoalan ini dan jangan larut dengan keadaan seperti ini,” ujarnya memberi semangat.
Seorang warga bernama Maimunah mengaku gembira, ternyata masih ada kelompok orang yang mau ikut merasakan kesedihan orang. Biasanya, orang itu senang apabila mendapat kenikmatan, tapi susah untuk diajak berkeluh kesah. Kehadiran para budayawan membawa semangat baru bagi pengungsi, bahkan sebagian pengungsi sempat kehilangan ketenangan batin.
Kepada Zawawi, Maimunah menceritakan bagaimana rasanya hidup dalam keterbatasan. Anak-anak makannya disamakan dengan orang dewasa, mau ke MCK harus antre, serta hidup dengan keterbatasan air, listrik, dan kehidupan yang tidak layak.
Zawawi berkata, meski dalam hidup yang penuh keterbatasan, kita semua tetap warga Indonesia. Karena itu, tetaplah mencintai Indonesia yaitu kuatkan rasa nasionalisme yang tinggi sehingga tumbuh semangat untuk bersatu dalam menyelesaikan persoalan. “Kita minum, makan, dan hidup di bumi Indonesia. Untuk itu, kita harus mencintai Indonesia sepenuhnya,” lanjut seniman asal Sumenep dengan penuh harap.

-mdj, 2007-08-24 12:20:44

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: