Lakon untuk Korban Lumpur

RADAR SIDOARJO Selasa, 04 Sept 2007 
SIDOARJO – DPC PKB Sidoarjo mengadakan serangkaian kegiatan bakti sosial untuk korban lumpur. Selain pembagian sembako dan lombalomba untuk anak-anak, ada hiburan untuk para pengungsi di Pasar Porong Baru (PPB). Pertunjukan wayang kulit dan campur sari disambut gembira pengungsi, Sabtu (1/9) malam.

Pergelaran wayang kulit berlakon Gonjang- Ganjing Lumpur Lapindo ditampilkan oleh dalang asli Sidoarjo Ki Toyib. “Kalau begini, saya betah di tinggal pasar,” kata Edi, 36, korban lumpur. Ketua Panitia yang juga Wakil Ketua DPC PKB

Sidoarjo Musawimin menjelaskan, kegiatan untuk para pengungsi itu merupakan rangkaian peringatan Hari Lahir (Harlah) Ke-9 DPC PKB Sidoarjo. Kegiatan banyak difokuskan pada korban lumpur. (uan)
 
 

2 Balasan ke Lakon untuk Korban Lumpur

  1. Marissa Haque Fawzi Seperti Pemulung Buku
    Senin, 06 Oktober 2008 | 08:35 WIB
    TEMPO Interaktif, Jakarta: Rumah besar dan asri ternyata masih belum membuat nyaman Marissa Haque Fawzi, 46 tahun. “Buku-buku saya masih terserak di banyak ruangan,” ujar mantan bintang film yang kini bergiat sebagai politikus Partai Persatuan Pembangunan itu.
    Sebetulnya calon doktor ilmu lingkungan Institut Pertanian Bogor ini bukan tak punya perpustakaan pribadi. Tempat itu sudah sesak. Ruang keluarga di lantai 2 rumahnya, yang berhadapan dengan kedua kamar putrinya, pun sudah disulap Marissa menjadi perpustakaan terbuka. Eh, masih belum cukup juga. Walhasil, satu kamar tidur untuk tamu di lantai bawah pun harus dititipi tumpukan buku. Selesai? Tunggu dulu!
    “Coba lihat kamar tidurku,” katanya sembari menunjukkan ruang pribadinya itu kepada Tempo, Jumat pekan lalu. Astaga, di ruang itu pun bukit-bukit buku menjulang di beberapa bagian. Konon, hal ini membuat suaminya, Ikang Fawzi, sempat geleng-geleng kepala. “Yang gue nikahi ini bintang film atau pemulung sih?” kata Marissa mengulangi komentar Ikang, sembari tertawa lebar.
    Topik buku-buku itu beragam. Maklum, pendidikan formal wanita berdarah India, Belanda, Prancis (ayah), dan Madura (ibu) ini juga beragam. Setelah mendapat gelar sarjana hukum dari Universitas Trisakti, Marissa menekuni bidang psikolinguistik di Pascasarjana Universitas Katolik Atmajaya, Jakarta. Sebagai tugas akhirnya, Marissa, yang pernah memerankan penyandang tunarungu pada film Matahari Matahari–yang mengantarnya meraih gelar aktris terbaik pada Asia-Pacific Film Festival ke-62 di Taipei, 1987–mengambil topik pembelajaran bahasa Inggris untuk tunarungu. Tulisannya itu kini sudah diterbitkan dalam bentuk buku berjudul Bahasa Kasih: Memahami Masalah Ketunarunguan. Belum lagi topik-topik ilmu politik dan kesusastraan.
    Sempat menghitung berapa jumlah judul koleksi bukunya? “Itu yang belum sempat, tapi mungkin sudah 5.000-an judul,” dia mengingat-ingat. Nah, ini sudah masuk kategori “pemulung kelas berat” kalau begitu.
    Akmal Nasery Basral

  2. Marissa Haque Serahkan Bukti Pemalsuan Ijazah Atut
    By Republika Contributor
    Kamis, 30 Oktober 2008 pukul 12:51:00 Font Size A A A
    EMAIL
    PRINT TANGERANG — Marissa Haque menyerahkan berkas bukti pemalsuan ijazah palsu milik Gubernur Banten, Ratu Atut Chosiyah kepada Pengadilan Negeri (PN) Tangerang, pada Kamis sekitar pukul 11.00 WIB.

    Artis istri Ikang Fawzi tersebut di Tangerang mengatakan barang bukti tindak pidana pemalsuan Ratu Atut Chosiyah yang diserahkan kuasa hukum Marissa Haque berjumlah 112 bukti.

    Barang bukti tersebut berupa kliping koran pemberitaan terkait ijazah palsu, transkrip nilai serta judul skripsi milik Atut Chosiyah diserahkan kepada Panitera Muda Perdata PN Tangerang, Iwiek Endang.

    Kuasa hukum Marissa Haque, Fredi Simanungkalit menuturkan, penyerahan barang bukti tindak pidana pemalsuan ijazah atas nama Ratu Atut Chosiyah untuk mematahkan kasus perdata gugatan balik pihak Universitas Borobudur yang mengeluarkan ijasahnya.

    Kronologi kasus tersebut berawal ketika Marissa melaporkan Ratu Atut Chosiyah dengan tuduhan pemalsuan ijazah palsu yang dikeluarkan Universitas Borobudur. Universitas swasta itu menggugat balik pencemaran nama baik dan melawan hukum.

    Kasus saling melaporkan tersebut ditangani Badan Reserse dan Kriminal (Bareskrim) Mabes Polri sejak dua tahun lalu. Hingga kini kasus tersebut belum diproses secara hukum. – ant/ah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: