TIM ITS MOBILISASI PERALATAN ENERGY BALANCE SYSTEM

MEDIA CENTER : Selasa, 4 September 2007 11:56:48

Upaya Pengaliran Lumpur Sidoarjo
BESOK, TIM ITS MOBILISASI PERALATAN ENERGY BALANCE SYSTEM

Koordinator tim penutupan semburan lumpur ITS, Ir Djaja Laksana ditemui di kediamannya Jl Pucang Surabaya, Selasa (4/9) mengatakan, ujicoba dengan teknologi EBS itu direncanakan pada 8 September 2007 dan melibatkan tim sebanyak 15 orang. “Kami saat ini sedang mempersiapkan peralatan yang akan dimobilisasi untuk Rabu besok. Berat seluruh peralatan mencapai 7,5 ton. Untuk itu, kami menyewa satu unit crane telescopic berkapasitas 20 ton selama dua hari (6-7 September 2007, red) untuk mengangkut peralatan seperti pipa enam inchi, pipa tiga inchi, drum pelampung dan cremona,” katanya.
EBS itu nantinya bersifat untuk mengalirkan lumpur dari pusat semburan ke wet line (saluran pelimpah).

Wet line ini mengarah ke areal tambak sebelah timur Porong seluas 4.000 hektare. Peralatan yang telah dipersiapkan untuk teknologi EBS adalah pipa berdiameter enam inchi sebanyak 16 batang (panjang enam meter/batang atau totalnya 96 meter), flange (sambungan pipa) sebanyak 40 buah, drum untuk pelampung 30 buah dan cremona (pipa berdiameter tiga inchi uhtuk penguat pipa diameter enam inchi).
“Biaya yang dibutuhkan untuk EBS ini dipastikan lebih murah dari teknologi counterweight dari Jepang. Kalau pakai teknologi Jepang kan butuh dana Rp 4 miliar per hari. Biaya ujicoba EBS ini sampai saat ini tidak ada masalah dan sudah dipersiapkan,” ujarnya tanpa menyebutkan biaya EBS itu.
Tim ITS telah memaparkan teknologi EBS ini kepada Dewan Riset Nasional BPPT dan beberapa menteri di Jakarta. Hanya saja kendala yang dikhawatirkan beberapa pihak adalah bagaimana jika terjadi subsidence (tanah ambles) di pusat semburan saat menerapkan teknologi EBS. Untuk itu, tim ITS akan memperhitungkan segala risiko yang kemungkinan terjadi di pusat semburan. Selain itu, untuk memancing agar lumpur bisa mengalir ke pipa, juga telah dipersiapkan air sebanyak 5.000 liter (satu truk tangki).
“Kami juga akan menghitung total head (ketinggian semburan lumpur, red) di pusat semburan dengan metode hukum Bernouli. Ini karena sangat penting untuk mengetahui panjang pipa yang dibutuhkan untuk EBS. Yang susah adalah mengetahui berapa volume lumpur yang keluar per harinya,” tuturnya.
Menurut Djaja, penemu teknologi EBS ini adalah seorang dosen ITS bernama Prof Dr Ir I Made Arya Joni MSc. Sedangkan, dirinya bersama timnya sebagai pelaksana di lapangan. Ujicoba yang dilakukan pada 8 September 2007 nanti diharapkan bisa menjadi patokan melangkah ke depan, jika teknologi EBS berhasil.
Langkah ujicoba ini telah mendapat lampu hijau (surat izin) dari Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) sejak pertengahan Agustus 2007. “Kami mengirimkan surat kepada BPLS dan akhirnya diizinkan. BPLS sangat mendukung EBS ini. Ujicoba ini akan dilakukan selama seminggu,” ujarnya.
Sekadar diketahui, tim ITS pernah berhasil melakukan ujicoba penutupan semburan air di rumah Herman Samin dengan metode hukum Bernouli (tekanan semburan ke atas dan ke bawah harus seimbang), Desa Jatirejo dan Desa Mindi, Porong beberapa bulan lalu. Tetapi, yang diujicobakan di pusat semburan adalah teknologi EBS yang hanya bersifat mengalirkan lumpur, bukan menutup semburan. *(tok)

27 Balasan ke TIM ITS MOBILISASI PERALATAN ENERGY BALANCE SYSTEM

  1. usil mengatakan:

    Yah? sudah terbuka semuanya….ternyata si Aa aku harus panggil senior.
    Tentu saja si Om tambah seneng, belum ada bisa kalahkan dia soal %???
    Aa! pisangnya nanti belakangan ya?, longok dulu judul tetangga, si Om sudah
    buka front disitu. Biasanya yang lain segera menyusul….semoga.

  2. mang Ipin mengatakan:

    Wadoow!! jadinya buka % % kalo begitu ogut sich masuk yang sama dengan si Om Papang yaitu diangka nan bagus 9 alias di 54% nach bung Usil dah tahu khan se-
    karang Aa punya prosentase ..iya nggak bro!!!semua orang juga yang dikampung paling terpencil dach melakukan sistim air mengalir seperti nyanyian Gesang!!! me-
    ngalir sampai jauuuh ke laut Jawa!!so dalam hal ini gak mengecilkan arti perjuangan
    dari team ITS dgn metode EBS nya ntu,coman seperti kata sohibku alangkah bijak-
    sana bukan bijaksini lho!!pabila team KECIL yang secara Gratisan juga dapat me-
    nyumbangkan urun rembugnya semisal hal tsb pasti akan banyak membawa manfaat
    nya demi tujuan mulia untuk membantu terselesaikan kasus binalnya si LuSi…
    ngomong2 ditempat ogut buaanyak pohon pisang yang lg pada berbuah,apa perlu tak
    kirimi untuk kita berpesta pisang????lam kompak selalu n tariiik terus!!!!

  3. usil mengatakan:

    Hush! jangan terlalu jelas dong…buka kartunya. Adow! gawat nih, semua
    jadi pada tahu tuh arti %-%an nya. Siapa suruh utak-utik kumis harimau!

    Om, kelihatannya dijudul sebelah sudah ada gambarnya di lapangan. Nah…
    ini baru rame. Walo tim ITS gak mau buka rahasia etungannya, tapi usil
    optimis, pakar2 diblog ini akan sanggup MEMBONGKAR hitungan mereka,
    cukup dengan hanya MELIHAT gambarnya saja.
    Usil berdebar-debar jadinya…..
    Pak Inyo, besok kita bisa pesta PISANG bersisir-sisir…
    Tarik Mang!!!

  4. ompapang mengatakan:

    Pak Usil, ompapang sudah nulis, tapi gak bisa di posting,wordpresnya error. SELAMAT PUASA untuk semua yang menjalankan ibadah puasa, semoga berhasil sampai finis dan MENANG melawan segala macam godaan.
    Soal %-% an, sekarang umur om 64 tahun atau 64 % (menurut pak Usil) dari 100 tahun, jadi Om bakalan MENANGI (mengalami) matinya semburan lumpur yang konon sampai 31-33 tahun lagi.Kalau pak Usil sudah berhasil mengumpulkan suara SEPARO plus 1 dari 100 anggota (51 %). Jadi suara PAk Usil menentukan dalam pengambilan keputusan.
    Btw, kayaknya BES ini seperti orang DONOR DARAH. Bila kita donor darah, darah bisa keluar dengan tekanannya sendiri, demikian juga dalam BES, dengan energinya sendiri LUMPUR MENGALIR SAMPAI JAUH ….AKHIRNYA KELAUT seperti air Bengawan Salanya Gesang. Salam kompak untuk semuanya !

  5. usil mengatakan:

    O? tak kira lagi bobok siang!
    Bakal ada metraliur?

  6. usil mengatakan:

    Tapi ini…pak Dhe kemana ya?
    Kenapa dia sudah terlantarkan diskusi kita….hayah!

  7. usil mengatakan:

    Ha??? pisang apa lagi ini, pak Inyo! Dari dulu khek banjolannya sering2
    dikeluarin, kenapa baru sekarang? Wueh! bakat terpendamnya ternyata
    selangit…gak kalah amat2 sama si Aa.

    Mangkanya pak Inyo, mari kita lihat siapa lebih manjur apa elmu mereka
    yang sudah dipatenkan itu, atau elmunya ‘tim kecil’ kita yang gak perlu
    dipatenkan alias GRATISAN.
    Nanti kalo hasil EBS udah ada, kita bisa evaluasi dengan memakai
    TERMOMETER kanal-V sebagai acuan.
    Jangan takut, nanti usil yang etung. Kalo usil keok, mang Ipin maju!
    Hayo!!!

  8. inyo mengatakan:

    wah2, P. Usil salah meng-simulasi/visualisasi-kan neh, WC itu khan sifarnya temporary paling2 cuma sebesar 2x biji pisang, sdg khasus LuSi ini kan “diare-menahun” jumlahnya jutaan ton dan disupply terus dr dalam dan dialirkan hanya lewat media pipa besi 4000m panjangnya, apa mungkin utk jangka panjang pipa tsb terbebas dari sendimentasi/kerak/korosi ?? hayoo !!

  9. inyo mengatakan:

    saya ulang command P. RIrawan:

    sampai sekarang saya belum paham detil EBS, sehingga sulit untuk saya berkomentar.

    Kalau debit lumpur segar: Q = 150.000 m³/hari ingin dialirkan melalui pipa ke Tambak di sebelah timur Porong, maka diperlukan daya sebesar: P = ½.ρ.λ.Q.u².L/d. Jelas tidak mungkin pakai pipa 6”, sebab untuk itu diperlukan daya lebih dari 2000 Mw per Km-nya. Tetapi jika dipakai pipa 20”, daya yang diperlukan menjadi 5 Mw per Km-nya. Dan bila dipakai pipa berdiameter 1,2 m, daya yang diperlukan hanya 70 Kw per Km-nya.
    Namun dengan pipa besar, kecepatan aliran lumpur menjadi rendah, sehingga Reynold-number aliran itu rendah, yang berakibat terjadi pengendapan lumpur di dalam pipa. Pengendapan itu mempersempit diameter pipa, yang berakibat pada naiknya kebutuhan energi untuk dapat mengalirkan lumpurnya. Pada prinsipnya, mengalirkan lumpur lewat pipa bakal menemui sangat banyak masalah, belum lagi resiko korosi bila dipakai pipa baja akibat kadar belerang dan tingkat keasaman yang tinggi. Sudah banyak pipa yang terpasang di sana dan semuanya gagal mengalirkan lumpur.

    Kalau pipanya 42″ sepanjang 4000 m, diperlukan energi sebesar 491 Kw. Kalau dipakai pompa dengan effisiensi-hidrolik 0,7 dan effisiensi-driver 0,6; diperlukan daya total 1,17 Mw. Jelas cukup merepotkan, kalau dipakai mesin diesel atau listrik PLN. Gravitasi sangat jauh dari memadai.
    Namun EBS ingin memakai energi dari pusat semburan. Hanya saya sama sekali tidak mengerti caranya bagaimana?
    pipanya 42″ sepanjang 4000 m, diperlukan energi sebesar 491 Kw
    jadi per km diperlukan energi 491/4 = 122.75 Kw.

  10. mang Ipin mengatakan:

    Whuiiih!!! my sohib apa angka prosentase ntu berdasarkan angket or meta fisika????
    coz kalo hanya mengalirkan LuSi saza solusinya so pasti merip dengan Kanal V – Kaskade dari P.Dhe,artinya tingkat keberhasilan cukup tinggi itupun dengan saran ada
    elevasinya untuk gelontoran LuSi jadi gak mandek,namun dgn adanya asumsi dari si Om bakal ada kemungkinan Emboli juga analisa Dek Inyo bahwa si LuSi bisa2 ngendon di pipa kemungkinan besar adalah yang harus difikirkan sebagai suatu masukan sangat bermanfaat sekali!pada waktu terjadinya aplikasi dari Eyang Bernouli
    yang dikatakan sukses adalah murni yang nyembur keluar adalah air saza…apakah ini
    dapat dijadikan acuan untuk keberhasilan ditempat asalnya LuSi keluar secara binal??
    embuh!!tarik teruuus n lam kompak selalu tuk semua ,juga met berpuasa bagi yang menjalankannya.

  11. usil mengatakan:

    Pak Inyo, biasanya si Om hanya memberi info sedikit dulu sebagai
    introduction. Kemudian, baru para pakar2 yang lain membantu etung
    secara kompre.
    Pak Inyo jangan kuatir sedimen bakal ngendon di ‘leher angsanya’ EBS.
    ITS pasti sudah hitung dengan cermat melalui teori Bernoulli yang telah
    mereka patenkan itu, bahwa ‘pergolakan’ cairan akan mampu melewatkannya.
    Pak Inyo udah lupa? kalo di WC cukup dengan air 1 gayung, pasti ‘sedimen’
    nya lewat. Apalagi dengan 5000 liter, tanggung semua keterjang!!!

  12. usil mengatakan:

    Aku coba mewakili teman2 untuk meramal rasio sukses EBS.
    Usil: 51%
    omPapang: 64%
    mang Ipin: ???%
    pak Inyo: ?%
    sang TERMOMETER pasti lagi senyum2 dan ‘ngerti’….

  13. inyo mengatakan:

    setuju P. usil, sebenarnya saya juga “support” banget ama usaha temen2 dr ITS, mungkin temen2 yg laen di blog ini juga dmk. tapi yg di-support ini lho??..mbok iyaoo kasih “input”an yg lebih komplit(transparan) ttg teknik EBS/bernaullinya krn klo kita cermati info2 yg ada selama ini ttg teknik2 tsb rasa2nya koq hanya sekedar berita alakadarnya aja, lom layak sbg bahan diskusi/kajian, saya yakin banyak temen2 disini menunggu pencerahan tsb, terutama P. RIrawan, OmPapang, dll.

    YTH. OmPapang, utk mencegah terjadinya Emboli om sarankan pada ujung pipa dibikin “U” agar angin dr luar ga bisa msk krn airnya muncrat keatas,tapi Om…dg bentuk U tadi apakah ga malah mengakibatkan sendimentasi lumpur didasar pipa U tsb trus jangka panjangnya penampang pipa jadi semakin sempit, yg muncrat tinggal airnya saja sdg lumpurnya “ngendon” di badan pipa ?
    Tarik mang Ipin, go.. x3

  14. Giusty mengatakan:

    pak usi, saya nggak tahu tentang teori EBS.
    hanya saya pernah lihat crawler crane diproyek yang digunakan untuk mengangkat barang di lokasi yang tanahnya tidak padat.

  15. usil mengatakan:

    Pak Inyo dan bro Aa, aku kira dalam beberapa hari kedepan diskusi EBS
    bakal hangat. Lebih afdol lagi kalo komentarnya datang sebelum hasilnya
    kita ketahui, seperti HDCB dulu itu.
    Tapi kali ini gak bakal geger2 kaya dulu itu, soalnya sudah ada alat yang
    akan mendinginkan suhu, yaitu: TERMOMETER si Om!

  16. richards mengatakan:

    Saya bukan mau komentar nich, saya cuma mau tahu, apa benar akibat Gempa di Bengkulu, membuat lubang lumpur lapindo membesar… Ada kabar buruk buat warga Surabaya, bahwa jika ini terus terjadi, lumpur akan menjalar ke Surabaya…dan besar kemungkinan Surabaya bisa tenggelam… mohon analysa nya.
    Apakah bumi di Jawa Timur, bisa patah?
    Terima kasih atas analsanya..

  17. ompapang mengatakan:

    maaf Pak Giusty , ompapang pakai komputernya sri dewa belum tak ganti namanya

  18. sridewa mengatakan:

    Pak Giusty, saya tidak tahu kalau crane 20 ton itu crawler crane, sebab bilangnya kan teleskopik crane untuk MENGANGKUT. Setahu ompapang teleskopik crane sejenis LINK-BELT memang crawler ( pakai track /rantai krepyak bukan roda seperti TADANO ). Tempo dulu crawler crane SUMITOMO LINK-BELT bukan teleskopik, tapi pakai sling ( wire rope), sekarang mengikuti teknologi ekskavator hidrolik, kemudian konstruksinya dibuat hydraulic telescopic crane..

  19. usil mengatakan:

    Pak Giusty, bisa bocorin dikit gak, metode EBS ini. Biar pembaca
    blog ini jadi semarak gitu. Kan sudah sementara dilaksanakan,
    sehingga seharusnya bukan merupakan rahasia lagi. Apa lagi
    sudah dipatenkan. Kalo gak keberatan lho…..

  20. Giusty mengatakan:

    om papang, itu yang dimaksud yaitu crawler crane. bukan crane yang pakai roda.
    crawel crane ini yang hanya bisa dipakai di daerah yg tanahnya tidak padat. kalau menggunakan yang jenis roda maka akan selip di daerah yang agak berlumpur.

  21. mang Ipin mengatakan:

    Hayaah!! bung Usil qta semua memang lagi nunggu keberhasilan dari team ITS dgn komandannya pak.Jaya Laksana,yg menurut diskusi diatas sebetulnya hukum eyang Bernoulli rada kurang klop aplikasinya????ogut juga sama dgn bung Usil terus me-
    mantau pencerahan dari si Om Papang berkaitan dgn EBS proyek yang sdh dimulai ntu
    so sesuai masukan dari TERMOMETER kita bersama…sebetulnya mobilisasi peralatan
    yang diangkut team ITS tsb dgn memakai Crane apa mungkin suatu unit yang sudah jadi????habis pakai crane yang biasanya buat nyangkol/ngangkat! ingat nggak waktu
    kecil suka disuruh ortu nguras bak mandi..kalo Om ngingatkan waktu nguras aquarium.
    ….itu kan air seluruhnya ya Om, lha inikan ada kandungan benda padat LuSi?? apa bisa nyedot ya???lam kompak selalu bro!

  22. usil mengatakan:

    Aduuuh! mang Ipin, pak Inyo…si Om ini makin alot dan kikir aja. Dari tagl 5
    baru satu ini komentarnya. Itupun setelah usil 2x pake tehnik tradisional
    yang mau gak mau sang suhu turun gunung. Tadinya aku kira dia lagi sibuk
    ngurus (tune-up) mobil untuk reli/balap. Gak taunya….ehh malahan lagi
    nguras aquarium arwananya.
    Tuh kan, ITS dapat tip lagi cara mencegah EMBOLI (KAVITASI versi
    mbak HIME) dari si Om.
    Mestinya kalo mbak Hime baca ini, harusnya ada komentar dari dia….
    semoga!

  23. ompapang mengatakan:

    Pak Usil, si Om nggak pas kalau dibilang BAROMETER( alat ukur tekanan), lebih cocok TERMOMETER, soalnya Ompapang kan tidak tekan sana tekan sini, tetapi kalau manasi sana manasi sini memang iya. Ambil contoh EBS, katanya pakai crane 20 ton untuk MENGANGKUT. Apa hiya crane 20 ton ( misal merk TADANO) bisa untuk angkut-angkut (TRANSPORT). Kalau untuk ANGKAT-ANGKAT (hoist), si om percaya. Biasanya yang bisa untuk ANGKAT dan ANGKUT itu crane truck dengan kapasitas dibawah 10 ton.
    Terus pakai 5000 liter air untuk mancing lumpur. Mungkin metode ini pakai sistem kerja PIPA PINDAH ( syphon). Pak Usil atau sohib lainnya tentu pernah nguras akuarium dengan selang plastik. Selang diisi penuh air (disedot pakai mulut), ujung yang satu dijuntaikan kebawah (nglawer), sedang yang lain dimasukkan air aquarium. Jadilah air mengalir keluar melalui selang (syphon) sebagai proses pengosongan air akuarium. Dengan cara yang sama dapat dilakukan pula saat kita mengambil bensin dari tangki kendaraan. Jadi mungkin EBS menggunakan 5000 liter air untuk menyedot lumpur masuk kedalam pipa yang diharapkan nantinya akan terus mengalir seperti kita menguras akuarium. kelemahan cara ini adalah apabila terjadi EMBOLI (kemasukan udara ) dalam pipa yang berisi air tersebut. Proses EMBOLI kejadiannya seperti kalau kita menuang air dari dalam botol . Saat botol kita tunggngkan kebawah, air dari botol keluar dan udara dari luar masuk bergelembungan kedalam botol mengganti ruang yang ditinggalkan air. Untuk mencegah EMBOLI ( masuk angin) ujung pipa pengeluaran air dibentuk huruf U, sehingga air yang keluar mengarah keatas(semacam air muncrat). Dengan demikian maka tak terjadi EMBOLI karena udara tidak akan dapat masuk kedalam pipa seperti kejadian saat kita menuangkan air dari botol.

  24. usil mengatakan:

    Pak Inyo, mang Ipin! Saat ini kita jangan pesimis dulu. Karena apapun
    juga upaya ITS ini dikesankan sepertinya dibiayai sendiri oleh mereka.
    Dalam hal ini kita harus angkat topi (ini sejujurnya) kepada tim ITS itu.
    Menurut rabaan usil, metode yang dipakai mestinya mirip (bukan niru)
    dengan kanal-V pak RIrawan. Bedanya kanal-V punya hitungan yang
    jelas, termasuk teori Bernoullinya. Kalo seandainya gagal, tentunya yang
    paling bertanggung-jawab secara etika adalah para Menteri dan BPPT itu.
    Sebetulnya rasio sukses ITS akan lebih baik lagi jika dalam tim mereka
    terdapat Om Om yang sangat berpengalaman. Mereka lupa, dilapangan
    beda dengan didepan kelas. Didepan kelas kalo salah ngomong, belum
    tentu simurid tahu.
    Tapi dilapangan, berani salah etung Watt ato Ohm nya, apa gak korslet???

  25. inyo mengatakan:

    P. Usil, Team ITS nekat akan melaksanakan metode EBS
    (sementara nyoba dulu…”error”nya tuggu perkemabangan lebih lanjut)
    kita ga bisa komentar apa2 wong konsepnya aja ga jelas( spt “proyek siluman”),
    jadi kita sabar aja, tunggu episode berikutnya, happy-endng ato set-ending?
    maybe YTH. P. RIrawan dan OmPapang, juga teman yg lain juga bingung, mo komentar apa??

    Ibu Hime_furuumun93 pernah bilanng:
    menyalahgunakan emosi ” spirit de corps” dan slogan patriotisme, yang menurut saya
    sudah tidak etis lagi dan keluar dari rel kejujuran ilmiah, sebab memaksakan kehendak
    dan mau mematikan suara para penentangnya, tidak peduli benar atau salah, tidak peduli berapapun resiko dan korbannya

  26. usil mengatakan:

    Pada bagian terakhir tulisan diatas, diklaim bahwa tim ITS pada waktu
    yang lalu BERHASIL menutup semburan dengan hukum Bernoulli.
    Padahal waktu itu mbak Hime bilang: Tidak ada Hukum Bernoulli pada
    percobaan waktu itu. Lho! aku bingung, gak mungkin dua2nya benar to?
    Seingat usil pernyataan mbak Hime waktu itu, sama sekali tidak ada
    sanggahan dari para ahli blog ini, termasuk orang sekaliber omPapang
    (maaf, komentar si Om, merupakan barometer bagi kita).
    Dengan kata lain, analisa mbak Hime disetujui para komentator blog.

    Ini akan sangat menarik kalo mbak Hime bisa longok lagi kesini dan
    bisa memberi komentar terhadap percobaan EBS dari ITS ini.
    Mungkin dengan membaca ‘daftar peralatan’ dari tim ITS itu, mbak Hime
    bisa memberikan analisa ala ‘alakadarnya’.
    Tapi kalo bisa, tetap dengan gaya ‘semesnya’ gitu….he..he..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: