TIM ITS UJICOBA TAHAP AKHIR ENERGY BALANCE SYSTEM

Pengaliran Lumpur Di Sidoarjo
HARI INI, TIM ITS UJICOBA TAHAP AKHIR ENERGY BALANCE SYSTEM

Selasa, 11 September 2007 13:13:33

Koordinator Pelaksana Tim ITS, Ir Djaja Laksana (kiri) saat memasang pipa untuk ujicoba tahap akhir dengan teori EBS di pusat semburan ditemui,Foto:dok Ir Djaya Laksana

Tim Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya mengujicoba pengaliran lumpur dengan teori energy balance system (EBS) tahap akhir pada Selasa (11/9) hari ini. Ini dikarenakan hingga Senin (10/9) pukul 18.30, pipa berdiameter enam inchi sepanjang 1,5 meter telah masuk tepat di tengah pusat semburan.
Selain itu, pemasangan pipa enam inchi di luar semburan sepanjang 36 meter yang diperkuat dengan cremona (pipa diameter tiga inchi dan 36 drum pelampung) di bawahnya juga telah selesai. Ujicoba dilakukan kali pertama pada Sabtu (8/9) lalu.
“Hari ini akan dilanjutkan ujicoba tahap akhir sekitar pukul 09.00 pagi hingga sore. Mudah-mudahan simulasi atau ujicoba yang dilakukan tim ITS berjalan sesuai harapan. Posisi pipa enam inchi yang diperkuat dengan kawat sling saat ini sangat bagus, yakni tepat di tengah pusat semburan. Jika lumpur berhasil dialirkan di pipa, ini berarti teori EBS berhasil,” kata Koordinator Pelaksana Tim ITS, Ir Djaja Laksana ditemui di Surabaya, Selasa (11/9).
Menurut Djaja, jika ujicoba dengan teori EBS itu berhasil, maka bisa diusulkan ke Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) supaya lumpur bisa dialirkan dari pusat semburan (ring satu) ke wet line (saluran pelimpah seluas 4.000 hektare). Apakah mendesak BPLS atau Lapindo Brantas Inc (LBI) menggunakan teori EBS?
“Itu terserah mereka mau menggunakan atau tidak. Yang pasti, tim ITS telah mengeluarkan dua macam teori. Yakni, teori bernoulli yang ditemukan saya sendiri dan EBS ditemukan Prof Dr Ir I Made Arya Joni MSc,” katanya.
Teori Bernoulli telah dipatenkan atas nama Ir Djaja Laksana pada Maret 2007 lalu. Sedangkan, teori EBS masih dalam proses pengajuan hak paten kepada pemerintah. Nantinya, jika sudah dipatenkan, siapapun yang menggunakan harus membayar royalti kepada penemu teori itu. “Jika tidak dipatenkan, kami khawatir ada orang asing yang mengaku penemu teori bernoulli dan EBS, kemudian menawarkan kepada pemerintah Indonesia,” imbuhnya.
Dia menjelaskan, teori pengaliran lumpur menggunakan EBS itu tidak akan menggunakan pompa penyedot lumpur lagi untuk dialirkan ke spillway (saluran pelimpah). Selain itu, penggunaan excaponton (excavator di dalam air) untuk mengaduk-aduk dan mengalirkan juga bisa diminimalkan.
Kecepatan lumpur yang akan mengalir di pipa diperkirakan 1 meter/detik. Tim ITS telah menyiapkan air sebanyak 5.000 liter yang berguna untuk memancing agar lumpur bisa tersedot ke pipa. Hanya saja kelemahan dari teori EBS ini adalah ketika terjadi land subsidence (tanah ambles) di lokasi pusat semburan, karena menyebabkan pipa akan patah.
Bagaimana dengan suhu di pusat semburan? Dia memperkirakan suhu mencapai 110 derajat Celsius dan terpantau dalam jarak 1 km hanya turun satu derajat Celsius. Volume lumpur yang keluar diperkirakan lebih dari 120 ribu meter kubik per harinya. Untuk itu, tim ITS yang berjumlah 15 orang sangat berhati-hati dalam melaksanakan ujicoba di medan yang sangat berbahaya.
“Pada Senin (10/9) dini hari, saat tim belum bekerja, diketahui telah terjadi over topping di titik 44 pusat semburan. Penyebabnya, hanya karena operator excavator yang bertugas mengalirkan lumpur tertidur. Ini menjadi ancaman dan tantangan bagi kami,” tuturnya. *(tok)

Iklan

106 Responses to TIM ITS UJICOBA TAHAP AKHIR ENERGY BALANCE SYSTEM

  1. pantek berkata:

    ba pantak beko mlm nah

  2. wong industri berkata:

    boz,tugasnya besok dulu,cz capek biz NATALIZ.

  3. usil berkata:

    Astagaaaaa? mang Ipin! koq si Om bisa ngamuk kaya gini.
    Gayanya itu lho? apa dia pernah kursus baddebt-collector ngkali?
    Mestinya utang zaman SMA…ya, mbok diputihkan aja.
    si Dia juga dulu ngaku utangnya di pak Bon juga diputihkan koq..hayo!

    mang Ipin, pak Inyo! lihat dong postingan judul sebelah….
    TIM KECIL kita lagi komplit dan berduet menjaring MANGSA!

  4. mang Ipin berkata:

    Yuhuii!!! bung Usil ..zangan ngelempar bola alias gak mau ngasih etunganannya ya.
    setuju kata Om Papang, ogut mau nagih etungan yang dari Bung Usil aza, nanti qta
    padukan dengan semua etungan2 diatas …kali2 saja dapat ngebantu teman2 team ITS
    yang teori EBS nya sdh 2minggu gak kunjung ada beritanya????habis wong dikasih
    yang mudah,praktis,ekonomis gak ruwet,gak pakai nama2 yang significant coman
    Kanal V – Kaskade, gak di toleh2???seperti kata Pak.Dhe n Om Papang diatas bhw
    kasus si LuSi sudah gak menjadi berita besar lagi, coz sdh ketutup dgn Gempa di
    Bengkulu yang dijuluki Dek Inyo dgn nama “PAULINA” yang ditaksir membawa ke-
    rugian s/d 3,45T??????cuma barangkali kalo sudah datangnya hujan dibulan depan
    n terjadinya dampak banjir bandang menerpa Sidorarjo cq Kec Porong baru pada
    ribut lagi mencari solusi penangan LuSi kembalai, iya nggak bro????? lam kompak
    selalu!!!!!

  5. ompapang berkata:

    Ompapang kan bukan “orang lain”, masak sudah lunas ! Bukan begitu man Ipin ? Tagih teruuusss !

  6. usil berkata:

    Ha? opo lagi hubungannya USIL eh LUSI….

    Eh? bukan main! Rumus2 siapa yang diatas itu? Kan kemarin itu,
    udah aku bilang biar aku yang nulis. Kebetulan yang aku mau tulis,
    koq ‘persis’ sama dengan yang rumus2 yang diatas itu. Ya wes! aku
    gak perlu nulis lagi to?
    Memang, penjelasan tehnik harus disertai rumus/hitungan, baru sedep!
    Mang Ipin! utang usil udah dilunasi ama orang lain he3x…
    gak boleh nagih lagi lho?

  7. ompapang berkata:

    Kalau Pak Inyo tanya pengaruhnya GEMPA BENGKULU terhadap LUSI , MENE KUTEHEK ,Ompapang gak bisa njawab. Tapi kalau tanya HUBUNGANNYA GEMPA BENGKULU dengan USIL eh LUSI, Ompapang bisa njawab. . . . HUBUNGANNYA BAIK_BAIK SAJA !! …
    Iya Pak DHe, Lusi sudah dianggap bukan berita lagi, sesuai slogan wartawan, ANJING MENGGIGIT ORANG BUKANLAH BERITA, tetapi ORANG MENGGIGIT ANJING BARULAH BERITA. Jadi pengungsi gempa Bengkulu patut diberitakan, sebaliknya pengungsi akibat Lusi yang sudah menerima 20 % uang muka IJB tidak punya kadar berita yang tinggi, sehingga dianggap bukan berita.

  8. Rovicky berkata:

    Hust ! 😀

    Lah wong media-media di Indonesia juga sudah mulai lesu memberitakan soal Lusi.

  9. inyo berkata:

    Ok Om, makasih, coba saya cari2 lagi biar tambah komplit.

    menurut Om, apa pengaruhnya GEMPA BENGKULU terhadap LUSI ??
    pengaruhnya yg dominan adl: PakDhe skr “pisah-ranjang” dengan “LUSI”, tidur dengan kekasihnya yg baru “PAULINA”(gempa-bengkulu indonesia ) 😛

  10. ompapang berkata:

    Pak Inyo, kandungan unsur besi dalam lumpur kalau gak salah yang mosting orang Belanda (lupa namanya ), tapi kalau Calcium saya belum pernah membacanya. Juga kandungan unsur yang lain, hasil penelitian dari Universitas Brawijaya dan Udayana kayaknya sudah ditulis diblog ini. Kalau gas H2S ada disebut di Report PBB pada Technical Article (di kotak Baca ini Dulu ).

  11. inyo berkata:

    Pak Usil mulai skr Pak usil ga tak panggil Pak Usil lagi tapi….”BANG USIL”aja yah?? biar lebih gaul, gitu….!! 😀

  12. inyo berkata:

    weleh2 skr muncul lagi ?? servernya lom update kali

  13. inyo berkata:

    PakDhe, postingan saya kemarin utk ngerespon ttg kerak dr OmPapang koq skr hilang yah? kena sensor apa servernya Error?

    OmPapang, maybe di lumpurnya terkandung element2 seperti:
    Calsium(Ca), Iron(Fe), dll
    tapi saya cari2 postingannya ttg hal tsb koq ga ketemu yah??

  14. PapaTITA berkata:

    Itung2an yang bagus begini (dari Om Papang) sayangnya berada di topik EBS dan bahkan tercerai berai di beberapa topik yang lain, andaikata dirangkum dan diletakkan di topik baru selain akan mudah dicari (dikemudian hari), mudah dibaca dan juga pengunjung akan mengetahui bahwa ada alternatif lain (selain EBS, HDCB dll) dengan hitungan yg jelas dan terbuka untuk menangani persoalan lumpus panas ini.

    CumaBisaUsulSaja.

  15. inyo berkata:

    Om, maybe di lumpurnya terkandung element seperti:
    Silicon (Si)
    Chlorine (Cl)
    Pottassium (K)
    Calsium (Ca)
    Titanium (Ti)
    Vanadium (V)
    Manganese (Mn)
    Iron (Fe)
    hanya saja saya lupa dimana postingannya?
    data2 lain yg saya temukan ada di :
    https://hotmudflow.wordpress.com/2006/06/15/kandungan-kimia-lumpur-panas-lapindo-diambang-batas/
    https://hotmudflow.wordpress.com/2007/01/09/nilai-ekonomis-lumpur-lapindo-rp400-triliun/

  16. ompapang berkata:

    Kerak dalam cerek biasanya dibentuk oleh calcium (kapur) atau ferum (besi), lha airnya kalau mengandung asam sulfida atau asam yang lain kan malah menggerogoti pipa besi. Kalau pipa dibuat pracetak dari Ferocement yang biasa dipakai untuk saluran limbah cair kota ( sanitary), misal buatan DUSASPUN Jakarta ,mungkin cocok untuk dipakai saluran air panas ini.

  17. inyo berkata:

    P2 = P1 X ( Q2/Q1)^3 X ( d1/d2)^4 = 122,75 Kw X ( 120.000/150.000)^3 X ( 106,68/100)^4 = 122,75 X (0,8)^3 X (1,0668)^4 =
    122,75 X 0,512 X 1,295 = 81,4 Kw/Km,
    energi yg dibutuhkan utk menghatar air sejauh(L) 4 km via pipa berdiameter(d) 1.0668 m —> 81.4 x 4 = 325.6 Kw/4 km( < 491 Kw)
    sip dech OmPapang….!!, “balance” jika pipanya bener2 lurus.
    tapi Om, ada yg perlu diwaspadai adl: terjadinya kerak2 di penampang-dalam pipa, akankah kerak2 tsb dapat dihindari tanpa proses penyulingan terlebih dalulu sebelum masuk ke pipa(krn paket yg dikirim tsb berupa “paket air-panas plus partikel lumpur,dll”/spt kita memasak air, timbul kerak2 didlm cere-nya) ??

  18. mang Ipin berkata:

    Met pagi n salam kompak all,naah bung Usil sdh dapat pencerahan melalui etung2an yang sudah dgn sangat akurat /jelas dari Om Papang,sekarang qta tinggal menunggu hasil dari EBS team ITS apa hasil dgn sukses or coman sejauh masak air istrinya
    Abu nawas???or ada kemungkian besar teori DBS ato teori pemakaian Kanal V yang
    pada akhirnya akan dimanfaatkan….sabar menanti aza yaah!!!! tariiik bung untanya!!!he . .he..he

  19. ompapang berkata:

    Ralat posting September 22nd at 9:24 am :
    — Daya hasil hitungan P2 = 76,608 Kw/Km yang benar P1″ = 76,608 Kw/Km .
    Tambahan :
    — Dengan referensi P1 = 122,75 Kw/Km didapat P2 = 81,4 Kw/km
    — Dengan referensi P1″ = 76,608 Kw/Km didapat P2 = 81,33 Kw/Km.

  20. ompapang berkata:

    Ralat, baris ke 6 ada yang hilang, Yang betul : yang diambil airnya saja ( BJ kurang dari 13000 N/m3 ) , tetapi jangkauan aliran akan tetap sampai 4 Km, karena daya yang timbul/tersedia (input) dan yang diperlukan/dibutuhkan (output) dihitung pada BJ yang sama. Yang penting ada BALANCE DEBIT.

  21. ompapang berkata:

    Pak Inyo, hitungan diatas tidak memperhitungkan timbulnya pengendapan lho ! Oleh karena itu dalam praktek dilapangan , fluida yang dibuang sedapat mungkin diambil bagian atasnya saja , misal hanya diambil airnya saja sedalam 30 cm dari muka genangan, sehingga material yang berpotensi mengendap tidak terangkut. Karena daya yang timbul dan yang diperlukan dihitung pada BJ yang sama, maka walaupun yang diambil air nya saja ( BJ 4 Km. yang penting ada BALANCE DEBIT . Keuntungan lain dari pengambilan cara itu ( diambil airnya saja ), adalah endapan material padat akan kembali turun kebawah bersirkulasi sehingga menghambat adanya subsidence.
    Bila pengambilan air berjarak 30 meter dari pusat semburan dan kedalamannya 30 cm = 0,3 m, dan semburan teoritis didistribusikan merata secara radial dari pusat semburan, maka kecepatan aliran radial , vr = Q / A = (120.000 / 3600.24 ) : (3,14 X 30 X 0,3) = 1,39 m3/detik : 28,26 m2 = 0,049 m/detik. Jadi dengan kecepatan vr tersebut diharapkan lumpur sudah mengendap tinggal air yang sedikit sekali mengandung material halus yang sulit mengendap, sehingga dapat dialirkan melalui intake yang mulutnya terpasang pada kedalaman 30 cm dari muka genangan , tanpa kewatir terjadinya endapan dipipa , walau kecepatan aliran dalam pipa kurang dari 2 meter/detik.
    Kesimpulan 3 in 1 DBS :
    1) DBS memanfaatkan tinggi tanggul untuk head (energi hidrolik), sehingga tidak perlu keluar biaya lagi ( menghemat biaya )
    2) Pembuangan dapat kearah mana saja yang mungkin terjangkau termasuk ke Kali Porong karena sudah tidak mengandung material yang mudah mengendap.
    3) Terjadi sirkulasi endapan lumpur dipusat semburan,sehingga menghambat terjadinya subsiden.

  22. ompapang berkata:

    Terima kasih Pak Inyo, etungannya tak perbaiki lagi ya !
    Menurut pak RIrawan , untuk diameter pipa d= 42 ” = 42 X 2,54 cm = 106,68 cm. P1= 491 Kw/4 Km= 122,75 Kw/Km
    Kebutuhan daya untuk mengalirkan lumpur dalam pipa , berbanding lurus dengan DEBIT dan berbanding lurus dengan KUADRAT KECEPATANnya. Jadi kebutuhan daya pada pipa diameter 1 m = 100 cm dan debit 120.000 m3/hari adalah :

    P2 = P1 X Q2/Q1 X ( v2/v1 )^2 =P1 X Q2/Q1 X (v2/v1 ) ^2 . Karena v2 = Q2/A2 dan v1=Q1/A1, maka P2 = P1 X Q2/Q1 X (Q2/A2)^2 X ( A1/Q1)^2 = P1 X (Q2/Q1)^3 X (A1/A2)^2. Karena A1/A2 = (d1/d2)^2, maka
    P2 = P1 X ( Q2/Q1)^3 X ( d1/d2)^4 = 122,75 Kw X ( 120.000/150.000)^3 X ( 106,68/100)^4 = 122,75 X (0,8)^3 X 1,0668^4 = 122,75 X 0,512 X 1,295 = 81,4 Kw/Km.
    Bila menurut hitungan pak RIrawan pada diameter 1,2 m , daya yang diperlukan P1’= 70 Kw/Km, maka :
    P2 = P1′ X ( Q2/Q1)^3 X ( d1/d2)^4 = 70 X 0,8^3 X (1,2/1)^4 = 70 X 0,512 X 2,074 = 74,33 Kw/km
    Dari hitungan diatas terlihat ada perbedaan pendapatan akhir yaitu 81,4 Kw/km dan 74,33 Kw/km. Untuk mencari sumber perbedaannya, saya akan coba cek dengan rumus yang sama etungan Pak RIrawan sbb: Dengan debit yang sama Q1=Q2 =150.000 m3/hari, maka untuk diameter d2 = 1,2 m , maka P2 = P1 X ( Q2/Q1)^3 X (d1/d2)^4 = P1 X(d1/d2)^4= 122,75 X (1,0668/1,2 )^4 = 122,75 X 0,624 = 76,608.Kw/km.
    Jadi ada perbedaan dalam hitungan pak Rirawan ,yaitu pada diameter 1,2 m ,daya yang dibutuhkan 70 Kw/Km, sedang dengan rumus diatas terdapat 76,608 Kw /Km.
    Sekarang kita hitung (kroscek) P2 dengan referensi 76,608 Kw/km pada diameter pipa 1,2 m. atau referensi 122,75 Kw/km pada 42 “(1,0668 m) sbb:
    P2 = 76,608 X ( 120.000/150.000)^3 X (1,2/1 )^4 = 76,608 X (0,8)^3 X (1,2 )^4 =
    76,608 X 0,512 X 2,0736 = 81,33 Kw/Km.
    Kalau hitungan terakhir tersebut dianggap benar, maka jarak yang dicapai untuk mengalirkan lumpur L = Daya yang tersedia / P2 = 364 Kw / 81,33 = 4,476 km.
    Jadi masih > 4 km, berarti dengan DBS ( DEBIT BALANCE SYSTEM) TANPA ENERGI SEMBURAN masih bisa mengalirkan lumpur sejauh 4 km dengan head 20 meter ( setinggi tanggul sekarang ).
    Demikian perbaikan perhitungan saya pak Inyo dan mohon koreksi kembali bila salah.

  23. inyo berkata:

    koraksi : bukan 80.54 kw/km tapi 80.64 kw/km

  24. inyo berkata:

    P. RIrawan :
    pipanya 42″ sepanjang 4000 m, diperlukan energi sebesar 491 Kw
    jadi per km diperlukan energi 491/4 = 122.75 Kw.
    1 inchi = 2.45 cm, —> utk 42 inchi= 2.45 x 42 = 102.9 cm = 1.029 m
    skr coba saya adopsi persamaan OmPapang, tapi koq ada beda hasil jauh antara itungan P. RIawan dg
    itungannya Om yah, pdhl diameternya cuma selisih 0.029 m aja ??
    (mungkin krn beda angka yg 1.2 m -> 1.029 m dan 122.75 –> 70 kw)

    P. RIrawan : P2=Q2/Q1 x (d1/d2)^2 x p1 = 120.000/150.000 x (1.029/1)^2 x 122.75 Kw = 103.98 kw/km

    sdg itungan Omapang:
    OmPapang : P2=Q2/Q1 x (d1/d2)^2 x p1 = 120.000/150.000 x (1.2/1)^2 x 70 Kw = 80.54 kw/km

    mungkin krn beda angka yg 1.2 -> 1.029 dan 122.75 –> 70 kw, yg jadi penyebabnya

  25. inyo berkata:

    utk menyadarkan Om Djaja Laksana, dkk ini lho OmPapang…yg sulit utk bisa ditembus, apa musti perlu energi “Bawah-Sadar/telepati”, cuma jurus yg satu ini diluar kemapuan saya, hehehe….mbok sadar’o ta rek2 !!

    ngomong2, Om Djaja Laksana itu punya CD ttg metodenya lho OmPapang, tapi koq PakDhe ga minta yah?

  26. ompapang berkata:

    eh, setelah tahu asal muasal 42 ” = 1,2 m maka tak koreksi etungannya. Dari etungan pak RIrawan, diameter pipa d1=1,2 m dan debit Q1 =150.000 m3/hari.Daya yang dibutuhkan P1 = 70 Kw/Km. Contoh hitungan saya , sebut saja d2 = 1m dan Q2 = 120.000 m3/hari. Berdasar etungan Pak RIrawan kalau boleh tak perkirakan, maka Daya yang dibutuhkan P2 = Q2/Q1 X ( d1/d2 ) ^2 X P1 = 120.000/150.000 X ( 1,2/1 )^2 X 70 = 0,8 X 1,44 X 70 = 80,64 Kw/ Km.
    Jadi L = P/P2 = 364 Kw : 80,64 Kw /Km = 4.51 Km. Jadi cukup karena > 4 Km.

  27. inyo berkata:

    Om, ttg 42 inci postingannya ada di https://hotmudflow.wordpress.com/2007/08/07/its-kenalkan-metode-alirkan-lumpur-bukan-lewat-kali-porong/
    dan pembahasan dr Bapak RIrawan ada di https://hotmudflow.wordpress.com/2007/08/25/september-tim-its-ujicoba-energy-balance-system/
    komentar dr beliau:
    Kalau pipanya 42″ sepanjang 4000 m, diperlukan energi sebesar 491 Kw. Kalau dipakai pompa dengan effisiensi-hidrolik 0,7 dan effisiensi-driver 0,6; diperlukan daya total 1,17 Mw. Jelas cukup merepotkan, kalau dipakai mesin diesel atau listrik PLN. Gravitasi sangat jauh dari memadai.
    Namun EBS ingin memakai energi dari pusat semburan. Hanya saya sama sekali tidak mengerti caranya bagaimana?

    Perfect ide OmPapang, tapi akan lebih sempurna lagi bila Team ITS mo denger’in/ngebaca postingan Om, trus mereka sadar dan mencobanya.

  28. ompapang berkata:

    ralat , L = 364 Kw /70 km/Km, maksudnya L = 364 Kw : 70 Kw/Km = 5,2 Km.

  29. ompapang berkata:

    Pak Inyo, tak cari-cari angka 42 “( 1 m -an) kok gak ketemu ya, dari mana angka itu ? Kalau betul pakai pipa diameter 1 meter berarti crane nya kan BESAR sekali seperti om katakan didalam teka-teki GAJAH.
    OK , mari dipakai pipa diameter 1 m, luas penampang A= 0,785 m2. Seperti kondisi yang saya tulis diatas, kecepatan aliran v’= 10 m/det, maka q = A.v’= 0,785 X 10 = 7,85 m3/det = 678.240 m3/ hari. Jumlah ini lebih dari cukup untuk mengalirkan semburan Q yang diperkirakan 120.000 m3/hari. Tetapi akibatnya akan timbul kekurangan lumpur (TEKOR) dalam pipa sehingga menyebabkan emboli yang kemudian menghentikan aliran walaupun tanggul cincin sudah ditutup rapat ( lumpur tidak dialirkan ketempat lain seperti sekarang ). Pertanyaannya, berapa diameter (d) pipa atau kecepatan aliran (v’)supaya aliran BALANCE.
    –Bila dipakai v’ = 10 m/detik dan diperkirakan Q=120.000 m3/ hari = 1,4 m3/det maka luas penampang pipa A= Q/ v’ = 1,4 : 10 = 0,14 m2. Jadi diameter pipa
    d’ = 4 X akar (0,14 ) /3,14 = 0,48 m = 48 cm = 19 ” Bila v’ > 10 m/detik, pada pipa dipasang stop kran yang dapat diatur sehingga q = Q = 1,4 m3/det.
    — Bila dipakai pipa diameter d = 42 ” = 1m ( A = 0,785 m2 ), maka untuk debit Q =120 m3/hari ( 1,4 m3/detik ) maka kecepatan v’ yang = 10 m/det harus diperlambat menjadi v ” = 1,4 m3/det : 0,785 m2 = 1,78 m/det . Adapun cara memperlambatnya adalah dengan menggunakan stop kran atau valve yang dapat disetel-setel agar didapat debit q = Q =1,4 m3/detik sehingga terjadi balance antara Q dan q.
    Untuk menghitung berapa KW daya yang tersedia , dapat dihitung sbb :
    misal BJ (berat jenis) lumpur = 13000 N/m3, h = 20 m, q = Q = 1,4 m3/detik, maka daya P = BJ X q X h /1000 = 13000 X 1,4 X 20 /1000 = 364 Kw.
    Dari etungan Pak RIrawan, untuk mengalirkan lumpur dengan debit q= 120.000 m3 diperlukan daya sekitar 70 Kw/ Km. Jadi TANPA MEMANFAATKAN ENERGI SEMBURAN, asal tinggi permukaan lumpur tetap h = 20 meter, maka lumpur dapat dialirkan dengan pipa diameter 1m sepanjang L = 364 Kw/70 km/Km = 5,2 Km.
    Jadi dengan sistem KURAS AQUARIUM ( DBS ) jarak pembuangan 4 Km dapat dicapai ! ( ctt. KURAS AQUARIUM dengan mBobol tanggul untuk pipa juga bisa ! )
    Btw, DBS artinya : DEBIT BALANCE SYSTEM bukan Do-Bo-San !

  30. inyo berkata:

    kita ngomong2 pd rencana terapan yg sesungguhnya , lumpur akan di alirakan ke lahan seluas 4000 ha, sejauh 4 km, Team ITS mo pake pipa dg diameter 42″, klo pipa tsb ditaruh di mulut semburan(ujung dg ketinggian < 20 m dan anggap pangkalnya 0 m) apakah dengan mengadopsi energi 100 Mw dr magma bisa mengantar paket lumpur dg success sampai tujuan? kendalanya khan di permukaan, apakah masih ada sisa energi yg bisa full masuk ke dalam pipa sebesar 491 Kw, mengingat perbandingan diameter mulut semburan dg pipa yg terpakai ga sebanding?

    ttg Emboli, sy kira sulit utk dihindari Om, mengingat semburan tsb dibarengi dg media gas(yang mungin bisa aja sebagian ngedon/terikat di partikel lumpur dan baru terjadi pelepasan ikatan stlh berada di dalam pipa) juga masalah temperatur yg cukup tinggi perlu dicurigai

  31. ompapang berkata:

    Kamsudnya tancap gas mencambuk unta ato CABUT dari rumah Abu Nawas gitu lho pak Inyo !
    Sak betulnya dengan metode KURAS AQUARIUM ( syphon) kalau beda ketinggian (elevasi ) permukaan genangan dapat dipertahankan tetap 20 meter ( sedikit dibawah tinggi tanggul ), bisa lho secara teoritis kecepatan aliran dalam pipa tidak hanya SATU METER/DETIK atau 3,6 km/jam , tetapi 20 m/detik atau 72 km/jam. Soalnya kecepatan discharge v = akar (2. g. h ) = akar ( 2. 10.20. ) = V400 = 20 m/detik Bila ada kerugian energi sehingga menghambat laju aliran 50 %, maka kecepatannya masih v’ = 0,5 X 20 = 10 m/detik = 36 km/jam. Kecepatan ini jelas jauh diatas kecepatan minimal untuk pengendapan yang dihitung pak RIrawan = 3 koma sekian meter/detik. Dengan kecepatan v’ = 10 m/detik tersebut mungkin EBS KURAS AQUARIUM akan sukses seperti yang diharapkan, dengan syarat jangan ada EMBOLI.

  32. inyo berkata:

    – dear PhakDe: bener..pakdhe disini kita cuma ngobrol2 aja, lha makalah yg mo didiskusikan ae ga komplit/jelas gitu ! yakopo??
    – dear OmPapang: maybe saat itu konsep Sri Baginda yg di terima oleh Abu Nawas masih konsep yg lama, pdhl dah direvisi, konsep yg baru khan ada tambahan “PERINTAH PEMAKAIAN LPG”
    eh.. Om ngomong2 Sri Banginda itu “tancap”, yg ditancap apanya?? wong beliau pake “unta”, kecepatanya brp km/jam?? jangan2 hanya 3.6 km/jam :))
    gimana P. Usil ??

  33. usil berkata:

    Lho!!! PapaTITA….aku gak ikut2an lho?
    Ini ulahnya mang Ipin, kili2 si Om.

  34. PapaTITA berkata:

    huehehehehehe 😀
    pantas baik team its dan itb ndak ada yg berani tampil disini.

  35. ompapang berkata:

    Pak Usil, Mang Ipin , Pak Inyo cs, dari Hikayat 1001 malam, dikisahkan Raja Harun Al Rasyid dikibulin sama Abu Nawas, ceritanya sang Raja diundang pesta kerumah Abu Nawas dan datang memenuhi undangan. Tapi apa lacur ? Setelah duduk berjam-jam, namun hidangan gak kunjung muncul. Saking hausnya Raja bertanya kepada Abu Nawas, mana minumannya ? Dijawab cerek airnya baru dijerang. Karena berkali-kali tanya minuman , jawabannya selalu sama, masih menjerang air, maka Raja pergi melihat ke dapur Abunawas. Dilihatnya Isteri Abunawas sedang menjerang air dengan cerek yang ….. ya ampun digantungkan tinggi-tinggi sampai menempel dilangit-langit dapur.
    Melihat hal yang demikian, Raja besabda, ” Hei Abunawas, apa kamu sinting, mana mungkin air dalam cerek itu mendidih !” . Jawab Abu Nawas, ampun Baginda Junjungan Hamba, hamba sekedar mempraktekan teori Baginda tentang keseimbangan energi, bukankah Baginda bersabda bahwa teori yang Baginda sebut sebagai Energy Balance System dapat dipakai untuk memanasi orang dengan lilin dari kejauhan karena adanya pancaran energi cahaya yang terkandung dalam lilin tersebut sebagai sumber energi? Lagian Baginda kan sedang mempraktekkan EBS ini dalam bentuk energi hidrodinamika untuk membebaskan lembah Mesopotamia dari genangan lumpur sungai Euphrat dan Tigris ? Mendengar tutur Abu Nawas, Sri Baginda Harun Al Rasyid langsung tancap meninggalkan rumah Abu Nawas, sambil menggerutu, lha orang ngetungku EBS salah kok ya ditiru, dasar Abu Nawas sinting !!!

  36. usil berkata:

    Ibarat lagunya….siapa? alala..lupa, tapi syairnya:
    KAU….. TETAP….KUTUNGGUUUU…WALAU SAMPAI….AKHIR HAYAT.
    Om, mang Ipin, pak Inyo dkk, apa kita tetap tunggu hasil dari hikayat
    dobosan GAJAH dan KATAPEL diatas?

  37. Rovicky berkata:

    Aku lagi direpotin sama Gempa yang bertalu-talu ini
    Kasian lusi dilupakan ya ?
    tapi aku ngikuti diskusinya kok .. eh obrolannya nding … 😛

  38. usil berkata:

    Aduuh! seneng banget dapat komen dari sang owner. Walo cuman 2 baris,
    tapi usil langsung sakit perut (^-^)…untung gak cret…
    Pak Dhe! gimana cara bikin gambarnya ya? koq aku gak bisa2.

    Dasar omPapang, ketahuan deh kalo zaman dulu dia pangkas rambut,
    ngutang mlulu. Sama juga dengan tetangga yang dari KL, waktu SMA
    katanya banyak meninggalkan ‘kenangan’ dengan pak BON?

  39. ompapang berkata:

    Mang Ipin & Pak Inyo, salah ngetung dan salah nulis angka adalah COMMON MISTAKE in arithmatics. Jadi kalau Mang Ipin me MARK UP lebar sungai 800″ menjadi 8000″ dan Pak Inyo me MARK DOWN jangkauan aliran dari 1428 Km menjadi 1,43 Km adalah hal yang biasa. Yang tidak biasa adalah kalau debit aliran 1555,20 m3/hari disangkak 155.520 m3/hari. FATAL akibatnya !!!

  40. Rovicky berkata:

    Wooo ini ta yang menyebabkan mode rambut godrong itu … lah datengnya ke tukang cukur mbesok-besok terus 😛

  41. mang Ipin berkata:

    Om Papang iklan tukang cukur tsb apa sdh dipatenkan apa belum ya!!!
    coz teman ogut yang punya waserba dilingkungan sana..mirip begitu juga..
    malah dia buat spanduk cukup besar dan menyolok ” Hari Ini Bayar,besok
    boleh NGUTANG”….sehingga yang gak biasa belanja kewarungnya pada
    datang!!!…apa ini masuk Anomali kata pak.a-otnaidah???? lam kompak
    selalu Om.

  42. ompapang berkata:

    Pak Usil, kata “BESOK” mengingatkan ompapang waktu masih muda dulu, ada tukang cukur pasang papan iklan ditempat kerjanya, ” sekarang bayar, BESOK pagi gratis” Kompak selalu !!

  43. inyo berkata:

    OmPapang, klo secara MATERAMAL khan nilai probabilitasnya lebih banyak peluangkanya angka yg 155.520( 155/3 digit) ketimbang 1555.20(1555/4 digit), jadi dipilihnya 3 digit aja biar kombinasi angkanya ga banyak2/ruwet, kali bisa nyantol/tembus. hehehe…:-))

  44. mang Ipin berkata:

    Sorry salah etung maksudnya coman 800″ alias 20mtr..betul gak bro???
    trims ya kalo betul!!!

  45. usil berkata:

    Suabar dong Mang! kan janjinya ‘BESOK’?

  46. mang Ipin berkata:

    Kemarin keluar kota jadi gak ngikuti diskusi yang suanget hangat sekali seperti hangat
    nya si LuSi…eeeh bung Usil maklum Aa gak mudeng jadi ya ke wolak walik dach jadi
    nya, tapi yaitulah untungnya ada si Om Papang yang selalu memberikan tuntunan
    kearah yang benar..iya nggak bro? katanya janji mau ngeluarin etung2annya mana???
    yang jelas itungan si Om terdahulu ..yaitu membutuhkan waktu 3,5 thn tuk ngaliran
    si LuSi ntu!!!yang ogut yakini sepertinya lebih mendekati ketepatannya! pernah dengar nggak bahwa aliran S.Ciliwung yang dari Bogor menuju Betawi membutuhkan
    waktu s/d 6jam dengan asumsi lebar sungainya 8000″ alias 20mtr..so gimana yach
    sekiranya dialiri memakai pipa dia 6″ ..bisa2 pipanya ikut keglontor?? tapi untung
    nya kasus dgn si LuSi ada benda padatnya,membaca cerita si Om mengenai ada
    DOBOSAN pada waktu perang dgn Londo dulu…agut ngakak terus sampai teman2
    pada bingung, disangkanya salah makan pisang goreng????abisnya teringat cerita
    si Mat Kribo yang bilang dia pernah dolanan ke Bulan dengan naik sapu terbangnya.
    zaman udah modern gini n banyak orang yang sdh pada pandai ngetung..eehh masih
    aza ada yang suka “ngedobos”..maaf yah bukan mau manas2in supaya ada realisasi
    etung2annya….tarikk da salam kompak selalu

  47. usil berkata:

    O? baru ingat. Ati2 lho jangan sampe usil dibilang PERAGAWAN dan
    mang Ipin dibilang AKTOR. Gawat itu, tapi boleh juga tuh….DIPATENKAN!!

  48. ompapang berkata:

    Pak a Otnaidah, aku sepikiran dengan Bapak, maka komen saya diawal diskusi ini aku melontarkan teka-teki tentang GAJAH. Soal pipa 6 ” yang di HADANGkan pada semburan, kukomentari dengan dengan teka-teki cerita PEJUANG dari Kriyan Sidoarjo. Soal pengendapan, pak RIrawan dengan kanal V nya menghitung minimal kecepatan ( u ) supaya tidak mengendap adalah 3 koma sekian m/detik. Diatas saya melontarkan pertanyaan dari mana etungan kecepatan dalam pipa EBS yang 1 m/detik itu, apakah tidak terjadi pengendapan pada kecepatan tersebut, sebab 1 m/detik itu = 3,6 km/jam = kecepatan para peserta JALAN-JALAN SANTAI pada acara 17-an yang lalu.
    Btw, kalau memang EBS didesain pake pipa 6 “, saya kewatir terjadi SALAH BACA atau SALAH TAFSIR tentang letak dan peran TITIK dan KOMA desimalnya, yaitu debit dalam pipa q = 1555,20 m3 /hari terbaca 155.520 ( seratus lima puluh lima ribu lima ratus dua puluh ) m3/hari, yang oleh PENEMUNYA diSIMPULkan EBS punya kemampuan mengalirkan lumpur lebih dari 150.000 m3/hari.

  49. a_otnaidah berkata:

    om, soal elmu aku sih masi yunior. tapi kalo pake logika trus aku diskusiin ame temen, kayanye lebi kaga masuk akal itu ebs, kalo mau nangkep tekanan dari dalem semburan. mana mau semburan itu disuruh lewat pipa 6 inci. listrik aja maunya lewat kabel yang paling gede. maka aku yakin lumpur pasti lebi seneng lewat samping luarnye pipa yang lobangnye udah 70 meter.
    soal alternatip nyusupin pipa dikaki tanggul, aku pikir ini lebi masuk akal. tapi pa rirawan pernah bilang, padatan lumpur itu gampang ngendap. jadi kalau cuma dipinggir tanggul, kayanye bumpet, kecuali disusupin sampe kepusat semburan yang masi panas, tapi kerjaan ini pasti susa buanget.

  50. ompapang berkata:

    Pak Usil. LAYU SEBELUM BERKEMBANG jebulannya dinyanyikan Teti Kadi, bukan Titi Kadarsih. Sama-sama TK, tapi yang kusebut belakangan peragawati (model).
    Btw, Teti Kadi dulu juga pernah mopulerkan lagu KUTUNGGU DAN KUTUNGGU LAGI, DARI HARI KEHARI . . . . TAPI UJI COBANYA BERHENTI . . . .SEPI …..

  51. usil berkata:

    Aku baru ngeh dengan apa yang pak Otnaidah dan omPapang paparkan.
    Astaga! ternyata begitu sederhana dan praktis. Tapi kenapa yang pihak
    ‘sono’nya membuatnya sedemikian ruwetnya. Sudah gitu pake nama yang
    keren lagi.
    Ini kan mirip dengan percobaan yang lalu, yang pake pipa setinggi gunung
    Semeru (cara dibikin ruwet, tapi istilah tetep bahenol). Pada waktu itu juga
    omPapang dan bu Hime memberi tahu cara yang lebih praktis, gak ruwet.
    Hasilnya: Sukses menghentikan semburan ditempat percobaan, walo
    muncul semburan baru ditempat lain. Tapi SUKSES sudah di klaim dan
    PATEN sudah ditangan. CONGRATULATION!!!

    btw: Mana orang yang ditunggu-tunggu? Tariiik!

  52. ompapang berkata:

    Pak a Otnaidah, kalau motong tanggul aja, gak dapat menangkap tekanan hidrodinamik semburan, jadi dengan mulut pipa diHADANGkan melawan semburan diharapkan ada dorongan masuk ke pipa yang membantu proses pengaliran lumpur dalam pipa.
    Tapi dengan pemikiran yang sama, kalau pipa kita SUSUPkan menembus alas/kaki tanggul (elevasi – 20 meter dari muka genangan lumpur) , lumpur tentu akan mengalir keluar seperti tanggulnya dipotong, baru kemudian pipa diarahkan tampungan yang 4000 hectar tadi. Nanti sesudah genangan turun sampai elevasi 0 ( rata kaki tanggul ), baru EBS di terapkan dengan pipa diameter 1,33 m. Bukankah begitu pak ?

  53. a_otnaidah berkata:

    seru je saut-sautan disini. mau ngalahin rekornye hdcb. moga2 teori bernoli ama ebs nye its yang dipatenin nasibnye lebih mujur dari hdcb. tapi dua2 nye kaya patung. digoyang2, disundul2, digujreg2…….. eh, tetep bungkem 100 bahasa, ga mau kasi keterangan, ga mau njelasin etungannye. angka2 itu nemu darimana sih? pusying…..pusying! yo wis, kite doain sukses sembari nyabarin diri masing2 nunggu E-valuasinya B-esok SSSSS (Senin, Selasa, Sabtu, Sakarepe dewe, Selamane). maklum om, wong EBS.

    tapi aku harepin ebs ga sama dengan teori ngosongin akuarium pake selang. aku diskusiin ama temen2……….eh, pada ngakak. lha dipotong aja tanggulnya, kan lumpurnya udah ngalir turun sendiri. ngapain nyari repot diputer keatas pake pipa 6 inci?

  54. usil berkata:

    Mang Ipiiin! pak Inyooooo! Suara si Om cukup merdu lho??
    Tekanan Embolinya masih pol, daya echonya puanjang heh!
    Alunannya mendesah-desah mengikuti rumusan Newton yang
    belum dipatenkan……hooooy!

  55. ompapang berkata:

    Na …lo DONGENG GEOLOGI ERROR, pak Dhe Tanggung Jawab lho ! 1 – 1 pak Dhe !

  56. ompapang berkata:

    Pak Usil, LAYU SEBELUM BERKEMBANG ( titik kadarsih ? ) kalau diteruskan bait terakhirnya : MENGAPA INI HARUS TERJADI, DI TENGAH KESENGSARAAN, KUINGIN SAKSIKAN LEBIH LAMA LAGI HASIL COBAAN PATENMU.!!

  57. usil berkata:

    Dasar telmi, aku baru ingat tentang cerita mang Ipin yang diatas itu.
    Wah..wah..udah nginap GRATIS dirumah orang ber-bulan2,
    tapi gak tahu siapa tuan rumahnya…..terlalu!
    TARIIIIK!!!

  58. usil berkata:

    Menurut perkiraanku, karena mengabaikan teori EMBOLI, jadinya:
    Ibarat lagu LAYU SEBELUM BERKEMBANG……cing!

  59. ompapang berkata:

    Pak Aburafdi, sudah tak jawab diatas, EBS itu AKRONIM dari E-valuasinya B-esok S-enin ato selasa. Tapi Seninnya atao Selasanya kapan, kita gak tahu. Ibarat BAJAY Jakarta kalau mau belok (tanpa lampu sein ) yang tahu cuma pengemudinya dan Tuhan, demikian pula EBS, baik teori maupun perkembangannya yang tahu cuman Penemunya dan Tuhan ! Kita mah ( sih ) gak tahu ya Mang Ipin ?

  60. aburafdi berkata:

    Saya diam-diam penggemar blog ini, dan saya termasuk yang salut sama para om dan tante yang banyak ilmu, share ilmu di sini dengan gratis dalam rangka mengatasi si LuSi;
    Baru kali ini saya coba kasih komen, eh….bukan ding, mau tanya….(spt PapaTITA)….kok ndak ada berita perkembangan EBS ya ?? kalau mau tau, cari info di mana ya ? ada yang bisa kasih referensi ?
    trims

  61. usil berkata:

    Kalo pak RIrawan gak mau muncul, ya…wes! Sekarang giliran usil
    mempertontonkan etungan/rabaannya tentang EBS, sekaligus tingkat
    suksesnya. Karena panjang dan hasilnya rada kocak, BESOK saja!

  62. ompapang berkata:

    PapaTITA, EBS ( Evaluasinya Besok Senin ato selasa), sabar nak ! Jangan tanya Senin kapan, pokoknya bukan besok tahun Dal !

  63. usil berkata:

    Hik..hik..hik..
    Aku gak percaya dengan umurnya itu. Buktinya benda sekecil kuman,
    masih gak lolos dari matanya….hayah! Ati2 mang! Masih untung sidia
    gak bikin puisi/deklamasi yang puanjang2. Aku jadi curiga kalo gelar
    tehniknya dari negeri Belanda itu hanya ‘sampingan’. Coba mau omong
    rana apa aja, pasti KAMPIUN. Mulai dari: Kue, Wayang, Sejarah, Prosa,
    Mesin, apalagi yang berbau ‘korslet’ jangan ditanya. Sampe pelihara
    belibis jua ahli….hayo?
    Dalam 2 minggu ini justru dia yang layak jadi Owner, bukannya pak Dhe.
    He…he…pak Dhe, jangan marah ya?

  64. PapaTITA berkata:

    Jadi gimana perkembangan EBS?
    sudah seminggu setelah uji coba tahap akhir!
    akankah ada tahap akhir ke dua, tiga dst?

  65. mang Ipin berkata:

    Wadoouw !! Om ,kulo ini mesti aza wolak walik ya !! antara Pak.Dhe dan P.R.Irawan
    janji deh Om, mulai sekarang gak bakal keliru lagi!! habis gak mudeng terus nich
    matur suwun sanget ya Om, lam kompak selalu.

  66. ompapang berkata:

    Na ….lo Mang Ipin salah lagi , yang punya blog ini Pak Dhe Rovicky Dwi Putrohari (RDP), bukan pak RIrawan. Sekarang Ompapang tanya sekali lagi , siapa Pak Dhe itu hayo ? Mesti disangka Pak RIrawan !

  67. mang Ipin berkata:

    He.he..he, tul juga pak.a_otnaidah,kemana ya p.R irawan ? dah di tunggu2 lom
    keluar jg pencerahannya,sabar dulu yaa pak pasti nanti akan datang juga, lah yg
    punya blog ini kan beliau???penjelasan dari si Om Papang mengenai kuras aqua
    rium itu adalah tepat sekali kalo disebut penyeimbangan dari yang isi ke tempat
    lain yang kosong (pemindahan),tetapi harus ada beda tingginya plus 100%
    yang disedot adalah air gak pakai bubur LuSi ,nah sekarang yg mau disedot ada
    unsur benda padat plus semburan yang volumenya cukup besar!!!apa pipa 6″
    mulutnya gak megap2 nerima volume yang lebih banyak dari kemampuannya???
    dengan metode Kanal- V dan biaya sangat ekonomis akan lebih banyak mem-
    bawa keberhasilan… bung Usil sdh waktunya nanti ide tsb akan dipergunakan!
    apa gak dipatenkan dulu??? jangan nanti ada orang asing yang menjiplak merode
    ntu????kata siapa????

  68. a_otnaidah berkata:

    telor colombus kan nyata. kocak sederhana tapi cerdas. ya bedalah pa md ferry. yang diomongin disini urusan gede dan gawat. targetnya huebat, mau ngebrentiin ato ngeberesin lula, tapi yang ditunggu2 penjelasan ama etungannya, ko ga muncul2. tapi dari gambar samar2 ama keterangan sepotong2, kita bisa nebak2. loh, ko kayanya sederhana buanget. teori bernoli adalah ngebumpet semburan pake beban berat. en ebs yang keren, eh, kaya ngeluarin aer dari aquarium pake selang. ya tentu aja pada ketawa. ngapain repot2 sih. kan gampangan tanggulnya aja dipotong, biar lumpurnya bisa lewat trus ngalir sendiri. kalo akuariumnya ompapang, la mana mau kacanya dipotong. lagian ya tentu aja pada mikirnya kaya pa inyo, itu pipa 6 inci mau ngapain sih ditengah semburan lumpur yang ratusan ribu kubik per hari? blep………., aku ga semestinya sinis gini. sekelas pa rirawan aja bilang belon ngerti tentang ebs. bisa jadi teori ebs emangnya luar biasa hebat sampe bisa ngeberesin luapan lula. tapi payah nih pa rirawan ga komen, maen sirep nglang.

    dinegara maju, ide seringnya muncul dari segala orang biasa, bisa pa tani atawa satpam yang kreatip. trus institut dan universitas ama profesor2 nya yang neliti di lab ama ngebuat etung2 an guna ngepastiin angka2 nya, apa ide itu beneran bisa sukses apa enggak. tul gitu mustinya, pa usil, mang ipin?

  69. ompapang berkata:

    Pak Inyo. itu sih LUSI NANO-NANO namanya !

  70. inyo berkata:

    hehehe…bisa aja Omku yg satu ini, joke/ludrukan-nya ga kehabisan bahan, sebenarnya klo ada kerja-sama antara Bandung-Jogya-Surabaya bisa lebih solid lagi teamnya lho Om, Bandung nangan’in “Gas/apinya”, Jogya “lumpur/gudegnya”, Surabaya…”terima Hadiahnya aja”, gimana Pak Usil, mang Ipin, dan kawan2 smua,…setuju?
    saya jadi inget makanan khas surabaya, longtong aja bisa dipake racing: “Lontong Balap”, Mouth bisa dijadikan rujak: “Rujak Cingur”, mungkin nanti akan tambah jenis makanan khas yg baru, namanya “LuSi”…bubur-ayam panas khas Surabaya ada rasa keju, nanas, anggur, melon, dll. :))

  71. ompapang berkata:

    Pak Inyo, kalau semburan lumpur bercampur dengan semburan API, serahkan ahli-ahli dari Bandung, karena mereka dibesarkan di kota LAUTAN API (Bandung) dan apabila pakai iming-iming hadiah /balas jasa /paten dsb (PAHALA ) serahkan penanganan LUSI kepada ahli -ahli dari kota PAHLAWAN( Surabaya ) Nah, nanti kalau sudah pada JUDEG ( gak mampu ), serahkan urusan LUSI pada ahli-ahli dari kota GUDEG ( Yogya).

  72. usil berkata:

    hahahahahahahahahah………………………………….
    Ohhh….ternyata gitu to? usil baru ngeh!
    dasar udang!
    Tapi…ah! gak mau jadi Pemandu soraknya ..Om.
    Diomelin mlulu……..uda gitu angpao dari pak Dhe gak dateng2

  73. inyo berkata:

    OmPapang, UGM identik dg kota Jogya, kota Jogya adl “Kota Pelajar”, artinya mereka hanya “bisa belajar melulu” utk ngejar IPKnya spy dapat nilai terbaik, lha ttg “bencana Lusi”mungkin mereka lom kenal krn ga ada di materi kulihahnya, ato jangan2 ada dosen/ortunya yg pesen “jangan mikir macem2, selesaikan dulu kuliahmu” …..ah!!…mampuslah aku ??

    YTH. MD Ferry, kalau Bapak baca2 posting’an PakDhe, metode kanal-V Pak RIrawan, metode Pond-susun Pak Syahraz, komentar2 OmPapang dan metode2 dari teman2 yg lain di blog ini, itu adalah suatu wujud tindakan/kepedulian/sumbang-sih yg sangat2 bijaksana yg tidak ternilai harganya, krn Bapak2 yg saya sebutkan tadi sebenarnya bukanlah pekerja-Lapangan, tapi para pemikir2 yg handal dan tanpa mengharap balas-jasa/budi/imbalan berupa apapun. dan tentang teori Bernoulli, saya kira ga ada satu temanpun di blog ini yg mengangap itu “gampang”, justru sebaliknya teori tsb “sangat2 sulit” utk mengendalikan LuSi klo diterapkan di Pusat semburan krn terori bernoulli prinsipnya adalah utk mencari keseimbang pada aliran fluida yg sifatnya “HIDROSTATIKA” bukan ” HIDRODIKAMIKA”, saya sendiri ga faham ttg teorema2 tsb, ato barangkali Bapak MD Ferry sendiri bisa memberikan penjelasan ttg teori bernoulli yg dapat menghentikan semburan LuSi di pusat semburannya(BjP-1)?? kami sangat berTerima kasih.

  74. ompapang berkata:

    Lho, PERMAINAN BANDUL kan kerjaan Pak Usil sebagai pemandu sorak !! Apa pak Usil lupa, di setiap event Thomas Cup, Sudirman atau Uber Cup , pemandu soraknya kan Pak Usil. Semua penonton Pak Usil suruh GELENG SANA GELENG SINI , NENGOK SANA NENGOK SINI ngikuti melayangnya diatas kock atau bola tenis diatas net seperti BANDUL MATEMATISnya New Ton. Maka Pak Usil Patenkan saja metode memandu sorak sorai pakai BENDERA SEMAFUR ( sandi dengan aba-aba bendera )itu.

  75. mang Ipin berkata:

    He..he..he…apa mau ndaftarin teori Eyang Newton makalah jatuhnya buah apel…
    ya bung Usil????kalu di Bogor mah namanya Tong Tolang Nangka..bro!!!! ngakak teruuusss!!!!!! lupakan sejenak segala problem qta???? apa iya yah!!!!

  76. usil berkata:

    Walo usil dibuat ngekek terus dari tadi, tapi usil masih terus baca dan baca
    uraian tehnis si Om tentang teori EMBOLI dan MUNTABER diatas.
    Usil juga lagi mikirin usul pak a_otnaidah tentang PERMAINAN BANDUL
    yang katanya metode newton. Ini mestinya semacam ilustrasi yang meng
    gambarkan cara Ir. Djaja mendapatkan paten Teori Bernoullinya. Sayang
    pak a_otnaidah gak jelaskan lebih lanjud. Bisakah omPapang ato pak
    RIrawan menjelaskan lebih detail, maklum otak udang usil tidak bisa
    segera menangkap tanpa penjelasan seperti cara omPapang diatas itu.

    Ha??? jadi disini ‘torang ba kumpul samua, kong tatawa abis’? sambil
    makan kukis BOBENGKA PICA!!!

  77. mang Ipin berkata:

    Betul sekali Om karena kata orang Sunda Cungteh …ceuk urang teh……artinya “me-
    nurut kita”…coz kalo gak ada yang lucu dan bikin kita bisa tertawa ..nantinya bisa suntres ya Om..he..3x…sebab saya juga sama dgn bung Usil mau ndaftar hak paten penemuan Calvin …menjadi (mang) Ipin Calvin….soal pipa 6” yang mau dijejalkan dgn
    LuSi yang seabreg-abreg itu lho Om! sehingga keblenger akhirnya??? lam kompak selalu Om.

  78. ompapang berkata:

    Torang ( Kita orang ) memang suka yang lucu-lucu ya Mang Ipin !

  79. mang Ipin berkata:

    Atuh udah ngakak teruuus ngebaca ulasan2 dari si Om qta bung Usil..kumaha iyeuuu!
    kembali akronimnya Om Papang sekarang bukan dari automotif namun PT, gimana Om kalo IPDN njadi Ilmu Penjagalan Dorang Ntu, karena artinya Dorang dari daerah
    Timur itu “Dia Orang ” boten ikan Dorang ….he..3x tariik terus bro!!!!

  80. usil berkata:

    O? aku kira sohibku si Aa belum bangun! lam kompak Mang!
    Soal Paten itu, begini Mang. Tentang ISI dari teori Ir Djaja, biar para
    ahli yang persoalkan, usil jelas gak mampu. Yang usil rasa lucu, hanya
    NAMANYA saja. Kan lebih afdol kalo disebut, misalnya:
    TEORI Ir. DJAJA,
    Itu aja koq, bener2 gak ada maksud lain.

    Iya mang, si Om masih pagi udah keluarin Teori MUNTABER….ha?
    Adouw! dari tadi usil ngekek terus….dasar si Om!

  81. ompapang berkata:

    Horee, masuuuk ……Goolllll !

  82. ompapang berkata:

    WHOOPS ,There was a small system error, tak cobanya lagi kasih komen ….
    Untuk Hati Nurani dan sohib-sohib kompak , rekrutment dosen biasanya diambil dari lulusan yang paling baik (IPK nya tinggi). Jadi para eks atau alumni PT diluar kampusnya yangmerasa lebih rendah derajat intelektualitasnya , mana berani mengoreksi ( baca: mengritik) teman-temannya yang jadi dosen atau profesor. Ditambah lagi , secara institusional, mereka yang maju sebagai anggota tim untuk pengabdian masyarakat menanggulangi bencana LUSI adalah yang sudah terpilih sebagai putra-putra almamater yang TERBAIK dari yang TERBAIK ( BEST OF THE BEST ). Institusi tentu tidak sembarangan mengirim staf teknokratnya untuk tugas pengabdian masyarakat ini. Tentang percobaannya GAGAL atau BERHASIL itu soal lain, disamping ilmiah mungkin juga ada faktor KEBERUNTUNGAN. Kalau GAGAL, berarti mendapat komentar ANDA BELUM BERUNTUNG!
    Btw, seperti saran HATI NURANI untuk bersatu, sebetulnya dapat dilakukan antar PT melalui KONSORSIUM REKTOR yang sering kumpul-kumpul membahas bermacam masalah bangsa , tidak hanya masalah pendidikan saja, tapi kenapa gak dilakukan ya untuk masalah LUSI, bahkan terkesan berlomba.!!
    Eh, masih ada Gajah satu lagi yang belum muncul, yaitu UGM. Untuk masalah LUSI , mungkin UGM lebih suka MUNGKURI ( membelakangi ) sebab gak ada duitnya, sehingga lebih tepat dalam kasus LUSI ini, PT yang satu ini pakai papan nama UNIVERSITAS GAJAH MUNGKUR ( UGM) atau UNIVERSITAS GEBANGETEN (keterlaluan) MATREnya.

  83. usil berkata:

    Dicomputer ada virus MUNTABER? harap diperiksa!

  84. mang Ipin berkata:

    Lam kompak selalu semua sohib! diskusi EBS jadi semakin seruuu!!! he..3x bung Usil
    andai mau ndaftar teori eyang James Watt untuk hak paten a/n bung Usil ..ya boleh aza bro! coz untuk penemuan2 n teori tsb seperti contoh teorinya Mbah Bernoulli di patenkan jadi hak paten Ir.Djaya Laksana ya sah2 aza,sebab hak paten tsb hanya di
    butuhkan untuk mencegah terjadinya peniruan dari si penemu nya! karena lagian si Embah juga sudah gak ada dibumi ini,jadi gak bakalan dapat somasi dari si Embah or
    putu2nya????mau ditiru yang sdh dipatenkan tsb??? apanya yang mau ditiru???
    karena jauh hari sebelum mencuatnya teori EBS yang pada intinya hanya mengalirkan
    si LuSi binti LuLa tsb, sudah ada pembicaraan dari para pakar di blog ini termasuk jg
    Om kita iya nggak bro????yaitu dengan memakai Kanal V – Kaskade!!!! yang tingkat
    keberhasilannya so pasti tidak dapat diragukan lagi, cuma sayangnya gak di-toleh2
    oleh yang mpunya LuSi,ogut sempat ngakak sendiri ngebaca ulasan dari si Om Papang
    diatas….Ha ..ha..ha, habis sangat masuk akal n suangat nggelitik sekali…makasih ya
    Om Papang untuk elmunya…tarik teruuus!!!

  85. usil berkata:

    Aduuh! sedep sekali ini penjelasan omPapang. Gaya si Om sudah
    kembali seperti 6 bulan yang lalu. Memang, orang yang sarat dengan
    pengalaman lapangan, lain dari yang lain.

    O o o, beda dengan saat Colombus dan sangat jauh bedanya. Disini justru
    sebelum percobaan, kita ‘todong’ mana hitungannya. Harus buka ke publik
    biar diuji-coba gitu.
    Nanti kalo gagal seperti HDCB…tetap juga malu nongol.
    Kan dari awal sudah dihimbau, mari ‘kerja-sama’ demi suksesnya EBS.
    Tapi yang sononya malu2 kucing…ya wes!
    Ada lagi perbedaan mendasar yang lain, yaitu:
    Ide dari para komentator disini GRATISAN, kanal-V contohnya.
    Tapi ya…itu karena dasarnya kita sama2 ingin tuntaskan LuLa, mari
    saling share ide dan saling kritik.
    Tapi usil gak mampu share ide lho? bisanya kritik doang….maaflah!

  86. ompapang berkata:

    Anu pak dhe, kalau pake komputerku. posting suka gak masuk, terus dijawab Word Press Error, tapi kalau hanya nulis TEST kok masuk. Kalau tak ulang dijawab ; Seperti Yang Anda sudah tulis. Kalau ganti komputer dikamar anakku kok bisa ! Coba test lag!

  87. Rovicky berkata:

    Test — Positip
    nah Lo …
    Ompapang tanggung jawab 😛

  88. MD Ferry berkata:

    Yang penting mereka telah berbuat, siapapun mereka. Ingat ketika Christoper Colombus menawarkan kepada orang-2 ramai siapa yg bisa mendirikan telor…. semua diam. Tapi ketika Christoper Colombus meletakkan telor dengan agak keras dan mengakibatkan retak bagian bawahnya sehingga telor dapat berdiri, maka orang-2 berkata..”Kalau begitu sih semua orang bisa !” lalu Colombus menjawab ” Lalu mangapa kalian tidak melakukan ?” Semua akan terlihat mudah dan simpel setelah kita melihat dan mengetahui….. Hal ini sama yg terjadi dari omong-2 ini…..Semua udah tahu hukum bernouli…..tapi kenapa nggak ada yg melakukan ? begitu ada yg pakai….semua bilang itu mah gampang eeuuii…..

  89. hati nurani berkata:

    nah kan ini mbalik lagi. ITB , ITS, tekek kek semua sama saja, senengnya pakai nama institusi. Kalau udah gagal kayak bolton, nanti ceritanya sama saja. Eks ITB ndak berani terang-terangan ngritik bolton. Lha kalau EBS juga ndak terang-terangan dikritik sama eks ITS. ya sami mawon. Saya seneng juga lihatnya, Dua Gajah bertarung ( yg ngakunya jago nelorin ahli minyak ), tapi Pelanduk tidak mati cuma sedih kok Gajahnya kok kelakuannya kayak gitu. Ndak mau bersatu. Jangan-jangan Gajahnya sudah ngerasa jago. Jago dipakai sama orang dan dikadalin sama Gajah yang lebih besar. Saya takut dua gajah ini kehilangan taringnya. Teknokrat yang cuma mikirin institusi lagi.

  90. a_otnaidah berkata:

    wah analisa ompapang asyik. tapi kayanya pa usil bener. kayanya kita ga bisa nyedot akuarium kalo panasnya 100 drajat atawa mendidih. aer mendidih itu kayanya ngeluarin uap emboli. aku cobain pake aer mendidih dipanci ama selang ta isi penuh aer dingin. eh, cuma ngucur aer dinginnye sebentar trus brenti mulu. pa rirawan mana sih.
    hehehem, coba dong pa usil bikin maenan bandulan trrus minta dipatenin jadi metode newton temuan pa usil. seru nih.

  91. ompapang berkata:

    Pak Usil, dalam hal alira fluida dalam pipa , ada 2 macam, yang penuh , artinya tidak ada permukaan fluida dalam pipa dan yang tidak penuh. Kedua keadaan tersebut masing-masing dihitung dengan cara yang berbeda walau persamaannya tetap pakai Bernoulli. Pada aliran dalam pipa tidak penuh, hitungannya seperti kanal V-nya pak RIrawan, yaitu ada kemiringan aliran ( slope). Pada aliran dalam pipa penuh, slope tidak mutlak harus ada, bahkan tegak lurus keatas pun bisa, sebagai contoh aliran air dalam pipa pada pompa air sumur.
    Menurut ompapang, EBS pakai sistem aliran penuh dalam pipa, seperti saya bayangkan sebagai syphon (pipa pindah). Bila aliran lumpur EBS bekerja seperti syphon, yaitu mengutamakan daya SEDOT dari lumpur yang ada dibagian hilir aliran ( elevasi lebih rendah dari permukaan lumpur di pusat semburan), maka dipastikan bila terjadi EMBOLI ( udara yang menyekat aliran lumpur) akan macet total. Bu Hime bilang terjadi CAVITASI. Dan apabila terbentuk uap bersuhu 109 derajat (110 – 1 ) didalam pipa , maka tekanan uap itu berpotensi MEMUNTAH kan lumpur kembali melalui intake pipa dilubang semburan yang dalam EBS disebut- sebut masuk sepanjang 1,5 meter. Jadi sepertinya pipa EBS mengalami … maaf …MUNTABER. Coba bayangkan pak Usil, Ada pipa diameter 6 ” (15 cm) DIHADANGKAN semburan lumpur pada lubang semburan diameter lebih dari 1 m. Pada kondisi tersebut lumpur akan masuk kepipa karena ada gaya hidrodinamik yang besarnya berbanding lurus dengan kwadrat KECEPATANnya. Tapi berhubung lubang semburan sudah berupa kawah atau sangat besar, maka kecepatannyapun menjadi sangat kecil,sehingga gaya hidrodinamik yang mendorong lumpur masuk kedalam pipa EBS pun relatif sangat kecil. Karena itu satu-satunya energi yang diharapkan dapat mengalirkan lumpur adalah gaya SEDOT seperti kita menguras akuarium atau bak mandi. Nah kalau sudah demikian, maka harus dijaga supaya jangan sampai timbul EMBOLI ( masuk angin) supaya percobaan EBS berhasil seperti yang diharapkan.
    Btw, gejala emboli bisa dirasakan pada rem hidrolik mobil yang tidak PAKEM atau malah BLONG atau dapat juga dilihat pada tersendatnya aliran infus cairan untuk pasien dirumah sakit, pada sirkuit-sirkuit hidrolik alat berat dll.

  92. usil berkata:

    He…he…aku sudah yakin pasti dia ketemu itu, bener juga!
    Uuuuuuh mestinya udah pake kaca mata tebel, koq masih awas juga?
    alamak!

    Om, ada dua hal yang mengganjal yang usil gak habis ngerti, yakni:
    1. Hak paten dari TEORI BERNOULLI.
    Namanya saja sudah Bernoulli, mestinya ya…punya Mr. Bernoulli to?
    Kenapa orang lain bisa patenkan dengan nama lain. Seharusnya yang
    benar misalnya: hak paten TEORI IR DJAJA…
    Dengan begini kan kita jadi bingung dan bertanya-tanya: Sebetulnya
    Teori Bernoulli itu, diciptakan oleh Mr. D Bernoulli atau Ir Djaja?
    Kalo begini, bisa dong besok usil patenkan Teori Newton a/n Usil he3x

    2. Tentang EMBOLI yang omPapang tulis diatas.
    Sungguh heran kalo pakar ITS sepelekan hal ini. Apa mereka gak sadar
    kalo proyek mereka berpotensi gagal total justru karena soal EMBOLI ini?
    Om, menurut tim ITS suhu dipusat semburan 110 C.
    Kita rebus air dan mendidih pada 100 C yang ditandai dengan uapnya.
    Bukankah ini artinya emboli itu justru sudah terkandung dalam cairan
    itu sendiri? Inilah yang usil bilang, potensi gagal mereka cukup besar,
    kecuali dalam tim mereka ada Om Om yang sarat pengalaman…huh?

    Jadi? yang merasa Om Om siap2 untuk dilamar yeeeee!

  93. ompapang berkata:

    Pak Usil, aku mau njago jadi Gubernur dinegeri antah berantah mengikuti jejak Arnold Swasanaseger yang pernah membintangi TERMINATOR, soalnya sih sudah dapat gelar TERMINATOR seperti dia.
    Sebetulnya gampang, kalau sudah didaftarkan di Direktoran Jenderal HAKI, maka mulai tanggal pendaftaran Temuan sudah mempunyai kekuatan hukum. Jadi kalau dibuka diblog ini dan diuji publik, gak bakalan ada yang dapat mengklaim kecuali penemu yang sudah mendaftarkan tersebut. Tapi, pendapat dan keinginan orang kan berbeda-beda ya Pak Usil ?
    Pak Inyo juga belum tahu to asalnya kecepatan lumpur dalam pipa 6 ” sebesar 1 m/detik ? Aku juga gitu, tapi pak Usil kalau keliru nyebut Ohm menjadi Watt, nanti mesti pak Inyo nyeletuk: “So WATT gitu lho ! “

  94. inyo berkata:

    sorry Om sy kurang cermat, betul Om utk energi sebesar P = 100 Mw, bisa mengantar lumpur hingga L = 1428.57 km, wong 1 km-nya ja cuma butuh P = 70 KW aja, sekali lagi sorry Om yah, he…3x

  95. inyo berkata:

    saya idem ama Om, tapi energi P = 100 Mw bisa mengalirkan lumpur hingga 1428 Km, apa ga salah itung Om yah? bukankah 100 Mw utk mencapai 1.43 Km aja? tapi bukan ini akar permasalahannya, spt Om bilang, dr mana hasil ngitung-nya ITS, koq dpt V = 1m/dtk?

  96. usil berkata:

    Aku juga mau kritik sama si TERMINATOR. Lha… Om salah apa jika
    mereka sebagi PENEMU. Yang harus disalahkan justru yang memberikan
    beslit PATENT. Koq berani2nya dengan modal ijasah SMEA trus menjadi
    tim Penilai. Setahu Usil, pemegang ijasah SMEA hanya laku di blog ini he2x.

  97. usil berkata:

    Kalo PENDIDIK gak kena dikritik, gawat itu. Punya bakat diktator!
    Ikutannya….ya mahasiswanya………

    Barangkali saat ini mereka mulai sadar akan beberapa ‘parameter’
    yang diuraikan oleh TERMOMETER diatas, dan mulai merasa koq…
    hitungannya BEDA?
    Ya jelas BEDA. Wong yang satu mahir utak-utik kitab, sedangkan yang
    lain, disamping bisa etung juga hampir separu abad di LAPANGAN heh!

  98. ompapang berkata:

    Pak Usil pernah bilang ompapang Barometer, tapi aku bilang, aku ini lebih cocok sebagai Termometer alias Tukang manas-manasi ( termo = panas), jadi kalau ngritik mesti PEDAS ( pedas = hot ). Makanya kalau sudah berani menyatakan sebagai PENEMU (inventor) sesuatu yang belum diuji publik, harus tahan segala macam kritik, termasuk yang asal-asalan ngritik.
    Pak Inyo, EBS mungkin memanfaatkan energi semburan yang sudah dihitung pak RIrawan = 100 Mw. Kalau pakai pipa diameter 1,2 m, maka energi tadi cukup untuk mengalirkan lumpur sejauh L = 100 Mw : 70 Kw = 1428 Km.( jarak Jakarta -Surabaya PP ) Tapi yang menjadi pertanyaan adalah pada kecepatan v= 1 m/detik itu lumpur bisa mengendap apa tidak ? Kalau bisa mengendap mengapa EBS didesain pada kecepatan 1 m/detik ? Dari mana didapat angka kecepatan 1 m/detik ini ? Apakah kalau pipa menjadi meter 1,33 m kecepatannya menjadi kurang dari 1 m /detik ? Nah, andai kita tahu alasan memilih v= 1m/det pada pipa diameter 6 “, mungkin kita bisa faham.

  99. usil berkata:

    Ini pak RIrawan sepertinya gak ada ditempat. Entah beliau kemana?
    Kalo mbak Hime di Jepun bisa bantu ikut jelaskan lebih detail analisa
    etungan pak RIrawan itu pada kita, wah! pasti sedep!!!

  100. inyo berkata:

    OmPapang, P.RIrawan dah penah ngitung2 lho:
    Kalau debit lumpur segar: Q = 150.000 m³/hari ingin dialirkan melalui pipa ke Tambak di sebelah timur Porong, maka diperlukan daya sebesar: P = ½.ρ.λ.Q.u².L/d. Jelas tidak mungkin pakai pipa 6”, sebab untuk itu diperlukan daya lebih dari 2000 Mw per Km-nya. Tetapi jika dipakai pipa 20”, daya yang diperlukan menjadi 5 Mw per Km-nya. Dan bila dipakai pipa berdiameter 1,2 m, daya yang diperlukan hanya 70 Kw per Km-nya.
    Namun dengan pipa besar, kecepatan aliran lumpur menjadi rendah, sehingga Reynold-number aliran itu rendah, yang berakibat terjadi pengendapan lumpur di dalam pipa. Pengendapan itu mempersempit diameter pipa, yang berakibat pada naiknya kebutuhan energi untuk dapat mengalirkan lumpurnya

  101. usil berkata:

    Aku cocok sama pak Dwi agar bisa SYNERGY. Sayangnya dipihak
    sana tutup mulut melulu. Jadinya para komentator disini hanya bisa
    tebak-menebak. Paling banter setelah melihat gambar, baru bisa
    menebak, bagaimana bisa synergy?
    Lagian kritik itu kan penting juga sebagai bahan masukan bagi mereka
    yang lagi di site, agar langka mereka makin sempurna.
    Pak Dwi, kritiknya omPapang masih gak seberapa lho! Kalo mbak Hime,
    whalah…kuping bisa panas.
    Walo kita saling kritik, tapi tujuannya kan baek! Semuanya juga demi
    agar soal LULA ini bisa segera didapat solusinya. Salam kenal pak Dwi.

  102. dwi berkata:

    Yth.Om papang, Om usil…..
    Akan lebih bermanfaat kapasitas & intelektual bapak-bapak, jika disalurkan secara nyata. tidak hanya pandai mengkritik…dan saya tahu, yang pasti begitu ada team yang gagal…akan ada yang bersorak.
    Sebagai sesama intelektual (team ITS & team dari Blong ini), saya yakin bapak-bapak kenal dengan para ahli dari ITS…..jika bisa komunikasi untuk mendapatkan synergy yang cakep …pasti Hasilnya akan lebih baik.
    salam

  103. usil berkata:

    Meskipun ITS gak mau bocorin kalkulasinya, jangan dikira pakar2 blog ini
    gak bisa etung. Diatas contohnya!
    Sebetulnya etungan Om diatas itu berbau ‘OPTIMIS’ karena dengan asumsi cairan ‘sukses’ mengalir.
    Soal GAJAH, biasalah…gayanya omPapang mengkritik. Tapi kan kritik
    positip!
    Etungan udah dimulai sama si OM, siapa menyusul?
    Ini yang saya bilang kemarin: BAKAL RUAME!!!

  104. aj berkata:

    hm mancing di air lumpur

  105. ompapang berkata:

    Kecepatan lumpur dalam pipa, v = 1m/detik=10 dm/detik. Luas penampang pipa diameter 6 dim A = 180 cm2=1,8 dm2. Jadi debit lumpur dalam pipa q= A X v =1,8 dm2 X 10 dm/detik = 18 dm3/detik =18 liter/detik. = 18 liter/det X 3600 detik/jam X 24 jam/hari X 0,001 m3/liter = 1555,2 m3/hari. Debit total dari semburan , diperkirakan Q = 120 m3/hari. Jadi efisiensi EBS dengan pipa 6 dim, e = q/Q X 100 % =1555,2 /120.000 X 100 % = 1,3 %
    Agar efisiensi mendekati 100 %, maka diameter pipa diperbesar menjadi D2 = Akar(Q/q) X 6 ” = Akar ( 120.000 / 1555,2 ) X 6 ” = 52,6 ” = 133 cm =1,33 m.
    Dapat juga dihitung diameternya secara langsung, bila diperkirakan Q=120.000 m3/hari = 1,4 m3/detik, maka untuk kecepatan 1m/detik, dibutuhkan pipa dengan luas A2 = 1,4 m3/det : 1m /detik = 1,4 m2. Jadi diameter D2= 2 X Akar ( A2 : 3,14 ) = 2 X Akar ( 1,4 m2 :3,14) = 1,33 m
    Untuk menahan pipa diameter 1,33 m sepanjang 96 meter yang berisi penuh lumpur (mengalir )agar tetap terapung, mestinya dibutuhkan ponton yang jauh lebih besar volumenya dibanding volume drum yang 0,2 m3 (200 liter). Kesulitan dilapangan nanti adalah penggunaan telescopic crawler crane yang kapasitasnya jauh diatas 20 ton.
    Btw, kalau tetap pakai pipa 6 “, maka untuk menggenangi areal 4000 Ha setinggi 0,5 meter dibutuhkan waktu t = 4000 X 10.000 X 0,5 / q = 200.000 m3 / 1555,2 m3/hari= 1289 hari atau 3,5 tahun. Kalau genangannya setinggi 1 meter, t = 7 tahun.
    Dari hitungan tersebut diatas ( BILA BENAR HITUNGAN saya !), EBS ini seperti TEKA TEKI soal GAJAH, yaitu pertanyaan : GAJAH itu APANYA YANG PALING BESAR ? Jawabnya kan KANDANGnya. Demikian pula EBS ini, APANYA YANG PALING BESAR ? Jelas CRANE nya !
    Masih teka-teki, di jaman pertempuran SURABAYA tahun 45 dulu ada pejuang di Kriyan Sidoarjo yang bilang katanya dapat menembak jatuh pesawat tempur Spitfire Inggris hanya dengan ketapel (plintheng).Pertanyaannya :SEBESAR apa ketapelnya , kok bisa-bisa nya menjatuhkan pesawat tempur ! Ternyata bukan KETAPELnya yang BESAR, tapi DOBOSANnya (BUALANnya ) yang besar.
    Jangan-jangan EBS ini yang kecil bukan BIAYAnya tapi EFISIENSInya atau yang BESAR bukan MANFAATnya, tapi DOBOSANnya ….. eh sorry bercanda !!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: