Para Remaja Korban Lumpur Mengikuti Pelatihan Keterampilan di LKK

RADAR SIDOARJO      Jumat, 21 Sept 2007
Bingung Masa Depan, Berharap Bisa Berwiraswasta
Hidup tanpa kepastian membuat para remaja korban lumpur bingung menghadapi masa depan. Menganggur juga menyebabkan mereka stres. Pelatihan keterampilan jadi hiburan sekaligus harapan baru.

RACHMAT SETIAWAN, Sidoarjo

Remaja-remaja belia tampak sibuk memicingkan mata. Di depan mereka tampak seperangkat alat rajut, seperti benang, jarum, dan pemindai. Tekun. Para remaja korban lumpur asal Desa Renokenongo, Kecamatan Porong, itu berkonsentrasi di bawah bimbingan seorang instruktur.

Mereka sedang mengikuti pelatihan keterampilan yang diadakan oleh Posko Gus Dur Peduli untuk korban lumpur di Gedung Lembaga Keterampilan Kerja (LKK) Jl Pahlawan kemarin (20/9). Selama Ramadan, mereka akan menjalani aktivitas itu hingga menjadi terampil.

Menurut relawan Posko Gus Dur Peduli Lina Louis, peserta pelatihan keterampilan adalah remaja-remaja putri dari Desa Renokenongo, Kecamatan Porong. Mereka lulusan SMP dan SMA, bahkan ibu rumah tangga, yang kini menganggur. “Kami menawarkan pelatihan ini dan mereka ternyata antusias,” kata Lina.

Sebelum ini, lanjut dia, mereka mendapatkan bimbingan bagaimana menghindarkan diri dari perilaku penyimpangan seksual yang rawan terjadi di pengungsian. Sebagian remaja korban lumpur lain juga sudah diikutsertakan di balai latihan kerja di Malang. “Yang tidak bisa ikut, kami tampung dan beri kesempatan di sini,” tambah Lina.

Menurut dia, pelatihan diadakan bekerja sama dengan Endang Winarti, seorang perajin yang juga aktif di Serikat Pekerja Telekom (Sekar) Regional V Jatim. Materi pelatihan, antara lain, teknik merajut kerudung, sandal, dan berbagai aksesori busana.

“Kalau peserta sudah terampil, mereka langsung diberi order. Mereka mendapatkan penghasilan dari situ,” kata dia. Pelatihan diberikan secara gratis, baik bahan maupun peralatan. Termasuk, transportasi dari pengungsian Pasar Porong Baru ke Kantor LKK. Pelatihan dilakukan selama Ramadan, sampai mereka benar-benar bisa.

Endang menambahkan, keberhasilan peserta pelatihan bergantung kepada diri masing-masing. Tentu ada yang mau dan mampu, ada juga yang tidak. “Kami berusaha membantu mereka mencari jalan keluar agar tidak terus-terusan susah,” ujarnya.

Asfirotun, 18, salah seorang peserta, mengatakan ikut pelatihan itu karena tertarik. Sejak rumahnya di RT 04 RW 01 Desa Renokengo tenggelam, keluarganya mengungsi di pasar. Selama itu, hidup terasa buntu karena tidak tahu harus bekerja atau harus menunggu nasib. “Setiap hari saya bingung mau apa,” kata tamatan SMEA PGRI Porong tersebut.

Begitu pula Irawati, 19, korban lumpur asal Dusun Sengon RT 12 RW 03 Desa Renokenongo. Gadis tamatan MTs Shahibul Hasan Desa Glagaharum, Kecamatan Jabon, itu ingin bisa segera bekerja agar tidak terus-menerus jadi pengungsi. “Saya senang ada yang membantu tanpa biaya-apa,” ujarnya. (*)
09/20/2007 10:11:33 Original attachment (image001.gif) was Quarantined.  The original attachment was blocked from delivery due to current attachment blocking rules.  You can safely save or delete this replacement attachment.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: