Puasa Anak-Anak Korban Lumpur di Pengungsian Pasar Porong Baru

RADAR SIDOARJO      Rabu, 03 Okt 2007
Kadang Tidak Sahur, Makan Enak kalau Ada Tamu
Anak-anak korban lumpur memimpikan bisa berpuasa seperti saat tinggal di rumah di Desa Renokenongo, Kecamatan Porong. Di Pasar Porong Baru, tidur dan makan enak seperti barang mahal. Bagaimana mereka berpuasa?

TORIQ S. KARIM, Sidoarjo

Wajah Regian Alif Baskara, 11, tampak lemas saat berkumpul dengan teman sebayanya menjelang sore. Raut lemas Egi, panggilan akrabnya, membuktikan bahwa dirinya sedang menyelesaikan puasa Ramadan hari itu. “Udaranya panas, jadi haus. Maka, tubuh saya lemas,” ujarnya.

Selama puasa ini, anak pertama pasangan Pitandu Haryadi dan Sutriasih itu mengaku baru sekali tidak menjalankan puasa awal Ramadan lalu. Alasan Egi, udara panas membuat dirinya tidak mampu menahan haus. “Saya tidak kuat, akhirnya mokel,” kata siswa kelas IV SD Muhammadiyah Besuki itu.

Selain Egi, beberapa anak pengungsi korban lumpur menjalankan puasa dengan baik. Misalnya, Muhammad Sahril Hakim, 11. Sahril mengaku hanya batal dua kali. Berbeda dengan Egi, Sahril tidak berpuasa karena tidak sahur. “Saya tidak dibangunkan ibu. Jadi, saya tidak ikut puasa,” ujar putra pasangan Purwanto dan Suparni itu.

Makan sahur dengan nikmat dan tepat waktu jadi persoalan tersendiri bagi pengungsi korban lumpur. Sebab, jatah makan mereka bergantung pada dapur masal. “Kadang saya tidak kebagian, maka tidak dibangunkan,” tambah Sahril yang kini duduk di kelas IV SDN Renokenongo 1.

Menurut Egi dan Sahril, lauk-pauk untuk buka dan sahur selama di Pasar Porong juga jauh dari memadai jika dibandingkan dengan saat di rumah. Lauk sehari-hari rata-rata tidak jauh ari ikan teri, pindang, atau perkedel. Karena itu, mereka tidak bisa memilih ingin makan apa supaya bisa sahur dengan enak, lalu puasa dengan khusyuk. “Kadang-kadang kami bosan,” ujar Egi.

Di tengah kondisi memprihatinkan itu, Egi dan Sahril mengaku sering berangan-angan dapat makanan enak saat sahur maupun buka. Sebab, makan enak baru bisa mereka dapatkan ketika tamu dari luar datang ke pengungsian.

Ada yang mengajak buka bersama. Ada pula yang hanya membagi makanan untuk buka puasa. “Kalau ada orang luar buka di sini, lauknya pasti enak,” ungkap Egi.

Meski demikian, Egi dan Sahril mengaku senang bisa tetap berpuasa tahun ini. Mereka tetap bermain, meski badan lemas. Setiap menjelang waktu salat, anak-anak itu berkumpul di masjid darurat di pasar. Begitu pula ketika tiba waktu magrib. Mereka buka puasa, lalu berbondong-bondong salat. “Setelah lewat tarawih, kami juga main bola,” ujar Sahril.

Sahril juga mengaku sudah dapat bingkisan berisi baju, tasbih, dan sarung. “Kami dapat bingkisan itu dari orang yang datang ke pengungsian. Kami senang sekali, ” katanya. (*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: