Renokenongo Bakal Tenggelam

RADAR SIDOARJO      Kamis, 18 Okt 2007
Tanggul Titik 42 Makin Kritis
SIDOARJO – Desa Renokenongo, tampaknya, segera tenggelam, menyusul desa lain di kawasan lumpur. Hal itu disebabkan kondisi tanggul di titik 42 semakin mengkhawatirkan. Hingga kemarin, penurunan (subsidence) masih terjadi. Parahnya, kapan dan lokasi penurunan tidak bisa dipastikan. Kemungkinan tanggul jebol dan lumpur meluber bisa terjadi kapan saja.

Humas BPLS Achmad Zulkarnain membenarkan adanya kekhawatiran itu. Saat ini tanggul titik 42 rawan subsidence. Sementara peninggian tidak mungkin dilakukan. “Dampaknya, kemungkinan jebol bisa terjadi sewaktu-waktu,” katanya. Antisipasi yang bisa dilakukan Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) hanya membangun tanggul sekunder (counter wide).

Untuk itu, dia mengimbau warga Desa Renokenongo segera pindah. Sebab, wilayah yang mereka tempati saat ini masuk wilayah terdampak. “Sudah saatnya warga berpindah tempat. Semua ini demi kebaikan bersama,” ucapnya.

BPLS telah melakukan beberapa tindakan antisipasi dan pengamanan. Misalnya, pembangunan counter wide dengan tinggi kurang lebih 5 meter. Selain itu, pembangunan tanggul di wilayah terdampak, yakni Renokenongo, yang segera dilakukan.

Rencananya, pembangunan akan dimulai hari ini (18/10). Pengukuran sudah dilakukan, tinggal sosialisasi dan realisasi. Tanggul tersebut akan dibangun sepanjang 3 kilometer. Lebar bawah tanggul diperkirakan30-42,5-meter dengan elevasi 11 meter. “Tanggul tersebut berfungsi menutup peta terdampak, sekaligus mengamankan desa yang tidak masuk wilayah terdampak,” jelas Zulkarnain.

Berdasar pantauan di lapangan, kondisi tanggul di titik 42 masih berbahaya. Bahkan, kemarin sekitar pukul 08.00 WIB tanggul sekunder (counter wide) jebol kembali. Namun, itu bisa diatasi dengan mudah. Jebolnya tanggul itu menyebabkan jalur alternatif Tanggulangin-Gempol lewat Renokenongo belum bisa dilalui kendaraan roda empat.

Genangan lumpur juga masih tampak di jalan raya, rumah, dan persawahan milik warga. Akibatnya, jalan tersebut tidak bisa dilalui. Sementara arus lalu lintas dari Surabaya ke Malang dan sebaliknya tetap melalui Desa Glagaharum, Keboguyang, dan tembus ke jalan raya Desa Besuki. (riq)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: