Pembangunan Tanggul Dimulai

RADAR SIDOARJO
Jumat, 19 Okt 2007

Jumat, 19 Okt 2007 Melingkari Desa Renokenongo
SIDOARJO – Jalur alternatif Tanggulangin-Gempol yang melewati Renokenongo, akhirnya, tak bisa dilalui. Sejak kemarin, pembangunan tanggul Renokenongo dimulai. Arus lalu lintas yang semula melewati Renokenongo diubah. Jalur alternatif diarahkan ke Desa Glagaharum, Keboguyang, tembus ke Jalan Raya Desa Besuki.

Pembangunan tanggul itu perlu segera dilaksanakan, menyusul terjadinya luberan sejauh 500 meter, bahkan menggenangi rumah warga Desa Renokenongo. Tanggul tersebut dibangun dengan lebar 30 sampai 40 meter dan elevasi 11 meter. Tujuan utamanya, menutup wilayah peta terdampak dan mengamankan desa di luar peta terdampak. Itu berarti Renokenongo akan ditenggelamkan, termasuk sekolah dan fasilitas umum (fasum) lainnya.

Pembangunan tanggul dengan elevasi 11 meter itu membutuhkan waktu sekitar dua bulan. Panjang tanggul diperkirakan mencapai dua sampai tiga kilometer. Sedangkan luas daerah yang akan tertutup mencapai kurang lebih 40 hektare.

Meski wilayahnya akan tertutup lumpur, sampai kemarin warga Desa Renokenongo masih bersikap tenang. Sebab, saat ini luberan baru mengenai beberapa rumah yang sudah kosong. Beberapa pemilik rumah ada yang mengamankan barangnya.

Humas BPLS Achmad Zulkarnain mengimbau warga agar segera meninggalkan wilayah Renokenongo. Pembangunan tanggul sudah dilaksanakan sehingga warga diharapkan segera pindah dari tempat tersebut. “Ini demi keamanan bersama,” katanya.

Zulkarnain berharap agar Lapindo menyelesaikan semua ganti rugi. Utamanya persoalan fasilitas umum (fasum), seperti sekolah, masjid, dan lainnya. “Secepatnya agar diselesaikan supaya pembangunan tanggul bisa terlaksana dengan lancar, ” tegasnya.

Zul mengakui adanya warga yang enggan meninggalkan Renokenongo. Namun, pihaknya tetap melangsungkan pembangunan tanggul tersebut. Sebab, menurut dia, jika tidak dibangun tanggul, akan berdampak pada desa lainnya. “Kasihan wilayah yang tidak masuk wilayah terdampak nanti,” tuturnya.

Secara terpisah, Humas PT Lapindo Brantas Inc. Yuniati Teryana mengatakan, paket bantuan yang diberikan kepada korban bencana lumpur Sidoarjo sudah semestinya digunakan untuk kehidupan yang lebih baik. Sebab, wilayah yang mereka tempati saat ini masuk peta terdampak. “Dalam SKB, warga bertanggung jawab atas dirinya bila terjadi bencana di wilayah itu. Sebab, wilayah tersebut tergolong rawan bencana dan masuk kawasan terdampak,” jelasnya.

Namun, lanjut Yuni, Lapindo berharap tidak terjadi bencana yang membahayakan warga. “Demi keamanan bersama, warga hendaknya memanfaatkan uang bantuan untuk mencari tempat yang lebih baik, ” katanya. (riq)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: