Warga Bongkar Rumahnya, Mencoba Hidup Hemat agar Mampu Membeli Rumah Sederhana

KOMPAS,  Minggu, 21 Oktober 2007
SIDOARJO, KOMPAS – Warga Desa Renokenongo, Porong, Sidoarjo, Jawa Timur, yang rumahnya terkena luberan lumpur akibat pecahnya tanggul 42 beberapa hari lalu, secara bertahap membongkar rumah mereka sendiri dan meninggalkan desa. Mereka khawatir tanggul kembali pecah dan lumpur datang bak air bah.

Pada Sabtu (20/10) kemarin beberapa warga Renokenongo mengambil kusen, rangka kayu, dan genteng. Kebanyakan barang itu disimpan untuk melengkapi rumah baru yang akan mereka bangun di tempat lain.

Meski sebagian besar warga Renokenongo sudah mengungsi ke Pasar Baru Porong sejak lama, beberapa warga masih tinggal di desa tersebut. Mereka yang bertahan adalah warga RW 1 RT 4 serta RW 2 RT 5, 6, 7, dan 8.

Mujianto (47), Ketua RT 4, menuturkan, rumahnya seluas 87 meter persegi sudah dibongkar sejak dua hari lalu. Ia tidak pindah ke Pasar Baru Porong karena menerima skema pembayaran ganti rugi dari pemerintah 20:80 persen. Sementara warga Renokenongo yang mengungsi ke Pasar Baru Porong adalah mereka yang bersikeras menolak skema pembayaran itu.

Selain telah menerima 20 persen pembayaran ganti rugi, Mujianto sudah menerima uang kontrak sebesar Rp 5 juta dan uang jatah hidup Rp 300.000 per bulan. Tetapi ia memilih tetap tinggal di rumahnya di Desa Renokenongo. “Saya mencoba berhemat, uang ditabung untuk membeli tanah dan rumah,” ujarnya.

Ketika lumpur sudah benar- benar masuk ke rumahnya, barulah dia bersiap-siap pindah. Beberapa lokasi tanah di Pasuruan juga sudah diincarnya.

Hal senada diungkapkan Sumainah (45). Sabtu kemarin ia dan beberapa anggota keluarganya membongkar kusen, pintu, serta jendela rumah. Selama ini Sumainah dan keluarganya tinggal di Pasar Baru Porong. Rumah di Renokenongo ditempati ibunya, Srita (60). Sumainah adalah warga yang menolak skema pembayaran 20:80.

Ia menuturkan, tak lama lagi ia akan meninggalkan Pasar Baru Porong dan membangun sebuah rumah di Kecamatan Krembung, Sidoarjo. Kusen, pintu, dan jendela yang sudah dikumpulkan akan dipakai untuk membangun rumah itu. “Rumah ini harus segera dibongkar sebelum tanggul jebol dan lumpurnya masuk ke rumah,” katanya.

Secara terpisah, mantan warga yang menempati Desa Renokenongo RT 4 RW 1, Jiva (28), menyatakan, ia beserta anak dan suaminya pindah sejak akhir Agustus. Mereka pindah setelah mendapat 20 persen uang muka dari Lapindo. Uang itu digunakan untuk mengontrak rumah di Puri Sampurno.

Mau tidak mau mereka mengontrak rumah karena kawasan di Renokenongo tidak memungkinkan untuk ditempati. Sementara untuk membeli rumah baru juga tidak mungkin karena harga tidak terjangkau. “Harga rumah mahal-mahal, jadi yang paling memungkinkan hanya mengontrak,” katanya.

Sejak pindah ke rumah kontrakan, sebagian besar barang dan perabotan sudah dibawa. Akan tetapi ada juga yang masih tersisa di rumah lama, terutama yang menempel di rumah, antara lain pintu dan kusen.

Saat mendengar bahwa kawasan di desanya akan dijadikan kolam penampungan lumpur, Jiva dan suaminya, Darmadji (52), segera kembali ke rumah lama dan mengambil aset-aset yang tersisa. “Lumayan, kalau nanti perlu untuk rumah, tidak perlu beli lagi. Sayang kalau dibuang,” ujarnya sambil menggendong putra semata wayangnya, Fani (1).

Kepala Humas Badan Pelaksana Badan Penanggulangan Lumpur di Sidoarjo (BP BPLS) Achmad Zulkarnain kembali mengimbau warga Desa Renokenongo agar segera pindah dari lokasi tersebut. Desa Renokenongo sudah masuk dalam peta area terdampak lumpur pada Peraturan Presiden Nomor 14 Tahun 2007 tentang Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo. BP BPLS akan menjadikan Desa Renokenongo dan sebagian Desa Glagaharum sebagai kolam penampungan sementara. Untuk itu, di sepanjang desa-desa tersebut akan dibangun tanggul.

Tanggul yang akan dibangun itu bersambung mulai dari Desa Gempolsari, Kedungbendo, Ketapang, Glagaharum, Renokenongo, hingga Besuki. Saat ini pengerjaan tanggul itu baru sepanjang 100 meter di Desa Besuki.

“Tanggul di Desa Renokenongo akan dibangun kalau warga di sana sudah seluruhnya keluar,” kata Zulkarnain. (ULE/BEE)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: