Lagi, SBY Ingatkan Lapindo Tepati Waktu Pelunasan

Jumat, 26 Okt 2007, JawaPOS
SIDOARJO – Lawatan tiga hari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke Jawa Timur diisi kunjungan dari satu bencana ke bencana yang lain. Setelah bermalam di pengungsian Gunung Kelud, kemarin SBY meninjau langsung lokasi pusat semburan lumpur Lapindo dari udara menggunakan helikopter.

Setiba di Bandara Juanda, presiden mengadakan rapat selama tiga jam mendengarkan pemaparan tim Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) terkait penanganan lumpur dan masalah sosial yang diakibatkan lumpur. Rapat yang berlangsung sejak sekitar pukul 10.00 WIB itu dihadiri sejumlah menteri Kabinet Indonesia Bersatu, gubernur Jawa Timur, bupati Sidoarjo, perwakilan Lapindo, dan Ketua BPLS Sunarso.

Dalam rapat itu, presiden menginstruksikan kepada Bupati Sidoarjo Win Hendrarso agar mulai mempersiapkan pembayaran sisa ganti rugi kepada warga korban lumpur Lapindo mulai tahun depan. “Mulai hari ini (kemarin, Red) agar dibuatkan jadwal sehingga segala sesuatunya tepat waktu,” kata Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto, mengutip pernyataan Presiden SBY, usai rapat tertutup kemarin.

Menurut Djoko yang juga ketua Dewan Pengarah BPLS, sesuai Perpres No 14/2007 tentang BPLS, pembayaran sisa ganti rugi sebesar 80 persen harus sudah dimulai pada Mei 2008. “Pelunasan pembayaran ganti rugi akan dimulai Mei 2008. Karena itu, Bapak Presiden meminta bupati menyiapkan hal-hal yang dibutuhkan sehingga pada Mei 2008 sudah ada yang dilunasi,” tuturnya.

Djoko mengatakan, masih ada sejumlah warga yang belum sepakat soal pola pembayaran ganti rugi 20:80 persen yang ditetapkan pemerintah. Namun, menurut Djoko, jumlah mereka dari waktu ke waktu menurun. Dan, pemerintah optimistis, jika disosialisasikan dengan baik, itu akan mencapai titik temu.

Berdasar data tim verifikasi Badan Pelaksana BPLS, mereka yang tidak mau mengikuti skema ganti rugi 20:80 dan menuntut skema 50:50 adalah mereka yang hingga kini tinggal di pengungsian Pasar Porong Baru, Sidoarjo. Jumlahnya 690 keluarga. Adapun korban lumpur yang menolak memenuhi persyaratan administrasi berupa berkas harus ditandatangani ketua RT/RW sekitar 400 keluarga.

Selain memastikan pelunasan ganti rugi bagi warga korban lumpur Lapindo tak meleset, Presiden SBY menginstruksikan agar penutupan semburan lumpur terus diupayakan. Sambil menunggu upaya penutupan itu, yang harus dilakukan sekarang adalah terus mengalirkan lumpur ke laut melalui Sungai Porong.

Agar aliran sungai tidak tertutup lumpur dan menimbulkan bencana banjir, presiden meminta kapal yang mengeruk endapan lumpur di sungai diperbanyak.

Rencananya, tiga kapal keruk tambahan dioperasikan di Sungai Porong. Ketiga kapal itu adalah satu unit akan diusahakan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral dan dua unit lainnya bakal diupayakan Kementerian Pekerjaan Umum.

Saat ini ada dua kapal keruk di sungai. Satu kapal sudah beroperasi dan satu lagi belum. Di antara lima kapal keruk tersebut, empat unit berada di sungai dekat lokasi pembuangan lumpur dan satu lagi mengeruk di muara sungai. “Jika bagian hilir dikeruk, diharapkan terjadi degradasi di dasar sungai. Dengan begitu, lumpur yang dialirkan melalui Sungai Porong bisa mengalir ke laut,” kata Djoko.

Dana untuk mengalirkan lumpur ke laut dan juga biaya penanggulangan lumpur secara keseluruhan yang sudah dialokasikan di Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2007, menurut Djoko, akan cair dalam waktu dekat. “DPR sudah setuju. Sekarang tinggal masalah administrasi yang menjadi kewajiban kami semua untuk mempercepat proses itu,” tuturnya.

Total dana yang dialokasikan Rp 500 miliar. Rinciannya, Rp 300 miliar untuk pembebasan lahan infrastruktur, seperti rel kereta dan jalan tol. Selebihnya digunakan untuk biaya operasional BPLS. “Dengan cairnya dana ini, Badan Pelaksana BPLS bisa bekerja maksimal dan penanggulangan lumpur akan lebih cepat,” tambah Djoko.

Ketua BPLS Sunarso mengatakan, pihaknya akan bekerja semaksimal. Kini mereka akan menambah tanggul-tanggul semaksimal mungkin sehingga peta terdampak tidak semakin luas dan masyarakat bisa tenang. “Intinya, kami harus bersabar. Sebab, kami bekerja melawan alam,” ujarnya. (riq/bal)

4 Balasan ke Lagi, SBY Ingatkan Lapindo Tepati Waktu Pelunasan

  1. Tonas mengatakan:

    Gimana mau takut, sangsi-nya cuman lips-service aja bung… Alias gertak sambal aja.

  2. hope number 2007 mengatakan:

    Maaf kepencet enter hehehe

    Saya percaya ada sesuatu yang baik akan menunggu .. Yah mudah sekali untuk mengatakan hal ini , tapi yah, paling tidak saya sendiri yang percaya dan yakin.

    Saya mengucapkan maaf apabila ada kata – kata yang menyinggung (tapi saya merasa perlu mengatakannya) dan terima kasih atas perhatiannya.

  3. hope number 2007 mengatakan:

    Lumpur panas ini emang ngrepotin ya…
    Gue kesambet ide gila nih.. Saya memang bukan ahli kimia tapi boleh kan ngasih ide.. Apa bisa ya lumpur panas itu dikonversi ke bentuk lain ?
    Oya ,gue baru baca di wiki nih (http://en.wikipedia.org/wiki/Hydrogen_sulphide),lumpur panas itu kan pada dasarnya hydrogen sulphide (iya,emang bentuk gasnya sih) .. en terus gue baca kalo pada proses pemurnian air ,Hidrogen sulfida tersebut bisa dikonversikan menjadi sulfur dan air ( kalo gak salah ada juga yang disebut dengan Claus Process..)
    ada juga alternatif lain dengan menggunakan mangan dioksida (Manganese Dioxide)
    Yah emang cuman teori asal aja ,tapi kalo seandainya bisa diterapkan untuk mengatasi masalah ini tentunya bagus juga ( yang pasti memang membutuhkan riset dan biayanya pasti mahal ) . Dengan demikian penampungan disalurkan ke tempat lain
    (waduk) untuk “diproses” . (siapa tahu lumpur panas bisa jadi alternatif BBM, hehe)

    Mungkin gagasan ini tidak praktikal , tidak ,belum, atau sulit untuk diterapkan, tapi saya ingin memberi suatu pandangan ,bagi siapa saja yang membaca ini, bahwa -mungkin- masih ada harapan.. (we won’t let this country sunk like titanic, right ?)
    And I believe , that even the slightest hope can rise into dream, a real dream ..

    Saya juga ingin memberi -entahlah apa namanya- bahwa masyarakat sebaiknya tidak hanya menunggu terkucurnya dana dari pemerintah .. Yah, memang itu semuanya itu tanggung jawab pihak yang berkaitan, tapi alangkah baiknya kalau kita menggunakan momen ini untuk melakukan sesuatu yang positif secara bersama – sama ( warga dapat melakukan sesuatu yang merupakan usaha kolektif, menciptakan lapangan kerja bersama – sama yang dilakukan oleh masyarakat setempat dengan dana tertentu ).

    Bad things happens, sometimes to good people
    Mungkin hal – hal buruk dapat terjadi pada orang orang yang tak bersalah, tapi yang penting adalah apakah yang akan kita lakukan sesudah itu .

    And I believe that something good maybe is waiting

    It’s never too late to come back to the start

  4. k' tutur mengatakan:

    Sepertinya, gak takut ya sama Presiden? Kenapa?
    Apakah karena, keseringan TP™ alias Tebar Pesona?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: