Humas BPLS Achmad Zulkarnain Menangani Masalah Sosial Semburan Lumpur

RADAR SIDOARJO      Senin, 29 Okt 2007
Sering Diteror, Ajak Masyarakat Berpikir Rasional
Problem sosial karena semburan lumpur Porong menyedot energi. Meski mulai berhasil dengan realisasi uang muka ganti rugi, penyelesaian masalah sosial itu dipastikan masih panjang. Bagaimana dengan orang yang sehari-hari di lapangan?

TORIQ S. KARIM, Sidoarjo

Namanya setiap hari muncul di media. Tugas-tugas sebagai humas Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) mengharuskan Achmad Zulkarnain, 33, menjelaskan situasi sekitar lokasi luapan lumpur, pukul berapa pun dan dalam kondisi apa pun. “Saya harus selalu siaga memberikan informasi. Setiap hari hanya tidur sekitar tiga sampai empat jam,” tutur Izul, panggilan Zulkarnain.

Pria kelahiran 30 Juli 1974 itu menceritakan bergabung dalam BPLS tanpa melamar. Izul mengaku diajak oleh Staf Ahli Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Hardi Prasetyo karena pernah bekerja di salah satu konsultan pengeboran. “Saya tidak memikirkan gaji sama sekali. Orientasi saya hanya membantu,” kata lulusan Jurusan Teknik Pertambangan Universitas Tri Sakti Jakarta tersebut.

Semula, Izul mengaku bimbang. Sebab, dia buta soal semburan lumpur, apalagi yang begitu dahsyat seperti di Porong. Pria itu menamatkan S-2 di Program Ilmu Kajian Lingkungan Universitas Indonesia. Namun, lambat laun, perasaan tersebut hilang. Izul merasa tertantang dengan tawaran tugas itu. “Akhirnya, saya putuskan bergabung,” kata suami Eka Wijayanti tersebut.

Terhitung sejak 12 April 2007, Izul resmi bertugas sebagai humas BPLS. Dia bertugas memetakan persoalan sosial dan infrastruktur. Selain itu, Izul memberikan informasi kepada masyarakat tentang perkembangan kondisi lapangan dari waktu ke waktu.

Informasi itu tidak selalu kabar bagus, tapi sering kabar perkembangan yang mengkhawatirkan. Misalnya, tanggul jebol atau lumpur sedang mengancam sebuah desa. “Saya harus menyampaikannya secara jujur,” ujarnya.

Informasi tersebut sering berbuah protes, demonstrasi, dan aksi-aksi lain dari masyarakat. Dia juga sering dimaki-maki atau diteror. Itu ada yang lewat telepon atau datang ke Kantor BPLS di kawasan Kelurahan Mindi, Kecamatan Porong. Terutama saat tanggul kritis.

Ketika tanggul jebol, Izul orang pertama yang dicari warga. Sebab, dia bertanggung jawab terhadap semua informasi. Dalam kondisi seperti itu, Izul tetap tenang. Mantan aktivis yang berpengalaman dalam berbagai gerakan mahasiswa tersebut memilih tetap tenang. “Kalau saya melawan, nanti berbahaya,” katanya.(*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: