SPILLWAY TAK BEROPERASI, BPLS TINGGIKAN TANGGUL DI EMPAT TITIK

SPILLWAY TAK BEROPERASI, BPLS TINGGIKAN TANGGUL DI EMPAT TITIK
Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) berupaya meninggikan tanggul sekitar 20-50 cm di empat titik, yakni titik 25, 35, 41, dan 42. Upaya antisipasi ini dilakukan sejak spillway tidak beroperasi atau aliran lumpur ke kali porong dihentikan dan dilarang warga. Akibatnya penghentian ini debit lumpur di tanggul utama terus bertambah.
Humas BPLS Achmad Zulkarnain, ditemui di kantor BPLS Sidoarjo, Kamis (1/11) siang mengatakan, tuntutan warga melarang pembuangan lumpur ke Kali Porong berdampak pada skema pembuangan aliran lumpur di tanggul utama. “Untuk sementara, kami menyiapkan peninggian tanggul di empat titik. Itu pun tidak berlangsung lama. Jika, lumpur tetap dilarang dibuang ke Kali Porong kami akan menyiapkan cara lain berupa pengalihan tempat lumpur ke tanggul lainnya,” ujarnya.
Upaya pengalihan lumpur ke tanggul utara menuju pond (kolam penampungan) Perumtas dinilai masih belum maksimal dan untuk sementara mungkin mampu menampung selama dua minggu saja sudah penuh,” katanya.
Alternatif lain, BPLS akan menyiapkan kolam penampungan (pond) di sisi utara, tepatnya di Gempolsari Kedung Bendo dan tanggul Renokenonggo hingga ke Glaga Arum. Upaya ini juga sementara, karena kekuatan daya tampung tidak sampai hitungan bulan.
Mekanisme pengalihan aliran lumpur dari tanggul utama ke tanggul utara menggunakan alat berat excaponton (ekskavator yang berdiri menggunakan perahu pontoon, red). Sementara, agar aliran lumpur tanggul cincin tidak memasuki tanggul utama, BPLS menambah alat over flow (pipa berdiameter 20 inc) menjadi empat buah yang sebelumnya hanya dua buah. “Hari ini over flow dipasang di perbatasan tanggul utama ke tanggul utara,” katanya.
Pemasangan over flow bertujuan untuk mengalirkan air lumpur dari pusat semburan ke tanggul utara, agar debit lumpur di tanggul utama tidak mengalami penambahan.
Hingga berita ini diturunkan pada pkl 12.30, aliran lumpur dari pusat semburan masih mengarah ke tanggul utara. Menurut BPLS, selama tanggul utara dinilai mampu menampung lumpur, situasi masih bisa dikendalikan, meski bersifat sementara.
Upaya ini muncul akibatnya adanya tentangan warga yang menolak lumpur dibuang ke kali Porong. Di antaranya warga dari Desa Kedungcangkring, Pejarakan Kecamatan Jabon dan dari Kecamatan Gempol, Desa Beji serta Desa Bangil.
Mereka melakukan ujukrasa dengan cara menutup jalan di sejumlah titik, di ataranya pertigaan Gempol sebelah selatan jembatan kali Porong, sebelah utara kali Porong, tepatnya di spillway dan jalan alternatif Gelagah Arum. *(ris,ern)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: