Mengaku Korban, Minta Harga Tinggi

RADAR SIDOARJO     Kamis, 08 Nov 2007
Pemilik Lahan untuk Relokasi Infrastruktur
SIDOARJO – Permintaan harga tinggi bakal jadi ganjalan berat relokasi infrastruktur korban lumpur. Harga lahan baru pengganti jalan tol, rel KA, dan Jl Raya Porong dipatok tinggi. Sosialisasi tim P2T pun gagal mencapai mufakat kemarin.

Musyawarah soal harga tanah dengan warga pemilik lahan yang dibutuhkan untuk relokasi infrastruktur itu dilakukan pada Rabu (7/11) di Desa Ketapang, Kecamatan Tanggulangin. Wakil Ketua Panitia Pengadaan Tanah (P2T) Djoko Saptono memimpin sosialisasi yang dihadiri kepala desa dan warga.

Saat sosialisasi, Djoko menyampaikan penawaran harga tanah dari pemerintah melalui P2T. Dia menyebutkan Rp 85 ribu/m2 untuk tanah pertanian, Rp 125 ribu/m2 untuk tanah kering, dan Rp 150 ribu/m2 untuk tanah matang (tanah kering di tepi jalan raya, Red). Semula, warga mendengarkan dengan takzim. Namun, setelah Djoko selesai berbicara, warga berdiri dari tempat duduknya dan meninggalkan balai desa. “Ya, saya tidak sanggup mengendalikan warga. Sebab, penawaran harga tanah P2T itu memang masih jauh dari yang diminta warga,” kata Kepala Desa Ketapang Warsono.

Menurut dia, sebelum terjadi semburan lumpur Lapindo, harga pasaran tanah di Ketapang sudah cukup tinggi. Tanah pertanian mencapai Rp 100 ribu-Rp 300 ribu per meter persegi, bergantung pada jauh-dekatnya dari jalan raya. Untuk tanah kering, harganya sudah Rp 300 ribu-Rp 500 ribu per meter persegi. Bahkan, ungkap Warsono, ada sebidang tanah di tepi jalan arteri poros Surabaya-Porong yang sudah laku Rp 700 ribu per meter persegi.

“Memang, di Ketapang, NJOP (nilai jual objek pajak, Red)-nya cuma antara Rp 48 ribu-Rp 103 ribu per meter persegi. Sebelum pertemuan ini, saya memberikan informasi harga pasaran tanah itu kepada P2T,” beber Warsono.

Di Desa Ketapang, relokasi infrastruktur membutuhkan tanah milik 157 warga, yang tersebar di Dusun Ketapang dan Dusun Gondang. Tanah-tanah itu berupa tanah pertanian milik 98 orang petani gogol di Dusun Ketapang, dan 16 petani gogol di Dusun Gondang. Sisanya berupa tanah kering milik 43 orang warga di kedua dusun tersebut.

Suhartono, 55, warga RT 10 RW 03, Dusun Ketapang, yang hadir dalam pertemuan itu menyebutkan, harga tanah yang fair adalah Rp 700 ribu-Rp 800 ribu per meter persegi untuk tanah kering. Juga, Rp 500 ribu per meter persegi untuk tanah pertanian.

“Sebab, kami ini, sebenarnya, juga korban lumpur Lapindo. Harga itu setara dengan nilai ganti rugi yang diberikan Lapindo kepada korban terdampak langsung. Karena kami dapat langsung tunai, nilainya lebih rendah sedikit,” ujarnya.

Kabag Hukum Pemkab Sidoarjo Djoko Sartono -anggota P2T yang mendampingi Djoko Saptono- dalam pertemuan itu menilai, harga tanah yang diminta warga tidak wajar. “Saya tadi (kemarin, Red) sempat mendengar ada warga yang akan melepas tanahnya jika ditawar Rp 400 ribu per meter persegi. Itu yang menurut kami wajar. Jadi, harga tersebut mungkin akan jadi patokan kami,” ujarnya.

Sartono lalu mengatakan, musyawarah harga tanah di Balai Desa Ketapang belum dapat dikatakan gagal mencapai mufakat. Sebab, musyawarah itu baru tahap pertama. P2T akan melakukan musyawarah harga sampai tiga tahap.

Musyawarah harga tahap pertama, lanjut Sartono, dimulai pada Senin (5/11). Pertama dilakukan di Desa Kalitengah, lalu dilanjutkan di Desa Kalisampurno dan Desa Kludan -ketiganya di Kecamatan Tanggulangin. Kemarin di Desa Ketapang.

“Musyawarah di tiga desa sebelum Ketapang itu juga belum sampai mencapai mufakat. Tapi, harga yang diminta warga di sana masih dalam batas kewajaran. Warga di tiga desa itu minta harga antara Rp 200 ribu-Rp 300 ribu per meter persegi,” ungkap Sartono. (sat)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: