Heboh Kunjungan Putri Indonesia 2007 ke Korban Lumpur

RADAR SIDOARJO      Kamis, 15 Nov 2007
Minta Pengungsi Tegar, Musibah Lumpur Bukan Akhir Segalanya
Putri Indonesia 2007 Putri Raemawasti menginjakkan kakinya di lokasi banjir lumpur kemarin. Dara kelahiran Blitar, Jawa Timur, itu disambut meriah pengungsi di Pasar Baru Porong. Gembira sekaligus haru menyatu di antara mereka.

SATRIO-TORIQ, Sidoarjo

RIUH tepuk tangan ratusan pengungsi yang sudah berkumpul di sekitar los pasar menyambut kedatangan Putri Raemawasti yang akrab disapa Raema itu. Begitu turun dari mobil station yang ditumpanginya, sekitar pukul 11.40, Raema pun spontan membalas dengan senyum dan lambaian tangan.

Melihat sikap hangat sang putri, remaja dan ibu-ibu muda pengungsi segera berebut untuk salaman. Sebagian di antaranya sibuk memotret dengan hand phone dan kamera digital. Bahkan, ada yang mengabadikan gambar sang putri dengan handy cam.

Di tengah keriuhan suasana, seorang laki-laki menyodorkan Yogi Ardiansah, 2, balita asal Desa Renokenongo -yang berbulan-bulan hidup di pengungsian- ke gendongan Raema. Putri Indonesia asal Blitar, Jawa Timur, tersebut kemudian menciumi si bocah.

“Itu sebagian korban lumpur yang bertahan hidup di pengungsian,” ujar Ketua Peguyuban Rakyat Renokenongo Menolak Kontrak (Pagar Rekontrak) Sunarto saat menyambut Raema. Di Pasar Porong Baru, kata Sunarto, masih ada sekitar 700 kepala keluarga. Mereka menolak dikontrakkan rumah karena tidak sepakat dengan jumlah uang muka ganti rugi dari Lapindo.

Dara kelahiran 5 Desember 1986 yang masih duduk di semester empat Fakultas Teknik Industri ITS itu menanggapi penjelasan Sunarto dengan nada prihatin. “Saya pernah mengalami hal seperti ini. Tapi, saya percaya, di balik semua ini, Tuhan punya rencana yang indah. (Musibah, Red) ini bukan akhir segalanya,” ujarnya.

Raema kemudian memberikan sumbangan berupa uang tunai dan produk-produk salah satu pabrik kosmetik ternama kepada para pengungsi. Selanjutnya, dia menjelajahi satu per satu los-los Pasar Porong Baru. Dan, saat itulah, seorang perempuan setengah baya menyongsongnya sembari menyodorkan nasi bungkus jatah pengungsi.

“Lihat ini Mbak. Ya, nasi seperti ini yang menjadi makanan kami sehari-hari,” kata perempuan tersebut dengan wajah memelas sambil menunjukkan nasi bungkus berlauk pepes ikan pindang. Raema merangkul perempuan itu. “Yang sabar ya Bu. Semoga bantuan yang kami berikan bisa sedikit mengubah kondisi ini,” tuturnya.

Kunjungan Putri Indonesia 2007 tersebut ke Pasar Porong Baru berakhir di TK Al Muhajirin yang didirikan khusus untuk anak-anak pengungsi. Di buku tamu TK itu, dia menulis pesan, “Harus tabah dan tegar. Semoga Tuhan memberkati.”

Raema dan rombongan kemudian menuju ke lokasi semburan lumpur. Di sana, dia beraksi sebagai presenter salah satu acara infotainment sebuah stasiun TV. Tapi, entah sadar atau tidak, Raema menyebut Surabaya sebagai lokasi semburan lumpur, bukan Sidoarjo. “Pemirsa, sekarang saya sudah berada di Surabaya, tempat di mana musibah semburan Lumpur terjadi,” katanya. (*)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: